
"Kakak, tahu 'kan apa kesalahan yang Kakak perbuat?" tanya Bu Shafira berusaha menurunkan nada suara.
Nalendra hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Shafira.
"Kakak, buat malu Ibu tahu ga? Kakak 'kan udah janji nemenin Ibu ke acara, tapi kakak malah hilang diem di mobil!"
"Maaf," ucap Nalendra tetap menundukkan kepalanya.
"Kasian kan Shareen nungguin!" ujarnya. "Dia itu anak baik, cantik, udah kerja di Jakarta juga. Klop 'kan? Kalo Kakak jadi sama Shareen 'kan enak jadi ada temennya di sana!" ucap Bu Shafira.
"Maaf, aku ga suka sama dia, Bu."
"Jalani dulu aja, nanti juga lama-lama rasa sukanya tumbuh sendiri," kata Bu Shafira masih keukeuh dengan penjodohan Nalendra dan Shareen.
"Aku suka sama Rania, Bu. Bukan Shareen!"
"Rania lagi, Rania lagi. Carilah gadis dulu, Kak. Cobalah sama Shareen dulu. Ibu udah tau keluarganya, dia dari keluarga baik-baik." Bu Shafira merasa jengah dengan Nalendra.
"Rania juga dari keluarga baik-baik, Bu." jawab Nalendra.
"Iya, tapi dia janda, Kak. Udah punya anak juga!"
"Emang kenapa kalo janda dan punya anak, Bu?" tanya nalendra, merasa disudutkan terus. "Yang penting kan Kakak cinta sama dia dan anaknya!"
"Kakak, dibilangin malah ngeyel!" Bu Shafira langsung berdiri dan pergi meninggalkan Nalendra sendiri. Seorang Ibu, tentu selalu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya.
Nalendra menghela napas kasar. Dia bangun dari duduknya dan berjalan cepat menaiki tangga ke kamarnya.
Hari yang melelahkan. pikirnya.
**
Meskipun Nalendra sempat bersitegang dengan Sang Ibu, tetapi saat makan malam keduanya berkumpul di meja makan. Nalendra makan dengan Hidmat, tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Pak Sulaiman yang menyadari ketegangan antara Ibu dan anak itu langsung berusaha mencairkan suasana.
"Kak, besok jadi balik lagi ke Jakarta?" tanya Pak Sulaiman.
"Iya, Yah. Kenapa?" Nalendra balik bertanya.
"Ga bisa Senin pagi atau subuh aja?"
"Bisa, tapi pasti macet banget," ujar Nalendra sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Bukankah besok juga macet. Ga ada bedanya sama hari senin?"
"Bedalah, Yah. Kalau besok walaupun macet, tapi 'kan malemnya bisa istirahat dulu. Kalau Senin, kena macet langsung kerja!" jawab Nalendra.
"Berangkat jam berapa, Kak?"
"Pagi," jawab Nalendra singkat. Pak Sulaiman mengangguk, tidak ingin bertanya lebih. Dia takut jika bertanya lebih, jawaban yang dikasihkan Nalendra bisa membuat Istrinya semakin kesal.
"Kenapa ga ada yang bisa diajak nongkrong malam ini?" gumam Nalendra bermonolog.
"Kak, belum tidur?" Pak Sulaiman mendekati Nalendra dan duduk di kursi sebelah anaknya.
"Belum, Ayah juga belum tidur?" tanyanya balik.
"Belum ngantuk," jawab Pak Sulaiman sambil terkekeh. " Apa besok Kakak mau ke rumah Dareen?" Sengaja Pak Sulaiman menyebut Dareen bukan Rania, takut Nalendra merasa malu.
"Iya, aku udah janji akan bermain dengannya besok," jawab Nalendra.
"Ayah senang, Kakak selalu meluangkan waktu untuk Dareen. Ayah juga sangat menyukai anak kecil itu. Tapi Kakak juga harus tahu, jika kami juga ingin suatu hari nanti bermain dengan cucu sendiri. Kami juga ingin melihat Kakak bermain dengan anak sendiri," ujar Pak Sulaiman memulai percakapan serius dengan Nalendra.
Nalendra hanya terdiam tidak menjawab satu patah kata pun. Dia memandang ke jalanan di depannya. "Nalendra ingin menjadikan Dareen anak Nalendra, Yah."
"Ya, bagus. Ayah setuju kalau Kakak punya niat bagus kaya gitu," jawab Pak Sulaiman. "Tapi ayah mau nanya sama kamu, Mau jadiin Dareen anak itu, anak angkat, anak asuh atau apa, yang jelas Kak!"
"Aku pengen jadi orangtua buat Dareen. Aku ingin menjadikan Rania sebagai istriku," lirih Nalendra sendu, dia mengingat lagi tentang Bu Shafira yang belum juga mengiyakan niatnya.
"Ayah, setuju aja selama itu yang terbaik buat Kakak. Selama Kakak juga senang, bahagia dengan pilihan Kakak. Ayah cuma mau titip pesan, Kalau Kakak sudah punya niat yang baik, segerakan jangan ditunda-tunda!" kata Pak Sulaiman.
"Allah juga menyuruh menyegerakan kalau kita punya niat yang baik. Setan itu selalu mempunyai cara untuk menghancurkan niat baik kita. Segerakan lah! Apa Kakak mau melamar hari ini?" tanya Pak Sulaiman. "Ayo, Ayah siap kapanpun Kakak ajak!"
Nalendra tersenyum mendengar wejangan yang dituturkan Sang ayah.
"Nalendra sudah memberitahu niat ini ke Pak Idris, beliau sudah memberi restu. Kemarin Abah Danu bilang, kalau ingin meminang Rania harus minta izin juga sama mertuanya, orangtua Ergha. Menurut Ayah, aku harus gimana?" Nalendra meminta saran dari Sang Ayah.
"Benar kata Abahmu itu, kamu memang harus meminta izin pada mertuanya juga. Dia juga merupakan orangtua Rania sekarang. Ingat Rania itu menjadi janda bukan karena suatu kesalahannya, dia menjadi janda karena ditinggal meninggal sama suaminya. Mintalah izin ke mertuanya, apa perlu Ayah temani?" kata Pak Sulaiman terkekeh.
"Biar nanti aku hubungi dulu beliau. Tapi nih ya, Yah, aku ngerasa bapak mertua Rania ga suka sama aku. Wajahnya selalu terlihat marah kalau aku lagi main sama Dareen," Kata Nalendra bercerita.
"Kenapa Kakak bisa bilang begitu?"
"Saat dia tahu kalau aku terkadang datang main sama Dareen di rumahnya Rania, wajahnya ditekuk. Aku pikir karena mungkin dia lagi kesal atau apa. Tapi tiap ketemu Kakak selalu begitu. Waktu nganterin Rania pindahan pun juga sama, malah mereka ga jadi menginap," ungkap Nalendra. "Aku tuh bukan takut, hanya segan aja jadinya. Tapi Ibu mertuanya baik, beliau nitipin Dareen sama Rania ke aku, Yah."
"Kakak suka main ke rumahnya Rania?" tanya pak Sulaiman terkejut.
"Iya, satu atau dua Minggu sekali," jawab Nalendra tanpa rasa bersalah.
"Ya Allah, pantas saja mertuanya begitu sama Kakak!"
"Ayah jangan salah sangka dulu, aku ke sana juga udah minta izin dari Pak Idris, bapaknya Rania. Beliau juga ada di rumah saat aku main ke sana." Nalendra segera menjelaskan pada Sang Ayah, dia takut ayahnya salah paham.
"Kirain!" kata pak Sulaiman menghela napas pelan. "Mungkin bapak mertua Rania merasa tersaingi oleh Kakak. Dia takut Dareen lebih senang main bersama Kakak dibanding dengannya."
"Bisa jadi, emang Dareen kalau ada bapaknya Ergha juga dia mah cuek aja. Malah waktu dirawat di RS juga, dia ga mau lepas dari gendongan aku, dipaksa juga dia ga mau di gendong bapaknya Ergha. tapi yang aku liat, dia dekat dengan Ibunya Ergha. Dareen tuh berani minta apapun sama Ibunya Ergha, tapi ngejauh kalau ada bapaknya Ergha."
"Kakak, apa Kakak yakin dengan niat mau meminang Rania?" tanya Pak Sulaiman memastikan. "Apa Kakak udah siap dengan semua yang akan terjadi kalau Kakak menjadi suami Rania? bukan hanya menjadi seorang suami, tapi Kakak juga langsung menjadi ayah Dareen. Kakak harus siap ngelindungi Rania dan Dareen, bukan hanya melindungi dari orang jahat tapi juga yang terutama melindungi dari seluruh keluarga yang jika mereka berbicara tidak baik tentang Rania ataupun Dareen. Biasanya yang paling menyakitkan itu datang dari ujaran pihak terdekat yaitu keluarga. Kakak harus siap!"