Behind The Lies

Behind The Lies
Takdir Selalu Mempertemukan



Tepat pukul dua lewat lima belas menit Ashilla teringat kalau dia harus menjemput Asa. Pekerjaannya memang siang itu cukup menguras waktu. Sebelum pergi meninggalkan kantor dia mencoba menghubungi pihak sekolah.


Panggilannya tersambung, namun dia harus menunggu sampai beberapa detik untuk mendapat jawaban.  “Halo.”


“Halo selamat siang, saya Shilla Mamanya Asa.” Tanpa ragu dia memperkenalkan diri. “Tolong sampaikan pada Asa kalau saya terlambat menjemputnya.”


“Asa sepertinya sedang menunggu di depan ditemani Pak Satpam, sementara semua temannya sudah pulang.”


“Tolong ya, Pak, saya titip Asa sebentar lagi, saya masih di jalan.”


“Iya, baik, Bu.”


“Terima kasih.”


Ashilla menghela napas dan lekas menutup panggilan. Setelah itu dia berlari keluar dari kantor, namun sebelumnya dia sempatkan diri menemui Nova. “Nov, saya pulang duluan, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi saya.”


“Baik, Bu.”


Wanita berbaju warna burgundy itu kembali berjalan dengan cepat menuju tempat parkir. Namun, mobilnya terhalang oleh mobil lain. Ashilla lekas mencatat plat mobil honda jazz silver tersebut, kemudian kembali ke dalam dan bertanya pada Nur atas kepemilikan mobil tersebut.


“Itu punya Bu Rosma,” jawab Nur.


“Saya mau keluar, tolong kamu sampaikan pada Bu Rosma agar memindahkan mobilnya.”


“Iya, Bu.”


Bu Rosma adalah bagian personalia perusahaan Pak Ganjar sejak perusahaan tersebut berdiri. Ashilla menunggu sampai dua menit akhirnya Bu Rosma datang. “Mau ke mana, Bu?” tanyanya pada Ashilla


“Mau jemput Asa, Bu.”


“Oh, ya ampun aduh maaf lama.”


Semua orang di kantor tersebut tahu kalau Asa adalah anak Ashilla. Nampaknya Ashilla punya cara tersendiri untuk berdamai dengan masa lalu.


“Biasanya pukul satu?” tanya Bu Rosma sembari berjalan cepat menuju tempat parkir.


“Iya. Tadi kelupaan.”


Bu Rosma berhasil memberi mobilnya jalan. “Makasih, Bu, saya duluan,” teriak Ashilla yang sudah berada di dalam mobil.


“Iya, hati-hati,” kata Bu Rosma yang juga berada di dalam mobil sembari melambaikan tangan, setelah itu dia kemudian mengisi tempat parkir bekas mobil Ashilla.


Akhirnya setelah menghabiskan beberapa menit, Ashilla pun bisa keluar dari kawasan kantor menuju sekolah Asa. Namun, dalam perjalanan yang sudah cukup jauh  dan hampir dekat ke sekolah Asa, dia mengalami kesulitan lainnya, ban mobilnya kempes dan dia terpaksa berhenti di pinggir jalan sembari menghubungi pihak sekolah Asa.


“Mohon maaf, Pak, saya benar-benar terlambat kebetulan ban mobil saya kempes. Tolong nitip Asa lagi ya, Pak, saya nanti kesana lewat taksi.”


“Iya, tidak apa-apa, Asa ada bersama saya.”


“Terima kasih, Pak.”


“Iya, sama-sama, Bu.”


Ashilla lekas menutup panggilan dan mencoba menghubungi bengkel. Hari ini rasanya begitu berantakan. Tadi pagi dia dibuat kesal dengan kepergian Ganjar yang tanpa kabar, hingga dia memutuskan pergi karena takut terlambat, sedangkan menjelang siang dia mendapat telepon dari pria tua itu dan memberitahunya kalau dia sedang berada di rumah Pak Rizwan, tetangganya. Ashilla percaya karena dia pikir buat apa sang kakek berbohong.


“Lain kali bilang.” Ashilla hanya berkata demikian.


Dan sekarang ditengah rasa dongkolnya, tiba-tiba sebuah motor berhenti di sebelahnya.


“Mobilnya kenapa, Mbak?” tanya seorang pria.


“Bannya kempes, Mas,” jawab Ashilla tanpa menoleh ke asal suara dan malah sibuk menelpon pihak bengkel. “Mana saya harus jemput anak saya lagi,” gumamnya.


“Ada ban serep? Biar saya coba betulkan.”


Ashilla segera menoleh ke samping dan dia terkejut melihat Iyash duduk di atas motor dengan senyum merekah. “Iyash?”


“Hai.”


Ashilla menghela napas. Dia bukan tidak menepati janjinya pada Angkasa ataupun tidak menuruti Miranti, namun, sekuat apapun dia menghindar, takdir selalu mempertemukannya dengan pria itu.


“Kenapa bisa kebetulan, memang mau kemana?” tanya Ashilla gugup.


“Mau jemput ponakan, kebetulan tadi Kak Rasya ada perlu jadi dia minta aku jemput anaknya.”


“Ada ban serep?” tanya Iyash.


Secepatnya Ashilla menggeleng. “Nggak ada.” Tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan panggilan masuk dari sekolah Asa.


“Iya?” sahut Ashilla usai mendekatkan ponsel ke telinga.


“Mama, Asa laper.”


“Ya ampun, maaf, Sayang. Ban mobil Mama bocor. Kamu masih di sana, ‘kan?”


“Iya.”


Ashilla kemudian menatap Iyash. Tak berapa lama dia mencabut kunci mobil dan mengambil tas, lalu naik ke atas motor Iyash. “Tujuan kita sama, nanti aku dan Asa bisa pulang naik taksi.”


Beberapa detik Iyash terperangah karena pergerakan Ashilla yang begitu cepat. Sepertinya Tuhan memang mendukung keputusannya untuk merelakan Aruna dan membiarkan Ashilla masuk ke dalam hidupnya.


“Jalan, Yash,” pinta Ashilla sembari menepuk bahu Iyash.


“Iya.” Motor melesat kencang, hingga angin seperti terasa menampar wajah keduanya. Ashilla tak punya pilihan, dia benar-benar membutuhkan bantuan. Sehingga dia tidak menyadari kalau apa yang dia lakukan telah memberi Iyash kesempatan untuk terus masuk ke dalam hidupnya.


Sesampainya di sekolah Ashilla langsung turun dari motor Iyash. “Makasih ya.” Ashilla lekas masuk ke dalam sekolah dan Asa langsung menghambur memeluknya. “Take a long time.” Wajah Asa merengut dan dia hampir saja menangis.


Ashilla tak sanggup melihat Asa sesedih ini. Dia lekas memeluk dan menghujaninya dengan kecupan. “Maaf-maaf-maaf.”


Asa mengangguk.


“Selamat sore, saya kepala sekolah di sini,” kata pria yang sedari tadi berdiri di sebelah Asa. “Iqbal.” Pria itu mengulurkan tangan.


Ashilla tengadah, kemudian bangkit. Dia terkejut karena pria itu ternyata adalah orang yang dulu pernah mengejar-ngejarnya di restoran dan menyebutnya Aruna.


Perlahan Ashilla menyambut jabatan tangan Iqbal. “Terima kasih Pak, sudah menjaga Asa.”


“Tugas saya. Maaf untuk kejadian tempo hari.”


“Nggak apa-apa, saya juga sudah lupa,” bohong Ashilla.


“Sepertinya Asa sudah lelah. Kalian pulang naik apa?”


“Taksi. Kebetulan ban mobil saya bocor dan kebetulan ada Iyash, nggak tahu kalau nggak ada dia saya gimana.”


Iyash tertunduk untuk menyembunyikan pipi merahnya, entah kenapa dia selalu suka setiap Ashilla berkata demikian. “Nggak tahu kalau nggak ada kamu, untung ada kamu. Nggak tahu kalau nggak ada dia.” Sudah sering Ashilla berkata seperti itu dan itu benar-benar membuat Iyash merasa dihargai. Iyash senang karena kembali ada perempuan yang menganggapnya seperti pahlawan setelah Aruna.


“Kamu dan Iyash?”


“Ya, kami berteman,” kata Ashilla cepat.


Iqbal kemudian tersenyum, sementara Iyash mengernyit kecewa, dia ingin Ashilla menganggapnya lebih dari teman.


“Pak Satpam,” panggil Iqbal. Dan pria berseragam putih itu lekas mendekat. “Tolong carikan taksi untuk ibunya Asa.”


“Baik, Pak.”


“Sekali lagi terima kasih.”


“Coba kalau aku bawa mobil, kalian nggak perlu naik taksi. Tadi jam sepuluh aku pulang dari kantor dan menukar mobil pakai motor karena harus ke Bekasi, sedangkan aku malas bawa mobil,” ungkap Iyash.


“Nggak apa-apa,” kata Ashilla.


“Yash, pakai mobil Mas aja,” kata Iqbal.


“Mas Iqbal serius?” tanya Iyash datar. Nampaknya dia berusaha keras untuk terlihat tenang di depan Ashilla.


“Iya, kasihan kalau pakai taksi takutnya lama lagi, Asa juga sepertinya sudah lelah.”


Tentu saja hati Iyash bersorak riang, rupanya alam semesta pun mengizinkannya untuk selalu dekat dengan Ashilla.


“Besok kamu bisa kembalikan sambil antar Queensha.”


“Iya, Mas.” Iyash kemudian mendekat dan meminta kunci dari Iqbal. “Makasih,” bisiknya.


Iqbal tersenyum simpul. Dia sudah tahu kalau Iyash ada perasaan pada wanita yang mirip Aruna itu karena tergambar jelas di wajah adik sepupunya tersebut.