Behind The Lies

Behind The Lies
Bertemu Edgar



Iyash menarik tangan Marissa dan mengajaknya keluar dari rumah sang Kakek. Marissa sendiri malah merasa tindakan Iyash tidak manusiawi, genggamannya persis seperti seorang tuan yang takut peliharaannya terlepas. Sesampainya di luar, dia melepaskan tangan kecil Marissa.


Marissa menatap tangannya yang memerah. Sebenarnya Iyash sadar dengan tindakannya terhadap Marissa. Dia bukannya tidak bisa bersikap lembut, dia hanya tidak ingin membuat wanita manapun salah paham terhadapnya. Dia takut kejadian seperti Adisty dan Nadine terulang. Dia juga tak ingin mengulang hal yang sama seperti dia dengan Aruna. Dia hanya ingin sesuatu yang berbeda dalam hidupnya.


“Kamu bilang kalau saya mengusir kamu dari rumah sakit?” tanya Iyash.


“Iya, ‘kan?” Marissa malah balik bertanya seperti sedang mencari kebenaran bahwa sebenarnya Iyash tidak mengusirnya sama sekali, hanya kalimat Iyash yang terlalu frontal sehingga Marissa mengartikannya begitu.


Mendapat tatapan seperti itu dari Marissa, Iyash segera menghindar dan pergi.


“Kak Iyash yang minta aku pergi.” Susul Marissa. Namun, Iyash terus berjalan dan meninggalkannya, meski Marissa terus memanggil-manggil dirinya.


Akhirnya Marissa hanya bisa menggerutu. Dia sedikit kesulitan berjalan di antara bebatuan kecil yang sebagian dari batu-batu tersebut licin dan berlumut. Memang tak semua jalan di sana di aspal, hanya jalan besar saja yang halus, selebihnya para warga ingin mempertahankan keadaan kampung agar tak berubah dari tahun ke tahun. Batu-batu yang dikumpulkan dari sungai ditata di atas jalan.


Sementara langit tampak semakin gelap karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.


Tiba-tiba kedua kaki Marissa tertahan. Dia terperangah melihat kehadiran Edgar di depannya. Sedangkan Iyash lekas menoleh ketika pria itu melewatinya begitu saja.


Tanpa sepatah katapun, Edgar langsung mendekap Marissa ke dalam pelukannya. Gelisah yang membelenggunya kini terlepas dari hatinya.


Sedangkan Iyash hanya bisa menyaksikan ini dengan kedua matanya. Ada gejolak yang membara di balik dada saat dia tahu kalau tujuan Marissa selesai sampai di sini dan mungkin besok wanita itu akan pulang bersama Edgar.


Perlahan Edgar mengurai pelukannya.


“Kamu tahu aku di sini?” tanya Edgar.


Marissa mengangguk. “Aku melacak nomor Kakak.”


Kali ini Edgar tersenyum lega. Meski dia tahu Marissa pasti dikirim ibunya untuk datang ke sini.


“Sudah Selesai melepas rindunya?” tanya Iyash.


Edgar menoleh dan dia terpegun menatap pria yang pernah dia lihat di pernikahan Ashilla, hanya saja dia lupa pernah melihat Iyash di sana.


“Marissa, masuk. Saya harus istirahat.”


“Nggak usah didengar, harusnya dia yang masuk, ‘kan dia yang mau istirahat,” kekeh Marissa. “Ayo, Kak.”


“Kamu kenal keluarga di sini?” tanya Edgar.


“Marissa, cepat,” ajak Iyash.


Marissa mendengkus. Sejak tadi Iyash hanya terus mempercepat dirinya untuk ini untuk itu. Kali ini biarkan dia yang berperan.


“Kak Iyash duluan. Aku mau bicara sama Kak Edgar dulu.”


“Iyash?” tanya Edgar.


Marissa termangu. Dia mungkin tidak tahu kalau sebenarnya Edgar tidak pernah mengenal Iyash. Sedangkan Iyash sendiri tahu hanya ketika ibunya bilang kalau sang ayah punya anak dari Miranti.


“Kak Iyash ini–” Belum selesai Marissa memperkenalkan Iyash pada Edgar, Iyash memilih pergi lantaran tidak ingin terlibat lebih jauh, meski Edgar saudaranya.


Marissa tergemap.


Iyash seharusnya senang karena Edgar akan pulang, meski bukan karena dirinya. Tak peduli apa yang akan dipikirkan Aruna, terpenting keinginan wanita itu terwujud.


 “Ya udah kita masuk, Kak,” ajak Marissa.


Edgar mematung.


“Kak,” panggil Marissa. “Kenapa?”


“Apa dia anak–” Edgar menjeda pertanyaannya. Dia bingung harus menyematkan apa di depan nama sang ayah.


“Om Hasa, iya. Dia cucu keluarga di sini,” jawab Marissa enteng. Padahal ini terlampau berat untuk Edgar.


Marissa menghela napas. “Kak, aku dengar Kakak sedang melakukan riset untuk novel barunya? Hebat sampai sejauh ini.”


Edgar tersenyum kecil. Dia ingin mengatakan semuanya pada Marissa, namun menurutnya ini adalah hal yang memalukan. Menjadi anak yang terlahir dari hubungan yang tidak sah adalah aib.


“Kak?”


“Iya. Ayo masuk.” Edgar membuyarkan pikiran-pikiran negatifnya. Dia lekas masuk ke dalam bersama Marissa.


“Nak, ayo ke Surau,” ajak Juragan Hartanto.


“Iya, Kek,” jawab Edgar.


Marissa terpegun menatap kedua pria tersebut.


“Udah, yok ke masjid yok,” ajak wanita itu pada Iyash dan Edgar seraya merangkul lengan keduanya. “Shalatnya keburu dimulai. Cepat.”


Iyash keluar lebih dulu, sedangkan Edgar masih berdiri di sebelah Marissa. Seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.


“Kak?”


“Iya.” Edgar lekas keluar untuk menyusul Iyash dan Juragan Hartanto ke masjid.


Marissa tersenyum di depan pintu. Dia menatap punggung Edgar sampai bayangan pria itu hilang dari pandangan.


“Marissa,” panggil Nenek Alma.


Marissa menoleh. “Iya, Nenek?”


“Ayo Nenek antar ke kamar.”


Wanita pecinta minuman berperisa lemon itu mengangguk. Dia kemudian berjalan ke dekat sofa dan mengambil ranselnya, dia lalu mengikuti Nenek Alma.


Nenek Alma sampai di depan sebuah kamar. “Kamu bisa tidur di kamar Rania. Kebetulan dua hari ini dia nggak pulang,” katanya sembari membuka pintu.


“Kemana, Nek?”


“Ke rumah ayahnya.”


“Oh. Cucu Nenek?”


“Dia anak keponakan Nenek. Kebetulan ibu, kakek dan neneknya sudah meninggal dan ayahnya menikah lagi, jadi Nenek memintanya tinggal di sini.”


“Oh.”


“Ayo masuk.”


Marissa mengangguk dan mengikuti Nenek Alma masuk ke dalam kamar tersebut.


“Di sebelah kamar Iyash, tapi karena dia jarang ke sini, pas ada Edgar, Nenek minta dia buat nempatin kamar ini.”


Marissa tersenyum.


“Kamar yang lain ada, tapi nggak ada yang bersihinnya.”


Marissa kembali tersenyum.


“Udah ah. Nenek jadi banyak bicara, ‘kan mau sholat.” Nenek Alma mengusap punggung Marissa.


“Nek,” panggilan Marissa menahan langkah kaki Nenek Alma.


“Dulu Kak Iyash tinggal di sini?”


“Iya. Waktu SMA. Sebelum akhirnya pindah dan tinggal delapan tahun di Spanyol.”


“Delapan tahun?”


Nenek Alma mengangguk.


“Jadi, dia baru dua tahun di Indonesia.”


“Setelah lulus S2, dua tahun dia kerja di sana sebagai profesional,” kata Nenek Alma bangga. Tentu saja, ini adalah pencapaian terbesar Iyash. “Mungkin karena kesibukannya juga dia belum mendapat calon istri.”


Marissa tersenyum.


“Ngomong-ngomong kamu kenal Edgar?”


Marissa mengangguk. “Kebetulan Kak Edgar keponakannya Om Ben, suaminya adik Mama.”


“Oh begitu. Dunia ternyata sempit ya. Jadi, Iyash juga kenal?”


“Kayaknya nggak, Nek.”


“Nggak apa-apa, nanti Iyash punya banyak waktu untuk mengobrol karena mereka akan tidur satu kamar.”


Marissa tersenyum. Andai dia bisa memberitahu Nenek Alma kalau Edgar juga merupakan cucu kandung Nenek Alma. Edgar juga berhak mendapat haknya sebagai anak dan sebagai cucu dari keluarga yang dia tinggali saat ini.