
Iyash lekas mengejar gadis itu keluar. Namun, dia kehilangan jejaknya. “Aruna,” panggil Iyash sembari terus mencarinya.
Aruna malah bersembunyi dari pemuda itu dan menahan isakannya. Dia tidak ingin Iyash tahu dengan semua perasaan yang berkecamuk dalam dadanya malam itu.
“Aruna!” teriak Iyash lagi. “Run, kamu di mana?”
Aruna terus menangis sembari memegang dadanya sendiri. Ibu yang selama ini dia cari ternyata ibunya Adisty. Dia sangat yakin kalau Iyash tahu akan hal ini. Bukankah dulu dia pernah menunjukkan foto ibunya pada Iyash?
“Aruna!”
“Kenapa, yash?” tanya Angkasa.
Iyash lekas menoleh pada asal suara.
“Kenapa?”
Iyash menghela napas dan tak menjawab pertanyaan Angkasa. Namun, Angkasa tahu kalau Iyash sedang mencari Aruna karena sedari tadi dia tidak melihat Aruna.
Aruna berlari. Namun, Iyash dapat melihatnya. “Run,” panggil pemuda itu seraya mengejarnya.
Aruna tak menghentikan langkah kakinya yang cepat. Iyash tahu kalau dia tak akan dapat menyusul Aruna, sehingga dia memilih kembali dan mengejar Aruna dengan mobil.
Angkasa sendiri malah memperhatikan, dia merasa tak perlu ikut campur dengan urusan mereka.
Iyash terus melajukan mobilnya. Namun, seketika dia berhenti kala melihat Aruna sedang dirisak preman.
“Neng, mau pulang? Yuk abang antar, cantik-cantik begini kok sendirian.”
Aruna terus mencari jalan lolos dari ketiga preman yang menghadangnya.
“Neng.”
“Hei,” teriak Iyash kesal karena ketiga pria itu berani mengganggu sang pacar.
Aruna lekas menoleh pada asal suara. “Iyash.” Dia kemudian berlari pada pemuda itu. Iyash meminta Aruna untuk berdiri di belakangnya. Ketiga preman itu mendekat dan meremehkan Iyash.
“Ayo kita lihat bisa apa dia,” cibir salah satu preman itu.
Sejujurnya Iyash takut karena sebenarnya dia tidak dibekali ilmu bela diri, sehingga memilih untuk mundur. Tetap preman di yang berdiri di sebelahnya berhasil meninju rahang Iyash, ketika pemuda itu sedang lengah.
“Iyash!” teriak Aruna sembari membantu pemuda itu untuk bangkit. Aruna marah ketika mendengar para preman itu tertawa. “Mau kalian apa?”
“Kalau kami mau kamu, kamu mau melayani kami malam ini?” tanya salah satu preman seraya mendekat.
Iyash tidak terima karena mereka baru saja melecehkan Aruna. Dia mencoba melawan preman tersebut. Namun, dia malah kena pukul tepat di perut, hingga lagi-lagi terjengkang. Iyash kembali bangkit dan mencoba melawan, namun dia gagal dan malah terus mendapat pukulan, akhirnya yang dia lakukan hanya berusaha menghindar.
Aruna membenci dirinya sendiri karena telah menyeret Iyash pada kejadian ini. Tawa dan ledekan para preman itu membuat kepalanya pusing. Tiga preman tersebut bertubuh besar dan lihai dalam berkelahi, rasanya tak adil, apalagi mereka langsung mengeroyok pemuda kurus seperti Iyash.
“Iyash!” Aruna hanya bisa berteriak memanggil-manggil pemuda yang sedang di keroyok dua preman dua preman itu, sementara preman lain menahan tangannya. “Iyash, bangun,” pinta Aruna sembari terus menangis.
Para preman itu malah terus menertawai mereka. Iyash tak berdaya sementara Aruna tertahan dan tak bisa melawan.
“Udah, bos bilang udah, ayo cabut,” kata salah satu dari mereka dan Aruna pun dilepaskan, Iyash ditinggalkan, entah apa yang mereka inginkan.
Aruna lekas berlari dan memeluk Iyash. “Aku minta maaf,” isaknya.
Iyash terbatuk dan mengeluarkan darah hingga mengenai gaun putih Aruna.
“Kalau saja aku nggak lari,” kata Aruna pelan.
“Aku minta maaf,” katanya setelah masuk ke dalam mobil dan duduk menyamping menghadap Iyash.
“Aku nggak akan maafin kamu!” teriak Iyash geram. “Kenapa kamu pergi? Karena lihat Adisty menyuapiku kue? Iya?” tuduhnya.
Aruna mengernyit dan tak terima dengan tuduhan Iyash. Dia bersumpah kalau hal itu tidak akan membuatnya melarikan diri sampai semarah ini.
“Aku dan Adisty tidak ada hubungan apapun, dari kecil kami berteman,” terang Iyash. “Jadi, kamu nggak perlu cemburu karena hal sepele seperti ini.”
“Cukup! Aku tidak peduli mau sedekat apapun hubungan kamu sama Adisty, aku nggak peduli!”
“Belum lama kita tinggal di Jakarta, kamu mengambil keputusan sendiri dengan ngekost. Sekarang karena hal sepele seperti ini kamu mengorbankan nyawaku.”
Aruna semakin tidak terima bisa-bisanya Iyash mengatakan hal seperti itu. “Aku yang seharusnya marah sama kamu,” kata Aruna sembari menangis.
“Karena Adisty?”
“Karena aku melihat ibuku di sana, sedangkan kamu mengenal Adisty dari kecil, kamu pasti tahu ibuku dan ibunya Adisty adalah orang yang sama.”
Kedua mata Iyash membola. Sementara Aruna tak berhenti menangis.
“Aku nggak tahu, Run,” kata Iyash lebih pelan.
“Bohong!” teriak Aruna. “Dulu, dua tahun yang lalu, aku menunjukkan foto ibuku sama kamu, tapi kamu pura-pura nggak tahu.”
“Aku memang nggak tahu!” teriak Iyash sembari memukul kemudi. “Kamu nggak bisa menyalahkan aku untuk semua kesalahan kamu. Aku lelah terlibat dengan semua masalah kamu.”
“Ternyata aku salah selama ini.”
“Terserah apa yang mau kamu pikirkan.” Iyash memutar kemudi dan menginjak pedal gas.
“Aku seharusnya marah karena beasiswa itu ternyata untuk orang miskin.” Aruna memberi jeda sementara Iyash tetap mengemudi. “Kamu telah menghinaku, Yash.”
“Aku nggak pernah berpikir seperti itu.”
“Lalu buktinya ini apa? Seharusnya memang aku nggak mengandalkan kamu untuk masa depanku.” Ribuan kecewa terdengar di telinga Iyash. “Aku menyesal mempercayaimu.”
Iyash membasahi tenggorokan. Seharusnya dia meminta maaf, tapi dia tak merasa bersalah. “Kamu melupakan jasa-jasaku karena hal sepele ini?”
“Aku ngerti sekarang. Kamu selalu ingin terlihat menjadi pahlawan di depan semua orang. Kamu nggak pernah tulus bantuin aku,” tuduh Aruna.
“Aruna cukup!” Iyash memukul kemudi. sembari menginjak pedal gas dengan keras dan mobil melaju di luar kendalinya. Aruna memegang handle karena ketakutan.
Iyash benar-benar tak bisa terima dengan semua perkataan Aruna. “Pantas nggak ada orang yang benar-benar ingin berteman sama kamu. Karena kamu mudah melupakan kebaikan orang lain karena kesalahan kamu sendiri.”
Aruna menggeleng.
Jerit klakson memekik dari berbagai arah lantaran Iyash sok-sokan menyalip mobil lain dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan ada sebuah truk di depannya. Aruna menjerit, pun dengan Iyash yang mencoba memutar kemudi, namun semua sudah terlambat mobilnya terlanjur menabrak truk tersebut, hingga menghancurkan semuanya.
Kedua penumpang mobil tersebut hilang kesadaran dan mengalami luka-luka yang cukup parah. Orang-orang panik, para pengendara berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Salah satu dari mereka ada yang tidak keberatan untuk menghubungi nomor darurat dan melaporkan kejadian tersebut.
Beberapa sukarelawan turun untuk membantu mengeluarkan dua penumpang yang terjepit di dalam. Sementara sopir truk begitu terkejut dengan kejadian ini meski dia baik-baik saja. Sungguh Tuhan tahu kalau ini bukan salahnya karena saat dia melihat ada mobil yang melaju kencang di depannya, dia sudah berusaha berhenti dan menekan klakson.
Tak berapa lama sirine ambulan dan sirine mobil polisi bersahutan. Aruna dan Iyash dilarikan ke rumah sakit, sementara garis polisi langsung dipasang di tempat kejadian. Mau tidak mau sopir truk harus menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan polisi.
Tepat pukul sembilan, keluarga Iyash mendapat kabar kalau anaknya mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Sementara Gusman belum tahu tentang kejadian menyedihkan ini.