
Langkah kaki Iyash begitu cepat seakan dia tengah mengejar seseuatu siang itu, padahal Nadine ada di belakangnya. Jika tujuan Iyash hanya Nadine seharusnya dia tidak akan meninggalkannya.
“Kapan kamu mau temani aku ke Makassar?” tanya Nadine sembari menyusul pria itu.
Iyash menoleh dan terdiam beberapa detik. Nampaknya kesadaran Iyash masih belum sepenuhnya kembali. Entah mungkin dia merasa seperti bermimpi bisa melihat Aruna siang itu, tapi kenapa harus disaat seperti ini? Di saat dia sudah merelakannya secara perlahan?
“Kamu sudah janji, Yash,” rajuk Nadine.
Iyash masih terdiam.
“Yash?”
“Iya, nanti kita cari waktu.” Iyash membukakan pintu mobil.
Nadine masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.
“Mungkin besok aku bisa mengantarmu ke Makassar,” ucap Iyash setelah duduk di sebelah Nadine.
Kenapa mendadak rencana dalam pikiran Iyash berubah?
“Acara pernikahan itu kapan?” tanya Nadine.
“Masih lama, masih ada waktu kalau kamu mau mengunjungi papi kamu.”
“Nanti saja, aku ke sini untuk menemani kamu ke acara itu, ‘kan? Lagi pula nanti aku harus terbang lagi ke sini, jadinya bolak-balik.”
Iyash termangu hingga beberapa detik. Apa yang dikatakan Nadine memang benar. Dia telah meminta wanita itu untuk menemani dirinya ke acara pernikahan Angkasa hanya untuk membuat Ashilla berpikir kalau dia bisa bangkit dan ada obsesi lain dalam hidupnya, tapi setelah melihat Aruna semua pikiran itu berbalik arah.
“Kamu tahu, ada hal yang lebih penting dari sabuk pengaman,” kata Nadine.
“Apa?” tanya Iyash tanpa menoleh.
“Kesadaran,” tutur Nadine. “Sepertinya kamu meninggalkannya bersama perempuan tadi.” Andai Iyash menyadari kecemburuan Nadine, tapi sayangnya tidak. Hati dan pikiran Iyash justru tak bisa beralih dari pertemuannya dengan Aruna.
“Aku rasa perempuan tadi cemburu melihatmu denganku.”
“Aruna,” tukas Iyash. “Namanya Aruna.”
Nadine tergemap.
“Lain kali aku kenalkan.”
“Nggak usah,” tolak Nadine cepat. Bagaimana mungkin dia mau berkenalan dengan wanita yang jelas-jelas sudah menolak perkenalannya di pertemuan pertama. “Kamu nggak lihat tadi aku sudah bersikap ramah, tapi dia–” Nadine menahan kalimatnya, namun hatinya bergejolak dan terasa dongkol. “Bitchy.”
Seketika Iyash termangu sampai lima detik.
“Biasanya perempuan seperti itu hanya ramah pada laki-laki.”
“Nggak gitu. Itu karena kamu belum mengenalnya. Dulu aku juga pikir dia begitu.”
Nadine terlihat risau mendengar Iyash berkata seperti itu, dia yakin raut bahagia Iyash bukan untuk dirinya dan bukan karena kedatangannya.
Tak berapa lama mobil berhenti di depan rumah Iyash, sedangkan Nadine terlihat semakin risau. “Yash, aku menginap di hotel saja.”
“Loh, kenapa nggak bilang dari awal?” Iyash malah terlihat kesal. Tentu saja dia sudah terlalu jauh membawanya ke sini.
“Aku ….” Nadine mengedarkan pandangan.
“Sudah terlanjur datang ke sini, lagi pula aku ada perlu lain, Nad,” kata Iyash.
Nadine menghela napas. “Katamu kamu tidak ada keperluan lain selain menjemputku. Aku belum lupa.”
Iyash turun dan mengabaikan racauan Nadine. Mau tidak mau Nadine lekas mengikutinya.
Iyash mempersilakan Nadine untuk masuk. “Kamu duduk dulu, aku panggilkan Mama.”
Nadine mengangguk dan lekas duduk. Tak berapa lama Iyash kembali bersama ibunya. “Ma, ini Nadine.”
“Oh.” Ira lekas mendekat dan langsung menjabat tangan Nadine.
“You can speak Indonesian?”
“Sedikit.” Nadine tersenyum gugup.
Ira menoleh pada Iyash. “Diajarin Iyash, pasti?”
“Ayahnya asli Makassar,” kata Iyash seraya duduk. “Sampai umurnya tiga belas tahun dia besar di Indonesia.”
“Oh.” Ira tertawa kecil.
“Ibunya orang Spanyol, tapi nikah lagi sama orang Jerman dan sekarang dia tinggal di Jerman,” sambung Iyash.
“Oh begitu.” Ira kemudian duduk. “Pantas tadi Iyash buru-buru pergi, ternyata mau jemput calon istri.”
Nadine dan Iyash saling bersitatap. “Ma, Nadine bukan–”
“Sri,” teriak Ira memanggil asisten rumah tangganya dan memotong penjelasan Iyash.
Sri tergopoh seraya mendekat. “Iya, Bu?”
“Bawa minum buat pacarnya Iyash.”
“Mah, Nadine bukan–”
“Sri, sekalian keluarkan semua cemilan dan kue-kuenya, bawa ke sini.” Lagi-lagi Ira melakukannya.
“Baik, Bu.”
Iyash berdecak karena lagi-lagi sang ibu memotong penjelasannya. “Ma ….” Namun, dia masih berusaha menjelaskan kalau Nadine bukan pacarnya, tapi, Ira malah terlihat antusias.
“Di sini tinggal di mana?” tanya Ira pada Nadine. Wanita itu benar-benar tak memberi Iyash kesempatan untuk bicara.
Nadine menggeleng. “Belum tahu.” Meski Iyash sudah mengatakan kalau dia akan tinggal di rumahnya, namun Nadine ingin Ibunya Iyash yang langsung memberi tempat tinggal untuknya dengan begitu dia tidak akan merasa canggung.
“Kok belum tahu?” Ira lekas menatap anak bungsunya. “Iyash?”
Iyash malah terdiam cukup lama.
“Ya sudah kamu tinggal di sini saja.”
Nadine tersenyum. “Terima kasih, Tante.”
“Panggil Mama.”
Nadine kembali tersenyum.
Semalam Iyash mendengar kedua orang tuanya bertengkar karena masa lalu sang ayah yang akhirnya mengakui kalau dia memiliki anak dari perempuan lain sebelum menikahi Ira dan itu membuat Ira hancur.
Melihat wajah bahagia sang ibu siang ini ketika menyambut Nadine membuat Iyash tidak ingin melihat ibunya bersedih lagi. Biarkan saja jika Ira mengira Nadine sebagai calon istrinya yang terpenting Iyash bisa melihat senyum itu lagi.
“Kamu kenapa, Yash?” tanya Ira.
Iyash mengerjap. “Aku ada perlu, titip Nadine ya, Ma.” Dia kemudian bangkit.
Nadine mengangkat wajah dan menatap pria itu. Dia ingin menahan Iyash, tapi tidak mungkin, lagi pula dia tak punya hak untuk itu.
“Nad, kamu di sini dulu sama Mama, kalau ada apa-apa kamu tinggal bilang.”
Nadine mengangguk semantara Ira tersenyum menatap keduanya yang begitu serasi.
“Mama antar kamu ke kamar, kamu pasti capek, ‘kan?”
“Nadine belum makan, Ma. Tadinya kami mau makan di restoran, tapi dia menolak. Mama bisa, ‘kan temani dia makan?”
Iyash begitu perhatian, itu membuat Nadine semakin tak bisa lepas dari perasaannya terhadap Iyash. Sepuluh tahun dia mengenal pria itu, meski sudah kembali ke Indonesia mereka tak pernah berhenti berkomunikasi. Iyash juga selalu bersikap baik terhadapnya.
“Kamu juga temani aku makan,” pinta Nadine.
Iyash menatap arlojinya. “Nggak bisa, Nidu, aku minta maaf.”
Hati Nadine tersenyum mendengar Iyash memanggilnya dengan nama itu. Nidu adalah panggilan yang diberikan sang ayah untuknya. Iyash memang selalu mengingatkannya pada sang ayah, kenyamanan yang diberikan Iyash sama dengan kenyamanan dan rasa aman yang dia rasakan ketika bersama ayahnya.
“Aku pergi.” Iyash pamit tanpa basa-basi. Nadine akui sejak dulu Iyash memang pria kaku.
“Ya sudah, Mama temani kamu makan,” ajak Ira.
Nadine mengangguk dan mengikuti Ira ke ruang makan. Sementara Iyash pergi dengan mobilnya menuju panti asuhan. Dia sudah berjanji pada Marwan untuk menjenguk Ganjar di rumah sakit. Mereka dengar kondisi Ganjar semakin memburuk. Siapa tahu di sana dia juga bertemu Aruna.
***