Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 131



Bu Sekar banyak bercerita pada Rania tentang gosip yang masih beredar di lingkungannya, padahal sudah lebih dari tiga bulan. Ada rasa bersalah di hati Rania, dia merasa bersalah tidak jujur sedari awal pada tan masa kecilnya itu.


"Apa Rania salah menerima Nalendra?"


Bu Sekar langsung berkata jika Rania sama sekali tidak bersalah. Dia pun menjelaskan pada sang anak, jika Allah-lah Yang Maha menentukan jodoh seseorang.


Bukan salah sang anak, Nalendra mencintai dan melamarnya ketika Rania sudah tak bersuami. Bukan salahnya pula, dia menerima lamaran Nalendra karena Allah-lah Maha membulak-balikan hati seseorang. Bu Sekar tahu, jika sedari awal Rania berusaha menjauh dari Nalendra.


"Kapan Teteh mau bicara dengan Liana, apa perlu Mama anter?" tanya Bu Sekar, sedikit khawatir dengan kondisi sang anak.


"Entahlah, nanti siang Nalendra mau ngajak jalan-jalan sekalian nginep. Dareen pengen berenang, jadi Nalendra bilang siang aja sekalian kita nginep," terang Rania.


"Apa dia ngirim pesan ke Teteh, nanyain kabar Teteh?"


"Enggak, ga pernah. Kita emang jarang ngobrol lewat ponsel, ngobrol kalau ketemu aja. Mama kan tau sendiri, Rania sama dia emang ga terlalu deket dari SMA juga. Ngobrol seperlunya aja!"


Bu Sekar mengangguk, Liana dan anaknya memang teman sedari kecil. Namun, sejak kelas tiga SMA mereka tidak pernah berangkat sekolah bersama lagi. Setelah lulus SMA, mereka berkumpul kalau ada waktu luang saja.


Sementara itu, kabar kedatangan Rania ke rumah orangtuanya telah menyebar seperti angin yang berhembus kencang. Kabar tersebut pun telah sampai ke Liana. Dia juga telah mendengar jika Nalendra sedang pergi ke makam Ergha bersama Pak Idris tanpa Rania.


Liana segera keluar dari rumahnya, dia akan ke warung Ceu Empon dan menunggu Nalendra di sana. Liana juga meminta Sari menemaninya, tentu dengan sedikit memaksa.


Beberapa puluh menit berlalu, Nalendra tak kunjung menampakkan diri. Dia yang sedari tadi duduk di kursi yang disediakan, di depan warung Ceu Empon, mulai resah.


Tidak berselang lama, terlihat Dareen berjalan di depan diikuti oleh Nalendra dan Pak Idris yang sedang mengobrol.


"Daddy, aku mau jajan," pinta Dareen begitu sampai di depan warung Ceu Empon.


"Ayo, sama Abah aja!" ajak Pak Idris. "Aa kalau mau duluan beh, biar Dareen sama Bapak aja," ujarnya lagi.


Nalendra mengangguk, dia segera melangkahkan kakinya. Namun, baru saja beberapa langkah, Liana sudah berada di sampingnya.


"Hai, lama tak jumpa. Apa kabar?" ucap Liana tersenyum ramah.


"Alhamdulillah, baik," jawab Nalendra. Dia segera berlalu masuk ke dalam warung Ceu Empon. Dia tak mau orang-orang mengira kalau mereka sedang mengobrol di pinggir jalan.


"Daddy," panggil Dareen.


"Bapak kira udah duluan," ujar Pak Idris.


"Kita barengan aja pulangnya." Nalendra melirik sedikit ke belakang dirinya, mengkode Pak Idris.


Pak Idris pun paham dengan kode yang Nalendra berikan. Dia sedikit tahu tentang Liana yang menyukai Nalendra dan gosip yang berkembang di lingkungan rumah tentang anaknya.


"Nalendra," panggil Liana begitu melihat Nalendra keluar dari dalam warung Ceu Empon. "Bisakah kita bicara sebentar, ada yang harus aku obrolkan," ucapnya dengan nada sedikit memelas.