
Rania sampai di Apartemen Nalendra di kawasan Jakarta Selatan setelah magrib. Mobil yang Rania gunakan sudah terdaftar di apartemen itu. Rania juga membawa acsess-card yang diberikan Bu Shafira untuknya, tidak lupa Bu Shafira juga menghubungi Aziz, asisten Nalendra. Dia memberitahunya jika Rania akan ke Jakarta dan mewanti-wanti agar Nalendra pulang cepat. Tentu saja dia juga memperingati Aziz agar tidak memberitahu Nalendra.
Apartemen Nalendra tipe 3BR, 3 kamar tidur, living room, dining room, dry dan wet kitchen, sangat luas untuk orang yang hanya tinggal sendiri. Rania melihat isi lemari es, hanya ada buah-buahan dan beberapa botol air mineral.
"Ya, dimengerti. Dia kerja luar kota kemarin!" gumam Rania.
Rania juga membuka lemari kitchen set, ada beberapa cup mie instan, beras, gula, minyak. "Apa dia makan di luar, malam ini?"
"Sebaiknya aku mandi dulu!" lanjutnya membuka satu persatu kamar di sana. "Ini pasti kamarnya!" ucapnya melihat ada T-shirt yang sepertinya dilempar ke sana. Rania pun membereskan tempat tidur Nalendra yang masih berantakan dan memasukan t-shirt kotor ke dalam keranjang di walk-in closet.
Rania menyimpan koper di tempat tidur, mengambil peralatan mandinya. Dia berjalan ke arah walk-in closet mengambil handuk bersih dari lemari dan bergegas mandi.
**
Aziz telah diwanti-wanti oleh Bu Shafira agar Nalendra tidak kerja lembur malam ini. Padahal ada pekerjaan yang harus Nalendra selesaikan hari ini.
"Pak, apa tidak besok saja kita selesaikan?"
"Kenapa? bukankah ini harus kamu kirimkan sekarang juga ke pusat!"
Aziz pun menunduk, tidak berkata apa-apa lagi. Dia menyelesaikan pekerjaannya secepat yang dia bisa.
Kalau aku memberitahunya jika istrinya ada di rumah, aku akan kena omel dari dua orang. Kalau aku tidak memberitahunya dan dia pulang larut, aku akan lebih kena omel lagi besok! batin Aziz bimbang.
Sudah hampir jam 7 malam, "Pak, sisanya biar saya kerjakan malam ini. Nanti saya kirim email ke bapa untuk tandatangan. Maaf, saya ada janji dengan istri dan anak saya," ujar Aziz sedikit memelas.
"Ehm, ya udah. Pulanglah, biar ini aku selesaikan!"
"Saya saja yang selesaikan. Saya biar mengantar Bapak dahulu, lalu pulang."
"Tenang saja, saya bisa bawa mobil kantor atau taksi kalau saya lelah." tegas Nalendra.
"Pak, cepatlah pulang. Saya tidak mau Bapak kecapean. Bapak harus sehat, 'kan sekarang sudah punya istri jadi istirahat harus lebih diperhatikan," rayunya.
Nalendra mengernyitkan dahi, tidak biasanya Aziz bersikap seperti itu. "Sebenarnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Pak," lirihnya, menunduk.
"Baiklah, sepertinya ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari saya. Saya akan pulang, tapi ingat kerjakan sampai selesai malam ini. Saya tunggu email-nya sampai jam 10 malam ini!"
"Jam 10 pak?" Aziz menganga.
Gawat, mana lumayan banyak. Tenang Ziz, istrinya akan menyelamatkanmu! ujarnya dalam hati.
"Baik, Pak. Siap Jam 10 malam!" seru Aziz, meyakinkan diri sendiri.
Nalendra pulang cepat hari ini, walaupun sebelumnya dia berencana untuk lembur. Aziz mengantarkan Nalendra sampai di Apartemen.
Nalendra sampai di Apartemen pukul 8 malam. Tidak ada hal yang aneh sampai dia membuka pintu Apartemennya. "Apa tadi pagi aku lupa mematikan lampu?" gumamnya melihat hampir semua lampu menyala. Dia melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda ada orangtuanya datang. Ya, hanya orangtuanya dan Aziz yang pernah datang ke Apartemen Nalendra.
"Sebaiknya aku mandi dulu. Mungkin ini efek kelelahan," ujar Nalendra merasakan badannya sangat lengket dan lelah.
Nalendra membuka pintu kamar, nampak tempat tidurnya sudah rapi. "Rasanya tadi pagi belum aku bereskan!" gumamnya. "Koper siapa ini?" Nalendra mencoba membukanya. Namun, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Nalendra segera berbalik, pandangannya tertuju pada wanita di depan pintu kamar mandi, hanya memakai bathrobe dengan rambut dicepol. Selama satu menit penuh mereka berdiri di tempatnya masing-masing, saling memandang karena terkejut.
Apa aku terlalu merindukannya, hingga bayangannya muncul di depanku. pikir Nalendra.
Nalendra beberapa kali mengerjapkan mata, Rania masih berada berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka.
"Ra-rania," lirihnya mengerutkan dahi.
"Ah, aku mau mengambil bajuku. Aku lupa." Rania menyadari dirinya hanya memakai handuk yang ditutupi oleh bathrobe. Dia bergegas mengambil koper dan membawanya kembali ke dalam walk-in closet.
Nalendra masih berdiri di tempanya, pandangannya beralih dari pintu ke tempat tidur, lalu ke pintu kembali. Dia masih kebingungan dengan yang terjadi barusan. "Apa aku berhalusinasi!" Dia memberanikan diri membuka pintu walk-in closet untuk memastikan.
"Aaaaaaa ..., kenapa kamu ke sini!" Rania berteriak terkejut melihat Nalendra datang. Nalendra membulatkan mata melihat dia yang hanya menggunakan pakaian dalam saja. Rania segera mengambil bathrobe dan menyampirkan ke badannya.
"Benarkah ini bukan halusinasiku saja?" tanyanya tanpa memperdulikan teriakan Rania yang menyuruhnya keluar dari sana.
Nalendra setengah berlari memeluk Rania. Dia tertawa kecil mendapatkan surprise dari istrinya. Sebenarnya bukan Nalendra saja yang terkejut, tetapi Rania lebih terkejut lagi karena Nalendra telah melihatnya tidak berbusana lengkap.
"Kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanyanya. "Aku kira siapa yang datang. Pantas saja lampu pada nyala, tempat tidurku juga sudah rapi," cerocosnya.
"Bisakah kamu keluar dulu, aku mau dibaju dulu," lirih Rania dengan wajah yang memerah seperti tomat.
"Tidak, aku mau di sini melihatmu. Aku merindukanmu, aku masih tidak percaya kamu ada di sini. Aku takut ketika keluar, kamu menghilang. Aku masih mau memastikan ini bukan imajinasiku, halusinasiku!" ujarnya, duduk di sofa yang ada di sebelah bupet kaca tempat dasi dan jam tangan.
Rania mencubit lengan Nalendra lumayan keras. "Aaaaa," teriaknya kesakitan.
"Ini bukan imajinasi, ini nyata. Aku ada di sini, jadi keluarlah, aku mau di baju!" ucap Rania geram.
Namun, bukannya keluar, Nalendra malah menarik tangan Rania hingga dia terjatuh ke dalam dekapannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Nalendra tersenyum lalu mencium sekilas bibir Rania.
Rania memandang mata Nalendra lekat, hingga bayangannya terpantul di sana. Mata cokelatnya turun melihat bibir Sang suami, bibir itu berwarna merah walaupun tanpa pewarna buatan, tipis, sangat menggoda. Rania menghela napas untuk meredam rasa gugup dan debaran jantung yang kian menderu.
"Ndra," Rania berusaha bangkit, menolak desakan hati yang ingin mencium suaminya.
Namun, tenaga Nalendra jauh lebih besar darinya. Rania terduduk di pangkuan Nalendra yang menyenderkan badannya ke sofa. Ada sesuatu yang mengeras terasa di bawah sana. Wajah Rania semakin bersemu.
Tangan Nalendra menelusup ke dalam tengkuk Rania dan menariknya. Dia mencium Sang istri dengan lembut, lama mereka saling bertaut mesra hingga terenggah kehabisan oksigen. Napas mereka terasa panas. Bathrobe yang dikenakan Rania pun mulai melorot dari bahunya yang putih.
"Bolehkah?"