Behind The Lies

Behind The Lies
Kabar Duka di Telinga Iyash



Teman-teman Iyash tahu kalau Iyash ada di Surabaya, jadi pagi-pagi sekali mereka datang untuk menanyakan sesuatu, pasalnya mereka hanya mendengar kabar kematian Aruna, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Yash, teman-teman kamu ada di depan,” kata Nenek Alma di depan kamar Iyash.


“Siapa?” Iyash sedang bersiap di depan cermin, dia merasa sudah tak ada kepentingan lagi di sana, sehingga memilih untuk pulang hari ini.


“Yash, temui dulu, kasihan mereka sudah menunggu.”


“Bilang saja hari ini Iyash tak punya waktu.”


“Yash, buka dulu pintunya.”


Iyash berdecak. Dia lekas berbalik dan membuka pintu kamar. “Nek, tapi–”


“Sebentar saja, Yash,” bujuk Nenek Alma. “Kasihan mereka pasti kangen sama kamu.”


Iyash menghela napas dan lekas pergi ke ruang tamu.


Bagas, Umam dan Dennis sengaja datang untuk bertemu dengannya, sedangkan Naya  sudah pergi ke Malaysia ikut Budenya bekerja di sana.


“Iya?” Iyash duduk didepan tiga pemuda tersebut. Dia bisa saja bertanya siapa mereka, tapi tidak, dia hanya lupa, bukan tidak mengingatnya. Dia tahu ketiga laki-laki itu adalah teman SMA nya, tapi dia tidak dapat mengingat satupun nama mereka.


Melihat ekspresi Iyash, Bagas malah merasa heran. “Kamu kenapa, Yash? Kami ke sini mau menemui kamu. Maaf karena waktu itu kami tidak menjenguk, kamu, ‘kan tahu Jakarta asing bagi pemuda seperti kami,” kata Bagas.


“Iya, Yash. Kamu apa kabar?” tanya Umam.


Iyash tak langsung menjawab dia seperti sedang mengingat sedekat apa dirinya dengan ketiga orang itu.


“Yash?” panggil Umam, lantaran Iyash tak menjawab pertanyaannya.


“Aku baik,” jawab Iyash datar.


“Syukurlah.” Umam menatap Dennis yang sedari tadi hanya terdiam. Sebenarnya dari rumah Dennis sudah tak sabar ingin bertanya soal Aruna, namun ketika mereka datang ke sini, mereka malah mendapat wejangan untuk tidak membahas apapun tentang Aruna. Tentu mengesalkan bagi Dennis.


“Yash, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Dennis pada akhirnya.


“Maksudnya?”


“Kami mendengar kamu kecelakaan, terus siangnya kami mendengar kalau Aruna meninggal, apa itu benar?” tanya Dennis lagi.


Seketika Iyash termangu sampai sepuluh detik lamanya. Dia mencari informasi tersebut dalam kepalanya.


“Yash, kami tidak bermaksud membuat kamu sedih, kami hanya ingin tahu kebenarannya,” kata Dennis, sementara Umam dan Bagas hanya diam.


“Aku–” Air mata Iyash tiba-tiba menggenang. Dia kemudian menghela napas. “Kenapa tidak tanyakan pada Pak Ridwan?” Iyash balik bertanya.


“Kenapa harus Pak Ridwan? Bukannya Aruna ke Jakarta bersama kamu? Pak Ridwan sudah melarang kalian, tapi Aruna bersikukuh untuk pergi bersama kamu.”


“Den,” bisik umam. “Sudah.”


Percuma mereka menjelaskan apapun, ingatan Iyash saat ini persis seperti potongan puzzle yang tidak sempurna. Berantakan dan bahkan ada yang hilang beberapa bagian.


“Jadi, gimana, Yash, kami ke sini hanya ingin tahu, apakah Aruna memang meninggal, terus di mana dia di makam, ‘kan?”


Padahal Dennis sudah diminta diam oleh Umam, tapi dia tetap bicara.


“Aku nggak tahu, aku nggak tahu!” Iyash memukul-mukul keningnya sendiri. “Percuma kalian nanya, aku nggak ingat apa-apa.”


“Tapi, kamu ingat kami, ‘kan?” tanya Bagas.


Iyash terdiam dan mencoba mengingat, sepertinya Iyash hanya ingat apa yang ingin dia ingat, tapi jika begitu seharusnya tak ada satupun yang dia lupakan tentang Aruna.


“Iya,  ‘kan, kamu ingat kami, terus kenapa kamu lupa soal Aruna? Kalau kamu memang amnesia, kamu bahkan tidak akan ingat siapa diri kamu,” kata Bagas lagi.


Yang mereka tahu amnesia memang seperti itu, tapi pada kasus Iyash, ini berbeda.


“Maaf,” kata Iyash pelan.


“Kamu cuma pura-pura nggak ingat, ‘kan, kamu hanya tidak ingin disalahkan atas kematian Aruna. Kamu tidak ingin disebut sebagai penyebab kematian Aruna, iya, ‘kan?” tuduh Dennis.


“Dennis!” Kali ini Umam mencoba lebih tegas, namun tidak dengan Bagas yang malah bersikap sama saja dengan Dennis. Jika dulu Dennis pernah berkata tak ada masalah dengan Iyash, namun sekarang lain lagi. Dia kecewa karena Iyash malah bersikap seperti ini.


“Kamu mendekati kami hanya untuk bisa dekat dengan Aruna dan setelah tujuan kamu tercapai, kamu menjauhkan kami dari Aruna, ternyata kita memang bukan teman,” tuduh Dennis.


Iyash tercengang. Air mata terus turun membasahi kedua pipinya.


“Den, aku tahu kamu kecewa, tapi kamu nggak boleh bicara seperti itu,” kata Umam pelan. Dia kemudian menatap Iyash. “Yash, kami minta maaf.”


“Memang kenyataannya begitu, Mam.”


Suasana menjadi kaku dan hening sampai beberapa detik.


“Aku ….” Iyash bangkit dan terlihat bingung. “Aku minta maaf.” Iyash kemudian pergi dari ruang tamu.


Bagas, Dennis dan Umam termenung. Nampaknya mereka tengah berusaha percaya pada Iyash, tapi tetap saja meragukannya. Persahabatan tiga tahun tak membuat mereka benar-benar dekat dan mengenal Iyash dengan baik.


Iyash masuk ke dalam kamar. “Arrgghhh!” Dia mengempas bokongnya ke ranjang. Dia benci dirinya sendiri. “Kenapa harus sebagian? Kenapa nggak hilangkan saja semuanya?” tanyanya kesal.


Dalam bayangannya dia melihat senyum Aruna, kemudian dia dapat melihat tangis wanita itu, dan tiba-tiba dia mengerjap ketika melihat wajah marah Aruna. Seketika dia berhenti memukulkan bagian belakang kepalanya ke dinding, kemudian berpikir.


Sama seperti Aruna, Iyash juga menyalahkan dirinya sendiri untuk kejadian yang bahkan tidak bisa ia ingat sepenuhnya.


“Yash,” panggil Nenek Alma. “Teman-temannya sudah pulang? Padahal Nenek sudah beli gorengan.”


Iyash lekas bangkit dan berjalan ke dekat neneknya. “Nek, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Maksud kamu?”


“Kenapa mereka bilang kalau Aruna sudah meninggal?”


Nenek Alma terperangah manatap Iyash.


“Nek, tolong katakan sesuatu agar Iyash tak bingung lagi.”


Nenek Alma terdiam sejenak, dia kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang.


“Waktu kami mendengar kalian kecelakaan, Ridwan langsung pergi ke Jakarta, sendirian, sedangkan kami siang harinya baru bisa berangkat, jadi, saat sampai ke sana malam harinya kami sudah tidak melihat Aruna dan Ridwan lagi. Ibu kamu bilang kalau Aruna meninggal dalam kecelakaan dan dia dimakamkan di tempat kakeknya, kami benar-benar tidak tahu kemana kami harus berziarah,” ungkap Nenek Alma.


Jantung Iyash mencelus. Dia terperangah seraya menggeleng perlahan. “Mama nggak bilang apapun soal ini.”


“Mama kamu takut kamu ngedrop.”


“Tapi, Nek, Iyash pikir Aruna kuliah di sini.”


Nenek Alma mengernyit. “Kan, kamu yang bantu dia dapat beasiswa di Jakarta?”


“Beasiswa?”


“Iya, kamu tidak ingat?” Nenek Alma menghela napas. “Maaf, tapi Nenek rasa sudah waktunya kamu tahu kalau Aruna sudah tidak ada.”


Iyash kembali menyangkal kabar duka tersebut. “Nenek melihat jasadnya?”


Nenek Alma menggeleng.


“Nenek melihat kuburannya?”


Nenek Alma kembali menggeleng.


“Berarti dia masih hidup, Nek,” sanggah Iyash yakin.


“Astaghfirullah, Iyash. Nenek memang tidak melihat jasadnya, makamnya, tapi Mama kamu melihat jasadnya dan setelah itu ambulan membawa mereka pergi ke rumah duka.”


“Di mana?” tanya Iyash ngotot.


“Nenek, ‘kan sudah bilang Nenek tidak tahu.”


“Terus kemana Iyash harus membuktikan kalau kabar kematian itu benar?”


“Tidak ada yang tahu, Ridwan juga ikut menghilang. Atau mungkin kamu bisa tanyakan langsung sama Mama kamu.”


Iyash berbalik dan memukul dinding.


Nenek Alma terkejut. “Tenang, Nak, kenapa kamu jadi seperti ini?” Dia mengusap punggung Iyash.


“Aku nggak ingat apa-apa, Nek, banyak lubang di kepala.” Iyash memukul kepalanya sendiri.


“Kata siapa?” Nenek Alma sedikit meninggikan suaranya. “Kamu masih ingat Nenek, kamu ingat Kakek, kamu masih ingat Surabaya dan yang terpenting kamu tahu kalau kamu adalah Iyash.”


Iyash tergemap. Tangannya bergetar dan perlahan dia menjatuhkan kening ke dinding.


“Allah cuma mengambil beberapa bagian, beberapa kejadian dan itu semua yang terbaik buat kamu.”


Napas Iyash terengah menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Sejak dia menyadari kalau dia tidak dapat mengingat sebagian masa lalu, dia membenci dan tidak menerima dirinya sendiri.


“Sabar, sudah sepatutnya kamu bersabar dan jangan lupa kamu harus selalu bersyukur karena kamu masih bisa ada di sini, kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu. Kamu adalah harapan kami semua.”


  Iyash tertunduk dan mencoba untuk berpikir jernih tanpa melibatkan amarah.


“Aruna mungkin kurang beruntung, dia mendapat beasiswa, tapi dia belum sempat merasakan seperti apa itu kuliah,” kata Nenek Alma.


Andai Iyash dapat mengingat kenapa dia bisa mengalami kecelakaan? Dia bahkan tidak tahu kalau Aruna ikut bersamanya dalam kecelakaan maut itu.


“Semua bukan salah kamu, Yash. Ini sudah bagian dari hidup kamu.”


Bukannya ikhlas, Iyash malah semakin frustasi dengan keadaan ini. “Sebaiknya Iyash pulang ke Jakarta hari ini.”


“Astaghfirullah, kamu tidak menghargai Nenek di sini?”


“Iyash ke sini untuk bertemu Aruna.”


“Jadi, kamu tidak mau menemui kami di sini, begitu?” Nenek Alma terdiam beberapa detik. “Nenek tahu kamu sedih, tapi kamu bisa apa? Mungkin ini juga alasan Ridwan pergi dan tidak kembali lagi ke sini. Kasihan dia.”


Iyash duduk tercenung. Pipinya basah akibat bendungan yang jatuh dari kedua sudut matanya.