Behind The Lies

Behind The Lies
Dosen Sastra Inggris



Semalam Ashilla mendapat telepon dari Asa. Namun, dia memilih untuk tidak menjawabnya karena takut suasana hatinya akan merusak percakapannya dengan Asa. Dia tahu kalau Asa mengirimnya pesan, namun, dia memilih untuk membacanya di pagi hari.


[Mom, work or sleep?]


[Good morning. Sorry, Sweety, semalam Mama capek, jadi tidur lebih awal.]


Setelah membalas pesan dari Asa. Ashilla memulai harinya dengan perasaan yang sedikit terpaksa. Dia benar-benar dibuat penasaran, namun dia tak bisa memberontak kala Tuhan memberinya jalan seperti ini.


Sejak semalam Ashilla mencoba mengingat masa lalunya, namun gagal, mendadak dia lupa dengan semua kejadian di masa lalunya, namun, malah terus teringat dengan Aruna dan sambung menyambung dengan cerita yang pernah dirangkai oleh teman-teman Angkasa di acara reuni. Dalam bayangannya hal itu tampak begitu nyata.


Sementara pagi itu Ashilla dan Ganjar terdiam di depan santapan pagi. Tercenung menatap secangkir teh dan roti selai coklat. Tiba-tiba dia teringat Iyash. Angkasa yang memberitahunya kalau Iyash suka roti selai coklat. Ingatan itu berhasil mengusik semua kejadian kemarin. Seketika dia melempar piring berisi roti yang sudah dibalut selai coklat tersebut.


Ganjar terperanjat. “Shilla, kamu kenapa?” tanyanya setengah membentak. Namun, Ashilla malah mengabaikannya dan terus menatap Bi Sumi yang baru saja berdiri di depannya.


“Yang minta roti selai coklat itu siapa?” tanya Ashilla kesal.


“Nggak ada, Non, tapi setiap pagi Non Shilla selalu sarapan ini,” jawab Bi Sumi takut.


“Ganti!” titah wanita itu cepat. “Saya mau jus sayur dan buah, karbohidratnya dari pisang masukin sekalian.”


“Baik, Non.”


“Jangan lupa sayurannya cuci sampai bersih.”


“Iya, Non.” Bi Sumi lekas berjongkok memunguti pecahan piring yang terberai di lantai.


Seketika kedua mata Ashilla membola, entah kenapa kejadian kemarin masih merusak suasana hatinya pagi ini. Bukankah semalam dia sudah berusaha menerima semua ini?


“Kamu kenapa? Hm? Ada masalah?” tanya Ganjar.


“Banyak,” jawab Ashilla seraya bangkit dan meninggalkan meja makan.


“Mau kemana kamu?”


“Berangkat.” Ashilla terus mengambil langkah.


“Bi, jus sayurnya nggak jadi, Ashilla sudah pergi,” kata Ganjar pada pembantunya tersebut.


“Baik, Tuan.”


Di dalam mobil saat Ashilla tengah mengemudi dia mendengar ponselnya berdering di atas dashboard. Panggilan masuk dari Angkasa. Pria itu mungkin melakukan panggilan di waktu yang tidak tepat. Ashilla bahkan belum bisa mengalihkan kejadian kemarin.


Ponsel terus berdering dan itu membuat kepalanya terasa sakit. Ashilla segera menepi untuk menerima panggilan tersebut.


“Sayang, kamu di mana?” tanya Angkasa tanpa basa-basi, nampaknya dia khawatir kalau Ashilla bersama Iyash pagi ini. Kemarin bahkan dia tak dapat tidur lantaran Ashilla tak menjawab panggilannya.


Ashilla menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata, dia tidak mungkin memarahi Angkasa, namun dia tetap saja kesal mendengar pertanyaan Angkasa. “Memang kamu pikir aku di mana?”


“Biar kutebak. Di kamar?”


Ashilla menarik napas dalam. “Di jalan mau ke kantor.”


“Oh ya ampun aku lupa.”


“Kemarin kamu nggak jawab panggilanku, padahal aku bela-belain nggak tidur biar bisa hubungi kamu.”


“Aku di sini lagi ada masalah dan aku minta kamu nggak hubungi aku dulu untuk beberapa waktu.”


“Kok gitu?” Tentu saja Angkasa heran. Masalah dengan siapa dan kenapa harus ditimpakan kepadanya?


“Aku butuh waktu buat sendiri.”


“Nggak-nggak. Shilla.” Angkasa berusaha agar Ashilla tak memutus sambungan teleponnya, namun, tetap saja Ashilla melakukannya. “Sial!” Makinya kesal. Ashilla benar-benar membuatnya marah.


Ashilla sendiri kembali melaju, namun bukan ke kantor melainkan ke sebuah mall. Setelah mendapat tempat parkir dia langsung masuk dan menuju ke toko buku. Dia benar-benar ingin menyendiri.


Dua jam dia berkeliling mencari beberapa buku fiksi dan non fiksi yang ingin dibacanya. Setelah selesai membayar dan melangkah keluar dari toko, tiba-tiba dia merasa seseorang menepuk bahunya. “Aruna?”


“Aruna,” teriak seorang wanita sembari menghambur memeluknya.


Ashilla hampir saja terjengkang. Sudah cukup, dia bosan dipanggil Aruna, namun dia penasaran karena ini kali pertama seorang perempuan memanggilnya Aruna, sehingga dia memilih diam dan tak berkata apa-apa, bahkan dia tak memberontak sama sekali.


“Astaga, kamu makin cantik,” kata wanita itu usai mengurai pelukan dan terus menatap Ashilla. Dengan lancang kedua tangannya memegang pipi Ashilla. “Sumpah cantik banget, sekarang lebih terurus, ini pasti karena Iyash, iya, ‘kan?”


Ashilla masih diam dan tak menanggapi. Entah apa maksudnya, tapi dia tak ingin merusak raut bahagia dia wajah wanita itu, sehingga sekali lagi, dia memilih untuk diam.


“Kamu lupa sama aku?” tanya wanita itu kemudian. “Sepuluh tahun nggak ketemu. Ini Naya, Run. Masa lupa. Ah, tapi wajar sih, minggu lalu, aku baru saja filler hidung sama dagu, gimana? Cantik, ‘kan? Walaupun masih tetap cantik kamu.”


Ashilla mencoba tersenyum, meski berat, namun dia tetap melakukannya.


“Ya ampun, masih suka baca novel karya Jane Austine?” Naya mengambil buku dari tangan Ashilla. “Nggak bosen? Dulu kamu baca sampai berulang-ulang.”


Ashilla berusaha untuk kembali tersenyum.


“Waktu kamu ke Jakarta, aku pergi ke Malaysia, ikut Budeku kerja di sana. Dan Minggu lalu aku baru kembali. Nggak sangka dipertemukan di sini,” kata Naya sembari mengembalikan buku pada Ashilla.


Ashilla hanya mengangguk.


“Sekarang aku kerja di sini.” Naya memutar pandangan. “Jagain buku-buku. Setiap hari aku berharap bisa bertemu kamu.”


Jantung Ashilla mencelus. Mungkin wanita di depannya tidak tahu kalau Aruna sudah tiada.


“Aku yakin kita pasti bertemu karena kamu suka buku dan kamu pasti akan datang ke sini, dan kamu benar, setiap aku meyakini sesuatu itu pasti akan terwujud.”


Ashilla mengernyit.


“Iya, Run, dulu kamu pernah bilang begitu.”


“N-Naya?” Ashilla tergagap memanggil nama itu.


“Iya, Run?”


“Saya juga senang bisa bertemu kamu di sini,” kata Ashilla tak begitu ramah.


Naya terkejut dengan nada dan gaya bicara wanita yang dia anggap Aruna tersebut. “Hm, Run, penampilan kamu berbeda. Sekarang kamu pasti sudah jadi orang sukses. Jadi Dosen di mana?”


“Kamu tahu saya Dosen?”


“Iya, aku masih ingat, dulu kamu selalu bilang kalau kamu akan menjadi Dosen Sastra Inggris.” Naya merangkul bahu Ashilla. “Aku bangga karena kamu berhasil.


Jantung Ashilla berdegup. Kenapa, ada apa dengan dirinya? Apa kebetulan, sehingga dulu dia memutuskan untuk menjadi Dosen Sastra di New York?


“Sama Iyash gimana? Aku nunggu undangan pernikahan kalian, tapi sampai tahun kesepuluh nggak ada kabar pernikahan? Masih sama dia, ‘kan?”


Ashilla menggeleng.


Naya menghela napas. “Aku kira kamu masih sama dia. Padahal dia sayang banget sama kamu. Kenapa putus?”


Ashilla tidak menjawab, nampaknya dia ingin mendengar racauan Naya lebih banyak lagi dan sayangnya Naya benar-benar tidak menyadari kalau wanita itu bukan Aruna.


“Padahal kalian cocok banget. Dulu waktu sekolah kamu jadi rebutan dan Iyash yang berhasil mendekati kamu, padahal kami sempat mengira kalian bermusuhan, eh setelah kejadian kalian pergi ke Jakarta itu, kalian jadi dekat.” Naya tertawa mengingat kejadian tersebut. “Ah, ck, kenapa harus putus sih?”


“Ke Jakarta?” Kening Ashilla mengernyit.


“Iya, yang waktu itu kami semua mengira kalau kamu kangen sama Kak Iqbal terus mau menyusulnya ke sana.”


Ashilla menggeleng. “Saya nggak ingat.”


“Yah masa lupa? Kalau Iyash pasti ingat.”


Ashilla hanya tersenyum. Tiba-tiba ponselnya berdering dan panggilan masuk dari Asa. “Sebentar saya angkat telepon dulu.” Ashilla kemudian maju beberapa langkah dan membelakangi