Behind The Lies

Behind The Lies
Segenggam Rasa Takut



Angkasa dan Ashilla berdiri di depan rumah bernuansa putih cerah yang tampaknya tak pernah dibiarkan kusam. Perlahan Angkasa menekan bell. Tak berapa lama pintu terbuka. Ashilla langsung memeluk tangan Angkasa. Nampaknya dia selalu ingin menunjukkan siapa dirinya pada orang lain.


“Sore, Tante,” sapa Angkasa pada wanita paruh baya yang berdiri di depan mereka.


“Angkasa?” Wanita itu menatap Angkasa sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ashilla.


Angkasa lekas meraih tangan Ira selaku ibunya Iyash dan mengecup punggung tangan wanita itu sembari membungkuk.


“Ini Ashilla, calon istri Angkasa, Tante,” kata Angkasa seraya menegakkan tubuhnya.


“Calon istri?”


Ashilla tersenyum seraya mengangguk, kemudian melakukan hal sama seperti yang Angkasa lakukan pada wanita itu.


“Iya, kami ketemu di Amerika. Ashilla sebenarnya asli Jakarta, tapi tinggal lama di New York, dari kecil.” Angkasa menoleh pada Ashilla. “Sayang, ini Tante Ira, Mamanya Iyash, tapi juga Mamaku, aku sering nginep di sini kalau Mama sama Papa lagi di luar Negri.”


Ashilla kembali tersenyum. Angaksa pernah mengenalkan Ashilla pada kedua orang tuanya waktu mereka pergi berlibur ke New York. Waktu itu kedua orang tua Angkasa juga bertemu dengan Miranti dan Ganjar. Sebenarnya kedua keluarga sudah saling mengenal, jadi wajar jika Ganjar meminta mereka untuk segera menikah.


“Hm. Mau ketemu Iyash?” tanya Ibunya Iyash sembari bergeser, mengizinkan kedua tamu itu untuk masuk. Ashilla tak bisa tak mengedarkan pandangan, semua isi di rumah tersebut bernuansa putih, hanya ada beberapa yang abu-abu. Namun tetap lebih banyak nuansa putih sehingga terlihat sangat terang dan mewah.


“Katanya Iyash sakit?” tanya Angkasa.


“Ah, masuk angin, semalam pulang basah kuyup. Katanya abis nolong orang tenggelam,” jawab Ira sembari melangkah.


“Saya,” jawab Ashilla. “Iyash habis nolong saya, Tante.”


Ira memutar badan dan menatap Ashilla. “Oh.”


“Iya, Iyash abis nolong Ashilla. Angkasa ke sini mau bilang makasih.”


Ira mengangguk, kemudian berbalik dan kembali melangkah. “Iyash di kamar. Langsung kesana aja, soalnya dia nggak mau turun, makan aja dianterin. Kalau sakit dia kolokan.”


“Kamarnya masih di depan balkon, ‘kan?” tanya Angkasa.


“Udah pindah. Kamu lama nggak ke sini.” Ira menepuk punggung Angkasa. “Sejak pulang dari Spanyol Iyash bikin kamar sendiri. Udah kayak rumah. Jadi lantai dua itu punya dia aja semuanya, apalagi Kak Rasya udah nggak di sini. Jemur baju sekarang nggak diatas, dia bikinin halaman belakang buat menjemur.”


“Enak ya punya arsitek, pantes suasana rumah ini beda,” kata Angkasa.


“Iya, seperti yang kamu lihat. Dia jadi suka warna putih, semua isi rumah ini diganti pakai putih, cuma beberapa yang abu. Dia juga lebih berkuasa di sini.” Ira mengakhiri ceritanya dengan tawa renyah. “Tuh, taman di belakang cantik banget. Tante sama Om sampai suka berdiam lama di sana.”


“Om gimana, Tante, sehat?”


“Alhamdulillah, Om sehat. Lagi di Surabaya.”


“Oh, sejak kapan?”


“Semingguan.”


“Tante masih buka katering?”


“Masih. Dapurnya masih sama di belakang. Iyash dulu menawarkan untuk mendesain ulang dapur dan kamar pembantu. Cuma Tante bilang nggak usahlah, perlu biaya besar.”


“Hm.”


Ashilla hanya menjadi pendengar. Yang jelas dia lihat kalau ibunya Iyash sangat baik dan ramah. Namun, hanya pada Angkasa. Pasalnya sejak tadi wanita itu tak melakukan kontak mata dengannya.


“Tante lagi siapin makan, nanti malam Rasya mau ke sini.” Ira berbelok ke kiri, sementara Ashilla dan Angkasa mematung di depan tangga. “Kamu langsung aja ke kamar Iyash, ya.”


“Iya, Tante.”


Ashilla mengikuti Angkasa, tapi sepanjang berjalan Angkasa tak melepaskan genggaman tangannya. Bahkan mengetuk pintu pun dia menyatukan tangannya dengan tangan Ashilla.


Ashilla tertawa geli melihat tingkah Angkasa, sementara Angkasa sendiri hanya tersenyum, kemudian menatap lurus ke daun pintu bercat putih itu. Saat pintu terbuka suasana abu ada di dalamnya. Indah dan rapi sekali. Ashilla baru pertama kali melihat kamar serapi dan seindah itu.


Iyash tak hanya menjadikan kamarnya sebagai tempat tidur atau sebagai tempat istirahat, tapi lebih ke sebuah tempat yang mengerti perasaannya.


“Lu,” ucap Iyash sembari menghela napas. Dia menatap lama genggaman tangan Angkasa dan Ashilla. Nampaknya kabar putus itu adalah bohong.


“Masuk angin dikit.” Iyash lekas berbalik dan berjalan masuk.


“Gue ke sini mau bilang makasih,” ucap Angkasa di depan pintu.


Iyash menanggapi ucapan terima kasih Angkasa dengan berdehem seraya duduk di sofa segitiga yang tersedia di depan meja bulat. Persis seperti kafe, sofa itu ada tiga buah dengan warna-warna yang cantik bertema monokrom. “Silakan duduk,” katanya sembari menunjuk sofa kosong.


Ashilla menoleh pada Angkasa yang tetap mematung di depan pintu.


“Gue nggak lama, cuma mau bilang makasih,” kata Angkasa, namun seketika Ashilla merengut.


“Kok gitu?” tanya Ashilla kesal. Sepertinya dia ingin menyatukan kedua teman tersebut.


“Ya udah. Kan mau bilang makasih doang. Oh iya–” Angkasa baru ingat kalau dia harus meminta maaf juga pada Iyash, sementara Iyash sendiri belum pernah meminta maaf padanya padahal dia sudah membuatnya masuk rumah sakit. “Sekalian mau bilang maaf buat semalam.”


“Nggak perlu.”


Angkasa menatap Ashilla. Namun, perkataannya tetap ditujukan pada Iyash. “I-iya, gue nggak perlu minta maaf karena gue yakin lu udah maafin gue, kayak gue yang udah maafin lu atas kejadian seminggu yang lalu.”


Ashilla terperangah. Dia tidak menyangka kalau Angkasa akan membahas itu.


Iyash tersenyum sinis. “Jadi, menurut lu kita impas?”


“Nggaklah,” tolak Angkasa cepat. “Nggak ada yang impas. Gue ke sini cuma mau bilang makasih, lagi pula kalau bukan Ashilla yang minta gue juga nggak akan melakukan itu.”


“Jadi, lu nggak ikhlas.”


“Sayang kita pulang.” Angkasa menarik tangan Ashilla.


“Tapi, Sayang–” Ashilla mengacungkan kantong kresek dengan logo minimarket itu pada Angkasa. Perlahan Angkasa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Ashilla memberikan sekantong roti dan susu tersebut.


Ashilla merasa gugup. Perlahan dia melangkah masuk ke dalam kamar Iyash. “Maaf lancang,” katanya pelan. Dia terus mendekat pada Iyash, kemudian menganjurkan kantong kresek di tangannya.


“Apa ini?” tanya Iyash seraya bangkit dan berdiri di depan Ashilla yang setinggi dadanya.


Ashilla tengadah dan menatap wajah teduh pemuda itu.


“Buat jenguk orang sakit,” sambar Angkasa yang masih berdiri di depan pintu. Nampaknya dia tidak berkenan masuk ke kamar Iyash.


“Nggak usah. Lu bawa lagi,” kata Iyash pada Angkasa, bahkan dia tak memedulikan Ashilla di depannya.


Ashilla terperangah, dia mengarahkan pandangan pada Angkasa.


Angkasa tahu dan dia sedih melihat wajah kecewa Ashilla. “Cewek gue beli pake uangnya sendiri. Tolong hargai.”


Iyash menatap lama wanita di depannya. Itu membuatnya semakin tidak kuat dan terus teringat pada Aruna. “Terima kasih,” katanya sembari mengambil alih kantong kresek dari tangan Ashilla.


“Sama-sama,” ucap Ashilla. “Maaf cuma–”


“Nggak usah minta maaf, Sayang ayo pulang,” sambar Angkasa cepat. Namun, ajakannya tak diindahkan Ashilla, dia pun kesal dan memilih menarik tangan wanita itu dan mengajaknya pergi dari kamar Iyash.


Akan tetapi Ashilla tak mengalihkan pandangannya dari Iyash. “Maaf,” desisnya pelan.


Jantung Iyash mencelus. Kepergian Ashilla persis seperti kejadian sepuluh tahun yang lalu dan itu membuat Iyash tak bisa menahan dirinya, sehingga dia mengambil langkah dan menahan Ashilla dalam dekapannya.


Angkasa terperangah melihat Iyash memeluk Ashilla. Sementara Ashilla sendiri tergemap dengan kedua mata membola, dia terenyuh merasakan napas Iyash.


“Jangan pergi.” Ashilla mendengar kata itu, padahal Iyash tak berniat mengatakannya sehingga yang mendengar hanya Ashilla saja.


“Iyash!” Angkasa mendorong bahu Iyash. Namun, Iyash tetap memeluk Ashilla, bahkan lebih erat dari sebelumnya, sehingga kemarahan Angkasa semakin besar, sehingga dia memutuskan untuk menarik kasar kerah pria itu. “Lu nggak bisa seenaknya.”


Angkasa hendak menghujamkan tinju ketika Iyash berbalik dan melepaskan pelukannya, namun Ashilla menahan tangannya. “Kita pergi,” ajak wanita itu.


Napas Angkasa memburu menahan amarah yang sudah ada di puncak ubun-ubun. Ingin sekali dia menghajar Iyash, kalau bukan karena Ashilla mungkin dia sudah menghabisinya, meski dia sendiri tak yakin akan itu.