Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 41



Rania mendekati Nalendra yang sedang membukakan pagar. "Yakin ga mau nginep?" Nalendra sampai terkejut melihat ada Rania di belakangnya.


"Astaghfirullah, aku kira siapa."


"Emang wajahku kaya hantu ya? nyampe kaget segitunya!" Rania cemberut.


Nalendra mendekati Rania, dia memegang pipi Rania dengan kedua tangannya. "Kamu cantik ko, kalau bisa aku ingin melihat wajahmu yang menggemaskan ini setiap hari."


Bukan hanya Rania, tetapi Nalendra pun terkejut dengan yang dia lakukan. Nalendra langsung menurunkan tangannya, berpaling ke arah lain. "Maaf," ungkapnya. "Maaf, aku ga bisa mengendalikan diriku tadi."


Rania langsung menutupi pipinya yang merona dengan kedua tangannya, wajahnya terasa panas. "


Ah malu sekali, dasar Nalendra!" gerutunya dalam hati, tetapi ada terselip rasa bahagia.


"Aku pulang ya, Nanti insyaallah Rabu ke sini lagi buat bantu pindahan." Nalendra segera masuk ke dalam mobilnya sebelum dirinya tidak bisa mengendalikan pikirannya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya dari dalam mobil, dia melambaikan tangan pada Rania yang masih mematung di tempat tadi dia berdiri.


Nalendra tersenyum sepanjang perjalanan menuju apartemennya. Jantungnya masih tidak karuan, berdegup kencang mengingat bagaimana dia mendekap pipi Rania dengan kedua tangannya, bagaimana raut wajah terkejut Rania kala itu, mata cokelatnya sungguh indah ketika terkejut. Namun, dia merasa bahagia karena ini pertama kalinya dia memegang pipinya selama dia kenal belasan tahun.


Dia masih tersenyum-senyum sendiri ketika menaiki lift di apartemennya. Dia juga tidak menyadari ketika dua orang gadis di sampingnya, berbisik-bisik tentang dia yang terus menyunggingkan senyuman.


"Lihat dia tersenyum terus!" bisik salah seorang gadis pada temannya.


"Shut, nanti kedengaran, malu!"


Gadis yang berbisik tadi terus memperhatikan Nalendra, cara dia tersenyum membuatnya terpana. Bahkan setelah Nalendra keluar dari lift pun, dia merasa ingin mengejarnya.


"Apa kau kenal laki-laki yang barusan keluar?"


"Aku tidak kenal, hanya tau dia tinggal satu lantai di bawahku," jawabnya santai.


"Kau tidak tahu namanya?"


"Entahlah, kalau tidak salah dulu aku pernah mendengar seseorang memanggilnya, tapi aku tidak yakin itu namanya." gadis itu memperhatikan temannya yang sedari tadi bertanya tentang Nalendra. "Apa kau menyukainya? kamu gampang sekali menyukai orang!" lanjut gadis itu ketus.


"Dia cakep banget, walaupun kulitnya ga seputih Andreas, menurutku dia manis," ujarnya tersenyum.


"Ingat jangan macam-macam, dia tetanggaku! bisa malu nanti kalau kamu berbuat nekad. Lagian udah punya Andreas juga, masih aja lirik yang Laen!" sergah gadis itu sebal dengan tingkah temannya.


Nalendra segera membersihkan diri sebelum naik ke tempat tidur. Dia merasa jantungnya terus berdegup kencang, dia sangat senang hingga sulit sekali memejamkan mata. "Kenapa tadi aku bilang besok ga bisa ke sana ya?" ujarnya. "Harusnya aku tak bilang begitu!" Nalendra menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"Aku ga bisa tidur!" Nalendra bangun melirik jam digital yang berada di atas nakas samping tempat tidur, sudah pukul satu tengah malam. Dia turun dari tempat tidur, berjalan ke arah balkon kamar. Angin malam membuat udara terasa dingin begitu dia membuka pintu gesernya, padahal Jakarta terkenal dengan suhu udara yang panas.


Nalendra kembali ke dalam kamar, berjalan ke arah meja kerja dan membuka laci yang terkunci. Dia mengeluarkan sebuah foto berbingkai putih. Foto dirinya dan Rania ketika di taman hiburan kemarin, Zyan yang mengirimi foto itu. Dia meletakkannya di atas meja.


Batas waktu yang diberikan oleh ibunya hanya sampai idul Fitri tahun ini, hanya kurang dari tiga bulan lagi. "Pasti ada cara, ya selalu ada cara," gumamnya. "Sebaiknya aku shalat malam dulu."


Pagi hari setelah shalat subuh Nalendra telah bersiap dengan stelan olahraganya. Dia biasa berlari pagi keliling taman apartemen. Walaupun hanya tertidur tidak lebih dari dua jam, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk berolahraga.


Nalendra membeli air putih di minimarket sekitar taman apartemen. Dia duduk menghadap lapangan berisi taman bermain mini yang diperuntukan penghuni apartemennya. Hari ini lumayan banyak yang berlari pagi tidak seperti pada hari kerja, bisa dihitung jari.


"Pagi, Mas," sapa seorang gadis lalu duduk di samping Nalendra.


"Semalam kita bertemu di lift," ujarnya tersenyum manis.


Nalendra mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum. Dia tidak mengingatnya, dia benar-benar tidak mengingat gadis itu.


"Oh, iya. Perkenalkan aku Shareen." gadis itu mengulurkan tangan hendak bersalaman.


"Nalendra," jawab Nalendra menangkupkan kedua tangannya di dada. Nalendra sedikit merasa risih dengan gadis tersebut.


"Oh iya, aku di sini menginap di kamar temanku. Dia satu lantai di atas lantaimu," ungkap Shareen.


"Ehm, Maaf aku harus pergi," Nalendra tersenyum lalu pergi secepatnya dari sana. "Gadis Jaman sekarang," ejeknya, setelah merasa cukup jauh dari gadis tadi.


Nalendra menghabiskan paginya di tempat gym yang tersedia di apartemen. Setelah selesai dia kembali ke kamar, membersihkan diri dan beristirahat.


"Jam berapa ini?" Nalendra terbangun karena perutnya terus berbunyi meminta diisi. "Astaghfirullah udah setengah satu, aku belum shalat." begitu melihat jam digital di atas nakas.


Dia memeriksa ponsel begitu selesai shalat, tidak ada pesan yang masuk. Biasanya dia sangat senang jika di hari Minggu tidak ada orang yang menghubunginya. Namun, kali ini berbeda, dia merasa ada sesuatu yang hilang.


"Aku lapar sekali!" Dia memeriksa lemari pendingin. Ada sayuran yang baru dia beli kemarin, sosis, nugget, daging slice, mie instan di dalam lemari kitchen set. "Makan di luar saja!"


Nalendra mengganti baju dengan t-shirt berwarna putih dan celana hitam selutut. "Lagi pula aku ga akan kemana-mana, hanya makan di bawah," gumamnya begitu melihat pantulannya di kaca.


Dia sudah memesan menu ayam krispi di tempat makan terkenal bergambar pemiliknya. "Hari Minggu, sangat ramai," ujarnya melihat sekeliling tempat duduk telah terisi.


Nalendra makan sambil menonton acara komedi luar negeri di ponsel. Dia tersenyum-senyum sendiri.


"Maaf Mas. Boleh ikut duduk di sini, semua tempat sudah terisi," ujar seorang gadis yang cukup cantik berkulit putih dengan rambut panjang yang digerai.


"Ya, silahkan." Nalendra membenarkan posisi duduk dan menghentikan acara menontonnya.


"Mas Nalendra 'kan?" sapa seorang gadis lain membuat Nalendra sedikit tersedak karena kaget.


"I-iya," jawabnya memandang gadis itu. "Ah, dia lagi!" gerutunya dalam hati.


Mereka segera duduk di depan Nalendra. "Mas, makan sendiri? Perkenalkan ini temanku yang aku ceritakan tadi. Dia tinggal satu lantai di atas mu. Dia Thalia," cerocos Shareen.


Nalendra hanya tersenyum mengangguk untuk menyapanya, lalu kembali menyantap makanannya kembali.


Thalia tersenyum malu-malu pada Nalendra. Sebenarnya dia merasa benar-benar malu karena Shareen terus berbicara dengan cepat. Dia tahu jika Nalendra kurang nyaman karenanya, terlihat dari cara dia menanggapi ocehan temannya itu.


Thalia menepuk paha Shareen agar berhenti bicara, tetapi temannya itu bersikap seperti masa bodoh. Thalia makan sambil menunduk karena malu. "Malu-maluin aja nih anak!" gerutunya.


drrttt ... drrrtttt ...


Ponsel Nalendra bergetar di meja, di layar terpampang nama Rania memanggil dalam panggilan video. Shareen dan Thalia pun dapat membaca nama di layar ponsel Nalendra, walaupun secara terbalik.


"Ah, maaf," ujar Nalendra segera mengangkat panggilannya di depan mereka.


"O ...,"


"Hallo Sayang, udah makan. Daddy lagi makan nih," ujarnya tersenyum pada Dareen yang seperti terkejut.