
Seminggu lagi acara resepsi pernikahan Rania dan Nalendra digelar. Undangan pun telah siap disebar oleh keluarga baik dalam bentuk fisik maupun digital. Keluarga telah beberapa kali rapat dengan wedding organizer untuk mempersiapkan segalanya sesuai keinginan Rania dan Nalendra.
Rania masih berada di Jakarta karena Dareen harus bersekolah. Nalendra pun masih bekerja seperti biasa. Dia akan mengambil cuti beberapa hari sebelum hari H.
Nalendra mulai menyebarkan undangan digitalnya ke rekan dan klien perusahaan. Hanya sedikit yang diundang, beberapa bawahannya pun ada yang merasa kecewa karena tidak dapat undangan. Azizlah yang menjadi sasaran kekecewaan mereka, walaupun dia tidak tahu menahu soal undangan yang sedikit tersebut.
Harusnya dia memberitahu ku lebih dahulu! gerutu Aziz dalam hati.
Hari berikutnya, Nalendra mendapat banyak ucapan selamat yang dikirim melalui email. Mereka ikut senang dengan pernikahan Nalendra, walaupun awalnya seperti dirahasiakan.
Hari Kamis pagi, Nalendra dan Rania juga Dareen sudah berada di dalam kereta yang akan membawa mereka ke Bandung. Orangtua Nalendra bersikeras jika mereka harus menggunakan kereta, tidak boleh menyetir.
Zyan yang bertugas menjemput mereka di Stasiun Bandung. Namun, bukannya langsung pulang, mereka berjalan-jalan dahulu di mall yang berada tak jauh dari Stasiun. Setelah shalat Dzuhur di mesjid agung Bandung, barulah mereka pulang ke rumah orangtua Nalendra.
Rumah Nalendra sudah ramai kedatangan banyak keluarga dari pihak pak Sulaiman. "Nah, ini pengantinnya baru dateng!" ucap salah seorang diantara mereka.
Rania hanya bisa tersenyum. Sudah lima bulan pun masih disebut pengantin, pikir Rania.
"Kue basahnya banyak banget, ada acara apa?" tanya Rania polos.
"Pengajian empat bulanan!"
"Kapan?" tanyanya lagi mengernyitkan dahi.
"Eh, ari Teteh. Apanan nanti malam acaranya, masa yang punya acara nyampe lupa!"
"Bukannya nanti Sabtu?"
"Ih, ya pengajiannya mah hari ini. Hari Sabtu mah acara resepsi aja plus ngasih tau semua kalau Teteh lagi hamil empat bulan!" jawab Bu Sekar yang telah berada di sana sejak kemarin.
"Sini Rania bantu," ujar Rania menghampiri salah satu adik ipar pak Sulaiman yang hendak mengangkat keranjang berisi tumpukan piring.
"Jangan, biar Ibu saja. Istirahatlah, Ga apa-apa ga dibantu Teteh juga. Biar Ibu dengan semuanya yang kerjain, Teteh istirahat saja biar ga kecapean." Bu Shafira datang membantu saudara iparnya.
"Tapi, Bu," ucapnya.
Telepon Rania beberapa kali berbunyi. Rania segera merogoh tas selempangnya untuk mengambil ponsel tersebut. Dilihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, tetapi nomor tersebut tidak terdaftar di kontaknya.
Rania menggulir layar ponsel dan membuka pesan dari nomor yang tadi menghubunginya. Langkahnya terhenti, dia memandang layar ponselnya lekat. Memandang beberapa kata isi pesan tersebut.
Hubungi balik, Liana
"Kenapa dia menyuruhku menghubunginya?" lirih Rania, lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamar.
Sampai di dalam kamar, Rania segera membersihkan diri dan berganti pakaian dengan daster. Pakaian yang sangat nyaman ketika berada di dalam rumah. Setelah itu, dia merebahkan diri di atas tempat tidur.
Apa aku harus menghubungi dia balik? pikir Rania sambil memejamkan mata.
"Apa sebaiknya aku kasih tau Nalendra terlebih dahulu?" gumam Rania membuka kelopak matanya perlahan.
Langit-langit kamar tampak lebih cerah dari biasanya. Semoga harinya pun akan lebih cerah dari sebelumnya. Begitu pikir Rania.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Rania. Nalendra masuk ke dalam membawa totebag belanjaan mereka tadi.
"Tidur?" tanya Nalendra.
"Belum!"
"Aku mau mandi dulu, badanku lengket sekali!" ujar Nalendra.
"Ndra, tadi Liana menghubungiku, tapi tidak terangkat. Dia juga mengirim pesan padaku.
"Dia ngomongin apa?
"Dia memintaku menghubunginya. Tapi, belum aku turuti."
"Tidak usah, biarkan saja!"