
Sudah hampir satu tahun Iyash sekolah di Surabaya dan dia berhasil membuktikan kalau dia bisa menjadi juara kelas, nilai akademiknya selalu menjadi paling atas. Iyash bangga pada dirinya sendiri karena bisa mengalahkan Dennis yang merupakan saingan terberatnya. Iyash memang tak bisa mengalahkannya dalam bersepeda, namun setidaknya otaknya lebih encer dari yang lain.
Hari demi hari yang Iyash lalui di Surabaya memang terkesan biasa. Kalau bukan karena Aruna, mungkin dia sudah kembali ke Jakarta, meski gadis itu tak pernah menganggapnya ada, padahal Iyash sudah bergabung dengan kelompoknya. Iyash juga menjadi orang yang paling unggul di kelas, tapi Aruna tetap tak pernah meliriknya.
Sepertinya perkara kertas menjadi sangat panjang sampai akhir tahun kelas satu. Buktinya Aruna seperti enggan mengakui keberadaan Iyash. Sungguh kalau bisa kembali, Iyash menyesal melakukan itu, namun sudah terlanjur. Sampai detik ini dia juga tidak mengembalikan kertas narasi milik Aruna dan masih menyimpannya.
Pernah suatu siang saat Iyash sedang mengantri mie kuah di kantin, Iqbal tiba-tiba datang menghampirinya. “Yash,” panggil Iqbal seraya berdiri di sampingnya.
“Hmm,” sahut Iyash tanpa menoleh. Antriannya waktu itu panjang sekali, sehingga membuat Iyash malas bergeser.
“Kamu sama Aruna temenan, ‘kan?” tanya Iqbal tiba-tiba. Entah Jin jenis apa yang meminta Iqbal menanyai hal itu pada Iyash. “Nggak musuhan, ‘kan?”
Pertanyaan macam apa itu? Kening Iyash sampai mengernyit mendengar Iqbal bertanya demikian. Jelas saja tidak. Malah Iyash ingin sekali berteman dengan Aruna, sayangnya gadis itu seperti tak menganggapnya sebagai teman.
“Siapa yang ….” Tiba-tiba suara Iyash tercekat ketika melihat Aruna ada di barisan paling depan yang juga sedang mengantri mie kuah. Iyash tidak ingin gadis itu besar kepala.
“Mas Iqbal apaan sih,” dengkus Iyash.
“Jawab aja, temenan, ‘kan?”
“Musuhan. Terus kenapa?” Iyash menatap punggung Aruna, dia berharap gadis itu menoleh padanya, agar dia menarik lagi kata-katanya karena jujur dia tidak serius. Namun, tampaknya Aruna tak peduli. “Siapa yang mau temenan sama cewek aneh,” tambah Iyash.
“Aneh?”
“Ya. Cewek judes, jarang senyum kayak gitu kok banyak yang suka, ‘kan, aneh.” Mungkin dia juga termasuk cowok aneh karena masih saja menyukai Aruna, padahal jelas-jelas gadis itu mengabaikan dirinya.
“Itu karena kamu belum kenal dia aja, Yash,” kata Iqbal.
“Memang aku nggak kenal dia. Hampir setahun aku sekolah di sini, mana ada dia menyapaku.” Iyash seolah sedang mengeluh.
“Ya, kalau gitu kamu yang nyapa duluan.”
“Ih, sorry kayaknya kalau nyapa dia duluan itu bikin gondok.” Iyash meletakkan tinju di bawah dagu dan seketika Iqbal tertawa. Obrolan mereka di tengah kerumunan orang itu membuat Iqbal tak menyadari keberadaan Aruna.
“Kak Iqbal,” panggil Aruna. “Duluan.” Gadis itu pergi melewatinya.
Seketika Iqbal terperangah. “Aruna?” Kedua matanya membola, perlahan dia mengarahkan pandangan pada Iyash. Namun, Iyash malah mengedikkan bahu. Tak pikir panjang Iqbal lekas pergi menyusul Aruna. “Run, maafin Kak Iqbal ya,” bujuknya pelan.
“Minta maaf untuk apa ya, Kak?” tanya Aruna.
“Tadi Kak Iqbal cuma nanya soal kamu sama Iyash, kalian temenan, ‘kan?” Entah kenapa Iqbal kembali melempar pertanyaan yang sama. Tidakkah dia merasa bodoh karena harus mengurus hal sepele seperti ini. Lagi pula mau bermusuhan atau berteman sekalipun jelas bukan urusannya, ‘kan?
Iyash sampai mendengkus melihat Iqbal. Mungkin dia heran karena pertanyaan itu begitu penting bagi Iqbal.
“Kak Iqbal sudah mendengar jawabannya, ‘kan?” tanya Aruna.
“Jadi kamu juga nggak mau berteman sama dia?”
“Sama siapapun Aruna berteman, tapi kalau adik sepupu Kak Iqbal nggak mau temenan, ya itu hak dia.”
Jantung Iyash mencelus mendengar penuturan Aruna, bahkan Aruna tak menyebut namanya sama sekali. Iyash merasa ngilu ketika Aruna berkata demikian. Sejujurnya dia ingin berteman, tapi entah harus mulai dari mana, sejak awal Iyash merasa kalau Aruna sudah tidak ramah.
***
Malam harinya saat Iyash sedang asyik belajar ditemani suara jangkrik dan desau angin, tiba-tiba dia terkesiap mendengar suara bisik-bisik tepat di depan jendela kamar Aruna. Jantungnya mencelus saat melihat Iqbal ada di sana, di depan jendela di bawah langit gelap dan hanya diterangi cahaya lampu dari dalam kamar Aruna.
“Ganggu nggak?” tanya Iqbal sembari tengadah menatap Aruna yang berdiri di depan jendela. “Lagi belajar ya?”
Aruna mengangguk. Entah senyum atau tidak, Iyash harap Aruna memperlakukan Iqbal seperti memperlakukannya. Sayangnya tidak. Tentu saja Aruna tersenyum melihat Iqbal ada di antara gelap malam dan menyapanya di sini.
“Maaf kalau ganggu. Kak Iqbal nggak bisa tidur, kepikiran yang tadi siang.”
Tiba-tiba Aruna ingin menoleh pada Iyash, seketika itu juga Iyash membuang muka dan kembali membaca buku. Dia pura-pura tidak menyadari keberadaan Iqbal.
“Nggak apa-apa, Kak, Aruna udah lupa kok,” ucap Aruna.
Iyash sampai berpikir kalau Aruna terlalu mudah melupakannya. Sepertinya dia memang tidak bisa merebut hati Aruna.
“Hmm, eh ini buat Aruna,” kata Iqbal sembari menganjurkan kantong kresek.
Seketika Iyash menoleh dan kembali memperhatikan mereka. Wajarkah jika Iqbal merasa dongkol? Pasalnya sejak tadi siang dia sudah dibuat kesal dengan pertanyaan bodoh kakak sepupunya itu.
“Apa ini?” tanya Aruna pelan.
“Roti. Barusan Kak Iqbal ketemu Pak Ridwan di warung, katanya Aruna pengen roti. Ambil, Run.”
“Kak Iqbal nyogok Aruna?”
“Terima ya.”
“Ya udah Makasih ya.”
“Sama-sama. Oh, iya, besok berangkat sekolah bareng ya. Sebelum Kak Iqbal lulus dan jauh dari Aruna, Kak Iqbal mau menghabiskan waktu dulu di sini sama Aruna.”
“Mm-maksudnya gimana?” tanya Aruna.
“Eh, mm nggak, nggak gimana-gimana.”
“Kalau Bu Mirasih tahu, mungkin beliau akan marah karena Kak Iqbal diam-diam menemui Aruna di sini, malam-malam lagi,” kata Aruna sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berhenti pada Iyash yang tengah menggunakan lensa kamera untuk mengintipnya.
“Iyalah pasti marah,” teriak Iyash sembari terus memotret mereka, dia tidak peduli pada Aruna yang terus menatap kepadanya.
Aruna sendiri terus melayangkan tatapan tajam, dia berharap pemuda menyebalkan itu akan berhenti mencuri gambar dirinya dan Iqbal.
“Pacaran kok di tempat gelap, nggak takut setan,” kata Iyash. “Nggak takut setan?” cibirnya.
“Iyash!” teriak Aruna pada akhirnya. “Iyash, hapus!”
“Sssttt. Nggak usah ribut. Nanti biar Kak Iqbal yang bicara sama Iyash.” Iqbal mencoba menenangkan.
Wajah Aruna merengut, tapi sayang sekali kamera Iyash tak dapat menangkap bayangan wajah wanita itu.
“Sudah nggak apa-apa, nanti biar Kak Iqbal yang urus. Sekarang kamu istirahat, jangan tidur terlalu malam ya.”
Aruna mengangguk dan Iqbal pun pergi setelah mengucap salam. Gadis itu termangu sembari terus menatap jendela kamar Iyash yang baru saja tertutup lantaran sang pemilik kesulitan meredakan degup dibalik dadanya.
Aruna masih dongkol, dia memutuskan untuk melompat dari kamar dan berlari ke depan jendela kamar Iyash. “Hei pengecut, keluar kamu, hadapi aku sini,” teriak Aruna percaya diri. Dia tidak mau tahu, pokoknya Iyash harus menghapus semua foto-foto itu.
Iyash menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Namun, debaran di balik dada membuat tubuhnya lemas, apalagi setelah mendengar suara Aruna. Entah kenapa dia menjadi pengecut seperti ini?
“Kamu nggak bisa disabarin, Yash.” Aruna melempari jendela kamar Iyash dengan batu. “Kalau nggak keluar aku ambil batu yang besar dan pecahin kaca kamar kamu.”
Dibalik jendela yang masih tertutup, bibir Iyash mencebik. Dia yakin sekali kalau Aruna hanya mengancam.
“Yash, aku serius.” Aruna kembali melempar kerikil. Dia tidak suka diabaikan, namun dia tidak menyadari kalau selama ini dia telah mengabaikan keberadaan Iyash. “Mau kamu, hm? Aku pecahin nih. Heh, pengecut.”
Perlahan Iyash membuka jendela dan memasang wajah tak tahu apa-apa. “Kenapa ya? Kok ribut-ribut?” tanya pemuda itu sok polos.
“Pura-pura bodoh lagi,” dengkus Aruna kesal.
“Terima kasih karena sudah mengakui kalau aku pintar,” kata Iyash menyebalkan.
Aruna mendelik. Andai malam itu Iyash bisa mengabadikan delikan matanya. Dia pasti akan sangat bahagia karena ada ekspresi lain dari wajah judes Aruna.
“Aku akan bilang kelakuan mesum kamu sama Nenek Alma,” ancam Aruna.
Jantung Iyash mencelus dan seketika kedua matanya membola.
“Memangnya aku nggak tahu kalau kamu sering motret aku diam-diam, dan hari ketika pertama kali kamu datang ke kampung ini aku tahu kalau kamu memotret betis aku, iya, ‘kan?” tuduh Aruna.
Iyash menghela napas. “Dih, pede, selain judes ternyata kamu juga sok cantik ya.”
“Dasar manipulatif.”
“Jaga, bicara kamu.” Iyash segera melompat dan turun dari jendela kamar, lalu berdiri di depannya. Dia menantang Aruna dengan angkuh. “Ngomong apa kamu, heh?”
Aruna tergemap dan terus mundur saat Iyash mendekat padanya.
“Coba kamu bilang sekali lagi,” pinta Iyash sembari menyeret tubuh perempuan itu ke dinding. “Kamu pikir apa? Aku mesum, begitu? Lalu kamu sendiri apa?”
Aruna lekas mendorong dadanya, tapi Iyash malah semakin menyeretnya. Aruna segera menyilangkan kedua tangan di depan dadanya ketika dada Iyash hampir menempel ke tubuhnya. “Kamu mesum dan kamu manipulatif,” kata Aruna sembari kembali mendorong dada Iyash dengan kedua tangan yang masih menyilang.
Sial, Iyash malah semakin menahan dirinya. “Oh, kamu bilang aku mesum? Kamu mau aku praktekan adegan dimana Baek Seung Jo mencium Oh Hani?” Iyash tahu Naughty Kiss adalah drama korea favorit Aruna karena dia sering mendengar Aruna dan Naya membicarakan drama korea tersebut.
“Gila kamu!” Aruna kembali mendorong dada pemuda itu. Namun, Iyash malah menggebrak dinding kayu yang ada tepat di belakang Aruna, hingga membuat gadis itu terkesiap dan kedua matanya terpejam kuat.
“Kamu pasti mau bilang kalau aku cuma ngancam, iya, ‘kan?”
“Iyash!” Aruna kembali mendorong dada Iyash. Sial beribu sial! Iyash terlanjur mengecup bibir dan menahannya.
Aruna terperangah, kedua matanya terbuka lebar. Dia pikir Iyash hanya menggertak dan tidak akan benar-benar melakukannya. Dentum dibalik dada keduanya menjadi pengiring kesunyian malam itu.
Cukup lama bibir Iyash menempel diatas permukaan bibir Aruna. Perlahan dia membuka mulut dan **********.
Aruna marah. “Irrrgh!” Sekuat tenaga dia mendorong dada Iyash, hingga pemuda itu melepaskan pagutannya.
Jantung Iyash menggema saat dia dan Aruna sama-sama terdiam saling berhadapan. Napas keduanya memburu dengan cepat. Namun, seketika Iyash panik saat melihat air mata jatuh melintas di antara kedua pipi Aruna.
Aruna ingin marah karena Iyash baru saja melecehkannya dan merebut ciuman pertamanya. Namun, seluruh saraf di tubuhnya malah terasa kaku, sehingga hanya ada air mata yang terus turun sembari menatap Iyash.
“Run, aku minta maaf,” kata Iyash panik. “Maaf.” Dia kemudian memegang kedua bahu Aruna. “Maaf, Run.”
Entah kenapa Aruna tak bisa berbuat apapun, sama seperti Iyash, dia tak berdaya saat Iyash melakukan hal itu terhadapnya. Iyash benar-benar telah menguasai dirinya.
Aruna berjingkat pergi meninggalkan maaf Iyash. Sementara Iyash sendiri hanya bisa mematung. Sudah pasti dia kembali kehilangan kesempatan karena lagi-lagi dia melakukan kesalahan untuk bisa dekat dengan gadis itu. Sekarang pasti Aruna semakin membencinya.