Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 125



Rania sudah diperbolehkan pulang di hari Senin siang. Dia begitu gembira walaupun rasa mual dan lemas masih terasa. Setidaknya ketika di rumah lebih bebas melakukan aktivitas apapun dan tentu saja bertemu Dareen juga, pikirnya.


Setiap pagi, Rania selalu mual parah dan berakhir terkulai lemas. Namun, dia tetap tidak mau kembali ke rumah sakit untuk rawat inap. Dia lebih memilih rawat jalan, dokter pun memberinya beberapa obat dan vitamin untuk kehamilan.


"Sayang, kita minta ibu ke sini lagi, ya ...," ujar Nalendra meminta persetujuan. Dia tidak tega melihat Rania yang terkulai lemas hampir setiap pagi.


Bu Shafira dan Bu Sekar sudah pulang ke Indonesia beberapa hari yang lalu, setelah Rania kembali ke rumah. Ingin sekali Bu Sekar menemani Rania, tetapi tugasnya sebagai pengajar yang tidak bisa ditinggal lebih lama lagi. Sedangkan, Bu Shafira ada acara yang harus dia hadiri.


"Tidak usah, kasian beliau. Lagian ini hanya sebentar ko, nikmati aja ...."


Nikmati, gimana ceritanya! gerutu Nalendra dalam hati.


"Kita pakai asisten rumah tangga aja ya?"


"Ga usah, kita di sini juga paling lama dua bulan lagi!"


"Tapi aku sungguh tidak tega melihatmu seperti ini." Nalendra membelai wajah Rania yang merona di kulit pucatnya.


"Ga apa-apa, aku baik-baik saja. Kamu ingatkan kata dokter, ini adalah hal biasa yang dialami oleh ibu hamil. Ya, walaupun ketika hamil Dareen, aku tidak mengalaminya. Namun, nikmati aja ... toh, suatu saat nanti, aku akan merindukan hari ini," tutur Rania tersenyum agar Nalendra tidak terlalu khawatir terhadapnya.


Nalendra bergeser mendekati Rania, memeluknya. Tak henti Nalendra bersyukur dengan semua yang terjadi. Menikahi wanita pujaan yang bahkan tidak pernah terpikirkan harapan itu akan menjadi kenyataan dan sekarang Allah memberi rezeki anak lagi untuknya.


"Terima kasih."


"Buat apa?"


"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku dan mengandung anakku," ucap Nalendra menciumi wajah Rania.


Rania terkekeh, "Kamu mengucapkan berterima kasih setiap hari padaku."


"Aku ingin berterima kasih setiap waktu. Aku senang sekali, rasanya ... sulit diungkapkan dengan kata-kata."


"Mulai deh ngegombalnya!"


"Ini bukan gombalan, ini ungkapan." Nalendra menempelkan dahi pada dahi Rania hingga napas mereka beradu. "Oh iya, jadi ingat ... dulu aku pernah dapat pesan berisi puisi dari nomormu."


Rania memundurkan badannya, menjauh, melihat Nalendra lekat. "Benarkah?"


Nalendra mengangguk.


"Aku tidak ingat. Puisi yang mana, kapan?" Rania mengernyitkan dahinya mencoba mengingat. Benarkah dia pernah mengirim pesan puisi untuk Nalendra?


"Dua tahun yang lalu. Kamu mengirim puisi itu saat aku berulang tahun."


"Aku lupa!"


"Kamu tahu, saat itu ibu untuk kesekian kalinya memaksaku menerima perjodohan dengan anak temannya. Ibu bilang jika umurku sudah cukup matang, malah sangat cukup matang untuk menikah."


"Tentu, aku menerimanya. Hanya saja beberapa hari kemudian aku mendapat pesan dari nomormu, pesan berupa puisi," ungkap Nalendra menunduk menyembunyikan senyumnya. "Alhamdulillah nomormu tidak pernah berganti. Aku selalu menyimpan nomormu walaupun ponselku berganti beberapa kali."


Rania tertawa renyah, "Kamu sweet banget!"


Nalendra mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia menggulir layar dan tersenyum menatap Rania. Dia memberikan ponsel yang dia pegang pada rania, memperlihatkan isi pesan yang dia maksud tadi.


Rania melihat pesan tersebut, tersenyum dan menutup mulut dengan tangannya. "Ini ... ko masih ada, ga di hapus?"


"Ini puisi pertama yang kamu kasih ke aku, walaupun kamu bilang saat itu 'salah kirim'. Ini puisi pertama, tidak mungkin aku menghapusnya. Aku juga belum mau mengganti ponselku lagi."


Rania terkekeh membacakan beberapa bait puisi tersebut.


Tak bisakah kau buka sebentar pintu hatimu?


Hanya untuk kuletakkan rinduku


Biar hangatkan dirimu


Atau sekedar berjabat tangan dengan lukamu


Berkenalan dengannya dan katakan ku akan membasuhnya


Hingga kering


Hingga tak sakit lagi


Bisakah?


Aku menunggu


Jawabmu


Di depan pintu hatimu


Dia ingat, sejujurnya dia mengingatnya dengan sangat jelas. Saat itu, dua tahun yang lalu ... Ilham, salah satu teman tongkrongan kuliah Ergha mengadakan acara sunatan. Dia bercerita pada Rania kalau dia baru mentransfer sejumlah uang untuk urunan karena tidak memungkinkan kalau mereka datang ke Bandung, terutama di hari kerja. Ergha juga bercerita, saat itu tinggal Nalendra yang belum menikah.


Beberapa bulan setelahnya, Rania mengirim sebuah puisi untuk Nalendra dan sebuah pesan lain untuk meminta maaf telah salah berkirim pesan. Rania sengaja mengirimkan pesan meminta maaf tersebut, agar Nalendra tidak salah paham saat itu. Bagaimana pun juga Rania masih menjadi istri Ergha, akan sangat berbahaya jika ketauan telah sengaja mengirim sebuah puisi pada laki-laki lain.


"Iya, ini puisiku," ujar Rania hanya tertawa mengingatnya. Dia tidak mengatakan sengaja mengirimkannya untuk Nalendra.


"Memang saat itu puisinya mau dikirim ke siapa?"


Rania sedikit tersedak. "Buat editor, untuk lomba," jawab Rania beralasan. Rania memang terkadang mengikuti lomba-lomba puisi yang diadakan secara online.


"Bukankah puisinya juga sesuai denganmu, mengingat saat itu kamu masih lajang!"