
“Asa, keluar Mama mau bicara!” Ashilla terus menggedor-gedor pintu kamar Asa. “Asa, what's wrong with you?”
Asa tetap bersembunyi di dalam kamar. Dia tahu ibunya akan marah.
“Kenapa harus kayak gini. Cepat keluar dan jelaskan semuanya sama Mama atau Mama kirim lagi kamu New York?”
Perlahan pintu terbuka dan Asa nampak cemberut dan tertunduk.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu salah? Kamu sudah bikin malu Mama.”
Asa masih tertunduk.
“Nggak sopan. Mama memaafkan kamu waktu hal ini terjadi dua tahun lalu. Tapi sekarang kamu udah besar. Kamu harusnya tahu, mana yang boleh dan mana yang nggak boleh dilakukan!”
Iyash tak sendirian karena hal ini juga pernah terjadi pada Angkasa. Memang tak mudah mendekati Asa dan Angkasa sendiri perlu waktu sampai dua tahun untuk mendekati anak itu.
“Asa tahu, Om Iyash mau merebut Mama dari Asa!” teriak bocah itu.
“Nggak usah berteriak sama orang tua.”
Napas Asa memburu. Pundaknya naik turun. Perlahan Ashilla menurunkan kedua lututnya di depan Asa. Kemudian dia memegang kedua bahu anaknya.
“Lagi pula, siapa yang mau merebut Mama dari kamu, nggak ada. Niat Om Iyash baik mau mengajari kamu belajar, tapi kamu malah bersikap kurang ajar.” Baru kali ini Ashilla berkata kasar pada Asa. Dan itu membuat Asa bersedih.
“Mama membela Om Iyash? Kalau Om Angkasa tahu, dia juga pasti marah.”
“Om Angkasa bilang apa sama kamu?”
“Nggak. Nggak bilang apa-apa.”
“Terus kenapa kamu harus bawa-bawa dia. Ini urusan kamu, Mama dan Om Iyash. Pokoknya besok kamu harus temui dia dan minta maaf.”
“Asa nggak mau,” kata bocah itu seraya masuk ke kamar dan membanting pintu.
Ashilla terkesiap. Perlahan dia bangkit dan benar-benar marah.
“Kenapa? Ada apa ribut-ribut?” tanya Ganjar yang baru kembali dari Masjid usai melaksanakan shalat Isya.
Ashilla mematung dan tak menjawab apa-apa. Sejak dulu setiap ada masalah tentang Asa, Miranti akan menyelesaikannya, sekarang mungkin tidak. Sudah seharusnya Ashilla menyelesaikan masalah itu sendiri.
“Nggak ada, Opa. Asa cuma lagi rewel aja, nggak mau belajar.”
“Ya udah nggak usah dipaksa. Belajar itu harus bahagia, bukan tertekan,” kata Ganjar.
Ashilla mengangguk. “Shilla permisi, Opa.” Wanita itu kemudian pergi ke kamar. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia benar-benar dibuat malu oleh kelakuan Asa.
“Astaga, Asa!” Ashilla memukul-mukul keningnya sendiri. Dia akhirnya sadar kalau selama ini dia telah memanjakan Asa, padahal selama ini Miranti menerapkan disiplin pada anak itu.
[Hari ini Asa membuat masalah.] Ashilla hendak mengirim pesan tersebut pada ibunya. Namun, urung dia lakukan karena Miranti pasti bersikap tegas dan akan membawa Asa kembali ke New York.
Akhirnya pesan tersebut dia copy dan kirimkan pada Angkasa.
[Masalah apa, Sayang?] balas Angkasa yang hari itu hendak melakukan photoshoot.
[Kamu mungkin lagi kerja, nanti aja kita bicara.]
[Ya udah, nanti kalau udah selesai di sini, aku hubungi kamu.]
Ashilla tak membalas pesan itu dan dia hanya menghela napas panjang. “Asa mungkin memang membutuhkan sosok ayah,” pikirnya.
Wanita itu mengempas tubuh ke ranjang. Dia mengingat semua kedekatan Asa dengan Angkasa. Ya, sejauh ini hanya pada Angkasa, Asa menurut.
***
Sore hari sepulang dari menjemput Asa, Ashilla menyempatkan diri datang ke tempat Lily. Sudah hampir seminggu dia tak datang dan rasanya ada yang salah karena mengaku sebagai orang tua angkat, tapi tak pernah ikut mengurus.
Di sana dia berharap bertemu Iyash karena Asa harus meminta maaf secara langsung.
“Kemarin Pak Iyash baru beli, Bu.”
“Oh. Apa yang kurang? Biar saya tambahkan.”
“Nggak kok, Bu, semuanya sudah dilengkapi oleh Pak Iyash,” ungkap wanita berambut pendek tersebut.
“Oh.” Ashilla tampak asyik menggendong sembari bersenandung. Lily pun tenang dalam pangkuannya.
“Bu Shilla, saya boleh bertanya?” tanya Suster Rika. Baru kali ini dia berniat mengajukan pertanyaan pada Ashilla, biasanya dia hanya diam dan tak meminta apa-apa.
“Boleh.”
“Apakah selamanya Lily akan di sini?” tanya Suster Rika.
Seketika kening Ashilla mengernyit. “Kan ada Iyash yang sudah mengatur, kenapa menanyakan hal itu?”
“Pak Iyash bilang suruh tanya Ibu.”
“Saya nggak tahu.” Nampaknya Ashilla kesal mendengar pertanyaan Suster Rika.
“Kenapa Bu Ashilla dan Pak Iyash tidak menikah saja?”
Ashilla menghela napas sembari tetap mengayun-ayun Lily dalam gendongannya. “Menikah bukan perkara yang mudah.” Ashilla tak mengelak dengan kalimat lain seperti, ‘dia bukan pacar saya’, atau hal lainnya, kalimat yang diucapkannya justru menggiring anggapan Suster Rika kalau dirinya dan Iyash ada hubungan.
“Kalau begitu kenapa jadi orang tua?”
Kali ini Ashilla berhenti mengayun-ayun Lily dan fokus mengarahkan pandangan pada Suster Rika. “Punya anak nggak harus dalam lingkup pernikahan, kalau dia mampu kenapa tidak?”
“Maksud saya bukankah seharusnya anak diberi keluarga yang utuh?”
“Nggak semua. Saya bilang kalau dia mampu kenapa nggak? Iyash ingin punya anak, tapi nggak mau menikah, itulah sebabnya dia mengangkat Lily sebagai anaknya.”
“Oh. Saya minta maaf jika pertanyaan saya menyinggung ibu.” Pasalnya Suster Rika menyadari kemarahan Ashilla, meski tak meninggikan nada bicaranya.
“Oke.” Ashilla kemudian duduk. “Kalau kamu udah nggak betah, kamu bilang, jangan dipaksakan karena mengurus anak itu harus ikhlas.”
“Saya ikhlas kok, Bu. Tapi menurut saya kenapa anak sekecil ini harus dijadikan alat untuk membangun kedekatan kalian?”
Suster Rika benar-benar telah memancing amarah Ashilla. “Maksud kamu apa?”
“Maaf, Bu, tapi saya sudah cukup bersabar untuk tidak menanyakan ini. Saya memang hanya diminta untuk mengasuh bayi ini. Ibu bilang akan mencarikan keluarganya, ‘kan? Tapi sejauh ini saya rasa tidak. Saya tahu hukum di Indonesia berjalan lambat, tapi mungkin tidak dalam kasus ini.”
Ashilla tergemap.
“Seharusnya ibu tanya langsung, atau setidaknya ibu menyadari sesuatu yang janggal akan hal ini.”
“Maksud kamu apa?” Ashilla meletakkan bayi itu ke atas tempat tidurnya.
“Pak Iyash tidak benar-benar menangani kasus ini atau melaporkannya ke polisi karena bayi yang sebenarnya sudah meninggal dan sudah dikembalikan pada keluarganya.”
Jantung Ashilla mencelus dan dia hanya bisa terperangah.
“Saya minta maaf karena terlibat dalam hal ini. Perlu ibu tahu kalau bayi ini adalah bayi kami di panti asuhan Baitul Wahid dan Pak Iyash tidak benar-benar mengadopsinya.”
“Kamu tidak sedang membohongi saya, ‘kan?”
“Untuk apa? Saya hanya minta bayi ini dikembalikan ke panti agar di sana banyak yang merawatnya, tapi Pak Iyash terus menahan. Saya harap dengan saya membicarakan ini pada Bu Ashilla, ibu dapat membujuk Pak Iyash, karena walau bagaimanapun kasihan bayi ini, Bu.”
Ashilla menghela napas, dia kemudian menatap Lily, lalu menatap Asa yang sedang asyik bermain game di ponselnya. Meski dia tahu sebenarnya Asa mendengar semuanya, terlepas dari dia mengerti atau tidak.
“Kenapa Iyash melakukan ini?”
Suster Rika menggeleng.