Behind The Lies

Behind The Lies
Sedikit Hiburan



Ashilla tak hentinya tertawa mendengar cerita Angkasa. Pria konyol itu berkeliling rumah sakit untuk mencarinya. Padahal dia di rumah sedang tidur nyenyak dan menukar daya lelahnya dengan beristirahat.


“Jadi, tadi kamu nggak ke sini?” Angkasa memastikan.


Ashilla merengut. Bahkan dia merahasiakan tentang Aruna dari Angkasa. “Kamu sudah sering mendengar nama Aruna dan dia orangnya.”


“Hah?” Kedua mata Angkasa membola. “Nggak mungkin, kamu ngerjain aku, ‘kan?”


“Aku serius. Dia juga cucu Opa.”


Angkasa terperangah.


“Dia adikku. Aku minta maaf karena nggak bilang kalau aku punya saudara.”


Angkasa tergemap. “Kenapa kamu nggak pernah cerita? Aku pikir dia sudah tidak ada.”


“Maaf,” kata Ashilla penuh penyesalan. “Dia yang memintaku untuk merahasiakan semuanya.”


“Tapi, kenapa?” tanya Angkasa heran. “Iyash hampir gila karena ini.”


“Aku tahu, tapi–”


“Tapi, ini bukan salah kamu,” tukas Angkasa.


Ashilla terperangah.


Sedangkan Angkasa tidak ingin menambah kerumitan masalah yang sedang dihadapi Ashilla saat ini dengan terus membesar-besarkan hal yang jelas-jelas bukan kesalahan Ashilla.


“Merahasiakan ini bukan berarti kamu yang salah.” Angkasa merangkul bahu Ashilla dan mendekatkan ke dadanya. “Mungkin Aruna mempunyai tujuan lain dalam hal ini.”


Ashilla mengangguk. Nampaknya dia tak tertarik menceritakan kisah rumit Aruna pada Angkasa, bukan karena dia tak percaya pada pria itu, tapi karena dia sedang malas membicarakannya.


Perlahan dia menyandarkan kepala ke bahu Angkasa. “Aku harap ada jalan dari semua masalah ini.”


“Pasti ada.”


“Bahuku terlalu kecil untuk menanggung semua beban ini.”


Angkasa mengangguk.


“Aku mau menikah dengan cara yang normal yang biasa dilakukan pasangan lain pada umumnya.”


Angkasa mengernyit. “Maksud kamu apa?”


“Aku nggak mau menikah di rumah sakit.”


“Lagian siapa yang mau. Nikah di rumah sakit juga nggak ada gunanya kalau Opa kamu masih belum siuman.”


“Kamu benar. Kita akan tetap menikah ada ataupun tidak adanya Opa.”


“Yang akan jadi walinya siapa?”


“Kak Edgar.”


“Kamu yakin?”


“Kenapa nggak? Nanti kisah kita akan ditulis dalam bukunya.” Ashilla terkekeh. “Konyol.”


Angkasa tersenyum mendengar kekehan Ashilla. Syukurlah setidaknya Ashilla masih bisa tersenyum dan tak terlalu mengambil pusing semuanya.


“Aku nggak melibatkan Tante Ira dalam pernikahan kita. Akhirnya aku minta tolong Tante Maya adiknya almarhum Mama.”


“Hhhh … syukurlah.”


Ashilla tak penasaran dengan alasan Angkasa, padahal pria itu sudah meminta Ira, namun ibunya Iyash tersebut telah menolak permintaannya dengan alasan menghargai Iyash karena Angkasa menikahi mantan kekasih dari anaknya. Padahal Angkasa sudah menjelaskan semuanya kalau Ashilla bukan Aruna, sebelum dia tahu kalau keduanya kembar.


“Kamu tenang aja, semua Tante Maya yang urus, pokoknya kita tahu beres, untuk saat ini kamu cuma perlu fokus pada kesehatan Opa saja.”


“Nggak. Nanti kalau sudah ada Bunda, aku balik lagi ke kantor,” dengkus Ashilla. “Aku nggak mau. Kalau sudah menikah aku mau jadi ibu rumah tangga aja, siapin kamu sarapan, pakaian, bekal, semua kebutuhan kamu. Mengantar anak ke sekolah. Please, aku mau menikmati semuanya.”


Angkasa tersenyum seraya mengangguk. “Dan menyambutku pulang.”


“Oh iya dong.” Ashilla kembali tertawa.


“Apa yang lucu?” Angkasa menggelitik perut Ashilla.


“Stop. Stop.” Ashilla memelankan tawanya. “Kita dilarang berisik di sini.”


“Aku tahu, kamu yang duluan.”


Ashilla menghela napas seraya mengempas punggung ke sandaran sofa. “Aku bayangin pakai daster kayak Bi Sumi. Terus berdiri di depan rumah menyambut kamu pulang.”


“Astaga.” Kali ini Angkasa dan Ashiilla sama-sama tergelak.


“Mohon maaf, Mbak, diminta kerjasamanya untuk tidak membuat kegaduhan,” kata perawat yang kebetulan bekerja shift malam.


“Oh iya maaf, Sus, cuma sedikit hiburan. Saya tidak mungkin terus-menerus menangis, ‘kan?” timpal Ashilla.


 Perawat itu pergi seraya menggerutu, “Hiburan sih hiburan, tapi nggak usah berisik juga kali."


Ashilla menatap Angkasa seraya mengedikkan bahu dan mencebikkan bibir.


***


Pukul sebelas malam, Miranti dan Edgar baru saja mendarat. Yayan sudah siaga di Bandara menggunakan mobil satunya. Sungguh, jika ditanya siapa yang paling berjasa di keluarga Ganjar, tentu saja Yayan. Jam kerja yang tidak terbatas dan harus siap siaga 24 jam. Gila!


“Yan, dari tadi?” tanya Miranti.


“Nggak, Mbak.” Yayan kemudian menatap Edgar yang sudah begitu dewasa. Terakhir dia bertemu pemuda itu entah berapa tahun lalu, dia sampai pangling dibuatnya. “Sini, Den, biar Pak Yayan bantu.” Yayan membuka bagasi dan memasukkan barang-barang Miranti dan Edgar.


“Yan, Aruna sudah datang?”


“Sudah, Mbak. Den Faran juga.”


“Oh Faran juga ada?” Miranti menghela napas. “Syukurlah.” Dia kemudian menatap anaknya. “Tuh kamu ada temannya.”


“Iya.” Edgar masuk ke dalam mobil.


“Kamu kalau diajak ke sini kayak mau diajak ke neraka,” gerutu Miranti seraya duduk di sebelahnya. “Faran aja tuh, dia rutin mengunjungi kakek kamu.”


“Iya,” sahut Edgar malas.


“Astaga.” Miranti mengempas punggung ke sandaran kursi. “Yan,” teriaknya ke luar jendela. “Sudah belum?”


“Sudah, Mbak.” Yayan menutup Bagasi kemudian masuk ke dalam mobil. “Langsung pulang, Mbak?”


“Iya. Istirahat dulu ah, capek banget. Di pesawat nggak bisa tidur. Ini Edgar malah susah banget dibanguninnya,” kata Miranti seraya bersandar di bahu anak bujangnya.


“Bunda ah, berat,” keluh Edgar.


“Tuh kamu mah, kamu pikir dari tadi Bunda nggak pegal.” Miranti menunjuk bahunya sendiri. “Ini nih sampai ngilu benget nahan kepala kamu.”


“Ck.” Edgar berdecak seraya memejamkan mata.


“Non Aruna sakit, Mbak,” kata Yayan.


“Sakit kenapa?” Miranti langsung menegakkan tubuh sementara Edgar menghela napas lega karena beban di bahunya sudah hilang.


“Tadi muntah-muntah.”


“Ooo palingan ham–” Miranti lekas menatap Edgar. “Iya, ah paling Aruna hamil.”


Edgar membuang muka. “Muntah-muntah belum tentu hamil, bisa aja dia masuk angin, Bund.”


“Masuk angin gimana? Tujuh tahun mereka menikah dan belum dikaruniai momongan, Bunda harap dia memang hamil. Kasihan Ayu, dia pasti sudah tidak kuat ingin menggendong cucu.”


 Kali ini Edgar juga berharap sama. Dia sudah sering mendengar keinginan Faran untuk memiliki momongan.


“Mereka sudah ke Dokter kandungan, ‘kan, dan Dokter bilang kalau keduanya baik-baik saja dan kemungkinan besar bisa punya anak. Ini cuma masalah waktu,” kata Miranti.


Edgar mengangguk.


“Kalau memang seperti itu, saya juga berharap sama, Mbak,” timpal Yayan.


“Apa, Yan, kamu mau punya anak lagi?” goda Miranti.


Yayan tertawa. “Sudah tua begini. Cucu juga sudah banyak, Mbak.”


Miranti pun tertawa kecil. Dia kemudian kembali menyandarkan kepala di bahu Edgar. “Bunda udah nggak sabar pengen bilang ini sama Aruna.”


“Bund, jangan tumbuhkan angan di hati mereka, kasihan, apalagi Faran,” kata Edgar tanpa membuka mata. “Bagaimana kalau Aruna nggak hamil. Dia mungkin cuma masuk angin.”


“Nanti diperiksa, kamu lupa Faran juga Dokter?”


“Bunda lupa, dia Dokter umum, terus dia ngambil spesialis kejiwaan, bukan spesialis kandungan.”


“Ah, Bunda yakin Faran juga berpikir ke sana.”


“Keras kepala,” komentar Edgar.


Miranti tersenyum. Setelah debat kusirnya dengan sang anak dia memilih tidur, pun dengan Edgar, dia tak tertarik mengobrol dengan Yayan.


***