
"Bundaa, aku mau beli sepeda sama Om." Dareen menunjuk ke arah pintu.
Rania melihat di pintu, sudah berdiri seorang laki-laki berbadan tinggi, lumayan tampan, berkulit sawo matang sedang tersenyum ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsalam, 'Ndra ngapain ke sini, sama siapa?" tanya Liana sambil berusaha menengok ke arah luar pintu.
"Hai, 'Na. Sendiri aja, aku ga tau kamu ada di sini," jawab Nalendra kemudian duduk di kursi kosong tanpa dipersilahkan.
Rania memandang ke arah Liana dan Nalendra bergantian. "Apa kalian sengaja janjian ke sini dan pura-pura kebetulan?" celetuk Riana mengernyitkan alisnya. Riana tahu jika mereka berdua masih belum menikah.
"Enggaklah, enak aja!" seru Liana menatap tajam Riana.
Riana terkekeh melihat ekspresi wajah Liana. "Biasa aja kali, ga usah pake teriak," sergah Riana."
"Ayo, Om. Katanya mau nemenin aku beli sepeda," ujar Dareen yang sedari tadi sudah tidak sabar.
"Nanti aja, Sayang. Nanti belinya, tunggu Om Zyan bentar lagi pulang," jawab Riana. Tidak enak rasanya jika Dareen pergi bersama Nalendra. Apalagi seingat Rania Dareen baru bertemu Nalendra saat hari pemakaman kemarin.
"Ga apa-apa, waktu hari Kamis kemarin dia cerita mau beli sepeda baru sama ayahnya. Tadinya aku sama temen-temen mau langsung beliin, tapi mendingan ajak dia sekalian, takutnya tar salah beli lagi," ujar Nalendra.
"Teman-teman?" tanya Rania bingung karena dia sempat bilang jika dia datang sendiri.
"Biasa ... mereka ternyata sibuk, paling ke sini nanti sore. Jadi ya ... akulah sendiri," kata Nalendra berharap Rania percaya apa yang dia katakan.
Dareen menghampiri Nalendra meminta didudukan di pangkuannya. Rania heran melihat Dareen yang langsung akrab dengan Nalendra, padahal ini baru pertemuan mereka yang kedua.
"Oh, yang lain mau ke sini. Siapa aja?" tanya Liana penasaran.
"Biasalah, Yudhi, Imam, Faqih, Indro, Bastian, siapa lagi ya. Yang biasa nongkrong kita aja biasa," jawab Nalendra.
Nalendra memang teman satu SMA dengan Rania dan Liana, tetapi juga dia teman satu kelas Ergha ketika kuliah. Tidak hanya Ergha, Indro, Bastian, Roni juga teman satu kampus. Namun, satu tongkrongan juga dengan teman-teman SMA Nalendra karena mereka biasa berkumpul di rumah Nalendra.
"Pak." Nalendra segera bangkit memberi salam pada bapaknya Riana sambil menggendong Dareen.
Bapak Rania tersenyum melihat cucunya dalam gendongan Nalendra. "Hei, sama siapa?"
Beliau pun ikut duduk menemani mereka mengobrol karena di sana hanya ada Rania dan Liana takut terjadi fitnah.
"Ayo, Om," rengek Dareen.
"Dareen, ga boleh kaya gitu. 'Kan bunda bilang nanti tunggu Om Zyan pulang," kata Rania sedikit menaikan suaranya.
"Kenapa, Dareen mau apa emang?" tanya Pak Idris, bapaknya Riana.
"Dareen mau beli sepeda, Abah. kemaren ayah janji mau beliin Dareen sepeda, tapi ayahnya ga ada." raut mukanya berubah hendak menangis. Rania menarik nafas pelan, rasanya masih sakit melihat anaknya merindukan ayahnya.
"Oh, sini biar sama Abah aja," ujar pak Idris mengulurkan tangannya hendak menggambil Dareen dari pangkuan Nalendra.
"Dareen mau sama Om aja," ujarnya.
"Ya udah, Abah temenin ya. Abah juga kan mau ikut jalan-jalan, mau ikut liat sepeda." rayu pak Idris.
Pak Idris tahu bahwa Rania tidak mungkin mengizinkan Darren pergi berdua dengan Nalendra. Dia juga tidak enak jika menolak Dareen yang baru saja ditinggal ayahnya.
"Om ...." Dareen memandang Nalendra dengan pandangan memelas, tetapi membuatnya tampak menggemaskan.
"Iya, ayo beli sama Om sama Abah juga. 'Kan nanti Om harus bawa sepedanya trus Dareen sama Abah," ujar Nalendra membujuk Dareen agar mau berangkat ditemani pak Idris.
Sejujurnya Nalendra senang Dareen mau bersamanya, tetapi dia juga tidak enak pada keluarga Rania karena untuk sekarang dia hanyalah teman dari Ergha, alm. suaminya Rania.
"Ayo, Om."
"Tunggu ya, Abah mau ganti baju dulu," ujar pak Idris karena beliau masih memakai sarung.
"Cepet, Abah. Jangan lama, nanti keburu habis sepedanya," ujarnya membuat Liana tertawa terbahak.
"Maaf ya 'Ndra, jadi ngerepotin," ucap Rania merasa tidak enak.
"Ga apa-apa, lagian ini buat Ergha juga," ujar Nalendra.
Rania menitipkan uang buat beli sepeda pada bapaknya dan berpesan jangan sampai Nalendra yang membayarnya. Rania sungguh tidak enak hati pada Nalendra.
***
Sudah 5 hari sejak kepergian Ergha, Rania masih berada di rumah orangtuanya. "Andai bisa menjadi seperti Dareen yang bisa tersenyum, tertawa tanpa memikirkan bagaimana cara bertahan tanpa Ergha," gumamnya dalam hati.
Dareen sangat senang ketika mendapat sepeda baru. Setiap hari dia selalu mengajak pak Idris atau pun Zyan menemaninya bermain sepeda. Hanya beberapa kali dia menanyakan keberadaan ayahnya, tetapi dia lebih sering menanyakan Nalendra.
"Bunda, Om baik ko ga datang lagi?" selalu itu yang dia tanyakan.
"Om Nalendra rumahnya jauh, juga dia 'kan harus kerja, Sayang," jawab Rania.
Ya, mungkin karena Nalendra telah memenuhi keinginan Dareen membeli sepeda baru dan mengajaknya berjalan-jalan membuatnya tampak berkesan.
"Teh," panggil Bu Sekar, mamanya Rania. Menghampiri Rania dan duduk bersamanya di depan rumah melihat Dareen bermain bersama Abahnya.
"Iya, Mah," jawab Rania.
"Apa ga apa-apa nanti mama ga ikut nemenin teteh ke Bekasi?" tanya Bu Sekar.
"Ga apa-apa, kan ada Bapak yang nemenin."
"Sama Zyan aja gitu ya," kata Bu Sekar.
"Ga usah, Mah. Lagian kan kasian dia lagi kuliah keganggu, sebentar ko sampai selesai semua surat-surat dan urusan ke kantor juga asuransi dan yang lainnya."
"Paling mama bisa ke sana Sabtu Minggu aja," ujarnya.
"Iya, ga apa-apa. Nyante aja," ucapnya meyakinkan mamanya.
Bagi seorang Ibu, mama, bunda atau apapun panggilannya, seorang anak tetaplah akan menjadi seorang anak yang selalu dia khawatirkan, walaupun mereka sudah besar dan berumah tangga. Apalagi dalam kasus seperti yang dialami Rania ditinggal suaminya meninggal, tentu seorang ibulah yang terdepan merangkul anaknya. Memberi perlindungan dan tempat ternyaman buat anak-anak mereka, walaupun terkadang tidak anaknya sadari.
"Biar Dareen di sini aja ya," pinta Bu Sekar.
"Jangan," ucap Rania tersentak. "maaf," lanjutnya karena mengeraskan suara pada mamanya.
"Biar Dareen sama aku aja, Mah."
"Nanti dia sama siapa di sana, 'kan teteh sibuk ke sana ke sini ngurus-ngurus," ucapnya.
"Kan ada Bapak yang nemenin, lagian dia harus sekolah dulu, Mah. Biar nanti Rania aja yang ngurusin semuanya, 'kan ada keluarga Ergha juga di sana," jawab Rania.
"Iya atuh. Kumaha teteh aja Weh nu terbaik," ucapnya sedikit merajuk.
Rania menyenderkan kepala di bahu mamanya. Dia memejamkan mata, menarik nafas pelan.
"Mah ..., haturnuhun selalu ada buat Rania," ucapnya. "ini masih terasa berat buat Rania, bagaimana dengan Dareen, bagaimana jika dia menanyakan ayahnya lagi. Apa yang harus Rania katakan?" air matanya luluh di pipinya.
Bu Sekar merangkul pundak sang anaknya dan membelai kepala Rania lembut. "Allah Maha Tahu yang terbaik buat hambanya. Jangan sesekali meragukannya, Inilah yang terbaik menurut-Nya. Allah pasti telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah buat teteh juga Dareen. Dareen anak yang shaleh, kuat dan cerdas. Dia bahkan mungkin tak akan ingat kejadian ini, Biarkan dia mengetahui kalau ayahnya seorang yang sangat shaleh, sangat ramah pada siapapun. Biarkan dia tumbuh dengan menyimpan kenangan yang sangat indah," tutur Bu Sekar.
Rania memeluk Bu Sekar, ingin rasanya dia menumpahkan air mata yang dipendamnya. Namun, dia harus berusaha menguatkan diri, tidak boleh terlihat cengeng lagi. Bukan hanya untuknya, tetapi untuk anak semata wayangnya juga, Dareen.