Behind The Lies

Behind The Lies
Wanita di Bandara



Pagi menjelang siang, Iyash mencari seseorang di antara puluhan orang yang berlalu lalang di tengah selasar bandara. Pria itu menulis nama Nadine Eleanor di kertas karton yang besar dan mengangkatnya tinggi. Salah satu adegan film mungkin perlu ditiru untuk memudahkannya mencari satu orang diantara banyaknya orang asing.


Iyash mengedarkan pandangan, namun sepasang matanya berhenti pada Yayan dan Asa yang sedang mencari seseorang. Dia lekas mendekat. “Pak?” Iyash tersenyum menatap Yayan. “Asa?”


“Eh, Mas?” Yayan mengangguk ramah. Sementara Asa hanya menatapnya dan bahkan tak membalas senyuman Iyash.


“Jemput siapa?” tanya Iyash seraya mengedarkan pandangan.


“Adiknya Non Ashilla.”


“Oh.” Iyash terpegun. Mungkin sejak pergi sepuluh tahun lalu, Gusman menikah lagi dan memiliki anak dari istri barunya, pikir Iyash.


“Pak, itu Nuna.” Asa melompat-lompat sembari menunjukkan papan nama di tangannya. Tak seperti papan nama yang Iyash gulungkan, papan nama milik Asa terlampau kecil, bahkan hanya selembar HVS berukuran A4.


Pak Yayan mengedarkan pandangan, pun dengan Iyash yang ikut penasaran. Semua orang berlalu lalang, sehingga Iyash tak tahu siapa yang sedang dipanggil Asa dengan nama Nuna tersebut.


“Nuna.” Asa melambaikan tangan. Namun, bocah itu terlalu kecil, sedangkan kerumunan orang itu terlalu banyak. Iyash berinisiatif, dia berjongkok di depan Asa.


“Naik.”


“Tapi–” Asa terdiam menatap punggung Iyash.


“Biar orang yang kamu cari bisa melihat kamu di sini,” kata Iyash.


“Ayo, Den, biar kelihatan,” kata Yayan. Dia tak berniat membuat Asa naik ke punggungnya yang sudah tak lagi kokoh, percayalah Yayan terlalu tua untuk mengangkat tubuh Asa yang berbobot tiga puluh lima kilogram.


Awalnya Asa takut. Namun Iyash berhasil meyakinkannya, sehingga bocah itu naik ke atas pundak Iyash dan pria tersebut lekas berdiri.


Asa terus melambai-lambai sembari menunjukkan papan nama di kedua tangannya. Dia juga berteriak “Nuna.”


“Yang mana?” tanya Iyash.


“Yang rambutnya ikal,” jawab Asa cepat.


Iyash malah ingin tertawa. Dia tidak akan dapat melihat wanita itu kalau hanya mengatakan rambutnya ikal atau keriting.


“Itu Den, yang rambutnya sebahu, pakai celana jeans pendek, bawa ransel dan koper,” tutur Yayan. Padahal Asa dan Yayan bisa saja mengatakan, ‘wanita yang mirip Ashilla’. Sayangnya tidak, sehingga Iyash tak berpikir kalau orang itu adalah Aruna.


Iyash berusaha mencari orang yang Yayan maksud, namun tetap tidak menemukannya.


“Yang pakai kacamata dan tanktop hitam,” bisik Yayan seraya memiringkan tubuh pada Iyash. “Yang melambai ke sini.”


Jantung Iyash mencelus.


“Turun, Om,” pinta Asa.


Iyash menekuk lutut dengan perlahan dan Asa melompat dari punggungnya, lalu berlari pada wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


“Asa …,” teriak wanita itu, kemudian berlutut dan memeluk Asa.


“Long time no see,” keluh Asa, persis seperti yang sering dikatakan Angkasa.


Wanita itu tersenyum dan melepaskan pelukannya, lalu mengacak puncak kepala Asa sembari tertawa. “Kamu meniru gaya Om Angkasa.”


Asa ikut tertawa.


“Sama siapa ke sini?”


Asa tengadah dan menatap Yayan diikuti oleh adik dari Ashilla itu, namun ketika Asa menatap Iyash, wanita itu lekas membuka kacamata seraya bangkit.


“Kami hanya kebetulan bertemu Om Iyash di sini,” jawab Asa. “Temannya Om Angkasa,” imbuh bocah tersebut.


“Aruna?” gumam Iyash. Kali ini Iyash tidak salah. Kemarin malam Aruna terbang dari Jerman ke Indonesia untuk melihat kondisi Ganjar dan menguatkan Ashilla.


Keduanya mematung. Debar dibalik dada saling bersahutan. Aruna sendiri bingung, entah harus apa. Beberapa detik saling terdiam, tiba-tiba dari jauh seorang wanita berteriak, “Iyash!”


“Hei.” Iyash berjalan melewati Aruna dan memeluk Nadine sekilas. “Terima kasih sudah datang.”


Jantung Aruna mencelus.


Iyash bukan tidak menghargai pertemuannya dengan Aruna, tapi dia juga harus menghargai wanita yang sudah meninggalkan semua aktivitasnya demi memenuhi undangannya untuk datang ke Indonesia.


“I miss you,” kata wanita itu seraya menggoyang-goyangkan tubuh Iyash di pelukannya. “Aku pikir kamu baru saja membiarkanku tersesat di sini,” keluh Nadine.


“Sorry-sorry.”


“Are you not alone?” tanya Nadine seraya melepas pelukan.


Seketika Iyash menjadi gugup. “Emm … kenalin ini Pak Yayan, Asa dan–” Iyash menatap Aruna cukup lama, kemudian membasahi tenggorokan, “Aruna.”


Aruna tergemap. Dia tidak menyangka pertemuan keduanya setelah sepuluh tahun akan seperti ini. Tenggorokan Iyash bahkan harus tercekat menyebut namanya. Aruna pikir Iyash tidak senang bertemu dengannya, tapi kenapa pria itu harus senang? Bukankah dulu Aruna ingin dianggap tiada olehnya?


Sekali-kali Iyash tak mengalihkan pandangannya dari Aruna. “Mm, perkenalkan Ini Nadine.”


Nadine mengulurkan tangan, Yayan dan Asa menyambutnya ramah, namun, Aruna tak membalas uluran tangan tersebut, dia malah memakai kembali kacamatanya, kemudian melenggang pergi sampai bahunya menyenggol lengan Iyash.


“Pak Yayan, mobilnya di mana?” tanya Aruna tanpa menoleh.


“Di sana, Non.” Yayan menunjuk ke depan dan lekas mengikuti Aruna sembari membawakan koper milik wanita itu. “Kami permisi, Mas, terima kasih bantuannya.”


Asa pun berlari mengikuti kedua orang dewasa tersebut usai melambaikan tangan pada Iyash.


Tanpa menoleh lagi Aruna masuk ke dalam mobil yang baru saja dibukakan oleh Yayan. Sementara Asa duduk di sebelahnya. “Nuna, capek?” tanya Asa seraya menatap wanita itu.


“Capek banget.” Aruna menyandarkan kepala di bahu Asa. “Udah berapa lama tinggal di sini?”


“Sebulan, dua bulan, tiga bulan.” Asa kemudian menatap punggung Yayan yang baru saja masuk usai memasukkan koper dan barang-barang lain ke bagasi. “Asa lupa.”


“Ih.” Aruna menjauhkan kepala dari bahu kecil anak itu. Dia kemudian menegakkan tubuhnya. “Nuna di sini nggak akan lama. Mau ikut ke Jerman?”


“Memang boleh?”


“Boleh dong. Nanti bisa sekolah di sana,” usul Aruna.


“Pasti nggak dibolehin sama Mama,” rajuk Asa.


Aruna tersenyum seraya mengacak puncak kepala Asa. Tentu saja, dia juga tidak serius mengajak Asa ke Jerman.


Yayan perlahan melajukan mobilnya. Sementara Iyash masih mengawang di tempatnya berdiri. Penampilan Aruna terlihat lebih menarik. Iyash tidak menyangka kalau Aruna akan mengubah gayanya, meski begitu, Iyash tetap mengenalinya bukan? Itulah hebatnya cinta, pikir Iyash dalam lamunannya.


“Yash,” panggil Nadine.


“Iya?” Iyash mengerjap.


“Perempuan tadi siapa? Kenapa dia tidak mau berkenalan denganku?” tanya Nadine.


“Kamu lapar?” Iyash mengalihkan pembicaraan.


“Ya.”


“Ya sudah kita makan dulu.”


“Nggak-nggak,” tolak Nadine cepat. “Aku masih bisa menahannya kalau kamu ada keperluan lain.”


“Aku nggak ada keperluan apapun, selain menjemput kamu.”


Nadine tersenyum mendengar perkataan Iyash.


Iyash membalas senyum lembut wanita itu, lalu kembali melangkah menuju tempat parkir. Perkenalan Iyash dengan wanita berdarah Indonesia-Spanyol itu sudah sangat lama, ketika sama-sama kuliah di salah satu kota di Spanyol. Wajah Indonesia Iyash mengingatkan Nadine pada sang ayah. Sehingga dia mendekati Iyash dan kembali mempelajari budaya dan bahasa Indonesia dari Iyash. Entah kenapa Iyash selalu membuatnya rindu untuk pulang ke tanah kelahirannya.