Behind The Lies

Behind The Lies
Tidak Akan Ada Malam Pertama



Setelah acara akad selesai Marissa menangis dalam pelukan sang ibu. Bukan karena pernikahan ini, tapi karena kepercayaan ibunya terhadap Ira lah yang membuatnya menangis sesakit ini.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Edgar baru saja sampai di kediaman almarhum kakeknya. Seisi rumah menyambutnya hangat. Edgar meminta maaf, begitupun dengan Miranti. Selama ini Miranti sudah membebaskannya. Sekarang dia hanya ingin berkumpul dengan Edgar sampai akhir hayatnya.


“Akhirnya pulang juga, tadinya mau nyusul ke sana, tapi nggak dibolehin sama Bunda,” kata Ashilla sembari memeluk Edgar.


Edgar tersenyum. “Nggak usah, aku udah di sini.” Dia mengacak puncak kepala Ashilla.


“Iya, ‘kan tadinya.”


Edgar memeluk Angkasa sekilas. Lalu memeluk Faran seraya berbisik, “Kamu harus ke sana.”


Aruna menatap ke arah suami dan Kakaknya tersebut. Entah apa yang didapatkan Edgar di sana sampai pria itu menyarankan agar Faran pergi ke tempat itu.


“Makasih udah pulang, Kak,” kata Aruna. Berbeda dengan Ashilla yang tampak antusias dan memeluk Edgar lebih dulu. Aruna hanya menyampaikan rasa terima kasihnya dengan tulus, sehingga Edgar memeluknya erat. “Aku menemukan tentang kamu di sana,” bisik Edgar.


Jantung Aruna mencelus. Namun, kemudian dia tersenyum. “Begitulah kehidupan kami dulu, Kak.”


Edgar sebenarnya bisa sampai ke tempat itu juga karena bantuan novel yang ditulis Aruna. “Ternyata hidup itu unik,” kata Edgar.


“Kalian ngobrol apa sih, ayo makan dulu,” ajak Miranti.


Mereka berkumpul di meja makan. Edgar sebenarnya rindu masakan sederhana di kampung halaman Nenek Alma. Belum juga sehari rindunya sudah terasa.


Setelah makan, Edgar pergi ke kamar Ganjar. Malam itu sebelum Ganjar meninggal, dia sempat mengobrol dan berpamitan untuk pergi mencari tahu asal-usulnya.


Ganjar tak mencegahnya pergi, bahkan dia sangat mendukung keputusan Edgar. Ganjar juga berpesan, “Jangan pulang sebelum kamu mendapat apa yang kamu inginkan. Hidup ini singkat, sesingkat kamu bernapas di dalam air.”


Edgar tersenyum di depan foto Ganjar karena mengingat kembali kalimat itu. Sekarang Edgar pulang, meski dia masih ingin berlama-lama di sana.


Tiba-tiba Miranti datang dan berdiri di depan pintu. “Kamu pulang sama Icha?”


Edgar menoleh dan terdiam sejenak. “Nggak. Aku nggak ketemu dia,” elaknya.


“Oh, Bunda pikir kamu–”


“Kenapa? Bunda menyuruhnya menyusul aku?”


Miranti menghela napas seraya tersenyum. “Nggak. Hanya meminta bantuan.”


Edgar membasahi tenggorokan. “Sebaiknya jangan libatkan orang lain. Aku hanya butuh waktu  buat sendiri.”


“Iya, Bunda minta maaf.”


Mungkin Edgar terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya pada Marissa, sehingga dia memilih pergi tanpa meninggalkan jejak pasti pada wanita itu, padahal dia sempat ingin membisikan perasaannya, namun semua momen itu rusak ketika Nenek Alma menuduhnya hendak mencium Marissa. Apalagi kehadiran Iyash membuatnya kehilangan kesempatan itu.


Sedangkan di malam itu usai melaksanakan ritual sakral pernikahan Iyash dan Marissa sama-sama duduk di tepi ranjang, hanya saja berlawanan. Marissa di sisi kiri dan Iyash ada di sisi kanan. Jangan berharap akan ada malam pertama, baik Iyash maupun Marissa sama-sama enggan melakukan hal tersebut.


Bahkan tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka obrolan. Marissa sendiri sudah malas jika ujung-ujungnya dia akan merasa gondok karena kalimat pedas Iyash. Sedangkan Iyash, dia cukup kuat bertahan tanpa obrolan. Dia pria yang susah ditebak, sehingga sangat sulit bagi Marissa menerka isi kepala pria itu.


Marissa bangkit untuk mengganti pakaian, sementara telepon Iyash berdering. Panggilan masuk dari Aruna. dada Iyash berdebar, dia takut berita pernikahannya sampai pada wanita di seberang telepon itu.


“Halo, Yash.”


“Hei,” sapa Iyash gugup.


“Makasih ya, berkat kamu Kak Edgar pulang.”


Iyash berdehem. “Dia pulang karena kemauannya sendiri.” Jawaban yang sama seperti yang Marissa berikan pada Miranti.


Aruna tidak tahu kalau Iyash tak berperan apapun dalam kepulangan Edgar, pria itu bahkan tak melakukan interaksi sepatah katapun dengan Edgar, sehingga wajar jika Iyash bilang kalau Edgar pulang karena keinginannya sendiri.


“Iya, tapi makasih udah buat dia mengerti dan kembali ke sini, akhirnya aku bisa melihat senyum Bunda lagi.”


“Selamat ya.”


“Yash?”


“Hemm?”


“Kapan?” tanya Iyash singkat.


“Kalau kamu siap, kabari kami.”


“Di mana?”


“Harusnya di Bali. Tapi, karena aku masih di Jakarta jadi–”


“Di restoran aja,” potong Iyash.


“Oh boleh.”


“Tempatnya aku yang milih.”


“Iya, nanti aku bilang sama Mas Faran.”


Tiba-tiba Marissa keluar dari kamar mandi dengan pakaian berbeda. Dia sudah menanggalkan kebaya dan membersihkan riasannya. Dia mengenakan blouse rajut oversize dengan bahu sabrina berwarna ungu disertai celana hotpant berwarna putih, dia memasukan sebagian bawahan baju ke dalam celana, agar celananya tidak tertutup oleh blousenya yang panjang.


“Udah dulu ya,” kata Iyash gugup. Dia takut Marissa tahu, sekaligus dia juga tak ingin Aruna tahu kalau tiba-tiba Marissa bersuara.


“Iya, makasih ya, Yash.”


“Hm.” Iyash menutup panggilan, kemudian dia meletakkan ponselnya, lalu pergi ke kamar mandi.


Aroma manis buah-buahan menguar menguasai seluruh sudut ruangan kamar  mandi, padahal Marissa tidak mandi, hanya mencuci muka, menyikat gigi dan mencuci tangan. Setiap ke kamar mandi, dia akan meninggalkan aroma tersebut karena dia punya kebiasaan menyemprotkan pengharum ruangan khusus di kamar mandi. Itu membuat orang yang akan memakai kamar mandi setelah dirinya menjadi betah berlama-lama di sana. Itulah kenapa Nenek Alma bilang kalau ada Marissa rumah menjadi wangi.


Iyash termenung di kamar mandinya sendiri. Bukan karena merasakan aroma itu, tapi karena dia merasa bersalah lantaran sejak kemarin dia mendiamkan wanita itu. Dia lekas keluar dari kamar mandi untuk meminta maaf pada wanita tersebut, namun, Marissa baru saja keluar dari kamar Iyash untuk pindah tidur di kamar yang sekarang ditempati ibunya.


Iyash hendak menyusul, namun terdengar suara Rasya dari luar yang sedang menggoda Marissa, sehingga dia mengurungkan niatnya. “Cha, malam pengantin malah pakai baju kayak gini.”


“Yang penting Icha nggak pakai daster. Gimana? Sudah cukup menggoda?” tantang Marissa. Dia sudah kesal menganggap ini sebagai sebuah keharusan.


“Mmmm.” Rasya mencebikkan bibir. “Kurang sih sebenarnya, harus ada effort lebih untuk menggoda Iyash.”


“Bodo amat,” dengkus Marissa seraya masuk ke dalam kamar. Rasya tertawa geli, sejujurnya dia kasihan pada Marissa lantaran mau menikahi pria kaku seperti Iyash. Meski kekakuan itu terjadi sepuluh tahun terakhir dan sebelumnya memang Iyash tak seperti ini.


Marissa tercenung di depan pintu. Dia terkejut melihat ibunya menangis. “Mama.”


“Icha.”


Perlahan Marissa mendekat.


“Mama minta maaf,” kata Rahma sembari memeluk anak gadisnya.


“Nggak apa-apa. Ngapain minta maaf. Papa selalu bilang kalau menangis sewajarnya. Mama lihat, Icha baik-baik aja, kok. Icha bisa jaga diri.”


Rahma menarik napas seraya mengangguk. Dia percaya kalau Marissa mampu menghadapi semuanya, termasuk mungkin menghadapi sifat Ira. Sebenarnya Rahma sudah cukup mengenal Ira, bahkan sejak Restu masih ada, Ira sering melukai hatinya. Setelah Restu tidak ada, Rahma mencoba menghargai Hasa yang selama ini membantunya, jadi, dia tidak begitu mengambil hati perkataan Ira.


Marissa memang sudah sah menjadi istrinya Iyash, tapi wanita itu memiliki rencana untuk membatalkan pernikahannya, sebelum Hasa mendaftarkannya ke KUA.


“Ini sudah malam, Cha, cepat kembali ke kamar, suami kamu pasti sudah menunggu,” kata Rahma sembari melepaskan pelukannya.


“Mama, ‘kan tahu, Icha nggak mau menikah sama dia.” Marissa merebahkan tubuh dan tidur dipangkuan ibunya. “Jadi, kenapa kalau Icha tidur di sini?”


Rahma menghela napas melihat tingkah manja sang anak. “Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu mengerti,” katanya sembari membelai kepala Marissa.


“Icha ngerti kok, apa yang harus dilakukan sepasang pengantin di malam pernikahan mereka.”


“Ya sudah kalau begitu, cepat layani suami kamu.”


“Mmm, nggak usah deh. Biarin aja dia melayani dirinya sendiri.” Perlahan Marissa memejamkan mata dan dia tertidur di atas pangkuan Rahma.


Iyash termenung mendengar obrolan Marissa dengan ibunya. Kamarnya dan kamar yang ditempati Marissa hanya disekat dinding gypsum, dulunya tempat tersebut terdiri dari satu ruangan dengan dua ranjang, satu untuk Hasa dan satu Irwan. Dan ketika Iyash tinggal di sana, kamar tersebut sepenuhnya milik Iyash, sehingga begitu luas dan nyaman. Namun, sejak ada Rania, kamar tersebut diberi sekat dan dijadikan dua tempat.


Malam ini adalah malam kedua Iyash tak sengaja mendengar obrolan dari kamar tersebut.


***