Behind The Lies

Behind The Lies
Pertemuan Singkat



Dewi larut dalam tangis dan kebahagiaan, akhirnya Tuhan permudah jalannya untuk menjelaskan dan menyampaikan semua kebenaran itu. Dia hanya ingin mendapat maaf dari anaknya. Andai Gusman masih di sini, dia juga ingin mendapat maaf dari pria yang sangat dicintainya itu.


“Terima kasih, Nak.” Dewi kembali merangkul bahu kedua anaknya. Aruna menyandarkan kepala di bahu sang ibu, begitupun dengan Ashilla.


Sebuah ketukan seketika membuat mereka terkesiap. Kebahagiaan yang dinantikan selama puluhan tahun, harus sirna dalam sekejap.


“Shill, Om Ben sama keluarganya datang,” kata Miranti.


Jantung Ashilla berdegup panik. “Gimana dong?” tanyanya pada Aruna. Dia kemudian menatap Dewi. “Kalau Bunda lihat ibu di sini, kejadian itu pasti akan terulang lagi,” sesalnya.


“Ibu bisa sembunyi di kamar mandi,” usul Aruna.


“Ya udah.” Ashilla menerima usul adiknya tersebut. Dia lekas pergi membuka pintu kamar sedangkan Aruna mengajak Ibunya ke kamar mandi.


“Hai, Om.” Ashilla memeluk Ben dan istrinya bergantian. “Apa kabar?”


“Baik. Beda ya, pengantin baru bisanya mengurung diri di kamar,” goda Ben. “Si … Aruna mana?”


“Ada di kamar aku.” Ashilla menoleh ke belakang dan tampak Aruna berdiri tak jauh di belakangnya.


“Hai, Om.” Aruna mengecup punggung tangan Ben dan istrinya bergantian.


“Lagi ngapain ngumpul di kamar?” tanya Ben.


“Biasalah Om, aku harus cari pengalaman dari wanita yang sudah bersuami.” Ashilla memeluk lengan Aruna.


“Pasti soal malam pertama,” tebak Ben.


Ashilla tersenyum. “Nggaklah kalau itu mah udah tahu.”


“Iyalah masa nggak tahu, anaknya aja udah gede begitu,” kata Mila, istrinya Ben.


Ashilla memutar bola matanya. Jujur dia tidak begitu suka pada istri dari kakak sepupu ayahnya itu.


“Oh iya, Asa mana?” tanya Ben.


“Sekolah,” jawab Ashilla. “Om kita ngobrol di ruang keluarga aja yuk.”


“Iya, Om juga udah pegel.” Ben kemudian pergi lebih dulu bersama istrinya, sementara Ashilla masih mematung di depan pintu.


“Kamu ajak Ibu keluar.”


Aruna mengangguk. Saat Ashilla mengikuti Ben ke ruang keluarga, Aruna dan Dewi berjalan di belakang mereka, lalu berbelok ke kiri menuju pintu keluar, sementara Ashilla lurus.


“Edgar di sini?” tanya Mila seraya duduk. “Dia kok nggak kelihatan?”


“Kak Edgar nganter Asa sekolah, Tante.”


“Oh, nggak pakai sopir?”


“Biasanya kita pakai sopir kok, Tan, cuma ya gitu, Kak Edgar pengen jalan-jalan sekalian keluar jadi anterin Asa,” jawab Ashilla.


Gaya sosialita Mila begitu mengganggu di mata Ashilla. Miranti saja seorang desainer tak pernah membusungkan dada seperti itu. Kenapa bisa-bisanya ibu rumah tangga seperti Mila yang hanya doyan arisan itu malah terlihat heboh dari Miranti.


“Udah nggak sabar pengen lihat Edgar. Jam berapa dia berangkat?” tanya Mila.


“Jam enam,” jawab Ashilla.


“Ini udah hampir siang, Shill.” Mila menunjukkan jam tangannya. “Jangan-jangan di sana banyak cewek cantik, jadinya lama.”


“Nggaklah, anakku nggak jelalatan,” kata Miranti seraya mendekat dan membawakan setoples kue, sementara Bi Sumi membawakan enam gelas air es jeruk.


“Jadi, gimana, Mir? Kamu setuju, ‘kan untuk jodohkan Edgar sama ponakanku,” kata Mila antusias.


“Oh iya, ponakan kamu mana?” Miranti mengedarkan pandangan seraya duduk.


“Naik mobil Sam, dia nggak mau bareng aku. Padahal tadi kami barengan, mungkin mereka terjebak macet.”


“Sam sama istrinya datang, ‘kan?” tanya Miranti.


“Datang dong.”


Ashilla memperhatikan sekitar, tampak Ben sedang asyik mengobrol dengan Ganjar, Miranti bergosip dengan Mila. Dia kemudian menatap ke belakang, berharap Aruna menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun, Aruna belum terlihat, sehingga dia memutuskan untuk menyusulnya ke depan. “Aku tinggal sebentar.”


 “Sekalian panggilkan Aruna, ada keluarga gini masa nggak ikut ngumpul,” kata Miranti.


“Iya, Bund.”


Ashilla segera pergi menyusul Aruna ke depan. Tiba-tiba dia merasa terenyuh ketika melihat Dewi berkali-kali memeluk Aruna. Namun, Aruna malah terlihat kaku untuk membalas pelukan tersebut. Andai Tuhan memberi lebih banyak waktu, sayangnya tidak, mau tak mau mereka terpaksa harus mengakhiri pertemuan singkat itu.


Aruna kembali setelah Dewi pergi menggunakan taksi. Dia mematung di depan Ashilla yang tampak kecewa menatapnya.


“Seharusnya kamu akui dia dari dulu.”


Jantung Ashilla mencelus.


“Kalian ngapain di situ, belum selesai rumpinya?” teriak Miranti.


Aruna dan Ashilla lekas pergi ke ruang keluarga.


“Aruna kayak habis nangis?” bisik Mila ketika Aruna hendak duduk.


“Kangen suaminya,” sahut Ashilla yang sudah duduk di tempatnya lagi.


Aruna terdiam menatap Ashilla dan mengurungkan niatnya untuk duduk. Dia kemudian tersenyum pada Mila, meski bibir benar-benar terasa kaku.


“Gimana, udah punya anak?” tanya Mila cepat.


Aruna menggeleng seraya duduk di sebelah Miranti.


“Ih, buruan, keburu tua,” komentar Mila pedas.


“Aku sama Mas Faran–” Aruna tergagap.


“Lagi program kok mereka,” tukas Miranti. “Doakan saja, lagian mereka ini LDR-an.”


“Iya, aku ngerti, kasih tahu dong, jangan kerja terus, sudah saatnya loh dia jadi istri yang baik seperti aku, iya, ‘kan, Ben?” Mila meminta persetujuan suaminya.


Ben hanya mengangguk, namun tetap fokus mengobrol dengan Ganjar, sehingga tak begitu memperhatikan apa yang dikatakan istrinya, yang dia tahu kalau Mila baru saja menyebut namanya.


“Tante, ‘kan memang nggak pernah kerja,” tukas Ashilla.


“Ih, kata siapa, jadi ibu rumah tangga itu juga kerja, Shill, jangan dianggap sepele ….”


“Iya, Tante, aku ngerti, pilihan orang, ‘kan beda-beda,” kata Ashilla lagi.


“Coba kalau kayak istrinya Sam, sebelum menikah dia bekerja juga, tapi pas udah menikah, dia rela berhenti dan meninggalkan karirnya.”


“Kasusnya beda, Tante.” Kali ini Aruna yang bicara.


“Ini bukan kasus, gila kamu yang kayak gini disebut kasus.” Mila mendelik.


“Maksud aku yang terjadi sama istrinya Kak Sam dan aku jelas beda dan nggak bisa disamakan. Aku menikah saat masih kuliah, lagian Mas Faran juga nggak keberatan sama pekerjaan aku, kenapa jadi Tante yang repot?” ujar Aruna kesal.


Miranti menepuk lutut Aruna. “Suaminya memang baik, Mil.”


“Kuat ya suaminya LDR-an, memang dia bisa menahan keinginannya kalau lagi on?” Mila memelankan kalimat terakhirnya.


Aruna semakin geram pada wanita berlipstik merah cabai itu. “Kenapa nggak bisa? Mas Faran rajin puasa kok.”


“Puasa? Ya, wajar kamunya jauh, jadi dia bukanya pas ketemu kamu aja, iya, ‘kan?” Mila tertawa. “Kebayang kalau nggak ketemu satu bulan, terus hasratnya dia jadikan satu malam.” Wanita itu kembali tergelak, sementara yang lain malah diam menatapnya.


“Cukup, Tante.” Suara Aruna meninggi. “Maksud aku puasa Senin-Kamis, Tante memang nggak belajar kalau puasa itu bisa mengendalikan hawa nafsu.”


“Astaga. Kamu ini terlalu serius.” Mila kemudian menatap Miranti. “Dia nggak tahu kalau aku lagi bercanda?”


Ashilla tersenyum sinis dan pura-pura tak mendengar Mila, yang jelas dia suka saat Aruna mematahkan argumen wanita sosialita itu.


“Akhir-akhir ini, dia memang lagi sensitif, Mil. Dia sering marah karena hal kecil pada suaminya,” pungkas Miranti.


“Ih ….” Mila mengedikkan bahu. “Hamil kali kamu.”


Seketika Aruna tergemap.


“Kita aminkan saja, ya, Run,” ujar Miranti lagi.


“Aku baru ingat kalau aku harus ke rumah sakit buat ngambil hasil lab, Bund.” Aruna segera bangkit.


“Oh iya, minta antar Yayan, jangan pergi sendiri.”


“Iya, Bund.” Aruna kemudian menatap Mila dan Ben. “Tante, Om, saya izin dulu mau ke rumah sakit.”


“Kamu sakit?” tanya Ben.


“Nggak kok. Aku harus ambil hasil tes kemarin.”


“Tes apa?” tanya Mila penasaran.


“Tes darah, beberapa hari yang lalu dia pingsan, terus katanya kena anemia dan harus lakukan cek, takutnya ada penyakit serius. Ah, tapi semoga nggak deh,” kata Miranti.


“Oh, ya udah cepat sembuh deh, semoga hasilnya baik,” ucap Mila.


“Makasih, Tante.” Aruna kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga. Dia yakin sekali kalau Mila akan tetap membicarakannya setelah dirinya pergi. Dia tak peduli yang terpenting dia tak ada disitu.