
Tepat pukul 17.45 mereka sampai di stasiun Gambir dan mulai mencari taksi untuk bisa sampai ke RSCM. Aruna sempat mengeluh dan kelelahan. “Aku kira nggak akan selama ini,” ucapnya pelan.
Iyash hanya tersenyum menanggapinya. Dia tahu ini adalah perjalanan pertama untuk Aruna. Seharusnya Iyash ceritakan bagaimana perjalanan Jakarta menuju Surabaya. Namun dia takut merusak semua rencana Aruna.
“Maaf ya, Yash,” ucapnya setelah masuk ke dalam taksi.
“Nggak apa-apa, Run. Aku senang bisa temani kamu sampai ke sini.”
Aruna mengempas punggungnya ke sandaran jok mobil. “Gimana kalau nggak ada hasil, Yash?” tanyanya pelan.
“Mungkin kita harus usaha lagi.”
“Jauh-jauh datang ke sini aku nggak mau kalau nggak dapat info apa-apa.”
Iyash menghela napas, dia merasa kasihan melihat Aruna seperti itu. “Ya Allah, bantu Aruna menemukan ibunya,” doa Iyash pelan.
Aruna tersenyum. “Aamiin,” sahutnya sembari menatap pemuda itu.
Sejatinya Aruna hanya mencoba menaklukan keraguan yang terus muncul melingkupi hatinya. Mencari kebenaran dan membuktikan kebohongan. Mereka berharap apa yang mereka usahakan bisa membuahkan hasil.
Sesampainya di depan rumah sakit, mereka langsung turun. Waktu menunjukkan pukul 19:15. Aruna melangkah masuk menuju meja resepsionis rumah sakit ditemani Iyash. “Permisi,” kata gadis itu.
“Iya, Dek? Ada yang bisa kami bantu?”
“Saya mau cari tahu soal–” Aruna lekas merogoh tas dan mengambil selembar foto, lalu menunjukkannya pada wanita berseragam putih tersebut. “ini.”
“Maksudnya gimana ya, Dek?”
Iyash hanya berdiri di sebelah Aruna sembari menyimak.
“Tahun 1995 ibu saya melahirkan di sini, saya cuma mau tahu tempat tinggalnya yang dulu.”
Pekerja rumah sakit tersebut mengangguk. “Ibu kamu sekarang dimana, Dek?”
Aruna menggeleng.
“Kalau kami tahu ibu kami di mana, kami nggak akan datang ke sini, Sus,” kata Iyash.
“Oh. Kalian adik-kakak?”
Iyash mengangguk sedangkan Aruna hanya terdiam. “Saya adiknya.”
Seketika Aruna menoleh dengan kedua mata membola menatap Iyash. Bisa-bisanya Iyash mengaku sebagai adiknya, apa muka Aruna terlihat tua?
“Tolong bantu kami, Sus. Kami dari Surabaya, perlu waktu seharian untuk bisa sampai ke sini.”
“Ayah kalian masih ada? Dia tahu kalian ke sini?”
Iyash berdecak. “Sus, tolong bantu kami.” Dia kemudian merogoh dua tiket kereta api untuk perjalanan pulang besok. “Waktu kami nggak banyak. Ayah cuma ngasih waktu hari ini aja.”
“Oh, jadi ayah kalian tahu kalian ke sini?”
“Kalau tidak dengan izinnya, saya nggak akan pergi, Sus,” timpal Aruna.
Wanita berambut sebahu itu menghela napas. “Bulan apa, tanggal berapa?”
“Dua puluh tujuh Mei sembilan belas sembilan lima.”
“Nama orang tua kamu siapa?”
“Dewi dan Ridwan.”
“Tunggu di sini, biar coba saya cari arsipnya.” Wanita itupun pergi ke ruang arsip.
Aruna mengangguk, kemudian menatap Iyash. “Kenapa kamu bilang kamu adikku?”
“Ya kalau aku bilang aku kakakmu, suster akan nanya kenapa aku nggak ada di foto, setidaknya kalau aku adikmu, dia nggak akan nanya apa-apa, benar, ‘kan?”
“Tapi, muka kamu terlihat lebih tua,” kata Aruna ketus.
“Mau dibantuin nggak sih?”
Terkadang manusia selalu tertampar kenyataan. Dan itulah yang Aruna takutkan. Berdiri di sini dengan penuh harapan bisa menemukan jawaban, meski hanya sepenggal kalimat.
Tak berapa lama perawat datang. “Ini data yang melahirkan di sini pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Dan ini nama-nama orang tua yang melahirkan di bulan Mei.”
Aruna menatap Iyash sekilas, kemudian dia menerima data tersebut dari perawat. Telunjuknya terus mencari dan matanya menelisik setiap nama yang cocok dengan nama kedua orang tuanya. Namun, Aruna malah terdiam cukup lama dan telunjuknya tertahan di nama pasangan suami istri Dewi dan Gusman Wijaya.
“Ketemu, Dek?” tanya Perawat.
Aruna tidak menjawab dan malah termenung cukup lama.
“Run?” panggil Iyash pelan.
“Iya,” ucap Aruna cepat. Dia menuliskan alamat rumah pasangan itu di atas buku diarynya. Tangannya bergetar, beberapa kali dia salah menulis dan langsung mencoretnya, kemudian menulis ulang.
“Terima kasih,” kata Aruna sembari menutup arsip tersebut dan memberikannya kembali pada wanita berambut sebahu itu.
“Makasih, Sus, saya doakan dapat jodoh yang tampan, mapan dan kaya,” kata Iyash. Namun perawat itu malah tertawa.
Mereka berdua lekas pergi dari rumah sakit dan berdiri cukup lama di tempat parkir. Aruna tertunduk dan menangis. Iyash lekas memiringkan wajah menatap wajah Aruna. “Kenapa Run?” tanya Iyash.
Aruna tengadah menatap Iyash. “Aku nggak menemukan nama ayah.”
Seketika kening Iyash mengernyit. “Terus tadi kamu nulis apa?”
Aruna memberikan buku diarynya pada Iyash.
“Ini alamat siapa?” tanya Iyash lagi.
Aruna lekas menyambar buku diarynya dari tangan Iyash. “Antar aku ke tempat ini, Yash.”
“Hah … kamu yakin?”
“Antar saja, Yash. Aku nggak mau pulang tanpa mendapatkan info apa-apa.”
“Katamu tadi kamu nggak menemukan nama ayah kamu.”
“Tapi, aku menemukan nama ibu.” Aruna memberi jeda. “Tidak menemukan nama ayah bukan berarti aku harus berhenti sampai di sini.”
Iyash termangu menatap betapa emosionalnya Aruna malam itu. “Aku tahu kamu capek. Aku antar kamu besok pagi.”
“Besok kita mau pulang,” kata Aruna sembari menangis.
“Masih ada waktu, Run.”
Aruna terdiam beberapa detik, kemudian berjongkok sembari menutup wajahnya. Iyash menghela napas, kemudian membungkuk memegang bahunya. “Run, kita cari makan dulu, dari tadi kamu belum makan. Sambil kita nanya-nanya orang, siapa tahu alamat itu dekat dari sini.”
Perlahan Aruna menjauhkan tangannya, kemudian mengangguk, dia lalu berdiri dan berjalan di sebelah Iyash. Mereka pergi ke warung sebelah rumah sakit dan memesan mie rebus.
Aruna duduk terdiam di atas kursi. Sembari kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia memang tengah berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia hanya tidak ingin Iyash melihatnya menangis.
Iyash sendiri bingung harus bagaimana, dia tidak ingin Aruna bersedih atau berpikir kalau dia tidak peduli padanya. Perlahan Iyash mengusap lembut bahu gadis itu.
“Aku harus gimana, Yash?” tanya Aruna tanpa menjauh tangan dan tetap menutup wajahnya.
“Ikuti kata hati kamu aja, Run.” Iyash memberi jeda dan perlahan Aruna menjauhkan tangan dari wajahnya dan menatap Iyash. “Seperti yang kamu bilang kita akan datang ke alamat itu untuk membuktikan semuanya.”
“Aku cuma takut, Yash. Takut kalau nggak nemuin apa-apa.”
“Ya, aku ngerti, Run.”
Tak berapa lama mie pesanan mereka pun datang dan tersaji di meja.
“Makan mie bisa kenyang lebih lama karena butuh tiga hari untuk dicerna oleh tubuh kita,” ucap Iyash.
“Tetap aja kita nggak bisa puasa selama itu,” dengkus Aruna.
Iyash tersenyum, dia harap setelah ini hubungannya dengan Aruna menjadi lebih baik dan bisa jauh lebih dekat dari ini.