Behind The Lies

Behind The Lies
Hikmah Dibalik Musibah



Setelah satu minggu menginap di rumah Ganjar, Aruna dan Gusman akhirnya bisa pergi ke New York sejak kemarin. Sesampainya di sana Gusman terkejut karena sang ayah mengirim Ashilla ke New York lantaran hamil di luar nikah, bukan karena hendak kuliah.


Entah kebetulan macam apa lantaran ketika Aruna datang Ashilla harus dirawat karena pendarahan usai melahirkan. Aruna mendonorkan darah untuk saudara kembarnya itu.


“Tuhan punya cara lain untuk menyatukan kalian berdua,” kata Miranti setelah beberapa jam Aruna berada di rumah sakit usai mendonorkan darahnya. “Bunda tahu, meski kalian tidak dibesarkan dengan satu orang yang sama, tapi, kalian pasti bisa saling menguatkan.”


Aruna terdiam lantaran masih syok dengan kejutan yang diberikan Tuhan untuk hidupnya. Entah kejutan apalagi yang akan diterimanya setelah ini.


Melihat diamnya Aruna, Miranti merasa kasihan. "Gus, kita makan yuk, aku tahu kalian belum makan siang, 'kan?"


"Kamu ajak Aruna, aku belum lapar," kata Gusman.


"Ya udah." Miranti menarik tangan Aruna. "Yuk, makan dulu.”


Aruna tak membantah ataupun menolak. Dia melangkah mengikuti Miranti menuju restoran di seberang rumah sakit.


Miranti memesan dua buah steak daging sapi. Dia kemudian tersenyum menatap Aruna. "Bagaimana perasaan kamu?"


Seketika Aruna tertunduk dan menangis. Perasaannya berkecamuk, pergi dari Jakarta meninggalkan rumah sakit dan datang ke New York disambut di rumah sakit.


Miranti terkejut. Dia lekas bangkit dan memeluk Aruna. "Ssstttt … sssstttt … Bunda tahu ini berat buat kamu, tapi, kita semua memiliki ujian masing-masing. Tuhan menguji kita sesuai kemampuan kita."


Aruna menarik napas kemudian mengangguk dan Miranti lekas duduk kembali. Dia menatap Aruna lama sekali.


“Run, tolong jangan pernah berpikir hidup Ashilla lebih enak dari kamu. Dia justru menderita karena tak memiliki sosok pelindung seperti ayah kamu. Dia hanya terlalu sering dimanjakan dengan harta."


Jantung Aruna mencelus. Sebelum tahu keadaan Ashilla, dia memang sempat iri terhadapnya, bahkan bertanya-tanya kenapa harus dirinya yg dibawa sang ayah?


“Ashilla hancur, Run, justru kamu beruntung, seharusnya kegagalan Papa mendidik anak cukup sampai aku dan Gusman saja, tapi Ashilla malah menjadi korban selanjutnya,” ungkap Miranti kesal.


“Oma?” Aruna menanyakan peran Lestari dalam hal ini.


“Mama hanya seorang istri yang berusaha taat pada suaminya, Mama tidak bisa berbuat apapun, kalau Papa sudah berkata A ya, A. Tidak bisa berubah menjadi B apalagi C.”


“Apa ini alasan Tante pergi dari rumah?”


“Salah satunya ini, tapi lebih tepatnya aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Jangan pernah bergantung pada orang lain terutama laki-laki.”


Aruna tercenung dan dia merasa tersindir.


“Kamu akan lebih bangga hidup dengan caramu sendiri. Itulah yang dirasakan Gusman.”


Aruna tertunduk dan menyembunyikan embun di kedua matanya.


“Kamu seharusnya memanggilku Bude, tapi aku benci dengan panggilan itu, jadi aku meminta kamu dan Ashilla memanggilku Bunda seperti Edgar.”


Aruna mengangkat wajah dan mengangguk.


“Sekarang kamu makan.” Miranti menyodorkan sepiring daging yang sudah dipotong-potong. “Kalau ada apa-apa, butuh apa-apa, jangan sungkan untuk minta sama Bunda, anggap seperti ibu kamu sendiri.”


Aruna tersenyum. Miranti sangat baik, dia tinggal menusuk daging itu dengan garpu. Kalau saja dia tahu sejak dulu dia memiliki orang baik seperti Miranti, dia akan memaksa ayahnya untuk pergi dari Surabaya.


“Syukurlah Gusman berhasil membesarkan kamu dengan semua kebaikan. Kamu anak yang cantik, jangan pernah menyalahkan keadaan.”


Aruna terenyuh hingga lagi-lagi dia menjatuhkan air mata.


***


Setelah beberapa hari tak sadarkan diri, akhirnya Ashilla berhasil melewati masa kritisnya. Sejak kakek dan neneknya tahu dia hamil, mereka memintanya menggugurkan bayi itu, namun dia tidak ingin menggugurkannya karena dia tak sanggup menanggung dosa besar lainnya setelah berzina. Ashilla yakin jika Tuhan tidak izinkan bayi itu lahir, maka tidak akan lahir, pun sebaliknya. Jika bayi itu tetap lahir, tentu saja itu karena izin Tuhan.


“Kamu sudah bangun, syukurlah.” Miranti mengecup puncak kepala Ashilla.


“Bund, bayiku mana?” tanya Ashilla pelan.


“Ada,  nanti dibawa ke sini.”


“Opa sama Oma tahu?”


“Iya, mereka sudah tahu.”


“Nggak, Sayang. Kalau sampai itu terjadi, Bunda siap melawan Opa, meski dia Papa Bunda.”


Ashilla terenyuh. Sejauh ini sejak Miranti tahu Ashilla hamil, memang hanya dia yang merawat dan menguatkannya.


“Kamu sudah melewati hal hebat dalam hidup kamu. Bunda bangga karena kamu sudah berjuang sampai sejauh ini.”


Ashilla tersenyum. Perkataan Miranti memang selalu menenangkan dan meluluhkan keras di hatinya. Dia merasa heran, padahal dirinya dan Miranti tumbuh dalam didikan yang sama, tapi Miranti berbeda dari Ganjar yang keras, tegas dan kejam, bahkan Lestari sendiri tak bisa meluluhkannya, meski dengan cinta yang dia miliki sebagai seorang istri.


“Tuhan mengirim seseorang buat kamu,” kata Miranti.


“Bukan Daniel, ‘kan?”


“Mana mungkin? Jangan pernah berharap pada laki-laki pengecut seperti dia.”


Wajar Ashilla berharap Daniel datang, dia memang masih mengharapkannya, dia ingin Daniel bertanggung jawab untuk anaknya. “Terus siapa?”


“Beberapa hari yang lalu, setelah melahirkan, kamu mengalami pendarahan dan rumah sakit tidak memiliki darah yang cocok buat kamu. Inilah cara Tuhan mengirim dia.”


Ashilla mengernyit.


“Ini adalah kado kelahiran untuk si kecil.” Miranti berjalan ke dekat pintu dan membukanya. “Taraaa.”


Ashilla terperangah melihat perempuan yang sangat mirip dengan dirinya dan seorang pria paruh baya yang sering dia lihat di foto.


“Jadi, aku punya saudara?” tanya Ashilla pelan.


“Iya, ” jawab Miranti.


“Dan aku masih punya ayah?”


“Tentu saja, yang bilang kamu nggak punya ayah siapa?” Miranti menatap Gusman. “Hanya saja ayah kamu lebih egois dari kakek kamu.”


“Maaf,” kata Gusman. “Maaf karena tidak mampu merawat kamu.” Gusman membelai puncak kepala Ashilla.


“Aku nggak nyangka Tuhan kasih aku tiga anggota keluarga sekaligus.” Ashilla tersenyum dan menggenggam tangan Aruna.


Aruna terenyuh. Dia juga tidak menyangka kalau dia akan diterima dengan baik.


“Run, sebenarnya Ashilla sudah tahu kalau dia memiliki ayah dan saudara kembar, tapi, dia pura-pura tidak tahu, makanya lihat aktingnya jelek sekali,” cibir Miranti.


“Bunda ih.” Ashilla kemudian menatap Aruna. “Kamu tahu, aku selalu yakin kalian akan pulang. Aku selalu minta Bunda buat merancangkan dua pakaian yang sama setiap lebaran. Aku harap bisa memakainya sama-sama.”


Aruna kembali tersenyum. Mungkin selama ini dia kurang bersyukur, tapi dengan hadirnya Ashilla yang memberi energi positif baginya, dia merasa bersyukur akan hidupnya saat ini. Jika saja Ira tak memintanya pergi dan tetap bersama Iyash, dia akan kehilangan banyak orang dan dia tidak akan bertemu Miranti, Ashilla, Opa dan Omanya, juga Edgar.


 “Terima kasih,” kata Aruna. Inilah yang disebut dengan hikmah dibalik musibah.


Tiba-tiba Ganjar dan Lestari mendekat sembari menggendong bayi merah itu. “Shill,” panggil Lestari.


“Oma.”


Lestari tersenyum. “Selamat atas kelahiran bayi kamu. Kemarin Ayah kamu memberi nama yang bagus untuknya.” Lestari meletakkan bayi itu di sebelah Ashilla.


“Siapa?”


Semua orang menatap Gusman.


“Fabian Abiyasa. Dan kita bisa memanggilnya Asa. Setiap bayi lahir bersama sebuah harapan,” kata Gusman.


Ashilla tersenyum. “Terima kasih, Ayah.”


Gusman membalas senyum itu. Terima kasih Tuhan, akhirnya dia bisa berkumpul dengan kedua anaknya.


“Dan kamu jangan lupa harus ada nama Wijaya dibelakang namanya,” kata Ganjar. Meski sempat meminta Ashilla untuk menggugurkan bayi itu lantaran malu dan juga karena Ashilla telah mengulang kesalahan Miranti. Namun, sama seperti dia menerima Edgar, akhirnya dia juga menerima Asa. Tak peduli jika bayi itu lahir tanpa ayah dan tidak bisa menjadi ahli waris ayahnya. Toh harta Ganjar juga tidak akan habis jika dinikmati tujuh pudunan, delapan tanjakan dan sembilan belokan, lagi pula ayahnya Asa juga belum tentu berasal dari orang yang berada.


***