
Ashilla, Miranti, Asa dan Ganjar berada dalam satu mobil. Sementara mobil itu dikemudikan oleh Yayan.
“Aku baru kali ini jalan-jalan sama Papa. Nanti Papa dikiranya suamiku,” kata Miranti.
“Nggaklah, sudah jompo begini,” timpal Ganjar yang duduk di jok depan dekat Yayan.
“Sekarang banyak remaja menikah sama pria seusia kakeknya,” kata Miranti lagi.
Ganjar malah tertawa. “Sejak Mama kamu meninggal, Papa nggak mau nikah lagi. Menikah bukan hanya untuk ada teman tidur, kalau sekedar ada yang masak Bi Sumi juga bisa. Kesepian? Papa sudah biasa.”
Miranti tersenyum, dia kemudian menatap Ashilla yang juga tersenyum kepadanya. “Kakek kamu memang setia, Shill.”
Ashilla mengangguk. Tak ada yang tahu bagaimana suasana hati Ashilla pagi ini. Dia baru saja memutuskan Angkasa, lantaran sudah tak ada percaya diantara mereka.
Sedangkan Asa sedari tadi anteng menatap keluar jendela menikmati jalanan ibu kota. Namun, anak itu juga punya telinga, sehingga dia mendengar apa yang dibicarakan ketiga orang tua tersebut. Sama halnya dengan Yayan yang tengah khusuk mengemudi, dia juga mendengarkan pembicaraan mereka, meski tak mungkin untuk ikut berbicara karena dia menyadari posisinya dalam keluarga tersebut.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah taman rekreasi. Bisa melihat berbagai macam binatang dan mengenal alam lebih dekat. Menikmati suasana pedesaan dengan adanya sawah, sungai dan rumah-rumah bilik kayu.
“Yeee. Sampai,” teriak Asa usai turun dari mobil.
“Don't run around,” teriak Miranti pada bocah itu.
“Yes, Bund. Calm down.”
“Too excited to make you forget us,” gumam Miranti seraya turun dari mobil.
Ashilla hanya menggeleng. Dia sudah terbiasa melihat kekhawatiran ibunya terhadap Asa. Namun, bagi Ganjar anak sulungnya itu sudah berlebihan. “Namanya juga anak-anak, Mir.”
“Euh, Papa nggak tahu Asa gimana kalau lagi aktif. Nancy aja sering ngeluh.”
“Terus Ashilla ngeluh juga?” tanya Ganjar. Sementara Ashilla sudah berjalan lebih dulu sembari menuntun Asa.
“Nggaklah, dia ‘kan ibunya. Aku juga nggak pernah ngeluh sama kelakuan Edgar.”
“Sama halnya dengan Edgar. Asa juga anak baik,” puji Ganjar.
Yayan berjalan di belakang mereka sembari membawa bekal makanan yang tadi sudah disiapkan Bi Sumi. Yayan adalah saksi perjalanan keluarga Ganjar. Naik turunnya kehidupan begitu jelas di depan mata. Dia cukup bersyukur, meski hidup serba pas-pasan, namun setiap berkumpul dengan anak, cucu.
***
Xpander hitam berhenti di depan sebuah rumah. Wanita yang ada di dalam mobil tersebut menurunkan kaca jendela mobilnya, kemudian dia mengedarkan pandangan menatap rumah bergaya Eropa di depannya.
“Di sini?” tanya wanita tersebut pada sopirnya.
“Iya, di sini, Bu.”
“Kamu tunggu,” kata wanita itu seraya membuka pintu mobil. Dengan penuh percaya diri wanita setengah baya itu berjalan ke depan pintu rumah tersebut dan berdiri cukup lama. Masih teringat dalam benaknya bagaimana dulu dia mendapat penghinaan di depan rumah ini. Bak seekor binatang dia ditendang seolah tak memiliki harga diri.
Sang pemilik rumah tak pernah menerimanya di sini, bahkan saat dia memohon sambil menangis tersedu-sedu, waktu itu dia hanya meminta sedikit hak untuk bayi yang tengah dikandungnya. Namun, sampai bayi itu lahir dia tak mendapatkan apapun.
Setelah hampir dua puluh delapan tahun, dia melarikan diri dari rasa sakit akan penghinaan tersebut, akankah sekarang rasa itu kembali melukai dirinya?
Perlahan tangan dengan cincin berlian di jari manisnya itu terulur dan menekan bell di dinding tepat di sebelah pintu berwarna coklat dengan ukiran yang khas. Tak berapa lama pintu rumah tersebut terbuka.
“Cari siapa, Bu?” tanya sang asisten rumah tangga.
“Pemilik rumah ini.”
“Oh, Bapak sama anak cucunya sedang pergi jalan-jalan.”
“Kapan kembali?”
“Mungkin sore, Bu, ada pesan?”
Wanita itu menarik napas. “Sampaikan salam saya.”
“Maaf dari siapa?” tanya Bi Sumi.
“Bilang dari Dewi.”
“Baik, Bu.”
***
Sementara sang pemilik rumah bergaya Eropa yang tengah dicari Dewi itu, kini sedang tertawa di atas tikar menikmati suasana pedesaan di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Ganjar lupa ada hak orang lain yang ditahannya selama ini.
“Asa nanti mau foto di sana.” Bocah itu menunjuk ke arah sawah. “Sama kerbaunya. Terus habis dari sini kita berenang ya,” pintanya.
“Ih, anaknya Mama Shilla, banyak maunya,” cibir Miranti.
“Bunda. Boleh ya?” izin Asa.
“Ya terserah Mama kamu, Bunda mah duduk di sini aja sama Opa.”
“Ma, boleh ya?”
Ashilla tersenyum. Kepalanya padahal sudah berdenyut sejak tadi, namun dia benar-benar tak bisa menolak keinginan Asa.
“Boleh.”
“Tuh, dimanja terus,” kata Miranti.
“Biarkan sama Mamanya ini,” sahut Ganjar sembari menikmati buah semangka.
“Gini, Bunda kasih tahu. Asa, ‘kan mau tinggal di sini, masih banyak hari buat liburan, kasihan Mamanya capek.”
“Nggak apa-apa, Bund,” kata Ashilla.
“Beneran nggak apa-apa? Wajah kamu pucat loh, Shill.”
“Iya, nggak apa-apa, Bund.”
“Ya sudah.”
Ashilla kemudian bangkit dan mengikuti Asa yang sudah turun ke sawah menginjak lumpur, lalu dia mengambil satu foto ketika Asa naik ke atas kerbau dibantu pemandu wisata tersebut.
“Done,” teriak Ashilla.
“Mom.” Asa menunjuk sungai.
Ashilla mengangguk dan mengikutinya. Namun, melihat derasnya air tiba-tiba dia teringat pada anak kecil yang tenggelam terbawa arus. Mendadak lututnya terasa lemas, keringat dingin perlahan bercucuran, debar di balik dadanya bergemuruh seperti suara derasnya air sungai, beberapa detik kemudian dia hilang kendali atas tubuhnya dan seketika itu juga luruh dan tergeletak di atas rumput.
“Mama,” teriak Asa dan lekas berlari meninggalkan sungai. Semua orang panik, Bu Miranti dan Pak Yayan lekas mendekat sementara Pak Ganjar terserok dengan tongkatnya.
“Bunda bilang juga apa, Asa. Kamu nggak mau mengerti.”
“I am sorry, sorry, Mom.” Asa memeluk sang ibu.
“Pak Yayan, bantu saya bawa ke tikar.”
“Baik, Bu.” Pak Yayan lekas membungkuk dan membantu Bu Miranti mengangkat tubuh Ashilla ke tikar tempat mereka semula duduk. Setelah itu Bu Miranti sibuk mencari minyak kayu putih dari dalam tas Asa. Dia kemudian membuka tutup botol minyak kayu putih dan membiarkan Ashilla mencium aroma tersebut.
“Bangun, Shill, jangan buat kami panik.”
Perlahan kedua mata Ashilla terbuka, dia meringis menatap semua orang bergantian.
“Alhamdulillah.”
“Mama, Asa minta maaf,” kata Asa sembari memeluk Ashilla sesaat setelah wanita itu duduk.
Ashilla masih mengernyitkan dahi menahan sakit dikepalanya. “Nggak apa-apa, cuma sakit kepala sedikit.”
“Kita pulang.” Bu Miranti tampak kesal, dia lekas merapikan barang-barang dibantu Pak Yayan. “Lain kali kalau nggak bisa jangan bilang bisa. Hidup nggak enakan cuma bikin kamu susah,” omelnya pada Ashilla.
Sementara Asa terus menangis.
“Ssshhhh. Don’t cry,” kata Ashilla sembari menyeka pipi basah anak itu. “I am here and I am fine.”
Pak Ganjar tak bicara apa-apa saking terkejut dan takut kehilangan anggota keluarganya lagi. Dia hanya ingin menikmati masa tuanya dengan menghabiskan waktu bersama anak dan cucu.