Behind The Lies

Behind The Lies
Bukan Bulan



Marissa tengah mencuci piring bekas makannya, padahal Nenek Alma sudah melarang dan membiarkan Lastri melakukannya.


“Nggak apa-apa, Nek. Icha aja, sekalian bersihin tangan biar nggak bau.”


Nenek Alma tersenyum. “Hasa sering cerita tentang kamu,”  katanya sembari membelai puncak kepala Marissa.


Marissa tersenyum kikuk.


“Nenek bahagia, akhirnya Iyash bisa dekat lagi dengan perempuan.”


Seketika Marissa mengernyit. “Nek, Icha sama Kak Iyash–”


“Iya, Nenek sudah mendengar semuanya dari Hasa. Selepas shalat maghrib tadi, dia menelepon.”


Marissa membasahi tenggorokan. Jangan-jangan Hasa bilang kalau Iyash begini gara-gara dirinya.


“Iyash tidak akan mengorbankan nyawanya, jika perempuan yang dia lindungi itu tidak penting untuknya.”


Jantung Marissa berdenyut gugup. “Nenek berlebihan,” kata Marissa kikuk.


“Nggak. Nenek kenal bagaimana Iyash,” kata Nenek Alma sembari memberikan segelas teh hangat.


Marissa menghela napas seraya menerimanya.


“Ini buat Iyash. Dia tidak suka teh, dia hanya minum susu. Persis seperti bayi.”


Marissa kemudian menatap segelas susu tersebut di atas di meja. “Bayi beruang,” dengkusnya.


Nenek Alma tertawa. “Kamu benar.” Dia lalu menepuk bahu Marissa. “Sekarang kamu berikan susunya pada bayi beruang itu.”


Marissa tersenyum. Tapi, mungkin dia ingin menolak permintaan Nenek Alma.


“Jangan dikasih obat tidur,” sahut Nenek Alma di depan pintu dapur.


“Nenek,” rengek Marissa tak terima.


Nenek Alma menyunggingkan bibir sembari melenggang pergi dan membawakan segelas teh hangat untuk suaminya yang kebetulan ada di teras rumah bersama Edgar.


Sementara Marissa mencari keberadaan Iyash di setiap ruangan, akhirnya dia menemukan pria itu di kamar dengan pintu terbuka.


“Maaf, langsung masuk,” kata Marissa tanpa mengetuk karena dia melihat pintu yang sudah terbuka. Iyash sendiri sedang duduk di depan jendela sembari menatap ke langit malam.


Iyash tak menoleh dan hanya menatap segelas susu yang baru saja Marissa letakan di atas meja.


“Waw,” komentar Marissa kagum melihat langit biru tua dengan cahaya bulan yang temaram. “Di sini bisa jelas banget ya,” komentarnya.


Iyash lekas turun dari jendela, kemudian berjalan ke dekat lemari. Dia lalu mengambil teleskop beserta tiangnya.


Marissa sendiri mematung melihat Iyash meninggikan tiang tersebut. Pria itu lalu memberi isyarat dengan gerakan kepalanya, agar Marissa mau mengintip bulan dibalik teleskop tersebut.


Marissa mendekat untuk melihat keajaiban Tuhan. Sedangkan Iyash memutar bagian ujung teleskop untuk memperbesar lensa agar Marissa bisa melihatnya lebih jelas.


Seketika bibir Marissa tersungging. “Padahal bulannya sama ya, cuma mungkin suasananya aja yang beda,” kata wanita itu tanpa sedikitpun menjauh dari teleskop.


“Di sini lebih tenang,” sahut Iyash pelan sembari kembali duduk di tepi jendela. Dia sengaja membuat meja dari beton tepat di depan jendela agar setiap dia di sana, dia bisa duduk di depan jendela tersebut. Mungkin awalnya dia ingin mengenang Aruna dari sana, tapi sekarang semuanya sudah berubah.


“Pantas Kak Edgar nggak mau pulang.” Marissa menegakkan tubuhnya


“Bukan itu yang membuatnya tidak ingin pulang,” jawab Iyash sok tahu tanpa melihat ke arah Marissa.


“Memang apa?” tanya Marissa dengan nada mencibir karena dia yakin Iyash tidak tahu apa-apa tentang Edgar. Meski dia sendiri tidak tahu kenapa Edgar di sana, sementara semua keluarganya sedang bersedih.


“Mungkin dia tertarik sama Rania,” jawab Iyash asal.


Marissa malah tergelak sembari mendekat ke arah pria itu. “Nggak mungkin.”


Iyash menoleh dan menatap Marissa. “Kamu suka dia, ‘kan?”


Marissa lekas mengalihkan pandangannya dari Iyash. Dia kembali membungkuk di depan teleskop. “Dia bukan bulan, sehingga tak sulit bagiku untuk menjangkaunya,” kata wanita itu mengutip satu dialog dalam buku Ekspektasi yang ditulis Edgar.


Sejak beberapa detik lalu, Edgar sudah berdiri di depan pintu, sehingga hatinya melambung mendengar Marissa membacakan satu dialog yang dia tulis dalam buku ke dua puluh satunya. Dia selalu suka karena Marissa menyimpan karyanya di dalam hati.


“Cha,” panggil Edgar lembut.


“Kak.” Marissa menoleh dan langsung mendekat pada Edgar. “Icha udah baca bukunya. Bagus,” kata wanita itu antusias.


“Iya?” tanya Edgar penasaran. Bibirnya tersungging tipis.


Wanita itu hanya mengangguk dan dia benar-benar terlihat bersemangat setiap membicarakan buku-buku Edgar.


“Makasih.” Edgar membelai puncak kepala Marissa. Lalu kemudian melewatinya dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya.


Seketika senyum Marissa memudar. “Ka Edgar mau kemana?” tanyanya kaget.


“Aku mau pulang malam ini,” jawab Edgar tanpa mengangkat wajahnya dan bahkan dia melupakan rasa antusiasme Marissa.


Marissa terperangah. “Loh, nggak bisa nunggu besok?”


Edgar malah tersenyum. Namun, tanpa menatap wajah Marissa. Dia kemudian pergi.


“Kak,” panggil Marissa cepat. Sedangkan Iyash sudah berdiri di sebelahnya. Marissa lekas menoleh pada pria itu. “Dia nggak boleh pulang malam ini,” katanya pelan.


“Memang kenapa kalau dia pulang malam ini?” tanya Iyash.


“Nggak. Nggak boleh. Kalau dia pulang aku juga harus pulang.” Marissa segera mengambil langkah. Namun, tangan kiri Iyash menahan tangan kanannya.


“Kamu datang dengan saya, maka pulang pun begitu,” kata Iyash.


“Terserah aku mau pulang dengan siapa,” jawab Marissa kesal sembari melepas genggaman pria itu. Dia lalu pergi menyusul Edgar.


Edgar sendiri sudah berada di ruang tengah rumah tersebut karena kebetulan Nenek Alma dan Juragan Hartanto tengah berada di sana.


“Nek, Kek, saya mau izin untuk pulang. Terima kasih sudah menerima saya di sini.”


“Kok mendadak?” tanya Nenek Alma terkejut. “Baru saja Nenek sama Kakek berencana untuk mengajak kalian pergi jalan-jalan.”


Edgar tersenyum. “Terima kasih. Maaf sudah merepotkan.”


“Iya, tapi kenapa harus pulang malam ini?”


“Karena waktu saya sudah ha–.”


“Kalau Kak Edgar pulang malam ini, Icha akan ikut,” kata Marissa menyela ucapan Edgar.


Edgar seketika menoleh ke belakang. Sementara Nenek Alma dan Juragan Hartanto sendiri terkejut mendengar Marissa berkata demikian. Baru tadi Nenek Alma membicarakan niat Hasa pada suaminya.


“Cha, kamu baru sampai tadi sore,” kata Edgar.


“Memang kenapa?” tanya Marissa kesal. “Kak Edgar sengaja menghindari Icha? Atau Kak Edgar nggak mau sekamar dengan Kak Iyash?”


“Nggak, bukan begitu. Icha nggak akan ngerti,” kata Edgar persis seperti dia memperlakukan Asa.


“Kalau gitu, jelasin, biar Icha ngerti.”


Edgar lekas menarik tangan Marissa dan mengajak wanita itu pergi meninggalkan ruang tengah rumah Juragan Hartanto.


Entah bagaimana ceritanya, sehingga yang terlihat adalah Marissa suka dengan perlakuan manja Edgar terhadapnya. Itu membuat Nenek Alma risih. Dia menjadi begitu yakin kalau Marissa pernah ada hubungan dengan Edgar.


Edgar berhenti di teras depan. Dia kemudian melepaskan genggamannya. Sedangkan Iyash melihat saat pria itu menarik tangan Marissa. Bahkan Marissa juga menyadari keberadaan Iyash karena saat Edgar menarik tangannya, mereka melewati Iyash begitu saja. Bahkan pandangan mata Marissa sempat bersirobok dengan Iyash.