
Pagi hari dua piring nasi goreng tersaji di atas meja. Faran dan Aruna menikmatinya dengan santai.
“Mas, dia memang ibuku,” kata Aruna setelah lama terdiam.
Jantung Faran mencelus.
“Wanita itu meminta ayah untuk bilang sama aku kalau dia sudah meninggal. Dia tidak ingin aku mencarinya.”
“Terus sekarang kenapa dia mencari kamu?” tanya Faran lembut.
Aruna mengedikkan bahu. “Mungkin ingin menebus dosa.”
“Kalau begitu beri dia kesempatan.”
Aruna tercenung. “Mas, aku takut.”
“Iya Mas ngerti. Kalau kamu mau bertemu, Mas bisa temani. Sebaiknya kamu segera menyelesaikan masalah kamu. Atau kamu bisa ikhlaskan semuanya.”
“Ikhlas,” gumam Aruna. “Ngomongnya yang mudah prakteknya yang susah.”
Faran tersenyum. “Kalau mudah, nggak akan ada orang yang datang ke psikiater. Semua penyakit mental itu berawal dari kurangnya rasa ikhlas. Entah itu ikhlas menerima semua yang sudah Allah takdirkan, atau ikhlas melepas orang yang kita sayang. Semua orang akan berdamai dengan masa lalu jika sudah memiliki rasa itu. Akui, maafkan, lupakan, ikhlaskan.”
Aruna mengangguk. “Ikhlas ada di puncak paling atas kesabaran.”
“Kamu benar,” kata Faran setuju.
“Hidupku terlalu banyak kejutan.”
“Baguslah, kamu sudah terlatih untuk hal itu.” Faran tersenyum.
“Tapi, Mas, aku jadi benci kejutan,” rengek Aruna.
“Iya, Mas tahu.” Itulah kenapa Faran tak pernah memberinya kejutan.
“Mas mengenalku lebih dari diriku sendiri,” puji Aruna.
Faran tersenyum. Dia kemudian membelai puncak kepala Aruna.
“Mas ….”
“Hm?”
“Mungkin aku belum pantas menjadi ibu,” pikir Aruna.
Faran menatap istrinya lama.
"Aku takut mengecewakan anakku."
“Sssttt … jangan pernah berpikir begitu. Justru kamu harus membuktikan kalau kamu pantas dan layak.”
Aruna termenung. Perlahan kemudian air matanya kembali turun. Jujur dia tak ingin menoleh ke belakang karena dia tak mampu membenahi semuanya tanpa Faran.
***
Tepat pukul sembilan, Aruna dan Faran kembali ke rumah sakit. Semalam Faran sudah membuatnya tenang dan pria itu sudah bersiap untuk menguatkannya lagi.
“Ingat kalau perkataan Opa melukai kamu lagi, kamu cuma perlu senyum aja, jangan terlalu ditanggepin. Lihat Edgar atau Ashilla, mereka santai banget menghadapi Opa,” kata Faran di koridor rumah sakit.
Aruna mengangguk. “Mungkin karena aku nggak kenal sama kakekku sendiri. Kalau Kak Edgar sama Ashilla, ‘kan sudah biasa, mereka sudah tahu watak Opa.”
“Kalau begitu mulai sekarang kamu belajar memaklumi Opa.”
Aruna kembali mengangguk, meski sebenarnya dia tak yakin bisa.
“Mengalah bukan berarti kamu kalah. Justru dengan kamu melawan kamu sudah memenangkan ego kamu.”
“Iya, Sayang,” sahut Aruna seraya memeluk lengan Faran.
Faran tergemap menatap wanita itu. Jantungnya menggelepar. Ini kali pertama Aruna memanggilnya Sayang setelah tujuh tahun pernikahan.
“Terima kasih atas semua kesabaran kamu,” sambung Aruna.
Faran tersenyum. Mereka akhirnya sampai di depan kamar rawat Ganjar.
“Jangan dengar apapun, selain hal baik,” saran Faran.
“Iya, Sayang.”
Lagi-lagi Faran tersenyum mendengar Aruna kembali memanggilnya Sayang. Faran kemudian membuka pintu seraya mengucap salam dan Miranti langsung menyambut salamnya.
“Akhirnya kalian datang,” kata Miranti yang sedang menemani Ganjar menonton televisi.
Perlahan Aruna melangkah masuk. Ada rasa yang berkecamuk dalam dadanya sampai dia merasa perlu untuk terus menguatkan dirinya sendiri.
“Maaf Aruna baru bisa ke sini, Opa,” kata Faran.
Aruna malah terdiam menatap Faran. Entah kenapa dia malah merasa asing di keluarganya sendiri. Padahal biasanya yang merasa asing itu para menantu.
Faran menoleh pada Aruna kemudian mengangguk pelan.
“Opa.” Aruna mendekat dan meraih tangan Ganjar lalu, mendekatkan punggung tangan pria tua itu ke pipinya. “Syukurlah, Opa sudah baikan?”
“Opa sudah sehat. Kamu apa kabar?”
“Baik, Opa.” Aruna kemudian menatap Faran dan pria itu tersenyum lembut pada istrinya.
“Kata Faran kamu sakit?”
“Tidak boleh menyepelekan, angin juga berbahaya,” kata Ganjar perhatian.
Aruna tersenyum kaku. Tak seperti yang dia dengar semalam, pagi ini tampaknya Ganjar tidak ingin melontarkan kata-kata buruk.
Aruna tidak tahu bagaimana Miranti menasehati Ganjar semalam. Pria tua itu akhirnya sadar kalau Aruna juga adalah cucunya.
“Pekerjaan kamu gimana?”
“Bulan ini ada rencana resign, Opa,” jawab Aruna.
“Kenapa?” tanya Miranti cepat.
Aruna menoleh, kemudian tersenyum. “Mau ikut Mas Faran ke Bali, Bunda.”
“Oh. Baguslah. Bunda juga khawatir kamu sendirian di Jerman. Kasihan Faran juga, ‘kan?” Miranti menepuk bahu Faran. “Kalau yang lain mana kuat LDR-an.”
Faran tersenyum.
“Hm, Ayu pasti senang. Tiap nelpon dia selalu cerita, katanya, kasihan Faran, kesepian, pulang capek nggak ada yang ngurus.”
Aruna tersenyum kikuk, pun dengan Faran.
“Kalau memang sudah bulat untuk tinggal di Bali. Sering-sering kunjungi kami di sini,” kata Ganjar.
Aruna mengangguk.
Sedari tadi Faran tak berhenti menggenggam tangan Aruna. Dia dapat merasakan semua yang Aruna rasakan dari genggaman tangannya. Sejauh ini emosi Aruna stabil. Dia berharap Ganjar akan menjaga perkataannya agar tidak melukai hati istrinya lagi.
“Besok Opa kalian sudah boleh pulang. Syukurlah akhirnya Papa bisa menjadi wali di pernikahan Ashilla,” kata Miranti.
Aruna tersenyum seraya mengangguk.
“Ashilla sudah panik, lantaran takut tidak ada wali yang akan menikahkannya.”
“Kan ada Edgar,” kata Ganjar.
“Kalau masih ada Papa, ngapain harus Edgar.” Miranti kemudian menatap Aruna dan Faran. “Iya, ‘kan?”
Keduanya kompak mengangguk.
“Papa bisa sembuh karena doa mereka juga,” sambung Miranti.
Aruna dan Faran tersenyum.
“Setelah Papa pulang, kita bisa fokus mengurus semua persiapan pernikahan Ashilla dan Angkasa.”
Faran menepuk lembut punggung tangan Angkasa seraya tersenyum karena dia merasa lega, akhirnya Aruna tak perlu lagi mendengar ujaran kebencian dari Ganjar.
“Opa, kami pamit dulu. Aruna masih perlu istirahat,” kata Faran. “Maaf nggak bisa lama.”
Ganjar mengangguk.
“Bunda antar ke depan.”
“Nggak usah, Bund. Bunda, ‘kan harus jagain Opa.”
Miranti tersenyum. “Opa kamu juga harus istirahat.”
Ganjar menggeleng ketika melihat Miranti pergi dari kamar rawatnya.
Miranti berjalan sembari merangkul lengan Aruna. “Terima kasih sudah mau berbesar hati datang ke sini. Bunda sebenarnya capek meminta pengertian Opa kamu, tapi kita semua tahu wataknya, semoga setelah sakitnya ini Opa berubah.”
Aruna hanya mengangguk.
“Semalam Faran menelepon dan cerita semuanya. Bunda turut prihatin. Kamu jangan banyak pikiran, selama ada tempat untuk berbagi, kamu tidak sendirian. Bunda dukung keputusan kamu untuk resign.”
Aruna kembali mengangguk, namun sedetik kemudian dia menatap suaminya. Dia tidak menyangka kalau Faran akan memberi tahu Miranti kejadian semalam.
“Bukan salah Faran. Dia hanya merasa kalau kamu perlu waktu untuk berdamai dengan masa lalu kamu. Bunda sepakat sama Faran untuk mempertemukan kamu dengan ibu kamu.”
Seketika Aruna berhenti melangkah.
“Kenapa, Run?” tanya Miranti kaget.
“Aku rasa ini nggak perlu, Bund.”
“Kenapa?”
“Sayang, Mas sudah bilang akan temani kamu, kalau perlu kita bisa minta Pak Yayan untuk ikut juga,” kata Faran.
“Bunda juga. Ini memang tertunda cukup lama. Bunda juga awalnya ngerasa kalau ini nggak perlu, tapi setelah Faran memberi tahu keadaan kamu, Bunda rasa memang ada saatnya kamu dan Dewi saling mengakui. Tidak baik seperti ini apalagi kalian terikat hubungan darah. Mau tidak mau Dewi adalah wanita yang sudah melahirkan kamu dan Ashilla.”
“Dan Ashilla?” tanya Aruna.
“Iya. Dia akan ikut kamu untuk menemui Dewi juga.”
Aruna kemudian menatap Faran.
“Kita hanya perlu untuk mengatur waktunya aja, dan kamu tinggal siapkan diri,” ujar Faran.
“Selama ada Mas, mungkin aku nggak perlu persiapan apa-apa.”
Faran tersenyum. “Bukan begitu, kamu tetap harus mempersiapkan diri, soalnya Mas nggak bisa menjanjikan apa-apa kalau nanti terjadi sesuatu.”
“Faran benar,” kata Miranti. “Selama ini kamu sudah berhasil membuktikan kalau kamu bisa hidup sendiri. Kamu bisa menggapai mimpi kamu, sekarang seharusnya kamu bisa menunjukkan ketegaran kamu, jangan pernah terlihat lemah. Bunda tahu kamu kuat.”
Aruna termenung dan Faran langsung mengecup puncak kepalanya. Sadar ataupun tidak Aruna akan bergantung pada sesuatu yang membuatnya nyaman dan merasa diakui. Namun, ketika dia hidup sendiri dia tidak memerlukan itu karena dia sudah cukup yakin pada dirinya sendiri. Dia memang merasa lebih nyaman hidup jauh dari orang yang akan mengingatkannya pada masa lalu. Sekali lagi apa yang Gusman terapkan telah menular pada Aruna.
***