Behind The Lies

Behind The Lies
Tujuan Lain



Pukul delapan pagi, Iyash bersiap pergi, namun bukan ke proyek, ada tujuan lain dalam perginya kali ini. Sementara Nadine belum mengatakan apa-apa. Iyash rasa Nadine memang hanya mengancam akan pergi. Dia yakin kalau sebenarnya wanita itu ingin ditemani ke Makassar bertemu ayahnya.


Saat Iyash baru saja pergi dengan motornya, Adisty sampai di depan rumah pria itu. Sudah lama dia tak berkunjung, setidaknya menemui Ira dan bergosip bersama.


Pintu terbuka sehingga Adisty bisa langsung masuk ke dalam rumah tersebut. “Tante,” panggil wanita itu. “Tante Ira,” panggilnya lagi seraya terus berjalan. “Sri, Tante mana?”


“Di belakang sedang menyiram tanaman,” jawab Sri tanpa melihat Adisty dan tetap sibuk mencuci piring bekas sarapan majikannya. Sejujurnya Sri tidak suka melihat Adisty di sana. Dia kalau datang seperti makhluk halus, batin Sri.


Adisty lekas pergi ke halaman belakang. Namun, dia tersenyum ketika melihat Ira sedang bicara sendirian. Dia terus mendekat dan hendak mengejutkan wanita yang sudah lama bersahabat dengan ayahnya itu, namun, malah dia sendiri yang terkejut lantaran Ira masih waras dan tak bicara sendirian, melainkan bersama seorang wanita berambut coklat kemerahan.


“Tante,” panggil Adisty pelan seraya terus melangkah.


Ira berbalik. “Hei, kebetulan kamu datang. Tadinya Tante mau ajak Nadine ke tempat kamu.”


Adisty mengernyit. “Nadine siapa?”


“Calon istrinya Iyash.”


Jantung Adisty mencelus. Kedua matanya terbuka lebar. “Sejak kapan kok aku nggak tahu?”


“Dua tahun yang lalu,” jawab Ira sembari mematikan keran.


“Hah?” Adisty tercengang. Bagaimana bisa? Sementara dia menunggu Iyash seumur hidupnya bahkan dia tak segan-segan menghancurkan setiap orang yang menghalangi jalannya.


“Aku mau bicara,” kata Adisty pada Ira. “Empat mata,” tambahnya seraya menatap sinis wanita yang bernama Nadine.


“Bentar ya, Nad,” ucap Ira.


Nadine tersenyum seraya mengangguk.


Ira kemudian pergi mengikuti Adisty ke ruang tamu.


“Maksud Tante apa?” tanya Adisty langsung. “Tante bilang mau menikahkan aku dengan Iyash, tapi sekarang?”


“Tante minta maaf, Tante juga kaget saat Iyash bawa calon istri.”


“Ini pasti bohong, ‘kan? Iyash cuma pura-pura, ‘kan?”


Ira menggeleng. Tentu saja dia lebih suka melihat Iyash dengan Nadine dari pada dengan Adisty, meski Adisty anak dari sahabatnya sendiri.


“Aku yakin, Iyash cuma pura-pura. Kita semua tahu Iyash menunggu Aruna.”


“Aruna yang mana?” tanya Ira. “Kamu sendiri yang bilang kalau dia bukan Aruna.”


Keduanya memang belum tahu kalau Aruna dan Ashilla adalah kembar.


“Waktu kita menjauhkan Ashilla dari Iyash dan bayi itu, Tante sudah berjanji, iya, ‘kan?”


“Iya, tapi Tante nggak bisa berbuat apa-apa. Iyash yang putuskan.”


“Nggak!” teriak wanita egois itu.


Ira terkesiap.


“Waktu itu Tante nggak bilang gitu. Tante malah bilang kalau setuju ataupun tidak, Iyash akan tetap menikah dengan aku.”


“Sssttt.” Ira meminta Adisty tenang karena takut Nadine mendengar pembicaraan mereka, padahal sedari tadi Nadine memang sedang menguping.


  “Tante minta maaf, Dis.”


“Ibu sama anak sama aja, tukang umbar janji.” Adisty berbalik dan mengambil langkah, namun, kemudian berhenti. “Lihat aja nanti, Tante akan menyesal,” ancam wanita itu.


Setiap kemauan Adisty, wajib untuk dipenuhi, itu semua karena Roy terlalu memanjakannya. Awalnya Ira merasa wajar karena Roy begitu menginginkan seorang anak sampai dia berani mendua lantaran istri pertamanya tak bisa memberikan anak, tapi kalau Roy salah mendidik, lalu untuk apa dia memiliki anak?


“Dis, Tante bisa jelaskan, Tante juga nggak tahu kalau Iyash sudah punya pilihan.”


Adisty menoleh. “Pisahkan, minta Iyash buat putusin wanita itu.”


Jantung Ira mencelus. “Itu nggak mungkin.”


“Kenapa nggak? Sama seperti dulu saat Tante minta aku buat jauhkan Iyash dari Aruna.”


“Tapi, nggak sampai membuat dia kecelakaan, Dis. Apalagi orang suruhan kamu sampai lukai anak Tante. Harusnya waktu itu kamu minta anjing-anjing kamu buat perkosa Aruna, biar dia tidak punya harga diri untuk mendekati anak Tante.”


 Adisty berdecak. “Aku tahu aku ini salah karena mau aja nurutin semua perintah Tante.” Dia terdiam sejenak. “Aku akan bilang semuanya sama Iyash. Kalau ibunya lebih setan daripada setan.” Dia kemudian berbalik dan melenggang pergi.


***


Iyash berdiri di depan pintu rumah Ganjar. Dia benar-benar getol menemui Aruna, padahal Aruna sudah memintanya menjauh. Namun, entah memang sebuah rasa yang membawa Iyash ke sana, atau ada hal lain.


Dia menekan bell sampai beberapa kali. Bi Sumi tergopoh berlari ke depan pintu. “Cari siapa?” tanya Bi Sumi ketika pintu sudah terbuka.


Iyash terdiam beberapa detik.


“Mas?”


“Aruna,” kata pemuda itu.


“Oh, Non Aruna sedang sakit,” jawab Bi Sumi.


“Apa saya bisa menjenguk.”


“Mm, Bibi harus tanya dulu, takutnya Non Aruna nggak mau bertemu siapapun.”


“Ya sudah saya tunggu di sini.”


Bi Sumi mengangguk. “Sebentar ya, Mas.” Wanita paruh baya itupun lekas pergi dan mengetuk pintu kamar Aruna. “Non,” panggil Bi Sumi. Namun, tak ada sahutan dari dalam. “Non,” panggilnya lagi.


Perlahan Bi Sumi membuka pintu dan Aruna nampak sedang terlelap. Pagi tadi setelah sarapan, dia muntah-muntah lagi, sehingga tubuhnya semakin lemas, sedangkan Faran pergi ke rumah sakit bersama Edgar dan Miranti.


Bi Sumi kembali ke ruang tamu. “Non Arunanya lagi tidur, Mas. Maaf lain kali aja Masnya ke sini.”


Iyash menghela napas. Sudah jauh-jauh datang dan dia harus merelakan pertemuannya. Semalam dia mencari Aruna di restoran, namun malah kehilangan jejak.


“Nggak bisa dibangunin aja, Bi?”


“Duh Bibi nggak tega.”


“Gimana ya, saya ada perlu penting.”


Bi Sumi ikut berpikir. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bi Sumi lekas melongok keluar.


“Oh syukurlah.” Bi Sumi kembali menatap Iyash. “Itu Den Faran datang.”


Iyash ikut menoleh ke sebuah mobil yang terparkir di depan.


“Mas nya mungkin bisa bicara sama Den Faran. Soalnya Bibi ninggalin cucian di belakang.” Bi Sumi kemudian melenggang pergi.


Pekerjaan Bi Sumi memang banyak. Tidak semua pakaian diperbolehkan menggunakan mesin cuci termasuk pakaian kerja Ashilla dan seragam sekolah Asa, sehingga Bi Sumi harus mencuci secara manual.


“Siapa dia?” gumam Iyash saat melihat pria berkacamata turun dari mobil.


Faran berhenti melangkah saat dia melihat Iyash. “Ada tamu, mau ketemu siapa?”


Iyash menoleh. “Ar–”


“Loh, Mas yang semalam di restoran, ‘kan?” tanya Faran seraya tersenyum.


Iyash mengernyit seraya mengangguk.


“Oh iya, maaf soal semalam,” kata Iyash. Semalam dia tak sengaja menabrak Faran ketika Faran hendak pergi ke kasir usai menerima telepon dari Aruna, sedangkan Iyash sendiri sibuk mencari Aruna.


“Iya nggak apa-apa.” Faran kemudian mengulurkan tangan. “Faran.”


Iyash menyambut uluran tangan pria itu. “Iyash.”


“Nggak nyangka bisa ketemu di sini. Mau ketemu Ashilla?”


Iyash termangu beberapa detik. “I-iya,” jawab Iyash terpaksa karena dia harus segera pergi, entah apa yang membuatnya tergesa, mungkin panggilan telepon dari Nadine yang baru saja masuk ke ponselnya.


“Tapi, Ashillanya nggak pulang, dia berangkat ke kantor dari rumah sakit.”


“Oh, kalau begitu lain kali aja, saya permisi,”


“Iya, silakan.”


Iyash kemudian pergi meninggalkan kediaman Ganjar dan merelakan pertemuannya, padahal rencananya dia ingin mengajak Aruna ke panti asuhan untuk melihat taman yang dia buat khusus untuk Aruna. Dia memang tidak ingat, tapi potongan ingatan itu tertulis di buku harian Aruna dan dia ingin menyampaikan pada wanita itu kalau dia sudah menepati janjinya.