
Nalendra pun menekan kembali bel. Tak berapa lama seorang laki-laki berusia lanjut keluar dari dalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," ucapnya, membalas salam Nalendra.
"'Nak Nalendra, ada apa ke sini?"
"Assalamu'alaikum, pak." Nalendra mencium tangan pak Idris.
"Kebetulan lagi ada kerjaan dekat sini, jadi sekalian mampir mau ketemu Dareen. Kata teman-teman dia menanyakan saya waktu tahlilan kemarin," tutur Nalendra.
"Oh, mari masuk."
Nalendra pun masuk ke dalam rumah. Dia memperhatikan sekeliling tidak ada orang selain pak Idris.
"Dareen mana ya, pak?" tanyanya.
"Dareen lagi di rumah sakit. Sudah dua hari ini dia di rawat, demamnya ga turun-turun," terang pak Idris. "Ini saya juga mau ke sana lagi."
Seperti mendapat angin segar. Nalendra langsung tersenyum. "Apa boleh saya ikut menjenguk?" tanyanya sedikit ragu.
"Tentu, saya mau ngambil dulu tas. Sebentar ya."
Pak Idris keluar dengan menenteng tas yang berisi baju ganti Rania dan Dareen. Sebelum berangkat, memastikan semua aliran listrik aman dan hanya menyalakan lampu teras depan saja, mengunci semua jendela dan pintu.
"Ayo," ucapnya lalu memasukan tas dan totebag ke mobil yang akan dikendarainya.
"Bapak ga cape nyetir, ikut saya saja pak?" ajak Nalendra.
Pak Idris berpikir sebentar. "Baiklah." Lagi pula dia akan kembali lagi malam ini ke rumah, tidak ikut menemani di rumah sakit, pikirnya.
Nalendra mengambil tas dan totebag dari mobil pak Idris, lalu memasukan ke dalam mobilnya.
Jarak rumah Rania dan rumah sakit hanya kurang dari 20 menit perjalanan menggunakan mobil.
Nalendra berjalan di belakang pak Idris sambil menenteng tas dan totebag yang pak Idris bawa dari rumah, juga kantong belanja berisi cemilan dan mainan yang dia beli saat akan pergi ke rumah Rania.
"Tidak mungkin ku suruh dia membawanya, bisa-bisa tak dapat restu sebelum bertindak," gumamnya dalam hati.
Pak Idris membuka pintu ruang rawat, di sana hanya terdapat dua brangkar pasien.
"Assalamu'alaikum." Pak Idris memberi salam ketika masuk.
"Yee, Abah ...," teriak Dareen senang.
"Yang sebelah udah pulang, teh?" tanya pak Idris melihat brangkar pasien di sampingnya sudah kosong dan terlihat rapi.
"Iya, tadi siang," jawab Rania.
"Assalamu'alaikum, Hallo Dareen," sapa Nalendra membuat mata Dareen dan Rania membulat kaget.
"Om ...," teriak Dareen lagi. Dia terlihat senang bertemu Nalendra.
"Hallo, jagoan. Bagaimana keadaanmu?" tanya Nalendra.
Rania masih terkejut, tak percaya dengan yang dilihatnya. Nalendra ada di sini, bagaimana dia bisa ada di sini. Itulah yang dia pikirkan.
"Ko kamu ada di sini?" tanya Rania kemudian.
"Tadi ada kerjaan sekitar sini, jadi aku pikir sekalian aja liat Dareen," jawab Nalendra beralasan.
"Tadi 'Nak Nalendra datang pas bapak mau berangkat," kilah pak Idris yang melihat wajah Rania sedikit memelototinya.
"Ko bisa tau rumahku?" tanyanya lagi.
"Aku nanya ke Faqih, dia ga ngasih alamat jelasnya hanya ngasih petunjuk rutenya saja. jadi ya aku cari," jawabnya senang bisa melihat wanita bermata cokelat.
"Faqih ya," gumam Rania sedikit tidak percaya. Ah iya, dulu dia pernah main ke rumah. pikirnya.
"Om," panggil Dareen merentangkan tangannya meminta digendong.
"Om nya kasian baru dateng, Sayang," ujar Rania.
"Ga apa-apa, sini," sahut Nalendra mengulurkan tangan hendak menggendong Dareen.
Rania memandang bapaknya, pak Idris. Dia meminta dukungan agar Dareen tidak digendong oleh Nalendra, tetapi pak Idris malah menganggukkan kepalanya mengizinkan Darren di gendong. Rania mengerucutkan bibirnya tidak suka dengan sikap bapaknya. Nalendra yang menyadari, merasa gemas sekali ingin mencubit pipinya yang kemerahan.
Dareen banyak bercerita ketika di gendongan Nalendra, seperti anak pada ayahnya. Semua hal dia ceritakan, dari mulai sudah bisa bersepeda hingga kegiatannya di sekolah. Dareen juga menanyakan kemana Nalendra saat tahlilan kemarin.
"Om kemarin kerja," jawab Nalendra.
"Jauh ya, kemana?" tanya Dareen lagi.
"Luar kota itu di mana Om?"
"Mmm," Nalendra nampak berpikir.
"Luar kota itu, luar daerah bukan di Bekasi kaya kita tinggal sekarang. Seperti ketika Dareen ke Bandung, itu juga berarti Dareen keluar kota. Keluar dari Bekasi," jelas Riana.
"Iya, kaya yang bunda barusan bilang," sahut Nalendra.
"Jadi, Om luar kotanya ke Bandung?"
Rania tertawa, ternyata Dareen masih ingin tahu Nalendra kemana, pikirnya.
"Om kemarin ke Kalimantan. Ke luar pulau, Jauuuhhhh sekali dari sini, Om harus naik pesawat dulu," kata Nalendra mencoba menjelaskan pada Dareen.
"Dareen mau naik pesawat. Nanti kalau Om ke sana lagi Dareen boleh ikut 'kan bunda?" tanya Dareen pada Rania, membuat bundanya langsung gelagapan.
"Ah, kayanya bunda harus ke minimarket yang di bawah, ada yang harus bunda beli." Rania langsung berdiri dan pergi.
Pak Idris yang mengerti akan kelakuan anaknya tersenyum. Rania pasti merasa canggung.
"Abah nyusul bunda dulu ya, Abah juga mau beli sesuatu." ujar pak Idris. "titip Dareen dulu ya." pak Idris segera menyusul Rania keluar.
Pintu kamar terbuka, seorang perawat masuk mendorong troli berisi obat dan alat kesehatan yang lainnya.
"Hallo, Dareen. Ayo kita minum obat dulu," ujarnya menghampiri mereka.
"Maaf, bundanya mana ya?" tanya sang perawat. Dia harus meminta izin dulu pada Rania hendak memberikan obat pada Dareen.
"Bundanya sedang keluar sebentar. Ga apa-apa, biar nanti saya yang bilang," ucap Nalendra.
"Oh, mungkin ini ayahnya," pikir perawat.
Dareen langsung memeluk erat leher Nalendra, tidak peduli walaupun tangan kirinya masih terpasang infus.
"Dareen takut? 'kan biar cepat sembuh, ayo minum obatnya dulu," ujar Nalendra.
"Ayo anak jagoan, katanya mau ikut. 'Kan kalau Dareen sembuh nanti kita bisa jalan-jalan," rayu Nalendra berusaha melepaskan pelukan Dareen.
"Oh, Dareen lagi manja ya karena ada ayah," ujar perawat tersebut tanpa tau perkataannya membuat Nalendra tersenyum senang.
"Ayo Sayang, nanti kita jalan-jalan."
Akhirnya Dareen melepaskan pelukannya dan mau meminum obat yang diberikan perawat.
"Anak pintar," ucap sang perawat.
Sementara itu Rania sedang berkeliling di minimarket, mencari cemilan yang ingin dia beli. Tidak, dia tidak sedang mencari cemilan, tetapi mencari sesuatu yang mulai ada di hatinya hanya saja dia tidak tahu perasaan apa itu.
"Teh, dari tadi cuma keliling aja. Teteh mau cari apa?" tanya pak Idris membuyarkan lamunannya.
"Beliin sikat gigi, Bapak lupa tadi ga kebawa," pintanya.
Rania pun menuju kasir dengan hanya membeli satu buah sikat gigi, membuat pak Idris bergidik.
"Teh, minum kopi dulu yuk di bawah," ajak pak Idris menunjuk sebuah cafe yang berada dekat dengan lobi rumah sakit.
"Teteh kenapa?" tanya pak Idris.
"Ga kenapa-kenapa," jawabnya.
"Ish, Bapak liat dari tadi kaya orang kebingungan."
"Pak, kenapa bapak bawa Nalendra ke sini?" tanya Rania akhirnya.
"Emang kenapa? tadi Nalendra ke rumah pas bapa mau pergi. Dia nanyain Dareen. Ya udah bapak cerita kalau Dareen lagi sakit di rawat di sini." ungkap pak Idris.
"Kenapa bapak ga nyuruh dia pulang aja!"
"Ga boleh gitu ke tamu mah. Ga boleh kita ngusir tamu kecuali kalau tamunya ngajak ribut. Apanan Nalendra mah ga buat keributan, dia juga cuma mau nengokin Dareen. Lagian bapak juga tadi ikut mobilnya," tuturnya.
"Nanti Bapak pulang gimana?"
"Ya ikut lagi, kalau ga ikut tinggal naik ojek online. 'Kan sekarang mah gampang ada ojek online," jelas pak Idris.
"Rania takut dia bukan hanya sekedar nengokin Dareen."
"Takut dia mau godain teteh ya?"