
Sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Keenam sahabat itu memutuskan untuk berkemah di gunung yang masih dekat dengan daerah tempat mereka tinggal. Tepat pukul tujuh pagi pendakian dimulai.
Awalnya Gusman tak mengizinkan Aruna pergi, namun, Aruna terus memohon karena dia belum pernah berkemah dan apa salahnya, lagipula ada Naya, sehingga dia tak akan merasa menjadi paling cantik diantara para pemuda itu. Naya juga ikut meminta izin pada Gusman agar mengizinkan Aruna berangkat bersama mereka.
“Masih jauh, nggak?” tanya Naya terengah.
Perkiraan pukul sembilan mereka sudah berada di puncak, namun, sudah lewat satu jam dari perkiraan mereka belum juga sampai. “Katamu dekat,” ucap Naya sembari menyikut Dennis.
“Dekat. Cuma kamu yang bilang jauh.”
“Ah, jangan-jangan kamu belum pernah ke sini, iya, ‘kan?” Sepanjang jalan Naya memang paling rewel, meski dia orang Desa, tapi bukan berarti dia kuat berjalan jauh, apalagi mendaki.
“Aku pernah ke sini,” kata Dennis. “Kalau nggak percaya, tanya Bagas,” tambahnya sembari menatap Bagas.
Naya menghela napas.
“Kamu capek nggak, Run?” tanya Iyash.
Aruna menggeleng. Memang sepanjang jalan Aruna tak banyak bicara, entah apa yang tengah dipikirkannya. Sejak semalam setelah berbicara dengan sang ayah, dia menjadi seperti sekarang.
“Memangnya kalau capek, kamu mau gendong?” dengkus Naya.
Iyash tersenyum. “Kamu mau aku gendong, Run?” goda Iyash.
“Huhhh!” Naya memukul lengan Iyash.
“Nggak ah, nanti minta gantian lagi, kayak waktu naik sepeda,” kata Aruna sembari mempercepat langkah.
Iyash tertawa dan apa yang dikatakan Aruna memang benar. Meski sayang, Iyash tak suka terlalu memanjakan Aruna.
“Ya udah Aruna aku aja yang gendong, nanti aku nggak minta gantian, suer,” kata Umam.
“Hhhh. Gendong ransel aja ngos-ngosan, apalagi gendong Aruna,” gerutu Bagas.
“Selama Aruna kuat, dia nggak bakal minta gendong. Lagian yang paling punya kewajiban melindungi dia ya pacarnya,” komentar Naya.
Aruna hanya terus berjalan tanpa banyak bicara. Baginya dengan berbicara hanya akan menambah rasa lelahnya saja.
Setelah lelah berjalan, akhirnya mereka sampai di atas puncak gunung, dari sana mereka dapat melihat mata hari tenggelam. Sebelum hari makin panas mereka memastikan kalau tiga tenda sudah berdiri. Namun, tetap saja semua diluar dugaan dan di luar rencana.
Naya mendelik ketika melihat Iyash membangunkan tenda untuk Aruna. Entah Aruna menyadari atau tidak kalau sebenarnya Naya masih belum terima melihat Aruna berpacaran dengan Iyash, padahal sudah hampir dua tahun setengah kebersamaan itu terjalin.
“Kamu beruntung Run, empat laki-laki menyukai kamu sekaligus,” gumam Naya.
“Sebenarnya aku yang beruntung. Dari keempat laki-laki ini, akulah yang dipilih,” kekeh Iyash.
“Hm, Aruna seperti primadona. Kalau aku pasti udah sombong,” kata Naya.
“Untung bukan kamu,” cibir Bagas.
Aruna mendekatkan bahu ke tubuh Iyash. “Itu yang buat aku nggak nyaman,” bisiknya.
“Hm.” Sekarang Iyash jauh lebih paham tentang isi hati Aruna. Wajar selama ini Aruna tak terbuka pada keempat temannya dan lebih memilih dirinya karena ternyata Aruna tidak nyaman dengan perasaan Umam, Bagas, Dennis. Mungkin dia juga tidak nyaman dengan ucapan Naya selama ini.
“Si Iyash mungkin mau tidur di sana,” dengkus Dennis.
“Sabar, ini juga udah mau selesai.”
Setelah membantu Aruna dan Naya, Iyash segera membangun tendanya bersama Umam.
Setelah hampir satu jam akhirnya tiga tenda berdiri tegak dan mereka menggelar tikar di depan ketiga tenda tersebut.
Semuanya tersenyum melihat Aruna menjamu mereka.
“Aku juga bawa,” kata Naya. sembari mengeluarkan sekotak tempat makan berisi sepuluh potong paha ayam, kemudian beberapa bungkus nasi yang dibungkus menggunakan daun. “Tapi, ibuku yang masak.”
“Aku cuma bawa kerupuk sama cemilan aja. Mamaku lagi sakit nggak bisa masakin,” kata Umam.
“Nggak apa-apa, ‘kan aku yang masak,” sahut Aruna.
“Aku bawa buah-buahan,” kata Bagas. Dia menata Mangga, jambu dan pisang di atas tikar.
“Banyak banget makanan, memang kita mau seminggu di sini?” tanya Dennis. “Aku cuma bawa air sama obat-obatan, soalnya tahu kalian akan bawa banyak makanan.”
Mereka pun menikmati makanan siangnya dengan suka cita.
***
Ketika langit hampir gelap, mereka berencana membuat api unggun sembari memanaskan air. Dennis membuat tungku dibantu Aruna dan Naya, sedangkan Iyash, Umam dan Bagas mencari kayu bakar dan ranting-ranting pohon.
Setelah kayu bakar terkumpul Dennis mencoba menyalakan api. Sementara yang lain duduk melingkar di depan tungku.
“Siapkan cangkir kopi kalian, jangan sampai aku juga yang harus menyiapkannya.”
Naya malah tertawa mendengar Dennis berkata demikian. Entah apa yang lucu dari kata-katanya sampai dia harus tertawa seperti itu.
“Kenapa? Ada yang lucu?” tanya Dennis.
Iyash ikut tertawa melihat tawa Naya yang renyah.
“Ini lagi, kenapa ikut-ikutan?” Dennis terlihat kesal.
“Sorry, sorry, aku cuma suka lihat Naya tertawa.
Aruna yang sedari tadi menyandarkan kepala di bahu Iyash, langsung memeluk lengan pria itu. Dia tidak ingin Iyash lupa kalau pacarnya adalah dia, sehingga Iyash tak harus mengatakan suka pada perempuan lain apapun alasannya.
Mendengar ungkapan Iyash, Naya merasa bahagia, setidaknya ada satu hal yang Iyash sukai darinya.
“Jangan suka bikin Naya geer,” kata Dennis. “Tawa jelek kayak gitu.”
“Jelek dari mana? Tawaku mungkin terdengar indah di telinga Iyash,” bela Naya untuk dirinya sendiri.
“Tuh, ‘kan, Yash, kamu salah bicara,” kata Dennis lagi.
Sementara Umam menggelengkan kepala, tak biasanya pemuda bertubuh gemuk itu diam seperti sekarang.
“Sudah-sudah, malah bahas hal yang nggak penting kaya gini,” kata Bagas.
“Kamu nggak dengar Iyash bilang suka sama aku,” kata Naya keras hanya agar di dengar oleh Aruna, sayangnya Aruna malah pura-pura tidur di bahu Iyash.
Bagas melirik Aruna, nampaknya Iyash tidak menyadari kecemburuan gadis itu, sehingga mungkin Iyash tidak menyadari bagaimana Aruna memeluknya.
“Aku ngajak kesini agar kita bisa lebih dekat dan memaknai persahabatan kita, bukan malah bersikap seperti ini dan terus bermusuhan, kita ini sebentar lagi berpisah dan mungkin bisa berkumpul lagi, nanti, lima atau sepuluh tahun yang akan datang,” kata Bagas.
“Iya, kamu benar,” ungkap Dennis setuju. “Melihat noda pada orang lain lebih mudah dibanding melihat kotor pada diri kita sendiri.”
Seketika Naya diam dan tertunduk, sedangkan Aruna sudah sejak tadi membuka mata dan melonggarkan pelukannya di lengan Iyash.
Umam hanya mengangguk, pun dengan Iyash.
“Kita akan ungkapkan perasaan kita masing-masing di sini dan yang lain hanya mendengarkan tanpa menyela apalagi mencela,” usul Bagas. Rupanya sejak lama dia ingin melakukan ini agar tak ada lagi yang berprasangka buruk satu sama lain.