Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 126



Rania, sejak menikah dia memutuskan untuk tidak mengajar lagi. Namun, walaupun hanya di rumah, dia aktif menulis cerpen, novel, dan puisi. Terkadang, dia mengikuti lomba-lomba menulis puisi di sebuah platform online atau yang diadakan oleh sebuah komunitas sastra.


"Memang saat itu puisinya mau dikirim ke siapa?"


Rania sedikit tersedak. "Buat editor, untuk lomba," jawab Rania beralasan. Rania memang terkadang mengikuti lomba-lomba puisi yang diadakan secara online. Namun, saat itu dia sengaja mengirimkannya pada Nalendra. "Bukankah puisinya juga sesuai denganmu, mengingat saat itu kamu masih lajang!"


Nalendra tertawa, "Iya, aku langsung bergegas ke Jakarta kembali, padahal saat itu ibu menyuruhku menemui anak temannya."


Rania mengernyitkan dahi. "Kenapa?"


"Karena aku sadar, aku masih menyukaimu, sangat-sangat menyukaimu hingga ... Entahlah, aku tidak tertarik aja dengan gadis lain. Aku takut jika aku memaksakan diri menerima seseorang, nantinya tidak akan benar. Aku tidak mungkin menikahi oranglain, sedangkan aku masih sangat menyukaimu. Itu tidak akan adil untuknya."


"Ih, sombongnya bilang tidak tertarik. Bukankah cinta akan datang seiring berjalannya waktu?"


"Aku tidak yakin bisa melupakanmu. Aku sudah berusaha belasan tahun dan hasilnya aku malah tambah menyukaimu!" Nalendra bersyukur, perasaannya tidak sia-sia. Allah menjodohkannya dengan Rania.


"Kamu sweet banget, tapi aku ga terlalu percaya hal itu. Aku tahu kalian suka mengirim foto gadis-gadis cantik dengan body goals di pesan grup!"


"Kamu melihat chat kami?" tanya Nalendra tersentak.


"Ya, terkadang!"


"Itu hanya sebatas 'iya, bagus!', ga lebih!" dalih Nalendra. "Teman-temanku selalu mengirimkan foto-foto mereka. Aku hanya berkomentar sekenanya aja. Lagian saat itu, aku mana tau rasanya bermesraan dengan seseorang."


Rania tertawa cukup keras dan lama. "Kasian banget, tapi sekarang udah tau kan?"


"Taulah, sangat tau!" Tangan Nalendra mulai mengelus lembut pipi Rania. Tangan itu bergerak ke arah bibir istrinya.


"Inget kata dokter!"


Nalendra langsung tertawa. Dia berharap Rania melupakan pesan yang dikatakan dokter kandungannya. Saat terakhir kali mereka cek up kandungan, dokter berpesan jika sebaiknya mereka mengurangi kegiatan berhubungan suami-istri karena Rania mengalami hyperemesis gravidarum atau morning sickness yang parah.


Setiap hari dia masih merasakan mual dan muntah, makanan yang masuk pun hanya sedikit. Terlebih, Rania merasakan tubuhnya sangat lelah. Dari itu, dokter menyarankan agar mengurangi kegiatan panasnya dengan Nalendra.


"Ya, berdoa saja aku segera sehat. Ingat kata ibu? Beliau bilang saat hamil kamu, beliau mual dan muntah parah selama kehamilan. Itu berarti sampai lahiran."


Nalendra membelalakkan matanya. "Semoga kamu cepat sembuh. Dek' yang kuat ya, harus mau makan apapun yang Bunda makan. Itu bagus untukmu." ucap Nalendra mengelus perut bawah Rania.


"Daddy juga, harus mau makan apapun yang Bunda masak. Jadi anaknya juga akan mau makan apapun yang Bunda makan!"


"Apa aku harus mulai belajar makan daging ayam dan daging sapi? Aku bisa makan nugget atau sosis!"


"Iya, makanlah apapun yang menyehatkan tubuh dan membuat hati senang ketika memakannya," ujar Rania mengelus pipi Nalendra.


"Ndra, bagaimana jika dokter tidak memperbolehkan aku naik pesawat?" Rania baru ingat, pekerjaan Nalendra sebulan atau dua bulan lagi sudah selesai.


"Ya, berarti di sini dulu. Tenang saja, bisa diatur ko. Aku sudah berbicara dengan dokter, kalau sudah waktunya pulang dokter akan memeriksamu terlebih dahulu. Dia akan memberikan obat penguat kandungan. Dokter bilang ga jadi masalah, lagian saat kita pulang nanti kamu sudah di akhir trimester pertama atau awal trimester kedua."


"Terus kalau kata dokter belum boleh gimana?"


"Ya ga gimana-gimana! kita akan di sini dulu. Aku mungkin akan pulang lebih dulu, tapi aku akan usahakan tiap weekend ke sini."


"Sayang banget uangnya, tiketnya mahal!"


"Uang bisa dicari, tapi kamu dan Dareen lebih berharga dari itu!" Nalendra selalu mengingat bagaimana kisah cintanya dengan Rania.


***


Halo semua, terima kasih sudah selalu setia menungguku up. Maaf, belakangan aku sangat sibuk hingga hanya bisa menulis sebentar.


Sambil menunggu, yuk mampir baca ke novelku yang lain. Kisah menarik Edelweiss dan Pangeran Malik.