Behind The Lies

Behind The Lies
Jangan Pernah Memaksakan Kehendak



Asa tertidur di dalam mobil di atas pangkuan ibunya, padahal sebelumnya dia sempat mengatakan kalau dirinya lapar.


“Langsung pulang?” tanya Iyash ke jok belakang, sementara yang duduk di sebelahnya adalah Queensha.


“Kamu keberatan nggak kalau kita mampir tempat makan dulu, tadi Asa bilang laper.”


“Nggak-nggak, kita nggak keberatan, iya, ‘kan Queen?”


Queensha menggeleng.


“Kamu juga laper, ‘kan, Queen?”


Queensha kembali menggeleng.


“Tuh, katanya dia juga laper.”


Ashilla tersenyum, dia tahu kalau Queensha menggeleng. “Queen, Om Iyash baik nggak?” tanya Ashilla, seolah sesuatu itu menjadi teramat penting.


Queensha menoleh kemudian berbisik, “Jahil.”


Mulut Ashilla membola dan kedua alisnya terangkat. “Jahilnya seperti apa?”


“Dia–”


“Ssstttt. Om turunin nih,” ancam Iyash.


“Oh, jahilnya kayak gitu,” kata Ashilla sembari tertawa dan itu malah membuat Asa terbangun.


“Why, Mom?”


“Hei. Kita mau mampir ke tempat makan dulu, kamu mau?”


Asa mengangguk. Sepertinya dia memang sudah sangat lapar.


Tak beberapa lama mereka sampai di depan restoran. Asa dan Ashilla lekas turun sementara Queensha menjadi orang yang terakhir turun dari mobil karena dia selalu minta digendong oleh Iyash.


Mereka kemudian mencari tempat duduk. Asa dan Queensha memesan seporsi kecil nasi dan ayam krispi. Sedangkan Ashilla memilih seporsi mie ayam pangsit, sedangkan Iyash memilih semangkuk bakmi.


“Asa lebih mirip adik kamu ketimbang anak,” kata Iyash.


“Kamu orang kesekian yang mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi, dia ‘kan anakku.” Ashilla mengecup puncak kepala Asa.


“Asa, Om boleh tanya?” tanya Iyash.


Asa mengangguk.


"What kind of person is Mama?"


Asa menoleh menatap sang ibu. “She is a good person like an angel.”


Seketika Ashilla tersenyum, pun dengan Iyash.


“She was never angry. Do you know? She’s so gentle and generous.”


Iyash mengangguk. “I can see it,” bisik Iyash seraya membungkuk dan mendekatkan wajah pada Asa yang duduk di depannya.


Ashilla tersenyum kemudian menghela napas. “Well, thanks for the compliment.”


“You're welcome,” desis Iyash sembari menegakkan tubuh.


Sore itu ada sedikit kegugupan dalam diri Ashilla usai mendapat pujian dari anaknya sendiri, namun, yang lebih membuatnya gugup adalah tatapan Iyash dan senyum pria itu. Entah kenapa Ashilla harus menghadirkan perasaan melambung disertai gugup, dia seharusnya tahu perasaan tersebut tidak boleh hadir di antara dirinya dan Iyash karena ada Angkasa yang tengah menunggunya siap untuk dipinang.


Tiba-tiba panggilan masuk ke ponsel Ashilla. “Opa telepon,” katanya pada Asa. “Ya, Opa?” tanyanya tanpa menyapa.


“Kamu kemana dulu, kenapa belum pulang, di sini hujan besar, Opa khawatir.”


“Kita lagi makan dulu, Opa. Opa mau pesan sesuatu?”


“Nggak. Kamu hati-hati di jalan. Jalanan pasti licin.”


“Di sini nggak hujan, Opa.”


“Oh. Syukurlah, semoga hujan di sini cepat reda.”


“Iya. Opa mau bicara sama Asa?”


“Mana?”


Ashilla kemudian memberikan ponselnya pada Asa.


“Kenapa nggak makan di rumah?” tanya Ganjar. “Hampir jam lima masih belum pulang.”


Alih-alih menjawab Asa malah memberikan ponselnya pada Ashilla. “Grumble,” kata Asa pelan.


Kening Ashilla mengernyit. Seharusnya kalau Ganjar mau mengomel kanapa tak padanya saja, kenapa harus pada Asa yang sedari tadi lelah menunggunya menjemput.


“Sekarang mobilnya di mana?” Bukan Ashilla yang dikhawatirkan, tapi malah mobilnya.


“Sudah dibawa orang ke bengkel.” Kebetulan tadi Ashilla mendapat pesan dari orang bengkel dan dia memberikan alamat tempat mobilnya berada.


“Syukurlah. Cepat pulang.”


“Iya.”


Ganjar lekas menutup panggilan sementara sedari tadi Iyash menguping dan dia tidak melihat wajah Ashilla marah, sedangkan Asa terlihat kesal.


“Sudah habis?” tanya Ashilla pada Asa usai memasukkan ponsel ke tas.


Asa mengangguk.


“Yash, kami pulang naik taksi aja, takutnya orang tua Queensha panik soalnya hampir jam lima anaknya belum pulang.”


“Nggak panik, dia, ‘kan sama aku. Tadi aku juga udah kirim pesan ke mereka.”


“Nggak apa-apa, Yash, kami naik taksi aja, takutnya kamu kena macet.”


“Aku nggak takut,” kata Iyash. “Aku lebih takut lihat kalian pulang naik taksi.”


Seketika Ashilla tergemap. Keseriusan Iyash tergambar seperti malam itu, ketika dia ngotot pulang dari rumah sakit tengah malam.


“Ya sudah, makasih, Yash.”


Iyash mengangguk. Akhirnya pria itu mengantar Ashilla sampai tujuan. Sedangkan Queensha terlelap di dalam mobil.


“Yash, sekali lagi makasih,” kata Ashilla sebelum turun.


“Thanks, Om,” kata Asa seraya turun lebih dulu.


Iyash hanya tersenyum seraya mengangguk. Nampaknya mendekati Asa tak begitu mudah. Anak itu terkadang hanya bicara seperlunya, namun dia merasa semakin tertantang apalagi setelah mendengar Asa memuji Ashilla di depannya dan itu karena dia bermaksud menjawab pertanyaannya.


Sisa-sisa hujan besar memang sangat terasa, namun beruntung saat mereka sampai hujan sudah berhenti. Ashilla berdiri di depan pintu sementara Asa sudah masuk lebih dulu. Dia menatap kepergian mobil Iyash dari halaman rumahnya.


***


Pagi hari Iyash mengantar Queensha ke sekolah menggunakan mobil Iqbal. Kebetulan semalam Queensha terpaksa menginap di rumah neneknya karena tidak memungkinkan untuk pulang, sedangkan Rasya tak banyak bertanya karena dia percaya sepenuhnya pada Iyash.


Iyash menunggu sampai beberapa menit berharap dia bertemu Ashilla di sana, namun tidak ada karena ternyata Asa diantar oleh Yayan.


“Good morning, Asa,” sapa Iyash.


Asa tersenyum. “Good morning, Om.”


Mendapat senyum seperti itu saja Iyash sudah merasa sangat bahagia, setiap hal positif yang didapatkan dia jadikan itu sebagai motivasi untuk terus berusaha memenangkan hati Ashilla, lebih tepatnya Aruna karena dia masih meyakini itu.


Iyash tak bisa bertanya tentang Ashilla karena dia merasa bukan saatnya, apalagi Asa terus masuk menuju kelas. Iyash pun menemui Iqbal di ruang kepala sekolah.


“Gimana kemarin?” tanya Iqbal kepada Iyash yang baru saja duduk di sofa.


“Lancar.”


“Baguslah. Kamu suka sama dia, ‘kan?” tebak Iqbal.


Dengan penuh keyakinan Iyash mengangguk.


“Apa karena dia mirip Aruna?”


Seketika Iyash terdiam. Namun, apa salahnya jika itu memang benar? Toh selama ini dia meyakini kalau Ashilla memang Aruna.


“Kalau kamu menyukai dia karena dia mirip Aruna, sebaiknya jangan. Karena kamu akan menyakiti dia nantinya,” saran Iqbal.


Iyash menghela napas, kemudian berbalik dan pergi dari ruangan Iqbal tanpa berkata apa-apa lagi. Mungkin dia merasa Iqbal ada benarnya.


“Aku cukup yakin kalau kamu masih berharap wanita itu memang Aruna, iya, ‘kan?” tebak Iqbal lagi.


Seketika langkah Iyash terhenti, jantungnya berdegup sakit.


“Mas tahu hati kamu menjawab iya. Sebaiknya kamu lepaskan dia. Baik Aruna maupun Ashilla. Kalau kamu memaksakan kehendak untuk dekat dengan Ashilla hanya karena itu, secara tidak langsung kamu akan menyakitinya.”


“Mas Iqbal cemburu, ‘kan aku bisa dekat sama dia?” Iyash malah berpikir sependek itu.


“Mana bisa aku cemburu? Kamu tahu aku sudah menikah, bahkan Zahra sedang hamil anakku. Dari dulu aku memang berharap kabar kematian itu bohong dan makam itu kosong, namun kenyataannya tidak begitu, Yash.”


Iyash kembali menggeleng. “Semakin Mas berkata demikian, semakin aku melihat kebalikannya.”


“Sshhh. Kamu nggak bisa menuduhku begitu. Sudah kubilang kalau aku tidak mengharapkan Aruna kembali padaku, meski aku berharap dia hidup. Aku hanya ingin melihat kamu dan dia kembali bersama. Namun, kamu harus tahu kalau Ashilla ternyata memang bukan Aruna. Itu saja.”


Iyash mendengkus dan dia malah merasa sudah membuang-buang waktu dengan membicarakan ini pada Iqbal, lagi pula yang merasakan hal itu hanya dirinya, bukan orang lain. “Makasih untuk pinjaman mobilnya. Aku pulang. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”