Behind The Lies

Behind The Lies
Pelankan Suaramu



Aruna tidak sedang membuat pembelaan, tapi ada perasaan lega di dada saat dia berhasil mengungkapkan semua perasaannya.


Usai meminta Iyash pulang, Ashilla kembali ke kamar Aruna. Dia duduk di sebelahnya tanpa berkata apapun dan hanya mengusap bahu Aruna. Ashilla kehilangan semua kata-kata terbaiknya. Dia masih syok dengan ungkapan isi hati Aruna.


“Aku akan pergi ke rumah sakit sekarang,” kata Aruna sembari menyeka air matanya.


“Nanti aja, aku tahu kamu belum makan. Tadi Bi Sumi bilang kalau makanan kamu sudah siap dan mungkin sekarang sudah dingin.”


“Aku memang lapar, tapi sekarang jadi malas makan.”


“Jangan gitu, Run. Setelah kamu mengungkapkan semua isi hati kamu, kurasa masalah kamu selesai.”


Aruna termangu menatap Ashilla yang kemudian menghela napas panjang. “Tinggal masalahku yang belum selesai. Perusahaan Opa mungkin akan segera bangkrut karena aku.”


“Maksudnya?”


Bukannya menjawab, Ashilla malah mengangguk. “Opa masuk rumah sakit gara-gara itu.”


Aruna terpegun.


“Kamu tahu sendiri bagaimana Opa mencintai perusahaannya melebihi cintanya pada anak-anaknya sendiri,” tambah Ashilla.


Aruna mengangguk. Dia sadar kalau mereka bukanlah keluarga yang agamis, tapi dia tahu kalau perusahaan yang dibesarkan Ganjar tidak bisa mendoakan sebagaimana doanya seorang anak terhadap orang tua.


“Aku bingung harus apa,” kata Ashilla sembari menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Aruna menoleh dan menatap sang Kakak yang merebahkan tubuh seraya menatap langit-langit kamar.


“Angkasa mungkin bisa membantu.”


“Kuharap begitu.”


Aruna lekas bangkit. “Aku pergi ke rumah sakit sekarang.”


“Makan dulu.”


“Iya.”


“Semalaman aku nggak bisa tidur. Kamu bisa, ‘kan jaga Opa sampai Bunda datang.” Ashilla berbalik, kemudian memejamkan mata.


“Aku usahakan.”


“Bunda mungkin sedang membujuk Kak Edgar untuk ikut dengannya. Entahlah kita hanya bisa memberi pengertian lebih pada orang yang satu itu.”


Aruna tersenyum kecut. Selama sepuluh tahun dia kembali pada keluarga sang ayah, baru lima kali dia bertemu Edgar. Itupun pas hari perayaan idul fitri dan idul adha saja saja di tiga tahun pertama. Setelah dia tinggal di Jerman Aruna tak pernah lagi melihat wajah berahang kokoh itu lagi.


***


Hampir empat puluh lima menit Iyash berkendara akhirnya dia sampai di depan rumah. Di depan pintu Ira tersenyum melihat putranya, meski tak menepati janji akan pulang cepat, tapi setidaknya Iyash tak pulang larut malam seperti yang sering terjadi.


“Syukurlah kamu pulang. Nadine nggak mau makan, katanya mau nunggu kamu.”


Iyash terlihat kesal menatap sang ibu.


“Kamu kenapa?” tanya Ira heran. “Mama udah bersikap ramah sama pacar kamu, tapi, kenapa kamu malah kayak gini? Mama udah bawel ajak dia makan, tapi dia mau nunggu kamu.”


Iyash menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Aku mau bicara sama Mama,” kata Iyash seraya melangkah masuk.


“Tinggal bicara aja,” kata Ira di belakang Iyash.


Iyash pun berbalik. “Mama tahu, ‘kan sebenarnya Aruna masih hidup?”


Jantung Ira mencelus, dia terkejut mendengar pertanyaan Iyash, setelah sepuluh tahun dan setelah beberapa bulan mengenal Ashilla, kenapa Iyash baru bertanya tentang hal ini?


“Iya, ‘kan?”


Ira mengangguk.


“Aku kecewa sama Mama. Kenapa Mama melakukan ini?”


“Melakukan apa? Dia sendiri yang memilih pergi dari kamu.”


“Itu karena Mama yang nyuruh.”


“Nggak,” sanggah Ira. “Justru dia yang minta Mama untuk bilang sama kamu kalau dia sudah meninggal.”


“Iyash, Mama serius.”


“Bohong!” Napas Iyash memburu. “Mama tahu sendiri perasaanku sama Aruna bagaimana, kenapa Mama tega melakukan ini.”


“Mama melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang ibu.”


“Seorang ibu?” Iyash memberi jeda. “Ibu macam apa yang tega merenggut kebahagiaan anaknya sendiri!” pekik Iyash.


“Iyash!” Kedua mata Ira membola. “Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk berteriak sama Mama.”


Nadine yang sedang beristirahat terperanjat sampai kepalanya berdenyut mendengar teriakan Iyash. Perlahan dan sedikit terhuyung dia lekas bangun, lalu keluar dari kamar.


“Aku kecewa sama Mama.”


“Yash, Mama nggak bohong, Aruna sendiri yang minta Mama–”


“Cukup!” bentak Iyash. “Untuk semua kebohongan yang Mama lakukan, aku nggak bisa percaya Mama lagi.”


Ira termangu, air matanya jatuh mendengar bentakan putra yang selama ini dia banggakan.


“Iyash,” Nadine mendekat.


“Kemasi barang-barang kamu, kita pergi dari sini.”


Nadine terpegun. Kalimat Iyash memang cukup sederhana, namun yang tidak dia pahami rasa kesal Iyash terhadap ibunya.


“Yash, jangan pergi. Kita bisa bicarakan ini baik-baik,” bujuk Ira.


“Bicara apa lagi? Mama sengaja menjauhkan aku dari wanita yang aku cintai.”


“Semua demi kebaikan kamu.”


“Ya.” Iyash menganggukkan kepala. “Kebaikan. Menurut wanita egois ini kebaikan.”


“Kalau Mama nggak nyuruh Aruna pergi, apa kamu yakin Aruna akan seperti sekarang? Kamu lihat dia menjadi wanita yang sukses dan bisa mengurus perusahaan besar, meski pada akhirnya dia lebih memilih Angkasa, bukan kamu.”


“Mama!” Iyash baru menyadari kalau selama ini Ira pun menganggap Ashilla adalah Aruna, itu artinya selama ini sang ibu hanya berpura-pura.


“Kamu harus sadar.” Ira memelankan suaranya. “Dia sudah tidak mencintai kamu lagi. Kalau memang dia mencintaimu, dia akan pulang dan kembali sama kamu, bukan malah punya anak dari pria lain.”


Iyash menggeleng, telinganya panas mendengar sang ibu terus berkata demikian. “Aku bisa membuktikan kalau Aruna masih mencintaiku.”


Nadine tertunduk seraya membasahi tenggorokan.


“Untuk apa? Lagi pula dia sudah memiliki Angkasa dan bahkan sudah mau menikah.” Ira terdiam beberapa detik, namun Iyash tak memberi tanggapan, sampai Ira berpikir telah berhasil menyadarkan sang anak.


“Mama senang kamu mengenalkan Nadine dan Mama harap kamu tak lagi membahas tentang Aruna, bagaimanapun juga kamu harus menghargai Nadine.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ma.”


Ira mengernyit. “Sedari tadi kita membahas tentang Aruna, Mama cuma menyelipkan Nadine agar kamu sadar dan berhenti mengharapkan wanita yang jelas-jelas sudah tidak mencintai kamu lagi.”


“Cukup, Ma!” Iyash mengerang frustasi.


“Mama akui kalau dulu Mama minta Aruna untuk pergi jauh dari kamu, itu semua Mama lakukan agar kamu bisa fokus menjalani hidup kamu sendiri, fokus menggapai cita-cita kamu. Mama tidak ingin Aruna membebani kamu.”


“Aruna bukan beban!”


“Iyash, keep your voice down,” pinta Nadine pelan, pasalnya sedari tadi Iyash berteriak pada ibunya.


Iyash mengacungkan telunjuk di depan wanita itu. “Kamu diam. Ini bukan urusan kamu!”


Nadine terperanjat.


“Nadine benar, Mama ini wanita yang sudah melahirkan kamu. Apa pantas kamu bicara dengan nada tinggi sama Mama kamu sendiri?”


“Kenapa Mama masih membela diri? Padahal jelas-jelas yang Mama lakukan itu salah.”


“Iya, Mama tahu Mama salah, Mama minta maaf.”


Iyash terdiam. Dia tahu kalau maaf yang dia dengar tak diiringi dengan ketulusan. Pria dua puluh delapan tahun itu pun lekas pergi dan tak lagi menanggapi arogansi sang ibu. Padahal buah jatuh tak jauh dari tangkainya, begitupun dengan Iyash, sedikitnya dia juga memiliki keangkuhan seperti sang ibu.