Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 66



Rania berada di kota mini Floating Market, Lembang. Nalendra menurunkan Dareen dari gendongan, setelah melihat sekitar tidak terlalu ramai.


"Dareen, jangan lari!" Rania setengah berteriak melihat Sang anak berlarian.


"Ga apa-apa, ga usah terlalu khawatir. Biar aku yang jaga dia," ujar Nalendra.


"Dareen mau lihat kereta ga?" tanya Nalendra yang sudah mulai cape mengejar bocah cilik itu.


"Mau!" seru Dareen langsung berbalik menghampiri Nalendra.


Dareen begitu antusias, berlari sambil menarik tangan Nalendra agar cepat sampai di wahana tersebut.


Di Floating Market Lembang, menyediakan wahana Taman Miniatur Kereta Api. Seperti namanya, Anda akan menjumpai jenis transportasi ini dalam bentuk yang mini dan sangat mirip dengan yang asli. Di wahana tersebut, anak bisa melihat rel, kereta, hingga jembatan dalam ukuran kecil.


Taman Miniatur Kereta Api menjadi destinasi wisata yang akan memanjakan liburan dengan keluarga ketika menghabiskan waktu libur.


"Lihat, keretanya kecil," ujar Dareen menunjuk kereta yang sedang berjalan. "Itu kereta beneran om?"


"Bukan, Jagoan. Itu seperti kereta mainan punya Dareen."


"Tapi itu ada suaranya, kaya beneran. Kereta punyaku suaranya ga begitu!" sergah Dareen yang terpukau melihat miniatur kereta itu berjalan, berbelok melewati jembatan.


Di Miniatur kereta api ini juga menggunakan audio yang sangat nyata seperti saat kereta api melintas di rel. Hal ini membuat tempat wisata ini sangatlah direkomendasikan, karena tidak hanya visualnya saja yang bagus, tetapi juga fasilitas audio yang mumpuni.


Rania berdiri di sebelah Nalendra, dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto Dareen.


"Ayo, foto sama ayah!" ujar seorang pria pada anaknya yang berada di samping Dareen.


Dareen berbalik melihat anak tersebut tersenyum bahagia digendong Sang ayah. Mereka berfoto bersama berdua atau bertiga dengan Ibunya. Nalendra yang melihat raut wajah Dareen langsung menggendongnya dan meminta Rania mengambil foto mereka. Senyum terpancar di wajah Dareen, walaupun tidak Secerah anak tadi.


Kilatan wajah Ergha yang tertawa bersama Dareen, tiba-tiba muncul, membuat Rania tertegun. "Astaghfirullah, maafkan aku," gumamnya dalam hati. Dia merasa bersalah pada almarhum suaminya.


Nalendra yang melihat Rania tertegun mengernyitkan dahi. "Ayo berfoto sama bunda!" Nalendra melambaikan tangan pada Rania agar mendekat untuk berfoto bersama. "Biar aku yang mengambil foto," ujar Nalendra. Wajah Dareen pun sedikit lebih cerah dari yang tadi.


Nalendra begitu menikmati waktu liburan kali ini karena Rania ikut bersama mereka.


"Udah jam tiga, ayo pulang!" Rania melihat jam di ponselnya. Dia melihat Nalendra dan Dareen yang fokus mencari pernak pernik di toko oleh-oleh. Rania masih berusaha menepis rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.


"Ayo, cepat. Udah jam tiga, pasti macet!"


"Biarin aja, tiap hari juga macet ko," jawab Nalendra yang memperlihatkan kereta mainan pada Dareen.


"Aku mau, Om," pinta Dareen. Nalendra pun mengangguk.


"Kamu 'kan harus balik ke Jakarta. Nanti jam berapa coba nyampenya, pasti macet banget. Kamu juga pasti kecapean di jalan!" Kata Rania bersikukuh.


"Ga apa-apa, nyante aja," jawab Nalendra.


"Tapi ...."


"Rania, nyante aja. Kalau aku cape dan takut kena macet, aku bisa naik kereta ke Jakarta. Dari stasiun pakai ojeg online, gampang 'kan," ujarnya tersenyum menatap Rania.


"Ya, udah!" jawab Rania yang masih merasa tidak enak hati pada Nalendra. Terlebih pada Ergha karena telah bermain bersama pria lain.


Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Rania bersikukuh mengajak mereka pulang, setelah shalat asar. Benar saja, jalanan dari Lembang menuju Bandung kota tersendat oleh banyaknya kendaraan. Kemacetan arus balik liburan memang tidak bisa dihindari.


"Tuh 'kan, aku bilang juga apa!" seru Rania.


"Iya, banyak yang mau pulang," jawab Rania.


"Emang mereka dari mana?" tanyanya polos.


"Ya, habis jalan-jalan kaya kita ini," Rania menengok ke belakang melihat Sang anak.


"Dareen, jangan lupa minum. Makannya jangan berantakan ya, nanti mobil Om Nalendra banyak semut!" Rania mengingatkan.


"Iya, nanti semutnya gigit Om. Ya, Bunda," kata Dareen.


"Iya, nanti kasian Om nya gatal-gatal digigitin semut," timpal Rania tersenyum. Nalendra yang mendengarkan obrolan Ibu dan anak itu tersenyum bahagia.


Sudah hampir 20 menit berlalu, mereka masih berjalan ditempat. Dareen yang kelelahan tidur di kursi belakang, dia memang gampang tertidur ketika naik kendaraan.


Rania mengeluarkan ponsel, mengirim pesan pada orangtuanya memberitahu jika mereka terkena macet di jalanan menurun daerah Setiabudi, Bandung.


"Kalau ngantuk, tidur saja. Nanti aku bangunkan," ujar Nalendra melihat Rania menguap.


"Tidak, aku ga terlalu mengantuk. Lagian ga boleh tidur abis asar," jawab Rania.


"Ndra, beneran kamu ga apa-apa kemaleman di jalan?" tanya Rania yang masih merasa tidak enak hati.


"Beneran, nyante aja. Mungkin nanti aku titipin mobilku di rumahmu dan naik kereta." Nalendra tersenyum. "Kereta sekarang nyaman banget, fasilitasnya juga bagus. Aku malah sering naik kereta kalau pulang."


"Nanti kamu di sana ga da kendaraan buat kemana-mana?"


"Ada mobil kantor, tenang aja," ujar Nalendra.


"Maaf ya, kamu jadi kecapean ngajak kita jalan," ucap Rania.


"Jangan kaya gitu, lagian aku yang ngajak kalian ko. Aku ga cape, aku senang bisa berlibur dengan Dareen juga kamu," jawab Nalendra melirik Rania yang sedang menunduk.


"Nalendra, terima kasih. Kamu baik banget sama kita," ujar Rania. "Dulu, aku selalu menangis setiap Dareen bertanya tentang ayahnya yang tidak pulang. Terima kasih, sudah mau menemani Dareen sampai sekarang," lanjut Rania dengan suara yang tercekat.


"Apa dia masih suka menanyakan Ergha?" tanya Nalendra ragu.


"Dulu iya, pernah sampe nangis, minta kami meneleponnya. Mungkin karena dia rindu banget sama ayah, tapi sekarang enggak. Terkadang habis shalat atau ngaji dia akan bercerita pada kami kalau dia tadi sudah mendoakan ayahnya," jawab Rania.


"Apa kamu merindukannya?" tanya Nalendra melirik Rania.


Ah, kenapa aku menanyakan hal itu. Itu 'kan udah pasti!" pikir Nalendra.


"Ya, aku merindukannya. Ergha seorang yang sangat ramah dan penyayang, tidak hanya pada kami tapi pada semua orang, dia juga tidak pandai berbohong. Dia selalu membuatku dan Dareen tertawa karena tingkahnya yang terkadang seperti anak kecil. "Rania tersenyum mengingat semua perlakuan almarhum suaminya. "Ndra, bisakah kamu jangan terlalu sering menemui Dareen?"


Nalendra langsung berbalik pada Rania. Dia terkejut, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari wanita yang disukainya itu. Untunglah mereka masih terjebak macet, kalau tidak mungkin akan terjadi kecelakaan.


"Kenapa tiba-tiba kamu bilang seperti itu?" tanya Nalendra. Dia melihat dan memastikan Dareen masih tertidur nyenyak di belakang.


"Aku takut Dareen akan terluka, jika nanti kamu tiba-tiba berhenti mengunjunginya," ujar Rania.


Bukan, bukan Dareen! Aku yang takut, takut berharap lebih padamu! batin Rania.


"Jadilah istriku!"