
"Apa kita cuma bertiga aja?" tanya Rania, masih merasa segan pergi bertiga dengan Nalendra.
"Kita pernah pergi bertiga, makan malam. Ga masalah, Ayo!"
"Oke, aku siap-siap dulu." Rania beranjak dari duduknya hendak pergi ke dalam rumah untuk bersiap ketika seseorang datang dan menyapa Nalendra.
"Hai, Ndra!" Suara perempuan yang sukses membuat Rania berbalik.
Nalendra melihat keluar pagar rumah Rania, di sana telah ada seorang wanita yang sedang membuka pagar rumah Rania. Rania berdiri terpaku melihat wanita muda itu.
"Hay, ada apa. Aku kira kamu lagi ga di rumah?" tanya Rania tersenyum.
"Ada, dari kemarin juga aku ada di rumah," jawabnya lalu duduk di dekat Nalendra.
"Oh, begitu. Aku masuk dulu ya," ujar Rania. Wanita muda tadi hanya mengangguk.
Nalendra mengelap bibir Dareen dari remahan ayam krispi yang dia makan. "Ayo cuci tangannya dulu," titah Nalendra.
"Ndra, main yuk!" ajak wanita muda tadi.
"Maaf, aku ga bisa," jawab Nalendra tegas tanpa menoleh pada wanita tadi.
"Kenapa? sekalian kita ajak Dareen main ke luar," kata wanita muda itu.
"Maaf, aku sudah punya janji."
Nalendra mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rania. Dia sungguh ingin berjalan-jalan sebelum berangkat ke Jakarta, hanya dengan Rania dan Dareen saja. Oh, kalau keluarga Rania ikut pun tidak mengapa.
"Dareen, mau main sama Tante?" tanya wanita muda itu.
Dareen menggeleng, "Enggak!" jawabnya singkat.
"Ndra, nonton yuk. Aku bosan banget di rumah," ujarnya.
"Maaf, aku harus balik ke Jakarta hari ini!" Nalendra sungguh tidak mengerti jalan pikirnya.
"Hei, 'Na," Rania keluar dari rumah setelah mengganti baju dan sedikit ber-make up flawless.
"Mau pergi ya?" tanya Wanita muda itu.
"Iya, mau beli susu Dareen. Susunya habis tadi pagi," jawab Rania. "Ada apa 'Na?"
"Ga ada apa-apa, aku bosan di rumah," ujarnya. "Main yuk!" ajaknya dengan maksud terselubung.
Rania melirik nalendra. "Main ke mana?"
"Ke mana aja?" jawabnya memandang Nalendra yang sedang asik makan pie bersama Dareen.
"Emang kamu ga ada acara dengan temanmu? Biasanya kamu sibuk banget hari Minggu juga," tanya Rania yang tidak tahu harus bertanya apa lagi.
"Enggak, makanya aku ajak kamu."
"Maaf, aku ga bisa." Rania menunduk, dia benar-benar tidak mau berbohong pada teman masa kecilnya itu. Namun, Nalendra mengiriminya pesan tadi, menyuruhnya tidak bercerita jika mereka akan pergi bersama.
Ya, wanita muda tadi adalah Liana. Riana tidak tahu masalah apa yang membuat Nalendra menyuruhnya untuk tidak bercerita pada Liana. Padahal setahu Rania, kemarin mereka makan siang bersama. Rania tahu dari foto yang Liana kirim kepadanya kemarin siang, foto Nalendra sedang duduk, mungkin di depan Liana di sebuah tempat makan.
"Teh, tolong anterin ini ke Zyan." Pak Idris keluar dari rumah dengan membawa tentengan kantong makan.
"Bapak emang mau kemana?" tanya Rania melihat Pak Idris sudah siap dengan setelah batik dan celana katunnya.
"Bapak ada acara sama Mama. Bentar lagi Mama pulang, ada acara selamatan di temannya Mama," jawab Pak Idris.
Rania mengangguk pelan. Dia masuk ke dalam rumah, sekalian mengambil tas selempang juga tas kecil.
"Teteh mau kemana?" tanya Pak Idris yang melihat Rania keluar dari rumah sudah siap pergi.
"Katanya disuruh nganterin ini ke Zyan," jawab Rania.
"Oh, itu Teteh bawa tas?" tanya pak Idris lagi, jarak rumah mereka dekat rasanya tidak perlu sampai harus membawa tas.
"Ini tas buat Dareen. Dareen mau pergi sama Nalendra, Teteh mau sekalian beli susu Dareen." jawab Rania santai.
"Ya udah, hati-hati ya." Pesan Pak Idris sambil mengangguk.
"Ndra?" Liana memanggil Nalendra, membuat pak Idris menatap Rania.
"Ya, aku jalan dulu. Ini udah siang," ujar Nalendra lalu membukakan gerbang setelah memastikan Dareen duduk dengan nyaman di dalam mobil. Mereka pun menatap kepergian Nalendra dengan pikiran masing-masing.
Bukannya tadi dia bilang harus balik ke Jakarta! gerutu Liana dalam hati.
"Bapak, berangkat jam berapa?" tanya Rania.
"Bentar lagi, nunggu Mama aja. Tadi Mama udah kirim pesan, katanya lagi di jalan, mungkin bentar lagi juga nyampe," ujarnya.
"Aku pulang dulu ya," ujar Liana dengan wajah yang ditekuk. Rania hanya menganggukkan kepalanya.
"Teh, Liana kenapa?" tanya Pak Idris setelah Liana keluar dari pagar rumah.
"Ga tau atuh, Teteh juga ga ngerti." Riana membereskan bekas minum Nalendra dan membawanya ke dalam. "Pak, Riana mau ikut jalan-jalan sama Dareen dan Nalendra ya," ujar Rania meminta izin pada Bapaknya.
"Bukannya tadi Teteh bilang mau beli susu Dareen?"
"Iya, emang mau sekalian beli susu nanti pulang jalan-jalan," jawab Rania.
"Trus mereka 'kan udah pergi," kata Pak Idris yang masih belum mengerti.
"Tadi Nalendra kirim pesan, mereka nunggu di minimarket depan. Dia bilang, dia ga mau Liana tau nanti dia pengen ikut katanya," tutur Riana.
"Teteh ke minimarket sama siapa? kan lumayan jauh," tanya Pak Idris lagi.
"Nanti diantar Zyan aja, sekalian Rania nganterin ini dulu ke dia."
"Oh, ya sudah. Hati-hati ya, pulangnya jangan malem-malem!" Kata Pak Idris.
"Paling telat juga sore, Nalendra 'kan harus balik ke Jakarta lagi," jawab Rania.
"Iya, pokoknya hati-hati aja di jalannya!"
"Iya, aku berangkat ya, Pak. Assalamu'alaikum," ujar Rania berpamitan.
"Dasar anak-anak!" gumam Pak Idris yang merasa lucu melihat tingkah Rania dan Nalendra. "Mau jalan aja, ribet banget!"
Rania melajukan motor ke rumahnya yang ditempati Zyan. Dia mengantarkan kantong berisi makanan buat Sang adik.
**
"Kenapa ga barengan aja sih dari rumahnya?" tanya Zyan yang sedang mengendarai motor mengantarkan Kakaknya ke minimarket depan jalan raya.
"Udah, anterin aja. Ga usah banyak nanya!" jawab Rania.
"Kenapa juga mesti sembunyi-sembunyi?" tanya Zyan lagi.
"Ga sembunyi-sembunyi ko, orang tadi aku izin dulu sama Bapak!" sergah Rania.
Butuh sekitar 10 menit berkendara motor dari rumah Rania ke minimarket depan jalan utama. Di parkiran minimarket telah ada Dareen yang sedang menyender ke mobil Nalendra sambil minum susu UHT.
"Hei, mau kemana?" tanya Zyan pada ponakannya.
"Bunda, lama banget sih. Aku pegel tau berdiri terus dari tadi nungguin Bunda!" serunya.
"Maaf, tadi kan Bunda harus ke rumah Om Zyan dulu," jawab Rania.
Dareen menatap Zyan dengan tajam. Seakan Om nya inilah yang bersalah, membuatnya menunggu lama.
"Ayo pulang sama Om. Katanya ga jadi jalan-jalannya," ujar Zyan masih penasaran membuat ponakannya kesal.
"Enggak, sana pulang sendiri!" seru Dareen.
"Eh, ko malah marah-marah. Udah ayo masuk mobil, kita berangkat sekarang, nanti keburu siang keburu macet." Rania membukakan pintu belakang untuk Sang anak. Dia akan duduk di depan di sebelah Nalendra.
"Ya udah, aku pulang ya. A Nalendra titip Dareen sama Teteh ya," ujar Zyan berpamitan.
"Bentar ya, aku beli minuman dulu. Mau minuman apa?" tanyanya pada Rania.
"Aku kira udah beli dari tadi?" ujar Rania yang udah berjalan beberapa langkah hendak masuk ke mobil.