
Dari dalam terdengar suara anak kecil menghampiri mereka.
"Om ... Om ...," teriaknya sambil berlari kearah Nalendra.
"Hei jagoan," ujar Nalendra yang langsung mengangkat Dareen ke pangkuannya.
"Om, ko Om baru dateng?" tanya Dareen.
"Emangnya kenapa?"
"Om 'kan janji mau main sepedaan sama aku," jawabnya.
Semua orang yang berada di sana tercengang melihat interaksi Dareen dan Nalendra, tak terkecuali Rania.
"Sayang, sini duduk sama bunda," ujarnya. Dia merasa tak enak hati pada mertuanya, juga orangtua Nalendra.
"Dareen mau sama Om aja," jawabnya tetap duduk di pangkuan Nalendra.
"Kasian Om nya baru datang, Sayang," rayu Rania.
"Ga apa-apa," ucap Nalendra tersenyum.
"Siapa namanya anak cakep ini?" tanya Bu Shafira memegang tangan mungil Dareen.
Dareen tidak menjawab pertanyaan Bu Shafira, dia hanya melihat ke arah wajah Nalendra dengan wajah meminta perlindungan.
"Ini bundanya Om," ujar Nalendra yang sedikit mengerti maksud Dareen.
Dareen tersenyum pada Bu Shafira. "Dareen," ucapnya.
"Oh, jadi nama anak cakep ini Dareen. Nama yang cakep seperti orangnya," puji Bu Shafira membuat Dareen tersenyum menggemaskan.
"Dareen, sini duduk sama Abah aja," pinta pak Darmawan menepuk-nepuk pahanya.
"Enggak, Dareen sama Om aja." tolaknya.
Rania sungguh tidak enak hati dengan penolakan Dareen. Namun, apa yang bisa dia perbuat, Dareen hanyalah anak yang masih kecil.
"Dareen udah di pake belum sepedanya?" tanya Nalendra.
"Udah, Dareen udah bisa Om," jawabnya.
"Masa?" tanyanya dengan wajah pura-pura terkejut.
Dareen mengangguk, " Ayo Om, main sepeda sama aku."
Dareen berdiri, menarik tangan Nalendra agar dia bangun dan menuruti ajakannya.
Nalendra melihat wajah Bu Shafira dan dibalas anggukan pelan olehnya. Dia pun keluar bersama Dareen, menemaninya bermain sepeda di halaman rumah.
"Dareen, Dareen ...," ujar pak Idris memecah kesunyian.
"Iya, anak kecil emang kalau sudah mau sama satu orang teruuss aja nempel," balas pak Sulaiman.
"Iya, begitulah mereka," jawab pak Idris tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, ga usah cemas atau tak enak hati. Nalendra memang senang anak kecil, biarkan aja Dareen bermain dengan Nalendra. Biarkan dia belajar bagaimana menjaga seorang anak," ucap Bu Shafira pada Rania yang sedari tadi terlihat gugup dan selalu menengok ke arah luar lewat jendela.
"Oh, emang Nalendra belum punya anak ya Bu?" celetuk pak Darmawan.
"Gimana mau punya anak, istri aja belum punya pak. Anak jaman sekarang lebih santai kalau urusan jodoh, pak. Bilangnya nanti aja, nyampe sekarang pun Nalendra belum pernah bawa gadis ke rumah kecuali teman-temannya," jawab Bu Shafira terkekeh.
"Adiknya Ergha juga sama, saya tanyain kapan mau bawa calon mantu ke rumah. Malah saya yang diomel katanya nanya-nanya Mulu," ungkap pak Darmawan.
"Biarkan sajalah pak. Kalau kita nanyain mulu malah kitanya yang pusing sendiri, kesal sendiri denger jawaban mereka." ucap pak Sulaiman.
Nalendra beserta orangtuanya telah pulang setelah shalat asar. Dia akan kembali lagi nanti sehabis magrib untuk mengikuti acara tahlilan yang diadakan setelah shalat magrib di kediaman orangtua Rania.
Ketika Nalendra sampai di rumah orangtua Rania, telah ramai orang yang akan ikut tahlilan. Dia bersama Imam, Faqih, Indro, yudhi ikut duduk lesehan di dalam rumah, tentu saja dengan Dareen di pangkuannya. Entah kenapa, dia begitu lengket dengannya seperti mengerti perasaan Nalendra yang lagi mendekati bundanya.
Acara tahlilan berjalan dengan lancar. Mereka mengobrol membahas banyak hal, bercerita apapun yang ingin mereka ceritakan.
"Teh, Dareen bobo tuh," kata pa Idris memanggil Rania yang sedang berada di ruang keluarga bersama mama dan ibu mertuanya juga keluarga yang lain.
Rania segera berdiri hendak mengambil Dareen, tetapi langsung berhenti melangkah ketika tahu Dareen tertidur di pangkuan Nalendra.
Pak idris segera mengambil Dareen dari pangkuan Nalendra. "Berat ya pak, biar saya aja," kata Nalendra merasa kasian melihat pak Idris menggendong Dareen yang cukup besar untuk ukuran anak usia 4 tahun.
"Ga apa-apa," jawab pak Idris tetap menggendong cucu kesayangannya sambil tersenyum. Terlihat kaki yang panjang dan ramping menjuntai di dari lengan pak Idris. Dareen memang anak yang bongsor. Tubuhnya tidak gemuk, hanya saja dia mempunyai badan yang tinggi.
Pukul setengah 9, Nalendra dan teman-temannya pamit pulang.
"Nanti aja, baru juga jam segini," kata pak Darmawan yang senang mendengarkan mereka bercerita tentang anaknya mendiang Ergha.
"Sudah malam, Pak. Pada udah mau istirahat," jawab Faqih.
"Inget yang di rumah ya?" sindir pak Darmawan lagi sambil tersenyum.
"Sebenarnya, mereka mau pindah tongkrongan aja pak," ucap pak Sulaiman. "Mereka mau pindah tongkrongan ke rumahku."
Pak Darmawan dan pak Idris tertawa mendengarnya.
"Mari pak, assalamu'alaikum," pamit mereka setelah bersalaman.
***
Pagi hari yang cukup cerah. Angin bertiup semilir menerbangkan nektar dari bunga yang sedang berkembang di halaman rumah Rania.
"Jadi kapan teteh pulang ke Bekasi?" tanya Bu Darmawan.
"Mungkin besok, Bu," jawab Rania.
"Surat-suratnya sudah ada di rumah bapak. Nanti kalau teteh udah pulang, bapak antar ke rumah," kata pak Darmawan, dibalas anggukan.
"Kenapa ga hari ini aja, bareng sama kita," tanya Febri.
"Ga bisa, bapak mau ada keperluan sebentar," jelasnya.
"Ya udah, kalau begitu berarti ibu dan bapak duluan pulang ke Bekasi," kata Bu Darmawan. Dia mencoba memahami perasaan Rania yang masih enggan untuk pulang ke rumahnya.
Keluarga Ergha pulang sore hari, menunggu Bu Sekar pulang dari mengajar dan pak Idris pulang dari perkebunannya. Sudah seminggu ini beliau tidak pergi ke perkebunan padahal sedang musim panen.
"Titip Dareen ya pak," ucap pak Darmawan.
"Iya, pak. Tenang saja," jawab pak Idris.
Malam itu Rania berkemas. Dia hanya membawa beberapa pasang bajunya dan baju Dareen. Dia berpikir akan segera kembali lagi ke Bandung begitu urusan di sana selesai. Dia juga sudah memikirkan akan menyekolahkan Dareen di Bandung saja.
Pagi hari, Rania sudah bersiap-siap memandikan Dareen dan menyuapinya.
"Teh, moal ngantosan mama uih?" tanya mamanya.
"Mama 'kan pulangnya juga siang kadang sore," jawab Rania.
"Nanti malam, mama sendiri dong di rumah," ucapnya.
"Ada Zyan," jawab Rania.
"Ibu pasti rindu Dareen. Dareen sini aja ya sama ibu," ujarnya memeluk Dareen erat.
"Ga, Dareen mau sama bunda aja" jawabnya menggelengkan kepala dengan mulut cemberut.
"Besok juga kan bisa ke sana sama zyan, naik kereta aja. Nanti Abah jemput di stasiun," kata pak Idris.
"Dareen mau naik kereta aja sama ibu," ujar Dareen.
"Tadi katanya mau sama bunda," tanya Rania tertawa. "Ngedenger kereta aja langsung berubah pikiran."
"Bunda, boleh aku sama ibu aja," rayunya dengan mata dikedip-kedipkan.
"Ih, anak bunda belajar dari mana ngedip-ngedip mata kaya gitu?" Rania tertawa mencubit pipinya yang gembil.
"Kata Om Zyan, kalau mau dituruti harus digini-gini matanya," ujar Dareen sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Setelah Bu Sekar berangkat ke Sekolah, Rania dan pak Idris segera bersiap. Rania yang akan menyetir mobil ke sana, tak tega rasanya meminta bapaknya untuk menyetir dengan jarak lumayan jauh.
"Malas sekali rasanya," pikir Rania.