Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 149



Aurora Putri Nalendra, itulah nama yang Nalendra dan Rania pilih untuk putri kecil mereka. Kehadirannya seperti sinar fajar yang ditunggu oleh semua orang. Kini baby Ara sudah berumur empat bulan.


Rania menggulir layar ponselnya, dia melihat story' yang baru saja dibagikan oleh Liana. Ingatan membawanya pada saat aqiqah baby Ara. Saat itu, Bu Sekar, Mamanya Rania membawa sebuah bingkisan cukup besar. Dia jika bingkisan itu dari temannya, Liana.


"Teh, ini ada titipan dari teman-teman Mama di sekolah," ucap Bu Sekar memberikan beberapa totebag bingkisan kepada Rania. "Ini titipan dari Liana," lanjutnya setengah berbisik.


"Liana?" Rania setengah terkejut mendengar temannya itu menitipkan sesuatu untuknya.


"Mama udah buka, isinya baju-baju anak. Maaf, mama takut isinya bom atau apa, jadi dibuka buat mastiin. Tenang aja ga di acak, cuma diliat aja. Sudah Mama bungkus ulang!"


"Bom? kebanyakan nonton action Mama mah!" seru Rania terkekeh. Dia menyimpan semu bingkisan itu di sudut ruang kamarnya.


Beberapa hari setelahnya, bingkisan itu masih tetap berada di sana. Rania merasa enggan untuk membukanya. Rasanya tidak sampai hati dia memakaikan anaknya pakaian dari Liana.


"Bunda, ini apa?" tanya Dareen melihat kotak bingkisan lumayan besar di sudut kamar orangtuanya.


"Oh, itu hadiah dari teman Bunda."


"Ko belum dibuka?" tanya Dareen.


"Aa mau buka?" Rania tahu Dareen mempunyai rasa ingin tahu yang cukup besar. Dia yang membuka hampir semua hadiah yang mereka dapat. "Bawa sini, berat ga?"


"Tidak, aku sudah besar Bunda. Aku kuat," jawabnya sembari menarik pegangan kantong yang membungkus bingkisan tersebut.


Rania melepaskan bingkisan dari kantongnya dan memperhatikan Dareen yang mulai menyobek kertas hadiah tersebut. Benar kata Mamanya, isinya beberapa stel baju dan sepatu baby.


"A, kalau sudah masukin baju dan sepatunya ke kantong ini!" titah Rania pada sang anak yang sedang tersenyum bahagia melihat baju-baju tadi satu persatu.


"Bunda ini apa?" Dareen menunjukan sebuah amplop kecil pada Rania.


"Apa ini, A?


"Aku Nemu dari sana." Dareen menunjuk pada dus hadiah yang sudah kosong.


"Oh, sini lihat, mungkin ucapan selamat dari temen Bunda. Nanti sajalah Bunda bacanya ya." Rania segera mengambil surat tersebut dan menyimpannya di bawah bantal.


Sore harinya, Rania membaca surat dari amplop yang Dareen temukan di bawah hadiah Liana. Rania menghela napas, tersenyum kecut membaca surat tersebut.


"Dia sungguh wanita pemberani!" Rania menghela napas kesal. "Tentu saja aku akan menjaga anakku sendiri!" lanjutnya menggerutu. Rania segera menyobek kertas surat tersebut hingga menjadi robekan kecil, dia tidak mau Nalendra tahu tentang surat tersebut.


Suara tangisan baby Ara membuyarkan lamunan Rania. Dia segera masuk ke dalam kamar putri kecilnya.


"Anak bunda sudah bangun, lapar ya." Rania segera mengambil baby Ara ke dalam pangkuannya. Dia mulai menyusui Sang anak.


"Bunda akan selalu menjagamu, tidak akan Bunda biarkan baby kecil Bunda diambil oleh orang jahat! ucap Rania membelai pipi chubby baby Ara yang sedang menyusu padanya.


Hampir seminggu kemudian, Rania kembali melihat Liana memposting di media sosialnya baju-baju anak perempuan dengan caption,


'Untuk putri kecilku yang hari ini berumur tepat 4 bulan'.


Rania kembali menarik napas perlahan, geram rasanya melihat hal seperti itu. Rania mulai bermain media sosial kembali setelah melahirkan, itu pun dengan akun baru dan nama samaran alias bukan namanya. Dia sengaja membuatnya untuk melihat apa yang Liana posting di media sosialnya.


Menjadi seorang ibu yang baru saja melahirkan, mempunyai emosi yang terkadang tidak stabil. Dia bisa saja bersikap mengabaikan jika ada yang mengaku-ngaku akan merebut suaminya, tetapi berbeda hal jika ada orang yang akan merebut anaknya. Dia akan menjadi sangat sensitif jika berhubungan dengan anaknya.


Rania merasa seperti sedang diteror setiap kali melihat postingan Liana. Sekali dua kali mungkin bisa dia abaikan, tetapi ini sudah lebih dari sepuluh postingan sejak dia mulai memantau sosial media temannya itu.


Aku harus mengakhiri semuanya, mungkin benar aku yang memulai ini semua tanpa aku sadari. Jadi, aku juga yang harus mengakhiri semuanya. pikir Rania.


Malam harinya, setelah menidurkan kedua anaknya, Rania menghampiri Nalendra yang sedang asik menonton.


"Ndra' Minggu ini long weekend kan ya. Aku kangen masakan Mama, bisakah kita pulang?"


"Ehm, gimana kalau kita minta mama sama bapak aja yang ke sini? Aku takut baby Ara dan Dareen bosan di jalan, tau kan kalau long weekend biasanya macet banget."


Nalendra memang belum mengizinkan Rania menginap di rumah orangtuanya. Dia terlalu takut jika sewaktu-waktu Liana datang menyakiti mereka. Biasanya, mereka akan menginap di rumah orangtua Nalendra dan hanya berkunjung di siang hari ke rumah orangtua Rania.


"Aku rindu rumah mama," ucap Rania sendu.


"Ehm, baiklah. Kita akan pulang ke Bandung, tapi aku ga janji kita harus menginap di rumah orangtuamu ya. Tahu kan maksudku, aku benar-benar masih khawatir jika 'dia' datang menyakiti kalian." Nalendra menekankan kata dia, Rania tahu siapa yang Nalendra maksud.


Rania pun mengangguk setuju. Ya, setuju dulu saja, nanti aku pikirkan lagi cara menginap di rumah Mama, pikir Rania.