Behind The Lies

Behind The Lies
Segala Isi Hati



“Siapa yang mau mulai?” Bagas kemudian menatap Naya. “Kamu, Nay?”


Naya menarik napas. “Yang lain dulu aja.”


“Den, kamu dulu?”


Dennis menggeleng.


“Umam?”


Umam pun demikian. Dia pikir alangkah lebih baik jika yang memiliki idelah yang pertama memulainya.


“Aruna?”


Aruna juga menggeleng.


“Mungkin sebaiknya kamu dulu,” kata Iyash pada Bagas.


Yang lain pun mengangguk.


“Baik.” Bagas menggosok kedua telapak tangannya. “Awalnya persahabatan ini terbentuk karena aku dan Dennis tetanggaan, kami ke sekolah bareng dari TK kami bareng-bareng. Lalu SMP kami bertemu Umam dan kami membentuk pertemanan, Umam sendiri sudah lebih dulu berteman dengan Naya dan Aruna, hingga akhirnya kami bersama-sama, seperti Upin, Ipin, Ehsan, Memey dan Susanti.”


Umam tersenyum sinis seraya menggeleng. Dia sudah tahu kalau Bagas akan menggambarkan dirinya seperti Ehsan.


“Aku suka Aruna karena dia pintar dan bahkan dia nggak pelit seperti Dennis. Kalau tidak mengerti kami akan meminta Aruna menjelaskannya kembali sedangkan Dennis tidak pernah mau menjelaskan pada kami jika kami tertinggal pelajaran. Itu yang aku suka dari Aruna, jadi jika kalian pikir aku ingin pacaran sama Aruna kalian salah. Aku hanya suka sebatas itu dan aku merindukan Aruna yang dulu, sebelum datangnya Iyash.”


Iyash membasahi tenggorokan dan menarik napas dalam.


“Aku lebih suka Naya yang ceria dan sedikit frontal, tapi itu pun aku menyukainya sebagai teman karena aku tidak suka saat dia memaksakan keinginannya pada orang lain.”


Jantung Naya mencelus.


“Sedangkan bersama Dennis dan Umam, aku tidak punya masalah apa-apa, bagiku mereka sangat menyenangkan dijadikan teman. Sedangkan kalian tahu aku tidak begitu suka dengan Iyash karena dia,” Bagas menatap Iyash, “maaf, Yash.”


Iyash mengangguk.


“Karena kupikir dia sombong, biasanya orang kota sombong kalau tinggal di kampung, apalagi setelah mendapat juara kelas dan sikap sinisnya pada Aruna. Tapi setelah hari di mana aku melihatnya memberikan ponsel pada Aruna untuk menelepon Iqbal di halaman belakang sekolah. Aku pikir aku salah.”


Aruna menoleh pada Iyash.


“Aku penasaran dan mengikuti mereka ke warnet, ternyata mereka merencanakan kepergian mereka ke Jakarta dan semalaman aku tak bisa tidur memikirkannya, ternyata besoknya Iyash dan Aruna benar-benar pergi ke Jakarta, aku pikir Iyash ini berjiwa besar karena mau mengantar Aruna bertemu Iqbal di Jakarta, tapi ujung-ujungnya mereka malah berpacaran.”


Bagas kemudian terdiam menatap Aruna. “Mungkin hanya itu. Sekarang giliran yang lain.”


“Aku,” kata Aruna seraya menegakkan tubuhnya. Seperti yang kamu bilang sebelumnya, kita memang awalnya nggak begitu dekat dan hanya sebatas teman sekelas. Aku bisa bergabung karena kupikir cuma Naya yang mau berteman denganku.” Aruna menatap Naya sekilas.


“Aku senang bisa bermanfaat untuk kamu, Gas.” Aruna tersenyum, kemudian menatap Iyash sekilas.


“Sebenarnya aku tahu Iyash dari dulu, sebelum dia masuk SMA, aku tahu dia sepupunya Kak Iqbal dan sering berlibur di sini. Setiap dia ke sini diam-diam aku sering melihatnya. Saat dia SMA di sini, aku kaget, malamnya aku nggak bisa tidur menyiapkan hari pertama sekolah akan seperti apa jika ada Iyash.”


Iyash tersenyum kecil. Dia kira hanya dirinya yang merasa begitu.


“Saat aku meminta kertas narasi perkenalanku, tapi Iyash malah menjahiliku dengan melempar kertas narasi miliknya, aku sebenarnya waktu ingin itu tersenyum, karena tidak menyangka kalau dia melakukan ini. Namun, waktu ada Dennis, aku merasa malu.”


Iyash kembali tersenyum mengenang kejadian itu, namun dia tidak tahu kalau sebenarnya itulah yang terjadi.


“Aku diam, aku menjauh dan menarik diri, bukan karena Kak Iqbal pergi, tapi aku punya masalah hidupku sendiri. Waktu itu aku mau bercerita sama kamu, Nay, tapi aku mendengar kamu membicarakanku kalau kamu nggak akan temenan sama aku kalau aku nggak pinter, kamu sebenarnya malu punya teman anak buruh pemetik teh sepertiku dan kamu membicarakan ini pada Umam, meski waktu itu Umam tak menanggapi, tapi aku sakit hati.”


Seketika Naya tertunduk.


“Kamu bilang kalau dengan berkelompok bersamaku, nilai kamu selalu baik. Aku senang bisa bermanfaat untuk kamu, Nay.”


Iyash menggenggam tangan Aruna.


“Ketika aku sendiri dan menjauh, kalian malah semakin menjauh dan terus membicarakanku, kalian bilang aku sedih karena kak Iqbal pergi, tapi kalian tak pernah sedikitpun bertanya apa yang sebenarnya terjadi.  Sampai aku merasa kalau orang yang paling tulus adalah Iyash.” Aruna menoleh dan menatap pemuda itu.


“Setiap pagi, dari jendela kamarnya dia selalu melihat ke jendela kamarku untuk memastikan kalau aku terbangun dengan tubuh yang segar. Dia akan mencariku jika jendela kamarku tertutup seharian. Dia akan membiarkanku berangkat ke sekolah lebih dulu dan tetap berada di belakangku. Kalian tahu apa yang aku pikirkan waktu itu. Dia peduli.”


Aruna kemudian tertunduk. “Dia orang pertama yang mengucapkan kalimat pedas, tapi tak membuatku sakit hati. Itulah kenapa waktu itu aku memintanya mengantarku ke Jakarta untuk mencari ibu kandungku, bukan menemui Kak Iqbal, seperti yang kalian sangkakan.”


Seketika semua orang terperangah menatap Aruna yang sedang menangis, sementara Iyash masih menggenggam tangannya. Iyash tahu setiap Aruna mengungkap tentang ibunya, itu akan membuatnya merasa terluka.


“Sejak saat itu aku merasa hanya Iyash yang tulus. Ketika aku banyak menghabiskan waktu bersamanya, kalian malah menyindir, bukan bertanya secara baik-baik dan sampai detik ini aku menyadari satu hal kalau aku tidak memiliki sahabat karena sahabat pasti merasa bahagia melihat sahabatnya yang lain bahagia.”


Aruna tertunduk semakin dalam dan terus menangis. Pun dengan Naya yang juga tak berani mengangkat wajah.


“Aku bahkan pernah mendengar kalau kalian bilang aku hanya memanfaatkan Iyash untuk kepentinganku,” lanjut Aruna.


Iyash menggelengkan kepala. Dia tidak setuju karena dia tak pernah merasa kalau Aruna memanfaatkannya.


“Tapi, perlu kalian tahu, aku suka Iyash sejak dulu. Sebelum dia pindah dan sekolah di sini, aku sudah jauh lebih dulu menyukainya ketika kami sama-sama lulus SD dan dia berlibur di sini. Waktu itu aku sedang memetik teh dan dia memotretku, kemudian memberikan hasil bidikannya padaku. Di sanalah aku merasa kalau aku baru saja menyukai seseorang,” ungkap Aruna.


Jantung Iyash berdegup. Dia baru tahu kalau waktu itu Aruna juga menyukainya.


“Run, aku minta maaf,” kata Naya pelan.


“Jika kalian pikir aku memanfaatkan Iyash. Kalian salah, aku hanya merasa berhasil memenangkannya dan aku ….” Aruna menoleh menatap Iyash, “sayang sama dia. Aku ingin menikah dengannya bukan karena dia anak orang kaya, tapi karena aku takut tidak mendapatkan laki-laki sebaik Iyash. Iyash terlalu baik untuk disakiti.”


Iyash tersenyum menatap Aruna. Dia kemudian merangkul bahu gadis itu.


 Naya mencoba mengangkat wajah dan menatap Aruna. “Run, aku sebelumnya minta maaf karena belum bisa menjadi sahabat yang baik.”


Aruna tersenyum kemudian mengusap bahu Naya. “Nggak apa-apa. Aku juga belum baik.”


“Naya mau menanggapi?” tanya Bagas.


Naya mengangguk.


“Aku tahu kalau Iyash suka sama kamu dari dulu, saat aku menyatakan perasaanku padanya, dia bilang kalau dia sedang naksir gadis lain. Saat kutanya siapa, dia bilang, seorang gadis yang membuatnya tak mampu melirik gadis lain.” Naya kemudian menatap Aruna. “Dan aku yakin itu kamu, Run.”


“Kenapa kamu bisa yakin?” tanya Aruna.


“Aku sering mendapatinya curi-curi pandang sama kamu, aku juga sering melihat dia membersihkan kelas ketika jadwal piket kamu. Dia sering menyandarkan sepeda kamu di pohon saat orang lain tak sengaja menjatuhkannya. Dia juga diam-diam memompa ban  sepeda kamu ketika terlihat kurang angin.”


Sedetail itu Naya memperhatikan Iyash. Semua orang tidak mengira kalau Naya menahan cemburunya sampai sedalam itu.


“Cuma Bagas yang tahu apa yang aku rasakan, karena dia paling netral di antara yang lain, dia sering bersikap sinis, tapi setidaknya dia tak pernah memihak kamu, Run. Maaf kalau selama ini aku sering menyakiti kamu. Jujur aku hanya cemburu.”


Aruna mengangguk.


“Ada lagi, Nay?” tanya Bagas.


“Udah.”


“Siapa lagi? Kalian bebas mau bicara apa yang penting setelah ini kalian merasa lega dan hubungan kita harus lebih baik dari sebelumnya.”


“Aku,” kata Umam. “Aku memang suka sama Aruna dari dulu, dari SMP, tapi aku sadar kalau aku tidak mungkin menjadi pacarnya, Aruna tahu karena berkali-kali aku mengungkapkannya, aku merasa wajar kalau dia menjauhiku karena mungkin dia tidak nyaman, meski berkali-kali dia bilang tidak apa-apa.”


Aruna memejamkan mata. “Sepertinya semua masalah ada padaku.”


Iyash menggeleng sembari tetap menggenggam tangan gadis berambut panjang itu.


“Kedatangan Iyash membuatku semakin yakin kalau aku dan Aruna bagai bumi dan langit.”


“Kamu lihat, masalahnya ada padaku,” kata Iyash pada Aruna.


“Udah, aku nggak ada masalah sama yang lain,” tambah Umam.


“Iyash mau menanggapi?” tanya Bagas.


“Nanti aja, Dennis dulu, siapa tahu jauh lebih penting.”


Dennis tersenyum. “Aku nggak ada masalah, kamu jadian sama Aruna pun aku nggak ada masalah, aku senang saat tahu Iyash bergabung dengan kelompok kami. Aku tidak masalah saat Iyash mengalahkanku dan merebut peringkat juara kelasku, lagi pula peringkat itu hanya terjadi ketika SMP, sedangkan waktu SMA nilaiku jeblok karena aku stress dengan perceraian kedua orang tuaku. Bagas tahu semua yang aku alami. Aku nggak ada waktu memikirkan masalah kamu, Run, maaf.”


Jantung Aruna mencelus. Dia pikir dialah yang paling susah ternyata Dennis juga memiliki masalah keluarga, namun, hebatnya Dennis masih bisa tersenyum.


“Bagas cerita kalau Iyash mengantar Aruna ke Jakarta karena dia mendengar sendiri saat Aruna memintanya. Aku sudah curiga kalau ini bukan tentang Iqbal karena aku tahu kalau Aruna tidak akan mengejar laki-laki sampai segila itu, apalagi aku tahu kalau sebenarnya dia sudah menolak Iqbal karena aku mendengarnya sendiri saat Iqbal berbicara dengan temannya kalau dia baru saja ditolak Aruna.”


Aruna tersenyum. Akhirnya dia punya saksi akan hal ini.


“Ada lagi, Den?” tanya Iyash.


“Nggak ada.”


Iyash tersenyum. “Aku harus bilang apa?” Dia menghela napas. “Selain, aku bahagia karena bisa bergabung dengan kalian. Aku sudah sering mengobrol banyak dan Dennis memang paling terbuka, dia bertanya langsung apa sebenarnya yang aku lakukan di Jakarta bersama Aruna. Aku bilang, kalau sebenarnya ini masalah pribadi dan nggak ada hubungannya dengan Mas Iqbal.”


Dennis mengangguk.


“Kalau saja kalian lebih peduli. Coba biasakan bertanya, tanpa harus menerka karena kita nggak tahu masalah apa yang sedang dihadapi teman-teman kita.” Iyash malah memberi nasihat seolah memang dia orang yang dituakan.


“Aku sudah pernah bilang kalau apa yang aku rasakan ini diluar kendaliku. Aku suka Aruna ketika hari aku memberikan foto pertamanya di kebun teh waktu itu, tapi sayang aku tak punya keberanian untuk berkenalan dengannya.”


Iyash menatap keempat temannya. “Sama seperti Dennis, aku juga nggak punya masalah apa-apa sama kalian.” Dia kemudian menatap Aruna. “Sedangkan sama Aruna, semuanya sudah aku ungkapkan, tapi siapa tahu kalian mau dengar.”


Iyash memberi jeda dan menatap teman-temannya, kemudian berakhir pada Aruna.


“Jadi, kenapa aku bersikap dingin atau terkadang aku terlihat seperti membenci Aruna. Itu semua karena aku merasa tidak percaya diri dengan perasaanku sendiri, apalagi melihat tampang judes Aruna, aku merasa tak memiliki kesempatan, tapi setelah dia memintaku mengantarnya ke Jakarta aku merasa kalau aku baru saja mendapat kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Senyum Aruna waktu itu membuatku tak ingin melihat wajah murungnya lagi.”


    Aruna tertunduk dan menyembunyikan pipi merahnya.


“Jadi, aku berjanji kalau aku akan berusaha membuatnya tersenyum sebisaku,” tambah pemuda itu.


Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari Bagas, kemudian disusul oleh Dennis dan Umam, sementara Naya tak mengikuti mereka. Meski sebenarnya dia sudah berusaha untuk menerima keadaan tersebut.