Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 152



Nalendra tersenyum melambaikan tangannya ke arah Dareen, anak itu melambaikan tangan dan tertawa bermain air di dalam kolam renang bersama sang kakek. Entah kenapa perasaan Nalendra tidak menentu sejak pagi tadi, rasanya ada yang dia lupa, tetapi tak kunjung dia mengingatnya.


Apa yang aku lupa! pikir nalendra.


Suara ponsel membuyarkan lamunannya. Tertera nama sang asisten di layar ponsel tersebut. Namun, ponsel itu kembali sunyi begitu dia hendak mengangkatnya. Dia segera menghubungi balik asistennya.


"Ya, ada apa?" tanya Nalendra begitu telepon tersambung.


Mata Nalendra menatap ke arah Dareen. Dia segera mengakhiri panggilannya dan menghampiri anak tersebut.


"Aa, Daddy pulang duluan boleh?" Nalendra sedikit berteriak karena suara pengunjung yang ramai. Beberapa kali dia mengulang pertanyaannya, barulah kedua laki-laki beda generasi tersebut mendekati Nalendra.


"Ada apa, Dad?" tanya Dareen yang berada di pangkuan pak Sulaiman.


"Kenapa, Kak?"


"Daddy pulang duluan ya, boleh?" tanyanya tersenyum merayu sang anak.


"Ada apa?" tanya pak Sulaiman.


"Kakak lupa harus memeriksa dan ngirim dokumen, barusan Aziz telepon," terang Nalendra. "Kakak naik ojeg online saja, jadi mobil kakak tinggal sini. Ga apa-apa kan, Yah?"


"Ya sudah, pergilah. Hati-hati, jangan khawatir Dareen biar sama kakek aja kan ya," ucapnya sambil mengusap puncak kepala Dareen.


"Iya, hati-hati Daddy!"


"Daddy pergi ya." Nalendra beranjak dari posisi jongkoknya, dia segera berjala menjauh dari kolam dan keluar dari tempat tersebut.


Hampir satu jam kemudian, Nalendra sampai di rumah keluarga Rania. Ya, dia menyimpan tab-nya di tas yang Rania bawa.


"Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam begitu melihat ibunya, Bu Shafira sedang duduk dengan baby Ara di pangkuannya.


"Kak, ko sudah pulang. Mana Dareen dan Ayah?" tanya Bu Shafira langsung berdiri, terkejut melihat Nalendra berada di hadapannya.


"Ada kerjaan yang harus kakak selesaikan. Rania mana?"


"Ehm, Ra-nia ... i-tu...," ucap Bu Shafira, tak dapat dia meneruskan kalimatnya.


Nalendra menaikan sebelah alisnya. "Itu, apa Bu?"


Bu Shafira pun menceritakan jika Rania bersama Bu Sekar ke rumah Liana untuk berbicara dengannya. Bu Shafira juga bercerita jika mereka sudah merencanakan ini secara matang dan tidak akan terjadi apapun pada Rania. Namun, Nalendra tetap terkejut dan dia langsung pergi ke rumah Zyan untuk menemaninya ke rumah Liana.


Mereka berdua ke rumah Liana dengan setengah berlari. Nalendra begitu takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Rania. Dia sampai melupakan niat awalnya pulang dari kolam renang.


Begitu sampai di depan pagar rumah Liana, Nalendra segera membuka pagar tersebut tanpa mengucap salam apalagi menunggu sang empunya rumah keluar. Dia berhenti, termangu begitu berada di teras rumah dan tersenyum.


"Ayo pulang!" ajak Nalendra setengah berbisik pada zyan.


"Kenapa?" Zyan merasa kakak iparnya sungguh aneh. Tadi buru-buru mengajak pergi ke sini, setelah sampai langsung ngajak pulang lagi!, begitu pikir Zyan. Namun, kakak iparnya itu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


Bu Shafira setengah terkejut melihat si putra sulung sudah berada di teras rumah besannya. Jantungnya berdebar lebih dari normal, dia takut jika anaknya tersebut marah dengan semua yang dilakukannya.


"Kak," panggilnya dengan sedikit gugup. Namun, Nalendra hanya tersenyum simpul pada sang ibu. "Dari mana?"


"Dari rumah Liana dengan Zyan," jawab Nalendra santai.


"Rumah si-apa?"


"Liana, tadi aku ke sana nyari Rania."


"Terus ...," ucap Bu Shafira, dengan rasa khawatir yang tidak bisa disembunyikan lagi.


"Lah, ko pulang. Rania ma-na?"


"Masih di sana, dia masih ngobrol dengan Liana. Kakak cuma sampe teras rumah, ga masuk. Tadinya kakak khawatir, tapi setelah mendengar obrolan Rania kayanya ga perlu khawatir lagi. Dia lebih tangguh dari yang kakak kira!"


"Kakak nih, buat ibu takut aja!"


"Takut kenapa, Bu?" tanya Nalendra.


"Ga apa-apa!"


Nalendra masuk ke dalam kamar Rania dengan tersenyum melihat ibunya masih menyisakan raut khawatir dan terkejut. Dia tahu wanita paruh baya itu pasti mengkhawatirkan menantu tercintanya.


"Tidurkan saja, Bu. Tidurkan di kamar Dareen, dia sudah berat sekarang!" titah Nalendra sembari memegang tab dan laptop.


Bu Shafira pun menuruti sang anak, dia segera menidurkan cucu perempuannya di kamar. Nalendra sendiri langsung kembali ke niat awal, mengerjakan pekerjaannya.


Hampir satu jam kemudian, Nalendra telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia bermain dengan baby Ara yang sudah terbangun sejak tadi. Dari arah luar terdengar suara orang berlari.


"Kamu sudah pulang, mana Dareen?" tanya Rania dengan suara terpogoh-pogoh karena berlari. Dia melihat Nalendra yang sedang duduk dan baby Ara di pangkuannya.


"Aku pulang duluan, karena ada kerjaan yang harus aku kerjakan. Dareen masih di kolam bersama kakeknya." Nalendra tersenyum melihat Rania.


Rania melirik Bu Shafira yang menganggukkan kepalanya. Rania sungguh takut jika Nalendra tahu dia ke rumah Liana, tentu kemungkinan besar dia akan marah. Namun, Nalendra tidak menunjukan ekspresi marah ataupun kesal.


"Mau jalan-jalan?" tanya Nalendra pada wanita yang kini duduk di sebelahnya.


"Ehm?" Rania terkejut menatap Nalendra lekat.


Apa dia tau aku ke rumah Liana, apa dia akan mengomeliku? ah, raut wajahnya tidak menunjukan kalau dia kesal. pikir Rania.


"Kemana?"


"Aku ingin mengajakmu jalan, kita naik motor saja berdua. Sudah lama tidak keliling Bandung berdua," ucapnya tersenyum.


"Berdua, tapi Baby Ara, Dareen?"


"Pergilah, baby Ara biar dengan kami saja. Lagian susunya juga sudah ada kan tinggal di kasihkan. Dareen juga masih di kolam dengan kakeknya. Pergilah, jalan-jalan berdua," ucap Bu Sekar. Dia tahu Rania pasti masih merasa kesal, marah, sedih bercampur menjadi satu.


"Ayo," ucap Nalendra memegang tangan sang istri.


"Aku ambil tas dulu," jawab Rania beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Seperti biasa, jalanan Bandung tetap ramai bahkan lebih ramai dari hari kerja. Banyak orang berlibur di kota ini dari berbagai daerah. Hari ini langit nampak sedikit mendung, awan putih berarak dihembus angin. Menjadikan udara di Bandung lebih sejuk.


Rania mengeratkan pegangannya di pinggang Nalendra. Mereka berdua melewati jalanan Setiabudi, ikut meramaikan jalan ke arah Lembang.


Kini mereka berhenti di pinggir jalan, melihat pemandangan perkebunan sayuran yang terbentang luas di hadapan. Nalendra memberikan sebotol air mineral yang mereka beli sebelumnya di minimarket kepada sang istri.


"Minumlah." Rania menerima botol tersebut dan meminumnya sampai menyisakan setengah botol lagi.


Nalendra memegang tangan Rania dan menepuk-nepuk pelan sambil tersenyum. "Rasanya aku jatuh cinta lagi denganmu," ucap Nalendra.


Rania berbalik, tersenyum. "Kenapa? emang sebelumnya cintanya sudah hilang?"


"Bukan, bukan hilang. Rasanya bertambah lebih banyak, banyak, dan banyak lagi!"


"Gombal banget!"


"Tadi aku menyusulmu ke rumah Liana!"