Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 108



Jantung Rania berdegup lebih dari normal ketika dia memutuskan akan memakainya. Malu sekali, pikirnya.


Dia merebahkan diri di tempat tidur, lama dia memandangi langit-langit. Pandangannya beralih ke arah pintu, tidak ada tanda-tanda Nalendra akan datang, menyusulnya ke kamar.


"Apa aku harus ke bawah, dengan pakaian seperti ini!" gerutunya, mendekapkan kedua tangan ke pipinya yang terasa panas, malu rasanya membayangkan yang akan terjadi.


Dia berjalan keluar dari kamarnya dan turun ke ruang keluarga. Nampak Nalendra sedang menyenderkan kepalanya ke bahu sofa sambil memejamkan mata.


Rania sedikit cemberut melihatnya, Apa aku harus balik lagi berganti pakaian? pikirnya, lalu berbalik ke arah tangga. Namun, langkahnya terhenti saat menaiki pijakan pertama, dia kembali ke ruang keluarga.


Begitu masuk ke dalam ruang keluarga, Rania terkejut melihat Nalendra yang tengah duduk menonton. Mereka saling memandang terkejut.


Ingin sekali Rania berbalik arah, berlari ke dalam kamar. Namun, kakinya berat untuk digerakkan. Dia hanya mematung berdiri di sana.


Nalendra beranjak dari duduknya, menghampiri Rania yang mematung menatapnya. Dia tersenyum menatap Sang istri yang memakai lingerie, menampakkan sebagian besar kulit tubuhnya.


"A-aku ...," Rania tidak dapat melanjutkan lagi ucapannya. Nalendra tersenyum mengangkat dagu Rania dan menciumnya lembut.


"Aku menyukainya," ucap Nalendra tersenyum. Dia menarik tangan Rania ke arah sofa. Dia mendudukkan Rania di pangkuannya.


Rania memeluk Nalendra sambil tersenyum. Dia terkekeh, "Maaf, aku malu sekali!"


"Aku suka, aku senang kamu mau pakai baju begini di hadapanku. Aku yang meminta Ibu membelikan baju tidur buatmu. Aku senang kamu memakainya," ujar Nalendra mengeratkan pelukan.


Rania menjauhkan wajahnya, memandang Nalendra tajam. "Kamu meminta ibu? ih malu banget tau. Kenapa harus minta Ibu yang beli! Kainnya sih lembut, tapi coba liat ini ...." Rania memegang kain lingerie yang dipakainya. Menunjukan pada Nalendra, betapa kain itu tipis dan transparan.


"Tapi, aku suka." Nalendra tersenyum melihat Rania yang cemberut. Nalendra mencium kembali bibir Rania. Mereka bertautan sampai terengah kehabisan napas.


"Ayo!" Nalendra berdiri membuat Rania mengeratkan pelukannya, kakinya melingkar di pinggang Nalendra.


"Turunkan aku!"


"Apa kamu masih belum sadar kalau suamimu seorang yang kuat. Ayo!" Nalendra menggendong Rania ke kamarnya.


"Ndra, aku takut," ujar Rania masih mengeratkan pelukannya, rasanya ngeri di gendong menaiki tangga.


"Lihat aku!" Rania perlahan menjauhkan wajahnya dari tengkuk Nalendra, dia memandang Suaminya. Nalendra langsung membekap bibir Rania dengan bibirnya. Dia tidak melepasnya sampai mereka tiba di kamar.


Nalendra merebahkan Rania di tempat tidur. Dia mengelus rambut hitam istrinya.


"Aku merindukanmu," ucap Nalendra sebelum dia mencium Rania, menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya.


Udara dingin kota Bandung tidak membuat mereka menghentikan pergumulan panasnya. Melepas rasa rindu yang mereka rasakan kala berjauhan. Sejam berlalu, Rania menyenderkan kepalanya di dada bidang Nalendra yang sedang bersandar di tumpukan bantal.


Tangan Nalendra tak hentinya mengelus rambut Rania. "Aku selalu tertawa kalau ingat dulu," ucap Nalendra.


"Dulu yang mana?"


"Sayang, apa kamu ingat dulu pernah pingsan sehabis tes olahraga?"


"Ya, aku ingat. Apa kamu menertawakan ku karena itu?"


"Enggak, aku berlari ke arahmu. Aku ikut mengangkatmu ke ruang UKS. Kamu tau, aku kesal saat itu, rasanya ga rela badanmu dipegang oleh laki-laki lain."


Rania tertawa, "Kenapa ga kamu angkat sendiri aja!"


"Malulah, nanti ketauan aku suka kamu."


"Ga seru banget!"


"Ya, kenapa ga bilang aja kamu suka sama aku. Beres kan'!" tegas Rania. "Dulu saat SMA, aku senang melihat seseorang ke mesjid setelah dari kantin. Dia selalu berpuasa ketika ujian, bahkan mungkin saat ujian dilaksanakan pun, dia dalam keadaan berwudhu." ungkap Rania.


Nalendra tertawa terbahak, "Benarkah?"


"Iya!"


"Apa karena wajahku mirip mantanmu itu hingga kamu memperhatikanku?"


Rania memukul pelan dada Nalendra, "Kamu dan dia, dua orang yang berbeda. Lagian kalian tidak mirip, dia berkulit putih dan seorang cerdas. Tapi manja, mungkin karena bungsu."


"Maksudmu, aku tidak cerdas?"


"Aku tuh dulu suka kesal kalau pelajaran bahasa Inggris ada tugas kelompoknya. Ga ada yang bener satu pun. Kesal!"


Nalendra tertawa kembali, "Maaf, yang penting kan' sekarang aku pintar!" Nalendra mencium puncak kepala Rania.


"Iya, tapi kamu terkadang benar-benar membuat aku kesal. Kamu selalu saja ngatain aku. Waktu tes agama, kamu bilang 'kenapa musti ngapalin padahal doa itu dibaca setiap solat!', lalu saat berdoa pulang kamu juga ngatain aku 'kenapa selesai berdoa tangannya diusapkan ke mulut aja, bukan seluruh wajah!', lalu saat lahiran Dareen aku ingat banget kamu bilang aku kaya bebegig!"


Nalendra kembali tertawa terbahak. "Kamu masih mengingat itu semua, wah ... ternyata istriku mengingat perkataanku dari SMA dulu!" Nalendra mencubit gemas hidung Rania. "Maafkan aku, tapi bukankah itu berarti aku selalu memperhatikanmu. Aku ingin berkata, kamu sangat cantik ketika menghafal doa, kamu sangat mempesona ketika menunduk untuk berdoa, kamu sangat-sangat cantik ketika menggendong dan menyusui Dareen. Jujur saja, aku ingin berada di sampingmu, melihatmu menyusuinya. tapi, kamu membelakangiku!"


"Iyalah, masa aku ngasih asi di hadapanmu dan teman-temanmu. Tapi nanti, kalau kita dikasih rezeki anak lagi, dengan senang hati kamu boleh melihatnya dari dekat."


"Aku ga mau kalau hanya melihat!"


"Ih, dasar!" Rania kembali menepuk dada Nalendra. Dia melingkarkan tangannya di dada suaminya. "Ndra ...."


"Sayang, bisa ga kamu ganti panggilannya. Masa manggil 'Ndra' terus!" keluh Nalendra.


"Emang mau dipanggil apa? Mau aku panggil Daddy Dareen, Ehm?"


Nalendra terkekeh, "Panggil Sayang atau Honey atau apa gitu!"


"Kalau begitu aku panggil Nalendra aja," ujar Rania.


Nalendra tertawa, dia langsung merebahkan kepala Rania di bantal dan mengungkungnya.


Rania menelusuri wajah Nalendra dengan jarinya, menarik tengkuk Nalendra dan mencium bibir suaminya.


"Ndra," Rania terkekeh. "Maaf, itu sudah kebiasaan."


"Aku ingin mengobrol agak serius denganmu," lanjut Rania.


Nalendra kembali duduk ke posisi semula, Rania pun kini kembali bersandar di bahu Nalendra. Tangan mereka berpegangan, menyalurkan segala yang dirasa.


"Bagaimana caraku menjelaskan pada Liana?" tanya Rania. "Tadi saat aku menengoknya, sikap dia tidak seperti biasa. Cara bicaranya seperti sedang kesal padaku. Apa dia sudah tahu jika kamu adalah suamiku?"


Nalendra terdiam, "Aku ga tau. Tapi waktu hari Minggu malam, Habib, Indro, Faqih mengirim pesan padaku, mereka mengatakan hal yang sama. Mereka bilang jika Liana menghubungi mereka bertanya siapa sebenarnya istriku. Mereka menjawab tidak tau, tapi mereka pun bilang ada kemungkinan Liana sudah tahu kalau kamu istriku."


"Kenapa dulu kamu deketin dia kalau ga hanya PHP saja!"


"Entahlah, aku ga berniat PHP orang. Aku hanya ingin mengetahui tentangmu, karena aku tau rumah kalian dekat dan teman sejak kecil."


"Sejujurnya aku merasa bersalah sama dia. Aku merasa seperti aku merebut kamu darinya. Padahal aku tau dia menyukaimu."


"Sayang, kamu tidak pernah merebutku dari siapapun. Dari dulu aku single dan aku yang terlebih dahulu menyukaimu, mendekatimu, melamarmu. Jadi jangan pernah berpikir kalau kamu merebutku dari wanita lain, karena akulah yang menginginkanmu lebih dulu."


Rania tersenyum malu, "Terima kasih karena telah lebih dulu menyukaiku, mendekatiku, melamarku, menikahiku."