Behind The Lies

Behind The Lies
Masuk Rumah Sakit



Malam hari ketika Ashilla baru saja sampai ke rumah setelah seharian lelahnya mengurus perusahaan dan masalah lainnya, tiba-tiba tanpa memberinya kesempatan untuk duduk, Ganjar langsung mencecarnya.


“Opa dapat laporan dari kantor,” kata Ganjar tanpa basa-basi.


Ashilla menghela napas. “Syukurlah kalau Opa sudah tahu.”


“Belum lama kamu mengurus perusahaan, tapi kerugiannya sudah sebesar ini,” keluh Ganjar.


“Iya, itulah Opa, dari awal aku sudah menolak karena aku sama sekali tidak paham dengan masalah ini.”


“Tidak paham?” Ganjar mengusap dada. “Kenapa tidak tanyakan?”


“Sama siapa? Opa cuma bisa marah.”


“Kamu tidak mempelajari perusahaan dengan benar,” tuduh pria berusia delapan puluh tahun tersebut.


“Iya. Terserah Opa mau bilang apa, yang jelas selama tiga bulan ini aku sudah berusaha.” Ashilla tidak ingin Ganjar melupakan semua usahanya selama ini. “Bahkan aku mengesampingkan keinginanku dan Asa. Semua ini demi menuruti kemauan Opa.”


“Kalau memang kamu berusaha, pasti ada hasilnya.”


“Hasilnya ini, Opa.”


“Kerugian?” Ganjar mengernyit.


“Ya,” jawab Ashilla kesal. “Mau bagaimana lagi, Opa mempercayakan perusahaan pada orang yang salah.” Dia sudah cukup frustasi selama ini.


“Kamu tidak mempercayai diri kamu sendiri.”


“Aku minta maaf, tapi aku benar-benar capek dan aku sudah menyerah.”


“Hanya tiga bulan dan kamu bilang menyerah, kamu tidak melihat perjuangan Opa selama puluhan tahun.”


“Perusahaan kalau jatuh ke tangan yang tepat, hasilnya pun akan baik, Opa. Beruntung baru tiga bulan, kalau setahun mungkin Opa sudah gulung tikar.”


“Astaga.” Ganjar menghempas bokong ke sofa seraya mengusap dada.


“Maaf, Opa, tapi Shilla benar-benar capek.” Akhirnya Ashilla melunakkan suaranya. “Kadang Shilla bingung harus apa.” Dia kemudian duduk di sebelah kakeknya. “Kenapa Opa nggak coba minta Aruna aja yang mengurus perusahaan?”


“Aruna ….” Ganjar menghela napas. “Kamu saja yang Opa besarkan secara langsung gagal apalagi dia.”


“Opa selalu saja meremehkannya, pantas dia memilih tinggal jauh dari keluarganya sendiri.”


“Sudah, jangan dibahas.” Ganjar bangkit.


“Opa tidak lihat betapa suksesnya dia sekarang?”


“Dia sukses untuk dirinya sendiri, bahkan dia menolak beberapa kali ketika Opa mengajaknya tinggal di sini.” Ganjar melenggang pergi meninggalkan kursi.


“Opa.” Ashilla menyusulnya. “Mulai besok, Shilla nggak mau ke kantor.”


Seketika Ganjar menoleh dan menatapnya tajam. “Kamu ini bagaimana, terus siapa yang ngurus?”


“Tapi, Opa, aku harus mempersiapkan pernikahanku.”


“Terus perusahaan bagaimana?”


“Minta orang kepercayaan Opa untuk mengurus semuanya.”


Ganjar kembali menghela napas dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ashilla tercenung dan tak lagi mengikuti kakeknya. Dia mungkin bingung dengan situasi ini karena jujur sejak dia memutuskan pindah ke New York, dia tidak pernah tertarik dengan perusahaan Kakeknya. Apa salahnya jika sekarang dia ingin memilih jalan hidupnya sendiri?


***


Menjelang tidur Ashilla mendengar suara Ganjar yang merintih kesakitan. Dia begitu panik karena tak biasanya Ganjar seperti ini.


Ashilla lekas bangkit dan meninggalkan tempat tidurnya. Dia berjalan cepat dan mengetuk pintu kamar Ganjar.


“Opa,” teriaknya keras. “Opa, kenapa?”


Tak ada sahutan dari dalam dan itu membuatnya semakin panik. Ashilla lekas memutar knop pintu dan dia terkejut melihat sang kakek tergeletak di lantai tanpa bisa bergerak dan hanya bisa merintih kesakitan.


“Opa,” Ashilla mencoba mengangkat tubuh Ganjar, namun dia kewalahan, tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan ini.


Ashilla berdiri dan memanggil-manggil Bi Sumi. Namun, asisten rumah tangganya itu tak mendengar suaranya, padahal sudah cukup keras.


“Bi Sumi!


“Bantu saya, Opa–” Suara Ashilla tercekat.


“Kenapa Bapak, Non?”


Ashilla berlari dan Bi Sumi mengikutinya.


“Tolong, Bi, bantu saya mengangkat Opa ke ranjang.”


Bi Sumi mengangguk. Mereka berdua lekas mengangkat Ganjar dari lantai dan memindahkannya ke kasur.


“Tolong buatkan air hangat, saya mau telepon ambulan.”


Ashilla pergi untuk mengambil ponsel di kamarnya. Namun, belum sempat dia memanggil ambulan, pesan Angkasa beberapa saat lalu tampil di depan layar. Tanpa membaca pesan itu, dia langsung menghubungi Angkasa. Tak perlu menunggu lama Angkasa langsung menjawab panggilannya.


“Sayang,” panggil Angkasa. “Syukurlah.”


“Tolong bantu aku, kita harus membawa Opa ke rumah sakit.”


“Hah? Kenapa?”


“Berhenti bertanya dan cepat datang,” pinta Ashilla dan dia langsung memutus sambungan telepon.


Angkasa panik dan lekas pergi ke tempat Ashilla tanpa mengganti pakaian. Dia hanya menimpa celana pendeknya dengan celana panjang, lalu menutupi kaos oblongnya dengan Jaket.


Sementara setelah Ashilla memutus sambungan teleponnya dengan Angkasa, dia langsung menghubungi ambulan. Ashilla semakin panik ketika menyentuh lengan dan kaki Ganjar yang terasa sangat dingin, pria tua itu bahkan tak merespon dirinya. Andai Yayan belum pulang, itu pasti akan lebih memudahkannya untuk membawa Ganjar ke rumah sakit.


Ambulan lebih dulu datang dibanding Angkasa yang terjebak macet. Padahal seharusnya sebagian orang berhenti berkendara karena ini sudah cukup malam, keluh Angkasa.


“Bi, tolong jaga Asa, kalau saya belum pulang, besok siapkan saja Asa sekolah.”


“Baik, Non.”


Ashilla melesat pergi, tak berapa lama setelah kepergiannya, Angkasa datang. “Bi,” panggil Angkasa saat Bi Sumi handak menutup pintu rumah.


“Non Ashilla baru saja pergi dengan ambulan, Mas.”


“Terima kasih.” Angkasa segera menyusul Ashilla menuju rumah sakit.


Begitu sampai rumah sakit, Ganjar langsung mendapat penanganan medis.


Ashilla mencoba menghubungi anggota keluarganya di grup keluarga.


[Opa masuk rumah sakit. Aku nggak mau tahu kalian harus pulang ke sini, takutnya nanti nggak bisa ketemu Opa lagi.]


Entah apa yang dipikirkan Ashilla sampai dia harus menggunakan kata ancaman dalam pesan singkatnya.


[Bunda langsung terbang ke Indonesia hari ini bareng sama Kak Edgar. Tolong kamu bersabar.] Balas Miranti dalam pesannya.


[Aruna?”] Ashilla mentag nama itu lantaran saudara perempuannya tersebut tak membalas pesannya padahal jelas-jelas sudah membacanya.


[Aku langsung berkemas.] Balas Aruna.


[Terima kasih. Meski harus mendesak baru bisa merasakan manisnya berkumpul dengan keluarga, tapi aku benar-benar bersyukur karena aku tak sendirian.]


[Kamu di sana sama siapa?] tanya Miranti.


[Ada Angkasa yang akan mengurus semuanya.] Balas Ashilla setelah melihat pria itu datang.


[Syukurlah.]


Ashilla kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku bajunya. Tak berapa lama Angkasa datang dan langsung memeluknya. “Kamu tenang, semua akan baik-baik saja.”


“Tadi, kami bertengkar, kurasa aku terlalu keras pada Opa,” lirih Ashilla.


“Jangan dipikirkan, Opa hanya terlalu khawatir.” Angkasa tahu kalau ini pasti masalah perusahaan, sebelumnya Ganjar sudah mengeluhkan ini pada dirinya. Ganjar juga berkata kalau dia membesarkan perusahaan itu seperti anaknya sendiri.


Ashilla menghela napas. “Aku bingung.”


“Iya, aku tahu.” Angkasa mengecup puncak kepala Ashilla. Baru pagi tadi mereka membicarakan pernikahan. Entahlah, sejujurnya Angkasa tidak siap jika harus menundanya lagi, dia takut jika Ashilla malah membatalkan rencana pernikahannya dengan alasan lain.


***