
Keluarga Nalendra menyambut hangat kehadiran Rania dan Dareen sebagai menantu dan cucu di keluarga. Mereka menerima Rania dan Dareen dengan tangan terbuka. Namun, meskipun begitu mereka tetap mengharapkan kehadiran cucu kandung di tengah-tengah keluarga mereka.
Bu Shafira menganggap dan menyayangi Dareen seperti cucunya sendiri, tetapi beliau juga menginginkan cucu kandung dari Nalendra dan Rania. Dia memutuskan akan merayu Rania untuk mempunyai anak lagi secepatnya.
Perlahan Bu Shafira mendekati Rania yang sedang mencuci piring. Rasa ragu segera dia singkirkan dari pikirannya.
"Teteh pakai KB apa sekarang?" tanya Bu Shafira pelan, dia tidak mau suaminya dan Alaric mendengar dia menanyakan hal sensitif seperti itu pada istri dari anak sulungnya.
"Ehm, aku tidak pakai KB, Bu. A-aku sudah tidak pakai KB, mungkin sudah lebih dari setahun," jawab Rania pelan. Sebelum Ergha meninggal rania sudah tidak minum pil KB lagi karena mereka berencana untuk menambah momongan. Namun, takdir berkata lain, Ergha meninggal dan dia menikah lagi dengan Nalendra.
"Oh, Teteh sudah tidak ber-KB ya. Kalau boleh, jangan pakai KB dulu. Ibu ingin Teteh dan Nalendra punya anak lagi!" pinta Bu Shafira dengan raut wajah memaksa.
"Ehm?" Rania sudah tahu jika cepat atau lambat keluarga Nalendra akan memintanya untuk menambah momongan.
"Ibu dan ayah sangat sayang sama Dareen. Tapi, sebentar lagi Dareen sudah mau besar. Dia pasti tidak mau ikut bersama kami, mungkin dia akan lebih senang bermain bersama teman-temannya daripada menemani kami," ujar Bu Shafira memelas.
Rania mengatupkan kedua bibirnya, menahan tawa. Dia juga sudah memikirkan masalah ini dengan matang.
"Doakan saja yang terbaik, Bu." ucap Rania.
"Pasti Ibu doakan, tapi Teteh juga jangan pakai KB dulu ya. Umur Teteh dan Kakak udah 30-an, jadi harus cepat-cepat merencanakan soal menambah momongan." Bu Shafira melirik Rania, merayunya.
"Doakan saja, Bu. Kami akan berusaha yang terbaik, tapi Allah yang Maha pemberi rezeki. Doakan saja semoga Allah memberi kami rezeki anak yang Soleh dan Solehah."
Bu Shafira tersenyum penuh kemenangan. Dia sangat senang mendengar jawaban Rania. Dia merasa lega seakan beban yang dipikulnya berkurang banyak.
Rania berencana akan menginap di rumah orangtua Nalendra sampai hari Minggu nanti. Dia tidur sendirian di kamar Nalendra karena mertuanya telah menyiapkan kamar untuk Dareen di lantai bawah, di sebelah kamar mereka.
Dia menghabiskan waktu dengan melihat foto-foto yang tersimpan di laci meja belajar Nalendra. Foto dari semasa dia sekolah ada di sana. Rania tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana tingkahnya dulu saat harus berdekatan dengannya.
Saat SMA, Rania menjalin hubungan dengan Nata. Namun, hubungan mereka jarak jauh, hanya bisa menghubungi lewat surat Pos dan telepon. Rania sempat terkejut saat pertama kali melihat Nalendra karena memiliki wajah yang mirip dengan Nata. Bentuk wajah, mata, bibir yang sama, tetapi mempunyai senyuman yang berbeda.
Kenangan itu kembali muncul di benak Rania. Tentang bagaimana sifat Nalendra di matanya saat itu. Tidak ada hal yang spesial selain memiliki kemiripan dengan Nata.
Hanya ... Nalendra yang seorang Shounen atau pembaca komik, tiap hari dia membaca komik bahkan saat pelajaran berlangsung. Rania juga ingat, Nalendra beberapa kali berkata ketus padanya, mengkritiknya, bahkan sampai pernah mengatakan jika Rania mirip Bebegig sawah.
"Dia memang menyebalkan!" ucap Rania geram, kembali menyimpan foto-foto tersebut ke dalam laci.
Rania merebahkan diri di tempat tidur. menggulir layar ponsel melihat bagaimana suaminya tersenyum ketika mereka selesai ijab kabul. Dia juga melihat wajah Nalendra yang memerah karena menangis ketika menerima buku nikah dari penghulu.
Hari Sabtu, Rania izin kepada mertuanya untuk ikut buka bersama dengan teman-teman SMA-nya. Dia juga bercerita jika sudah meminta izin pada Nalendra. Mereka mengizinkan Rania, tetapi tidak membawa Dareen. Mereka akan membawa Dareen ke acara buka bersama di mesjid dekat rumah.
Setelah solat duhur, Rania berpamitan. Dia akan berangkat dari rumah orangtuanya ke acara tersebut. Dia sudah berjanji akan berangkat bersama dengan Liana.
Pukul setengah lima sore, Rania berangkat dibonceng Liana. Mereka pergi ke salah satu restoran khas Sunda di daerah Bandung. Mereka tiba di restoran pukul lima tepat.
"Ayo, pada udah dateng!" ajak Liana setelah memeriksa pesan dari grup SMA.
"Rame ya," ujar Rania melihat parkiran yang sudah penuh.
"Iyalah, bulan puasa banyak yang mau buka bersama!"
Mereka masuk ke dalam restoran, melewati beberapa meja, jembatan kecil, beberapa saung untuk lesehan.
"Itu mereka," ucap Liana tersenyum.
"Assalamu'alaikum," sapa Rania begitu mereka tiba di saung lesehan tempat teman-temannya menunggu.
"Ah, iya," jawab Rania tersenyum.
"Ayo duduk sini," Fitri menawarkan Rania untuk duduk di sebelahnya.
"Makasi." Rania akhirnya duduk diantara Dini dan Habib Putra, sedang Liana duduk di sebelah Habib.
Banyak teman sekelasnya yang membawa pasangan dan anak mereka. "Rania anakmu mana, ko ga dibawa?"
"Ada di rumah. Dia lebih memilih ikut buka bersama dengan kakek neneknya," jawab Rania terkekeh.
"Katanya kamu ngajar di sdit yayasan lagi sekarang. Tetanggaku ada yang ngajar di sana juga."
"Iya, No. Aku ngajar lagi sekarang," jawab Rania. "Maaf, aku ke toilet sebentar," Rania meminta izin pada teman-temannya.
Selepas Rania pergi, mereka mulai bergosip kembali. "Kasian ya dia udah janda. Padahal masih muda!"
"Iya, mau gimana lagi, umur tidak ada yang tau," timpal Retno.
"Tapi cincin kawinnya masih dia pakai ya!" seru Dini.
"Iyalah dia pakai, itu kan cincin kawin!" jawab Retno. "Eh, tapi katanya dia udah ada yang lamar. Tetanggaku yang satu tempat ngajar ma dia yang cerita. Mungkin itu cincin tunangannya!"
"Bener Na' dia udah tunangan lagi? Bukannya suaminya meninggal belum ada setaun ya?" tanya Dini pada Liana.
"Siapa, Riana? iya dia udah nikah lagi!" jawab Liana santai. "Ga usah dibahas lagi soal dia janda, aku aja kalah sama dia. Dia udah nikah lagi dan aku belom!" lanjutnya.
"Shutt, Rania datang tuh!" semua terdiam dan mulai beralih topik.
"Lo nyari siapa sih? dari tadi celingukan liat ke sana!" tanya Habib Putra pada Liana yang sedari tadi melihat ke arah keluar.
"Hei, Ki. Nalendra mana?" tanya Liana pada Rezky. Rania yang mendengar nama suaminya disebut langsung melirik Liana.
"Ga tau, kayanya ga dateng. Dia lagi sibuk katanya," jawab Rezky, lalu kembali mengobrol dengan Kevin.
"Kenapa lu nyari Nalendra?" tanya Habib Putra.
"Mau tau aja lu!" ketus Liana.
Mereka asik mengobrol bercerita pengalaman diri masing-masing atau pun membicarakan tentang masa di SMA dulu.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang ibu paruh baya.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. "Alhamdulillah, ibu dateng juga. Silahkan, Bu." Habib mempersilakan ibu paruh baya tersebut untuk duduk diantara mereka, Beliau di temani oleh anak perempuan berumur 9 tahunan.
Ibu paruh baya itu adalah Bu Kartika, wali kelas mereka di kelas XII SMA. Beliau mengajar mata pelajaran kimia dan menjadi salah satu guru favorit para murid.
Suasana terasa hening sebentar, mereka memandang kagum pada sosok wali kelas yang masih terlihat hebat diusia senjanya.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Habib Putra.
"Alhamdulillah, baik," jawabnya tersenyum penuh kehangatan.
Mereka ngobrol kembali seperti sebelumnya, bercanda tawa. Hingga seorang laki-laki berpakaian casual datang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum," sapanya, Semua melihat ke arah lelaki tersebut.