Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 114



Setiap sekolah tentu mempunyai aturan yang harus diikuti oleh seluruh warga sekolah tersebut. Begitu pun di sekolah tempat Rania mengajar, di sana ada peraturan yang harus ditaati oleh siswa dan para guru.


Peraturan guru, tertuang dalam lembaran surat kontrak kerja mereka. Jika mereka sudah menandatangani, berarti guru tersebut setuju dengan semua peraturan yang akan mengikatnya.


"Pak, maaf. Sesuai yang disampaikan istri saya di telepon kemarin. Saya mau meminta izin agar istri saya diperkenankan resign dari sekolah ini."


"Sebenarnya Bu Rania tidak bisa sembarangan resign, ada peraturannya. Apa tidak bisa diundur saja keberangkatannya. Hanya tinggal tiga atau empat bulan lagi!"


"Maaf, rencana awal kami juga seperti itu. Namun, rasanya saya tidak akan tenang jika meninggalkan istri saya sendiri untuk waktu yang lama."


Kepala sekolah tersebut beranjak dari kursinya. Dia mengambil sebuah map yang sebelumnya telah dia siapkan di meja. "Ini kontrak kerja yang ditandatangani oleh Bu Rania. Di sana tertera sebelum Bu Rania memenuhi mengajar selama satu tahun, Bu Rania harus membayar finalti."


Nalendra mengambil secarik kertas yang ditunjukan oleh Pak kepala sekolah tersebut. Dia membaca poin-poin peraturan yang mengikat istrinya.


"Baiklah, kami akan membayar finaltinya." ucap Nalendra. "Sekali lagi saya benar-benar minta maaf karena keputusan saya yang mendadak seperti ini. Terima kasih bapak sudah mau mengerti dan menghormati keputusan kami."


Pulang dari sekolah, Nalendra dan Rania ke rumah orangtua Rania. Mereka harus membereskan semua yang akan mereka bawa.


Bu Sekar dan Pak Idris membantu Rania yang sedang mengepak barang-barang Dareen. "Teteh, Bapak pengen nganter Teteh dugi bandara Mun tiada mah."


"Ya, ayo. Nginep aja di apartemen Nalendra. Ayah sama Ibu Nalendra juga mau ikut katanya."


"Bener, boleh?"


"Nya boleh atuh, masa ga boleh."


"Ehm, Teteh. Lebih ngajauhan dibawa salaki (suami)," ujar Bu Sekar sendu.


"Jangan sedih, Mah. Cuma sebentar, anggap aja mereka lagi liburan," timpal pak Idris menenangkan Bu Sekar yang hendak menangis.


"Nanti juga Rania pulang. Minta doanya saja."


Rania hanya membawa satu koper bajunya, satu koper ditambah satu travel bag baju Dareen. Dia juga hanya membawa satu troli besar mainan Dareen.


Setelah semua barang mereka tata di bagasi mobil Nalendra. Mereka pun berangkat ke rumah orangtua Nalendra untuk mengambil pakaian yang sudah mereka kemas sebelumnya.


"Assalamu'alaikum, Besan."


"Wa'alaikumsalam, kumaha damang?" jawab Pak Idris.


Mereka semua masuk ke rumah, mengobrol selagi Nalendra mengangkut beberapa koper milik istri dan anaknya, dibantu Alaric dan Zyan.


Setelah semua siap, mereka berangkat ke Jakarta menuju apartemen Nalendra. Mereka akan menginap semalam di sana karena jadwal keberangkatan Nalendra di ubah menjadi besok malam.


Mereka tiba malam hari karena jalanan Jakarta sudah ramai kembali.


"Teh, Dareen biar tidur sama kita aja," ujar pak Idris yang masih merindukan cucu satu-satunya.


Rania pun mengangguk setuju. Pak Idris dan Bu Sekar tidur di kamar Dareen, sedangkan Pak Sulaiman dan Bu Shafira tidur di kamar yang biasa mereka tempati.


Rania menarik koper ke arah lemari, dia mulai mengeluarkan baju-bajunya dan menyimpan di lemari.


"Cukup ga?" tanya Nalendra.


"Enggak, kayanya!"


"Tumpuk dulu aja di sana, nanti kita pulang baru bereskan. Lagian itu baju belum mau dipakai juga kan' ya!"


Rania hanya mengangguk, lalu membereskan semuanya dengan segera. "Kamu ga beresin baju buat dibawa ke sana?"


**


Nalendra dan Rania juga keluarganya shalat magrib di Bandara internasional Soekarno-Hatta karena jadwal keberangkatan pesawat pukul 7 malam.


"Teh, ati-ati di negeri orang. Jangan jalan-jalan terlalu jauh dari tempat tinggal kalau ga sama Si Aa mah." pak Idris memberi pesan pada putrinya.


"Jaga kesehatan, selalu sedia makanan di rumah. Biar kalau si Aa sibuk juga ga pusing nyari tukang sayur," ucap Bu Sekar mengingatkan.


"A jagain Teh Rania. Jangan kebanyakan lembur kaya dulu, sekarang mah ada Teteh yang nungguin Aa pulang apanan!" pesan Bu Shafira pada Nalendra.


"Ingat, jangan sampai mereka kelaparan, kehabisan makanan. Kalau di Jakarta mungkin Teteh bisa langsung pesan online atau belanja ke supermarket. Di sana mah kan tempat baru. Jagain Teh Rania juga Dareen."


Rania dan nalendra hanya tersenyum mengangguk, mendengarkan semua nasehat yang orangtua mereka berikan.


"Dareen, Abah pasti kangen sama Dareen." Pak Idris menciumi wajah Dareen hingga dia tergelak kegelian.


"Geli, Abah." Dareen terkekeh.


"Kakek juga mau meluk Dareen. Nanti jangan lupa telepon kakek ya." Dareen mengangguk tersenyum, "Kakek sedih ditinggal Dareen."


"Jangan sedih, Kakek. Nanti aku bawain oleh-oleh yang banyak kalau pulang," ujarnya.


"Janji ya," Pak Sulaiman mengangkat jari kelingkingnya.


"Iya, janji." mereka membuat janji kelingking. "Daddy, jangan lupa nanti beli oleh-oleh yang banyak!"


Mereka tertawa oleh tingkah lucu Dareen yang sangat menggemaskan. Nalendra dan Rania pun bersalaman, berpelukan, pamit pada orangtua mereka.


Pesawat yang ditumpangi Nalendra dan keluarga kecilnya, take off pukul 7 malam. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam tersebut, tidak membuat Dareen bosan atau pun tertidur seperti perjalanan Bandung Jakarta ataupun sebaliknya yang selalu Dareen isi dengan tidur.


Dia begitu senang bisa naik pesawat. Dia terus berceloteh dan bernyanyi, membuat Rania beberapa kali mengingatkan Dareen untuk memelankan suaranya.


"Pelankan suaramu Nak', lihat mereka sedang beristirahat," titah Rania sambil menunjuk orang yang di seberang samping mereka.


Mereka tiba hampir pukul 10 malam karena perbedaan waktu Singapore yang satu jam lebih cepat dibanding dengan waktu di Indonesia. Aziz sudah menunggu mereka di pintu kedatangan. Dia melambaikan tangan ketika melihat Nalendra yang berjalan di samping Rania.


"Biar saja bantu," ucap Aziz mengambil alih troli yang di dorong Nalendra. Aziz merasa tidak enak melihat Rania menggendong Dareen yang berat.


Biar dia bisa menggendong anaknya. pikir Aziz.


Inilah pertama kalinya Rania ke luar negeri dan Singapore menjadi negara pertama yang dia datangi, itu pun karena ikut suaminya.


Walaupun hari sudah malam, sepanjang perjalannya menuju apartemen masih terlihat kesibukan orang-orang mencari hiburan malam.


Aziz membantu Rania mendorong dua koper dan travel bag yang disimpan di atasnya. Nalendra sendiri harus menggendong Dareen yang masih saja tertidur pulas.


"Assalamu'alaikum, selamat datang di kamar kita," ujar Nalendra begitu pintu dibuka.


Aziz hanya sampai pintu apartemen, dia pamit untuk kembali ke kamarnya dengan beralasan sudah larut malam.


Rania mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen. Lebih kecil dari apartemen di Jakarta. pikirnya.


Nalendra yang baru saja menidurkan Dareen di kamarnya, langsung menghampiri Rania yang sedang berdiri di living room melihat pemandangan Singapore malam hari dari jendela apartemen.


"Ah, Ndra." ujar Rania setengah berteriak karen terkejut. Nalendra langsung memboyong Rania tanpa izinnya.


"Ayo, masuk kamar!"