
Sebenarnya Ashilla hanya ingin mengecek keadaan Aruna saja, sekaligus ingin minta maaf untuk kejadian semalam, tapi melihat Faran seperti itu dia jadi tidak enak. “Faran kenapa?”
“Dia.” Aruna menatap pintu. “Dia tahu aku pergi menemui Iyash.”
Ashilla menarik napas dan pura-pura tidak tahu. “Ooh.”
“Kamu yang bilang?” tuduh Aruna.
“Nggak,” sanggah Ashilla cepat. “Aku juga kaget dia bisa tahu.”
Aruna menghela napas. “Mas Faran marah.”
Ashilla mengusap bahu Aruna. “Jangan khawatir, aku tahu dia marah cuma sebentar.”
Aruna malah takut Faran akan kembali marah karena tahu dia pernah menggugurkan kandungan.
“Aku balik lagi ya.” Ashilla bangkit. “Harus cepet siap-siap, jam lima mulai dan sebentar lagi ashar.”
Aruna tersenyum. “Kamu pasti deg-degan.”
“Iya.” Ashilla memegang dadanya sendiri. “Aku takut Angkasa nggak hafal akadnya.”
Aruna tertawa. “Dia nggak akan salah sebut nama.”
Ashilla termangu beberapa detik, lalu kembali duduk. “Aku pengen tahu sedekat apa kamu dulu sama Angkasa?”
Seketika Aruna tergemap. “Kok, jadi nanyain itu?”
“Aku belum pernah tanyakan ini sama kamu.”
Aruna tersenyum kecut. “Aku cuma kenal biasa, dikenalin Iyash.” Aruna menggeleng. “Aku nggak tahu apa-apa soal dia.”
“Angkasa bilang dia pernah nganterin kamu nyari tempat kos?”
“Iya, itupun Iyash yang minta sama dia,” aku Aruna.
Ashilla menghela napas.
“Aku cuma kenal tiga hari aja, jadi nggak tahu dia kayak gimana.”
“Apa pendapat kamu soal Angkasa?” tanya Ashilla.
“Dia baik. Dari pertama aku kenal dia, aku tahu dia baik.”
“Selain itu?”
Aruna terdiam menatap Ashilla. Setelah kesalahpahaman Faran, dia tidak ingin ada yang salah paham lagi. “Maksud kamu?” tanyanya kemudian.
“Apa pendapat kamu saat pertama kali bertemu Angkasa?”
“Pendapat?” Aruna sedikit bingung menangkap pertanyaan Ashilla karena dia lupa kesan pertama apa yang dia dapatkan ketika bertemu Angkasa selain baik.
“Iya, kayak misal, kamu suka melihat dia karena dia ganteng.”
Aruna menggeleng. “Kamu tahu waktu itu aku cuma lihat Iyash. Aku nggak ada waktu untuk melirik pria lain.”
“Tapi, itu alami. Kayak misal, walaupun udah punya suami, kamu tetap bisa lihat dan mengakui cowok ganteng, ‘kan? Apalagi dulu kamu sama Iyash cuma pacaran.”
Aruna membasahi tenggorokan.
“Siapa yang pacaran?” tanya Faran di depan pintu.
Kedua wanita itu terkesiap. “Hai.” Ashilla bangkit. “Aku sama Angkasa.”
“Oh ….” Faran masuk dan mendekat pada sang istri. “Mas beliin kamu jus.” Faran memberikannya pada Aruna.
“Makasih, Mas.”
“Eeehhhh, Run, aku mau siap-siap dulu.”
Aruna mengangguk. “Makasih, Shill.”
“Iya.” Ashilla lekas pergi keluar dari kamar Aruna.
“Ngobrol apa aja?” tanya Faran pada istrinya.
“Ya, ngobrolin pernikahan, ngobrolin Angkasa.”
“Apa aja?” tanya Faran posesif.
Aruna terpegun menatap sang suami. Tak pernah sebelumnya Faran ingin tahu banyak tentang isi pembicaraan orang.
“Makasih, Mas, jusnya enak.” Aruna mengalihkan pembicaraan.
“Kalian ngobrol apa aja?”
Aruna tergemap dan kembali menatap sang suami. Dia pikir Faran akan melupakannya dan tak lagi ingin tahu pembicaraannya dengan Ashilla.
“Dia minta pendapat aku tentang Angkasa,” kata Aruna gugup.
“Terus kamu bilang apa?”
“Dia baik.”
“Selain itu?”
Aruna menghela napas. Faran persis seperti Ashilla. “Selain itu apa? Apa aku harus bilang dia ganteng?”
“Mas, please, jangan kayak anak kecil.”
“Kayaknya kamu sama Angkasa pernah dekat.”
“Nggak juga.”
“Dari cara dia menatap kamu dan cara dia mengajak kamu bicara, aku tahu kalau dia pernah ada perasaan sama kamu.”
“Cara bicara dia memang gitu, Mas. Mungkin karena aku adiknya Ashilla.”
Faran menggeleng. “Mas tahu bukan itu, bahkan Mas sangat yakin kalau Angkasa dekat dengan Ashilla, itu karena Ashilla mirip kamu.”
Aruna tergemap, sementara jantung Ashilla mencelus. Dia belum pergi dan masih berdiri di depan pintu, sehingga dia dapat mendengar perkataan Faran.
“Iya, ‘kan?”
“Mungkin. Aku nggak tahu pasti, Mas. Aku nggak begitu mengenal Angkasa, aku tahu Angkasa pun karena dia sahabat Iyash.”
“Ohh.”
Aruna mematung. Dia salah karena menyebut nama Iyash lagi di depan Faran. “Maaf, Mas, aku keceplosan sebut nama dia.”
“Lupain aja. Kita ngobrol soal tadi lagi.”
Jantung Aruna mencelus. “Apa lagi, Mas?”
Sementara Ashilla lekas pergi meninggalkan tempatnya semula berdiri. Tak baik menguping obrolan suami istri.
“Mas pikir kamu masih minum pil.”
“Aku minum pil cuma setelah aku keguguran.”
“Bukan keguguran, tapi digugurkan,” sela Faran.
“Iya. Aku belum siap. Dulu aku juga pernah bilang kalau aku belum siap punya anak. Kamu sendiri yang bilang dan akan menunggu aku sampai aku benar-benar siap.”
“Itu karena Mas menemukan pil KB di laci kamu dan kamu bilang alasan kamu meminumnya karena ini karena itu.”
“Iya, ‘kan memang banar.” Suara Aruna mulai meninggi. “Terus sekarang aku harus apa?”
“Sejak kapan kamu berhenti minum pil?”
“Sejak aku siap jadi ibu, puas?”
Alih-alih senang, Faran malah kesal mendengar jawaban Aruna.
“Aku menggugurkannya di saat usia kandunganku baru lima Minggu. Dan aku punya alasan untuk itu, Mas.”
“Karena kamu belum siap?” tanya Faran lebih tenang.
“Daripada nanti anaknya terlantar?”
“Nggak akan terlantar, karena akan tetap ada yang rawat dia, kamu lupa ada ibu yang ingin cucu, ada aku sebagai ayahnya.”
“Aku tahu.” Aruna memberi jeda. “Tapi, saat itu aku mikir kalau aku punya anak, hidupku akan berantakan. Ada banyak alasan kenapa aku belum siap.”
“Iya-iya, Mas tahu.” Tentu saja Faran tahu bagaimana mental Aruna. Kalau dipaksakan untuk tetap memiliki anak di saat Aruna belum siap, mungkin akan ada banyak masalah yang terjadi. Aruna tidak akan siap dengan semua omongan orang jika dia tetap bekerja di Jerman sementara anaknya di Bali bersamanya. Faran tahu Aruna sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang.
Aruna menatap Faran lama.
“Mas cuma nggak suka kamu nggak jujur. Mas nggak suka amu bohong.”
Aruna tertunduk.
Faran merangkul bahu sang istri. “Maaf karena Mas agak keras. Mas harap ke depannya kamu bisa jujur dan nggak ada yang kamu sembunyikan dari Mas.”
“Maaf, Mas.”
“Janji?”
Aruna mengangguk.
“Apapun akan kamu bagi sama Mas?”
“Iya.”
Faran tersenyum. Tak ada gunanya terus membahas kejadian yang sudah berlalu. Faran hanya mau Aruna jujur dan tak ada lagi yang disembunyikan darinya.
“Mas sayang sama kamu. Mas memang kecewa, tapi, Mas tahu kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik.”
Aruna mengangguk. Akhirnya Faran mau kembali mengerti dirinya. Dia sudah putus asa dan takut Faran tak paham keadaan yang sebenarnya.
“Maaf karena sudah mendesak kamu.”
Aruna mengangguk. “Aku tahu Mas marah. Aku tahu Mas kecewa. Aku minta maaf.”
“Kamu nggak tahu kalau Mas cemburu.”
Aruna termenung.
“Sejak awal Mas cemburu setiap kamu menceritakan pacar pertama kamu. Mas pikir Mas tidak akan pernah bertemu dengannya, tapi akhirnya Mas bertemu dia.”
Aruna terdiam bukan tak ingin menanggapi, tapi bingung, harus berkata apa agar tidak kembali membuat ricuh hubungannya dengan Faran. Aruna memang pernah menjadikan Faran tempatnya bercerita, tapi itupun dulu, sebelum akhirnya dia menerima Faran sebagai suaminya.
Faran mengecup kening Aruna lama. Dia sudah memilih Aruna beserta semua permasalahannya. Sejak dulu Aruna tak pernah menyembunyikan apapun, hanya saja dia tidak menyangka kalau Aruna pernah menyembunyikan kehamilan pertama darinya, bahkan sampai menggugurkannya.