
“Kenapa kamu harus masuk ke dalam hidupku,” kata Edgar pada Marissa.
Jantung Marissa mencelus. “Maksud Kakak apa?”
“Dengar, aku bisa menyelesaikan masalahku. Pengalaman hidupku jauh lebih banyak dari kamu. Nggak seharusnya kamu ada di sini,” tegas Edgar.
Marissa membasahi tenggorokan. Dadanya sakit seperti tertusuk belati. Dia akhirnya menyadari kalau Edgar tidak ingin melihatnya di sini. Sehingga mungkin itulah alasan Edgar pergi malam itu juga.
“Icha ke sini nemenin Kak Iyash, kok,” kata wanita itu sembari menoleh ke dalam dan dia melihat Iyash berdiri di sana, tampaknya Iyash mendengar semua pembicaraan mereka. “Kakak lihat tangan kanannya yang mengalami luka tembak, itu semua karena dia ingin melindungi Icha.”
Edgar berpaling ke arah lain. Dia tidak ingin Marissa tahu kalau sebenarnya dia cemburu dengan kemesraan Marissa dan Iyash.
Marissa lekas tertunduk. “Icha memang cuma salah satu pembaca dari ribuan pembaca setia Kak Edgar. Icha tahu batasan Icha di sini, jadi–”
Seketika Edgar merengkuh tubuh Marissa dan mendekapnya hangat. Marissa terpengah sampai tak bisa berkata-kata.
“Terima kasih.”
Dari kejauhan Iyash merasa gondok karena dia harus menyaksikan kembali bagaimana Edgar meraih tubuh mungil Marissa ke dalam dekapannya.
Perlahan Edgar mengurai pelukan, lalu menggenggam kedua pipi Marissa. “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, tapi aku berharap Iyash hanya orang yang kebetulan hadir dalam hidup kamu sama seperti yang lain.”
Jantung Marissa mencelus, begitupun dengan Iyash. Pria itu segera berpaling dan tak sengaja bersirobok dengan Nenek Alma. Namun, Iyash memilih pergi dan menyembunyikan perasaannya.
Nenek Alma menyadari ada sesuatu yang membuat Iyash terlihat sedih. Dia lekas menyusul Marissa untuk melihat apa yang terjadi. Namun, Nenek Alma tertahan di depan pintu. Dia terkejut melihat Edgar hendak mencium Marissa. Mungkin itulah yang membuat Iyash pergi dalam keadaan sedih. Pikir Nenek Alma.
“Cha,” panggil Nenek Alma cepat. Sebelum Edgar benar-benar mendaratkan bibirnya pada Marissa. Namun, Marissa sendiri tidak merasa kalau Edgar akan menciumnya. Meski Marissa menyimpan rasa sukanya terhadap Edgar, tapi dia tidak yakin Edgar memiliki perasaan yang sama.
Marissa segera menoleh pada Nenek Alma.
“Bantu Nenek buka penyangga tangan Iyash. Katanya dia mau ganti pakaian.”
“Oh. Iya.” Marissa lekas pergi dan dia lupa berpamitan pada Edgar. Sehingga Edgar merasa kalau Iyash memang lebih penting dibanding dirinya.
“Kak Iyashnya di mana, Nek?” tanya Marissa.
“Di kamarnya mungkin.”
Marissa mengangguk dan lekas pergi menyusul Iyash. Sementara Nenek Alma menghampiri Edgar.
“Kami memang tidak tahu apa hubungan kamu dengan Icha. Tapi, Nak, nenek harap kamu bisa menjaga sikap. Nggak baik memeluk dan bahkan mau mencium perempuan, apalagi di tempat terbuka seperti ini.”
“Nenek salah paham.” Edgar tersenyum keki. “Siapa yang mau mencium Icha?
“Oh, mungkin Nenek memang salah paham.” Nenek Alma terdiam beberapa detik sedangkan Edgar malah dibuat tak nyaman dengan tuduhan Nenek Alma. Tadinya dia mau membisikan sesuatu pada Marissa. Namun, malah menjadi seperti ini.
“Kalau mau pulang, jangan sekarang. Kamu bisa melakukan perjalanan besok pagi.”
Edgar mengangguk. Akhirnya dia mengalah. Namun, itu semua demi Marissa.
Marissa sendiri sudah sampai di depan kamar Iyash. Dia melihat Iyash sedang kesulitan melepas penyangga tangan. Wanita itu tiba-tiba meraih tali arm sling dan membantu Iyash melepaskannya.
“Kenapa di sini?” tanya Iyash.
“Please, jangan tanya begitu, tadi Kak Edgar juga bertanya seperti itu dan aku sakit hati,” gumam Marissa. Perlahan Marissa melepas kancing kemeja Iyash. Dia lalu melepas bagian tangan kanannya sampai tak sengaja menyentuh kulit pria itu. “Kak Iyash demam?”
“Aku nggak apa-apa.” Iyash sampai lupa menyebut saya pada dirinya.
“Jangan sok peduli,” dengkus Iyash seraya berjalan ke dekat lemari.
Marissa berdecak. “Kalau nggak mau ada orang lain yang peduli sama Kak Iyash, kenapa waktu itu Kak Iyash peduli sama aku? Padahal Kakak bisa biarkan Marlo menembakku? Kalau begitu, ‘kan, aku nggak perlu repot peduli sama Kakak, aku tinggal peduliin diriku sendiri.”
“Sekarang nggak perlu. Kamu bisa pedulikan diri dan kepentingan kamu sendiri, lagi pula kamu ke sini untuk dia, ‘kan? Jadi, nggak perlu repot- repot merawatku.”
Tampaknya Marissa tak peduli dengan apa yang dikatakan Iyash, bahkan meski Iyash menghilangkan keformalannya.
“Di mana obatnya?” tanya wanita itu khawatir. Namun, Iyash mengabaikannya dan malah pergi ke dekat lemari, lalu mengambil kaos biru laut. Marissa mengikuti pria itu dan merebut kaos tersebut dari tangan Iyash, lalu membantunya mengganti pakaian.
“Semenyebalkan-menyebalkannya Kak Iyash, aku nggak akan lupa apa yang Kak Iyash lakukan. Karena seharusnya, aku yang merasakan sakit itu. Seharusnya aku yang ada di posisi Kak Iyash saat ini.”
Iyash tergemap. Namun, dia tak berani menatap wajah Marissa lebih lama. Mendadak dia malu dengan apa yang dia lakukan pada wanita itu.
“Jangan banyak bergerak, tangan Kak Iyash bengkak. Gimana kalau ini gejala infeksi?” omel Marissa usai membantu Iyash mengganti pakaian. Dia kembali menanyakan obatnya, namun, lagi-lagi Iyash tak menjawabnya. Kali ini Iyash justru tercenung menatap wajah khawatir wanita itu.
“Di mana obatnya?” tanya Marissa sekali lagi. Dia kesal karena lagi-lagi Iyash tak memberitahunya, sehingga Marissa terpaksa menggeledah ransel pemuda itu. Tiba-tiba dia tercenung melihat pita satin berwarna pink di dalam ransel Iyash. Dia kemudian menarik pita yang terdapat bercak darah yang sudah mengering tersebut. “Ini?”
Iyash menoleh dan segera merebut pita itu dari tangan Marissa. “Aku lupa bawa obatnya.”
Marissa tertegun menatap pita yang digenggam Iyash.
Iyash sendiri segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia kemudian menarik selimut hingga menutupi leher.
“Matikan lampu dan tutup pintunya, saya mau istirahat.” Iyash kembali bersikap formal, padahal dia hampir saja kepergok oleh Marissa.
Marissa menghela napas dan menuruti perintah Iyash. Namun, sebenarnya dia tidak tega membiarkan Iyash sendiri dalam rasa sakitnya. “Kak, kalau butuh apa-apa, bilang ya.”
Iyash tak menyahut. Sementara Marissa lekas menutup pintu kamar Iyash, tanpa meninggalkannya. Dia duduk di atas kursi dekat pintu. Iyash tak menyadari itu karena dia meminta Marissa memadamkan lampu.
Sedangkan di depan pintu kamar tersebut Edgar tampak begitu resah lantaran Marissa tak keluar dari kamar Iyash. Pikirannya mengawang tak karuan. Apa yang dilakukan Marissa dan Iyash di dalam ruangan yang gelap?
Iyash melenguh merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia juga menggigil kedinginan.
Marissa semakin panik. Dia lekas bangkit meninggalkan kursi. “Kak?” Lalu mendekat pada Iyash. Suhu tubuh Iyash semakin tinggi. Keringat juga mengucur di keningnya. “Icha akan minta Nenek untuk memanggil Dokter.” Wanita itu berjalan cepat dan membuka pintu kamar, namun, seketika dia termangu menatap Edgar yang sudah berdiri di depan pintu.
“Cha?”
Marissa melewati dan mengabaikan pria itu. Dia hanya memikirkan Iyash, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini?
“Nek, Kek,” panggil Marissa panik.
“Kenapa?” tanya Nenek Alma khawatir.
“Kak Iyash demam.”
“Apa?”
Marissa mengangguk.
“Minta Sugeng panggil Dokter Seto,” kata Juragan Hartanto.
Nenek Alma mengangguk. Lalu pergi ke belakang. Sugeng dan istrinya tinggal di rumah yang berada tepat di belakang rumah juragan. Sugeng bertugas sebagai orang yang dipercaya untuk mengurus semua ternak milik juragan. Sedangkan istrinya, Lastri menjadi juru masak untuk keluarga tersebut. Sekaligus sebagai orang yang digaji untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
Marissa dan Juragan Hartanto lekas kembali ke kamar Iyash. Sedangkan Edgar hanya bisa berdiri di depan pintu sejak tadi, bahkan dia tak memanfaatkan kesempatan untuk mengecek keadaan sang adik. Karena menurutnya ini bukan saatnya. Iyash mungkin kehilangan beberapa persen kesadarannya, sehingga mungkin Edgar tak bisa mengajaknya bicara.