Behind The Lies

Behind The Lies
Duka



“Jika waktu ayah sudah habis, kematian akan tetap datang, meski urusan ayah di dunia belum selesai.” Kalimat itu pernah dikatakan Gusman beberapa hari sebelum kepergiannya dan kini terus terngiang di telinga Aruna. Dia tak kuat mengendalikannya sampai terus mengurung diri di kamar.


Para pelayat perlahan datang, lalu pergi berganti yang lain. Meski jenazah sudah dikebumikan sore tadi, namun yang mengucapkan bela sungkawa tetap berdatangan.


Duka di hati Miranti tak juga mereda, dia ingat pertengkarannya dengan sang ayah semalam perihal Hasa. Kalau saja Hasa tak datang keluarganya tidak akan berantakan seperti ini.


“Kamu bohong sama Papa,” kata Ganjar dengan nada tertahan tadi malam. Dadanya bergemuruh dan dia berusaha keras mengendalikan diri agar tetap kuat untuk bicara pada Miranti.


“Jujur pun nggak ada gunanya, Pa.”


“Setidaknya Papa tahu apa yang terjadi.”


“Untuk apa? Papa sendiri sudah banyak bohongi kami.”


“Jangan bawa-bawa Papa, ini tentang kamu.”


“Bukan, ini tentang keluarga kita, Pa. Aku nggak akan kayak gini kalau Papa nggak memulainya.”


“Memulainya apa maksud kamu?”


“Soal restu Papa ke Dewi dan Gusman. Aku tahu ini bukan masalah harta, tapi–”


“Cukup, Mir, ini urusan Papa sama Dewi dan keluarganya, kamu nggak perlu ikut campur, kalau kamu mau menerima Dewi, silakan, selamanya Papa tidak akan menerima dia di keluarga ini.”


Miranti terdiam menatap sang ayah sampai beberapa detik. “Kenapa aku harus lahir dari keluarga ini?” sesal Miranti kesal.


Kalimat itulah yang membuat kondisi Ganjar memburuk. Miranti sendiri menyesal telah mengatakannya. Dia lupa kalau sebagai anak dia tak bisa memilih dari keluarga mana dia lahir. Begitupun dengan orang tua yang tak bisa memilih anak seperti apa yang ingin mereka lahirkan. Sejatinya ini hanyalah ujian untuk diri mereka masing-masing.


“Minum dulu, Bund,” kata Angkasa seraya memberikan segelas teh hangat.


Miranti menoleh. “Tolong maafkan Opa kalau kamu pernah sakit hati oleh kata-katanya.”


Angkasa duduk dan meletakkan gelas di depan Miranti. “Semua yang Opa lakukan dan Opa katakan itu adalah yang terbaik menurutnya. Kita nggak bisa menyalahkan Opa, lagi pula semua sudah terjadi. Aku sudah memaafkannya kok, Bund.”


Ashilla berhenti menyeka kedua matanya yang basah. Dia tertunduk menatap Asa yang tidur di atas pangkuannya sementara kakinya memanjang di atas karpet. Sama seperti yang lain, Ashilla memiliki masalah sendiri dengan Ganjar. Dia sangat yakin kalau Ganjar tak pernah melupakan wajah Daniel.


Malam itu saat Daniel datang ke rumah untuk bertanggung jawab, Ganjar menolak dan malah mengusirnya. Dia juga mengurung Ashilla di kamar.


Ashilla dapat mendengar apa yang dikatakan Ganjar pada Daniel dan dia masih mengingatnya sampai sekarang.


“Kamu tidak perlu bertanggung jawab untuk hal apapun karena Ashilla akan menggugurkan bayi itu.”


Karena rasa takut itulah Ashilla memutuskan pergi ke New York dan tinggal dengan Miranti. Sedangkan yang Miranti dan Gusman tahu kalau Ganjar yang mengirim Ashilla ke sana karena malu lantaran Ashilla hamil di luar nikah.


Waktu itu hanya sekali Ganjar melihat Daniel, wajar jika dia sudah lupa, apalagi fungsi ingatan Ganjar sudah menurun seiring bertambahnya usia. Ashilla hanya terlalu yakin kalau Ganjar masih mengingatnya.


Angkasa menatap Asa yang tidur di pangkuan Ashilla. “Biar aku pindahkan Asa ke kamarnya.”


Ashilla tengadah menatap sang suami. “Asa tidur sama kita aja, Kak Edgar nggak ada, kasihan dia tidur sendiri.”


Angkasa mengangguk. Dia lekas menggendong Asa dan menidurkannya di kamar.


Tepat pukul sepuluh Faran pamit untuk ke kamar menghampiri Aruna yang sejak tadi mengurung diri, bahkan setelah melakukan shalat jenazah Aruna tak keluar lagi dan juga tidak ikut ke makam.


Sementara itu Ben dan keluarganya juga izin pulang. Sedangkan Marissa masih duduk di sebelah Miranti, dia berharap bisa bertemu Edgar malam ini dan mengucapkan bela sungkawa pada pria itu.


“Cha, mau pulang sekarang?” tanya Mila.


“Sebentar lagi Tante,” jawab Marissa. Dia tidak tahu kalau Edgar tidak akan pulang.


“Ya sudah kami pulang duluan, hati-hati kamu ya, jangan pulang terlalu malam,” petuah Mila.


Tak berapa lama, Iyash datang dan mengucapkan bela sungkawa pada Ashilla dan Angkasa. “Maaf baru bisa datang, tadi mendadak ada urusan yang nggak bisa ditinggalkan. Orang panti sudah pada ke sini, ‘kan?”


“Iya, sudah, makasih,” kata Ashilla.


Iyash mengangguk. Dia mengedarkan pandangan dan menatap Miranti. “Aku ketemu Bunda kamu dulu.”


“Iya.”


Iyash mendekat pada Miranti dan duduk di depan wanita itu. “Tante,” panggil Iyash pelan. Miranti mengangkat wajah dan menatapnya. “Saya turut berduka cita, semoga almarhum diterima amal ibadahnya dan dilapangkan kuburnya.”


“Aamiin,” jawab Miranti pelan. “Makasih.”


Iyash mengangguk. Sementara itu, sejak tadi Marissa menatapnya dan Iyash belum menyadari itu. Sampai saat dia bangkit dan tak sengaja menatap Marissa, wanita itu malah sengaja memalingkan wajahnya. Namun, Iyash tak peduli, dia malah berpura-pura tak mengenal dan tak melihatnya, meski dia sendiri penasaran kenapa wanita itu ada di sana.


Iyash berjalan keluar, tapi dia tetap mengedarkan pandangan, berharap dia melihat Aruna malam itu. Namun, tidak, dia malah melihat sang ayah yang baru saja masuk dan tak melihat dirinya.


Iyash merasa penasaran dengan kehadiran ayahnya malam itu, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan malah kembali masuk ke dalam rumah. Dia melihat Hasa yang langsung mendekat pada Miranti.


“Mir, aku turut berduka cita,” kata Hasa prihatin.


Miranti mengangkat wajah dan menatap pria yang sudah menjadi penyebab atas kepergian sang ayah. “Ini semua gara-gara kamu.”


Hasa mengernyit. “Maksud kamu apa aku nggak ngerti.”


“Cha,” panggil Miranti pada wanita di sebelahnya.


“Iya, Bund.”


“Bantu Bunda ke kamar.” Perlahan Miranti bangkit dibantu Marissa. Tubuhnya terasa lesu karena sejak pagi dia belum makan.


“Mir, kalau memang ini salahku, aku minta maaf,” kata Hasa seraya ikut bangkit.


Miranti tidak menoleh, malah Marissa yang menoleh menatap Hasa.


“Miranti,” panggil Hasa seraya berjalan mengikuti Miranti.


Dari jauh, Iyash merasa semakin penasaran karena ternyata sang ayah datang untuk  wanita yang diceritakan ibunya.


“Om, tolong Om jangan berisik,” kata Angkasa yang beberapa detik lalu sudah berada di sebelah Hasa. Sementara Ashilla hanya mematung dan bahkan dia tidak membantu Miranti ke kamar.


Hanya Marissa yang membantu Miranti merebahkan tubuh di ranjang. Dia tak banyak bicara dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, yaitu, menarik selimut dan menyelimuti Miranti yang kedingingan.


“Makasih, Cha,” kata wanita berwajah pucat itu.


Marissa mengangguk. “Kalau begitu, Icha pamit pulang ya, Bund.” Namun, Miranti malah menahan tangannya.


“Pria tadi adalah ayahnya Edgar,” ungkap Miranti. Dia tidak tahu kalau Marissa adalah anak angkatnya Hasa. Gadis yang Hasa sekolahkan sampai lulus.


Marissa terperangah. “Kok bisa, Bund?” Seketika dia pikir kalau Miranti adalah selingkuhan Hasa.


“Ceritanya panjang. Gara-gara ini Edgar pergi dari rumah dan Bunda nggak tahu dia di mana. Kamu bisa, ‘kan, bantu Bunda cari tahu Edgar di mana.”


Marissa mengangguk seraya membasahi tenggorokan. Dia tidak menyangka kalau Edgar lahir bukan dari keluarga yang sah.


“Makasih, tolong kamu jaga rahasia ini,” pinta Miranti.


Marissa mengangguk. Dia pun pamit dan pergi dari kamar Miranti. Pikirannya mengawang, seketika rasa penasarannya terjawab, inilah alasan Edgar tak pernah mempersembahkan satu buku pun untuk sang ayah.