Behind The Lies

Behind The Lies
Perpisahan Adalah Hal Terburuk



Sejak pulang dari acara pernikahan Angkasa. Hasa dan Ira terus bertengkar. Bahkan di dalam mobil pun Ira sudah memancing pertengkaran. Namun, Hasa tak begitu mendengarkan omelan sang istri. Dia tetap fokus berkendara.


Sesampainya di rumah, Hasa membuka laptop dan mencari tahu sosial media Miranti. Awalnya dia tak menemukan apapun, selain karya busana Miranti dan acara fashion show beserta model-modelnya.


Dia melihat foto Angkasa ketika menjadi model Miranti. Dalam tagnya Miranti menyebut akun Ashilla, dia kemudian mengklik akun tersebut dan dalam akun Ashilla lah dia menemukan foto Edgar ketika bersama dengan keluarga besarnya. Di sana Ashilla menyebut akun Edgar, sehingga Hasa pun bisa menyelam dengan mudah dan menemukan semua foto-foto anaknya.


Edgar tampak berwibawa, semua tagline nya dipenuhi dengan kata-kata bijak. Hasa semakin kagum, dia merasa wajar jika banyak perempuan yang mengidolakan putranya itu. Edgar terlihat cerdas dalam segala hal.


Ketika sedang asyik melihat satu foto Edgar dengan Miranti. Ira lewat di depan laptopnya dan langsung marah.


“Kamu masih memikirkan dia?” tanya Ira. Sudah terlalu sering Ira melihat Hasa menyimpan foto Miranti.


“Aku punya tanggung jawab,” kata Hasa tanpa menoleh. “Ketika aku menikah denganmu, waktu itu Miranti mengandung anakku.”


Jantung Ira mencelus. Kedua matanya terbuka lebar.


“Seharusnya dulu aku tidak menerima perjodohan ini.” Hasa menekankan.


“Terus sekarang apa? Tiga puluh tiga tahun dan kamu baru membicarakan ini?”


Hasa tercenung. Sebenarnya sudah terlalu lama dan bahkan selama mengarungi rumah tangga dengan Ira, Hasa tak berhenti memikirkan ini. “Maaf, aku tidak pernah mencintai kamu.”


Ira tersenyum pahit. Ribuan panah seperti tertancap di dadanya. Dia tahu kalau Hasa tak pernah mencintainya. Namun, dia baru mendengar ini secara langsung, dan itu menyakitkan.


Hasa membasahi tenggorokan. “Kalau bukan karena anak-anak, aku–”


“Cerai?” tukas Ira. Perlahan air mata jatuh dari kedua sudut matanya.


Hasa tergemap.


“Kalau bukan karena anak-anak, kamu sudah menceraikan aku, itu maksud kamu?” Suara Ira bergetar.


Hasa terdiam menatap sang istri. “Kalau kamu tidak mau kita cerai, mungkin kamu bisa izinkan aku menikah lagi.” Itu hanya alasan karena dia sangat yakin wanita sukses seperti Miranti tak akan mau menjadi istri kedua, apalagi sejak dulu MIranti terbiasa hidup sendiri.


“Hah? Daripada harus dimadu. Aku lebih baik kehilangan kamu,” kata Ira sembari mengempas bokong ke ranjang. Rasanya menyakitkan ketika tahu kalau orang yang dia cintai sama sekali tidak mencintainya.


Hasa tiba-tiba berlutut di depannya. “Kamu sudah mendapatkan setengah dari usiaku.” Hasa menarik tangan sang istri. “Sekarang izinkan aku untuk memenuhi tanggung jawabku yang lain.”


“Aku ingin kembali pada Miranti dan menunaikan tanggung jawabku pada anaknya.”


Jika memang begitu, dia tak harus kembali pada Miranti. Dia cukup bertanggung jawab pada Edgar.


Ira bangkit seraya menyeka kedua pipinya. “Aku akan minta pengacara untuk urus perceraian kita.”


Iyash yang beberapa detik lalu berdiri di depan pintu kamar sang ibu tiba-tiba menjatuhkan tangannya dan urung mengetuk. Meski sudah sedewasa ini, tapi perpisahan adalah hal terburuk dalam hidupnya.


“Kalau aku tahu kenyataan ini sejak dulu. Aku nggak peduli berapapun usia anakku, aku akan tetap bercerai denganmu,” bohong Ira. Dia sudah tahu sejak awal kalau Hasa tak pernah mencintainya dan dia berusaha mati-matian mempertahankan rumah tangganya.


Iyash memejamkan mata di depan pintu. Kemudian menggeleng pelan. Dia tidak bisa terima jika kedua orang tuanya berpisah.


“Aku nggak bisa melayani orang yang setiap waktu memikirkan wanita lain,” tukas Ira.


“Aku minta maaf.” Hasa bangkit dan duduk di sebelah wanita yang beberapa saat lalu masih menjadi istrinya.


Jantung Iyash mencelus. Dia berbalik dan berjalan lesu ke kamarnya. Awalnya memang dia tak berniat untuk menguping pembicaraan orang tuanya. Dia hanya ada perlu sedikit, tapi malah harus mendengar kenyataan pahit kalau kedua orang tuanya akan bercerai.


Iyash termenung di atas ranjang. Menerka-nerka benarkah yang dikatakan kedua orang tuanya kalau mereka akan berpisah? Baru saja dia mengikhlaskan masalah lain, malah ditimpa masalah baru.


Sementara itu Hasa sibuk mengemasi barang-barangnya. Beberapa kali dia tercenung mendengar isakan istrinya. Kemudian dia kembali mengemas. Bukan tak peduli, tapi dia merasa tak sanggup lagi. Sudah waktunya dia berhenti mengkhianati hatinya. Namun, memang ini terlalu egois karena Hasa harus meninggalkan anak-anaknya, meski mereka sudah dewasa.


“Malam ini aku akan pergi dan tinggal di apartemen.” Hasa kemudian pergi tanpa menoleh ke belakang. Dia sudah meminta maaf dan dia sudah berpamitan pada Ira. Namun, dia merasa tak perlu melakukannya pada Iyash karena perpisahan ayah dan anak tidak akan pernah terjadi.


Ira tertunduk. Dia tak bisa lagi menahan sang suami. Walau bagaimanapun pernikahan ini terjadi demi melancarkan bisnis keluarga. Waktu itu Hasa adalah orang kepercayaan Wahid, ayahnya Ira, yang kebetulan kakek Hasa sendiri merupakan penanam saham terbesar di perusahaan keluarga Wahid. Inilah yang terjadi, mereka dijodohkan untuk mengembangkan dan mempertahankan perusahaan, padahal waktu itu Ira adalah seorang janda beranak satu. Ya, Rasya bukanlah anak kandung Hasa. Ayahnya Rasya meninggal dalam kecelakaan, waktu itu Rasya sendiri baru berusia dua tahun, sehingga Rasya belum memiliki memori tentang ayah kandungnya.


Hasa menikahi Ira di saat Miranti hamil anaknya, Miranti pergi keluar Negeri dan membesarkan anaknya sendirian. Awalnya pernikahan itu hanya sebagai formalitas, enam tahun Ira dan Hasa tak pernah berhubungan, sampai akhirnya Hasa berpikir kalau dia harus memiliki anak untuk menjadi penerusnya karena kalau tidak perusahaan akan diurus oleh orang yang bukan dari garis keturunannya dan dia tidak terima. Semenjak saat itu, Hasa menjalani perannya sebagai suami dan lahirlah Iyash.


Hasa bangga saat Iyash mengikuti jejaknya dan sekarang Iyash akan menjadi penerusnya, apalagi setelah Rasya memutuskan untuk membuka bisnis baru bersama Priska, istrinya, yaitu membangun perusahaan yang menawarkan jasa EO dan WO. Hal ini memudahkan Hasa untuk menjadikan Iyash pemimpin di perusahaannya.


Sementara bagi Ira sendiri kedua anaknya sama saja, sama-sama harus mendapatkan hak, entah itu dari segi harta maupun kasih sayang.


Iyash tidak tahu akan masalah ini, yang dia dengar sekarang kedua orang tuanya akan bercerai dan itu karena Hasa yang belum bisa melupakan Miranti. Bagi Miranti sendiri hidup tanpa suami bukan masalah besar, suami mungkin akan membuat kerutan datang lebih awal. Terbukti dari penampilannya sekarang, Meski sudah kepala lima Miranti masih terlihat cantik dan segar. Namun, bukan itu yang membuat Hasa bulat untuk berpisah dari Ira, tapi Edgarlah alasan utamanya.


Setelah keluar dari rumah Ira, Hasa mencari tahu semua tentang Edgar, bahkan dia menyuruh orang untuk mengumpulkan bukti kalau Edgar adalah anaknya dan berhak atas hartanya.