Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 144



Para tamu undangan yang hadir, begitu terkesima melihat Rania. Kebanyakan dari mereka adalah rekan kerja dan klien Nalendra dari dalam maupun luar negeri.


Semula, mereka tidak menyangka jika Nalendra sudah menikah. Namun, begitu melihat Rania, mereka berpikir pantaslah dia langsung menikahi wanita pujaannya karena takut wanita itu berubah pikirannya kembali. Bahkan sampai ada yang tertawa, saat tahu Nalendra menyimpan perasaannya selama belasan tahun pada istrinya tersebut.


"Apa kamu lelah?" tanya Nalendra melihat Rania yang nampak kelelahan setelah lebih dari satu jam berdiri untuk berfoto dengan para tamu.


"Tidak, aku masih kuat," lirih Rania memberi senyuman pada Nalendra.


"Sepertinya Dareen asik berkeliling stand makanan bersama para Om nya!" Nalendra mengedarkan pandangan mencari anak tersebut.


Rania terkekeh. "Biarkanlah, itu artinya dia senang dan sehat."


Dareen memang lebih memilih bersama Zyan dan Alaric. Dia tidak senang jika harus berada di samping Daddy dan bundanya berada di altar, menjadi pusat perhatian sehari itu. Sejak tiba beberapa hari lalu, dia senang mengikuti kedua Om nya kemanapun mereka bergerak. Dia senang diajarkan oleh kedua Om nya cara menggambar secara digital di komputer, Tab, ataupun ponsel.


Kini Rania dan Nalendra berkeliling menyapa para tamu yang datang. Dia memperkenalkan Rania pada semua rekan dan klien nya.


"Dia tidak terlihat seperti sudah punya anak ya?" bisik salah satu rekan sekantor Nalendra pada temannya yang lain.


"Kata pak Aziz, dia seusia pak Nalendra."


"Ya pasti seusia, kan' teman satu kelas di SMA!" timpal yang lain.


"Dia mungil, gue kira lebih tinggi dari itu!" ujar Nafa, sekertaris salah satu direktur di perusahaan Nalendra.


"Tapi kebanyakan cowo tinggi kaya pak Nalendra lebih memilih cewe mungil, katanya lebih enak kalau pelukan." jawab Bian. "Gue juga lebih suka cewe mungil seperti itu!"


"Bukannya cewe Lu badannya tinggi!"


"Iya."


"Terus maksud Lu lebih suka cewe mungil?"


"Iya suka aja, kalau cewe gue ya udah takdir gue sama yang badan tinggi. Mau gimana lagi, suka-suka aja!" jawabnya asal.


"Dia start dari SMA. Nah Lu, baru kemaren!" Biar tertawa terbahak menertawakan temannya yang patah hati.


Kisah tentang Nalendra yang merahasiakan cintanya selama belasan tahun sejak SMA, sudah bukan rahasia lagi di perusahaan tempatnya bekerja. Mereka begitu terharu mendengar kisah cintanya.


"Saya mendengar kisah kalian, bagaimana mungkin selama belasan tahun?" Mr. Seto, Chairman perusahaan Nalendra berusaha mengulik cerita mereka.


Nalendra tertawa melirik Rania yang wajahnya merona karena malu. "Saya juga tidak tahu. Perasaan itu selalu ada dan bertambah. Mungkin sudah takdirnya seperti itu," jawab Nalendra tersenyum.


"Saya ikut bahagia mendengar kisah kalian," ucap Mrs. Seto. "Ketika mendengar dari suami, saya tidak terlalu percaya. Tapi ketika melihat kalian, saya mengerti kenapa Pak Nalendra mampu menyimpannya hingga belasan tahun!"


"Terima kasih," ucap Rania pada Mrs. Seto.


Malam harinya, tidak ada yang berani menganggu Rania dan Nalendra yang terus berdiam di kamar hotel, melewatkan makan malam mereka. Bukan karena malam pertama mereka karena itu sudah terlewat lama, tetapi karena mereka tahu kedua pengantin tersebut kelelahan. Apalagi Rania dalam keadaan hamil empat bulan. Sedangkan Dareen masih asik bersama dengan kedua Om nya.


"Sayang, pernahkah kamu menyukaiku saat kita di SMA dulu?" tiba-tiba saja Nalendra melontarkan pertanyaan pada Rania, yang membuat istrinya mengernyitkan dahi.


"Menyukai, maksudnya?"


"Aku tahu, dulu saat SMA kamu sudah mempunyai pacar. Namun, terkadang aku merasa kamu memperhatikanku."


Rania menunduk. Ya, terkadang Rania memang memerhatikan Nalendra. Berawal dari penasaran karena wajah yang mirip dengan Nata, tetapi rasa penasaran itu entah sejak kapan berubah menjadi perasaan yang lain.


"Ya, aku kan sudah cerita soal itu!"


"Tak adakah terbersit sedikitpun rasa suka gitu sama aku?"


Rania menarik napas dalam. "Bolehkah menjadi rahasia aku saja?"


"Aku ingin mendengarnya!"