Behind The Lies

Behind The Lies
Memberi Jarak



Ashilla mengetuk pintu kamar rawat Lily, sedetik kemudian dia masuk. “Siang, Sus.”


“Siang, Bu.” Suster Rika lekas mundur.


“Gimana sekarang?” tanya Ashilla sembari mendekat pada tabung tempat bayi itu berbaring.


“Sudah lebih baik dan besok Lily sudah boleh pulang.”


“Alhamdulillah. Jam berapa? Saya takut nggak bisa jemput.”


 “Pagi, Bu.”


“Oh, paling sore sehabis dari kantor saya mampir.”


“Iya, Bu.”


“Sus, apa yang Suster butuhkan, bilang? Merawat bayi harus happy jangan ada beban,” kata Ashilla lembut sembari memegang bahu Suster Rika. “Iyash sudah cerita, ‘kan kalau ibunya Lily meninggal?”


Suster Rika mengangguk.


“Jadi kita di sini sebagai orang yang menolongnya. Semoga dia segera bertemu dengan keluarganya yang lain.”


“Aamiin ….”


“Saya nggak bisa lama.” Ashilla kemudian mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. “Ini buat suster, di luar keperluan Lily dan di luar gaji Suster Rika dari Iyash.”


“Nggak usah, Bu,” tolak Suster Rika halus.


“Nggak apa-apa, ambil. Untuk tambah-tambah keperluan Suster.”


“Terima kasih, Bu.”


“Iya, sama-sama.” Ashilla kemudian menatap arlojinya. “Saya pamit ya. soalnya anak saya nunggu di bawah.”


“Baik, Bu. Terima kasih.”


Ashilla mengangguk seraya tersenyum. Dia kemudian pergi menuju tempat Asa berada. Anak kecil itu tengah duduk bersebelahan bersama Iyash dibawah pohon depan rumah sakit. Dari kejauhan Ashilla tersenyum menatap ke arah mereka.


“Kalau kamu mau, nanti Om ajak ke tempat bagus di sini. Kamu pasti suka. Kita jalan-jalan pakai motor,” ajak Iyash setengah membujuk. Entah kenapa dia ingin sekali tahu banyak tentang Ashilla melalui Asa.


“Asa nggak mau pergi tanpa Mama.”


“Om nggak akan nyulik kamu. Nanti kalau Om nyulik kamu, Mama kamu benci dong sama Om.”


Asa mengangkat satu alisnya sembari menatap Iyash. “Memang Om suka sama Mama?”


“Iya,” jawab Iyash penuh percaya diri. “Siapa yang nggak suka lihat perempuan secantik Mama kamu.”


Asa mengernyit. “Mama sudah ada Om Angkasa. Lagi pula sebentar lagi mereka mau menikah.”


Jantung Iyash mencelus. Dia harus membuktikan semuanya sebelum hal itu terjadi. “Siapa yang bilang?”


“Om Angkasa.”


Iyash mendengkus. Tentu saja Angkasa yang mengatakannya. “Om Angkasa teman Om Iyash juga, kami berteman sejak SMP.”


“Oh.”


Ashilla berjalan pelan seraya berdehem. “Yuk pulang,” ajaknya.


“Sudah, Ma?”


“Sudah.”


“Tapi, Asa lapar, mau makan.”


Iyash lekas bangkit. “Tadi Om ajak makan nggak mau.”


Asa pun lekas menoleh pada pria itu. “Asa, ‘kan harus tunggu Mama, nanti Mama khawatir cari Asa.”


“Pintar.” Ashilla membelai puncak kepala anak laki-lakinya. “Love you, my son.”


Asa tersenyum.


Iyash lekas mendekat. “Karena Mamanya sudah ada, gimana kalau sekarang Om ajak kamu makan.”


Mendengar ajakan Iyash, Asa langsung menatap sang ibu. “Boleh, Ma?”


“‘Kan sama Mama,” sela Iyash.


Ashilla mengangguk.


“Kita makan dekat sini aja, itu di depan ada restoran,” tunjuk Iyash. “Yuk.”


Ashilla mengangguk sembari menuntun Asa. Mereka kemudian berjalan menuju restoran di seberang rumah sakit. Mereka tampak seperti satu keluarga dengan satu anak. Iyash akan senang jika ada yang mengatakannya begitu. Duduk di satu meja dan meminta Ashilla memilihkan menu.


“Asa mau apa?” tanya Ashilla.


“Ayam kecap.”


“Just it?”


Asa mengangguk.


“Nggak bosan?”


Anak itu menggeleng.


“Oke, minumnya?”


“Mama minumnya apa?”


“Es jeruk aja ya?”


“Iya.”


 “Ayam kecap sama es jeruk.”


“Baik, Bu. Mas nya?”


“Makanannya?”


“Nggak.”


“Jadi ayam kecap sama es jeruk dua ya?”


“Iya.”


“Mohon ditunggu.”


Ashilla mengangguk. Sementara Iyash sedari tadi menatap Asa. “Ayahnya Asa asli Indonesia ya?”


Seketika Ashilla mengangkat alisnya dan menatap Iyash. Seharusnya Iyash tak membicarakan itu di depan Asa. Sementara Asa sendiri tengadah menatap ibunya. Anak itu kemudian mendengkus. “Kata Mama nanti kalau sudah besar Asa akan tahu.”


“Loh kenapa?” tanya Iyash penasaran.


“Maksudnya kenapa?” Ashilla mengernyit.


“Ya kenapa nggak boleh tahu sekarang? Kasihan ayahnya, Asa juga pasti ingin bertemu, ‘kan?”


“Ada saatnya. Kalau memang dia ingin bertemu, seharusnya cari kami. Cari anaknya.” Dari kalimat itu Ashilla sedikit emosi dan Asa langsung menggenggam tangannya.


“It’s okay, Ma. Selama Mama di dekat Asa, Asa nggak perlu tahu siapa Papa.”


“Thank you, Sayang.”


Asa tersenyum.


“Maaf, Om nggak bermaksud, Asa,” sesal Iyash.


 Asa mengangguk.


Iyash menghela napas. “Jadi, katanya Asa mau sekolah di sini?”


“Iya,” jawab Ashilla. “Siapa tahu punya rekomendasi?”


“Ada, sepupuku kepala sekolah di International school.”


Seketika Ashilla menatap Asa. “Boleh, Asa ke sana aja.”


“Om juga punya keponakan di sana, namanya Queensha. Nanti Om kenalin Asa ke dia.”


“Asa agak sulit bergaul,” ungkap Ashilla pelan.


Seketika Iyash teringat pada Aruna yang pernah berkata, “Aku sedikit kesulitan dalam bergaul”. Iyash langsung berdehem. “Itu karena mungkin Asa masih kecil, masih belum percaya diri, apalagi Asa baru di sini.”


“Silakan, Bu, Pak.” Pelayan meletakan sepiring nasi dan satu piring ayam kecap beserta dua gelas es jeruk.


Asa langsung menikmati makanannya sendiri tanpa disuapi. Sementara Ashilla dan Iyash hanya menemaninya saja.


“Asa homeschooling,” kata Ashilla.


“Oh.”


“Iya, jadi selama dua tahun ini dia sekolah di rumah ditemani pengasuhnya, jadi guru yang datang ke rumah.”


“Kenapa nggak ke sekolah umum?” tanya Iyash penasaran.


“Mungkin Asa belum siap. Itulah kenapa aku berharap besar dia di sini, semoga dia punya banyak teman.”


“Nanti aku bantu.”


“Makasih ya, Yash.”


Iyash berdehem seraya mengangguk. “Jadi kemarin tuh aku terkesima saat kamu menidurkan Lily, aku pikir kamu sangat baik mengurus anak, ternyata sudah berpengalaman.”


Ashilla hanya tersenyum.


“Kamu keibuan banget. Asa beruntung punya kamu.”


“Itu semua yang terlihat dari luar, jauh sebelum ini aku pernah jadi monster.”


Iyash terperangah. Dia semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang wanita di depannya. Sepertinya dia harus banyak meluangkan waktu untuk itu.


Tiba-tiba ponsel Ashilla berdering. “Sebentar,” katanya seraya bangkit dan meninggalkan kursi. Kemudian berjalan ke arah jendela. “Iya, Bund?”


“Kamu masih lama?”


“Iya, ini Asa lagi minta makan.” Ashilla menoleh ke belakang dan menatap Asa yang sedang duduk berhadapan dengan Iyash. “Agak sorean kayaknya.”


 “Asa nggak rewel?”


“Nggak.” Miranti mungkin akan marah kalau tahu Asa terkunci di dalam mobil. Jadi, Ashilla memilih untuk tidak menceritakannya.


“Bunda mau bicara,” kata Miranti.


“Sebentar.” Ashilla lekas kembali ke meja. “Bunda mau bicara.” Ashilla menekan tombol speaker dan mendekatkannya pada Asa.


“Asa, are you happy?” tanya Miranti.


“Yes, I am so happy,” jawab Asa dengan mulut penuh.


“Lagi makan, Bund,” kata Ashilla.


Miranti tertawa. Beberapa detik setelahnya dia bertanya, “Kalian cuma berdua?”


Iyash lekas menatap ke arah lain saat Ashilla menatap ke arahnya. Nampaknya naluri seorang ibu memang benar-benar terasah.


“Kalian dengar Bunda?”


“Sama tem–” Ashilla langsung menutup mulut Asa, kemudian menggeleng. Sementara Iyash terperangah melihat tindakan Ashilla.


“Bunda, udah dulu ya, biar Asa cepat habisin makanannya, terus kami bisa segera pulang.” Ashilla langsung menekan tombol mati. “Cepat habiskan, kita harus segera pulang takut hujan,” katanya pada Asa.


Iyash terpegun. Nampaknya Ashilla tengah memberi jarak.