Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 145



Satu hal yang selalu membuat Nalendra penasaran tentang istrinya sejak mereka SMA. Dia selalu merasa Rania memperhatikannya. Mungkin sejak itu pula perasaan yang telah ada di hati Nalendra tumbuh.


"Aku ingin mendengar bagaimana perasaanmu terhadapku waktu SMA dulu!" Nalendra menatap lekat netra sang istri.


"Bukankah kamu juga tahu jika aku mempunyai pacar saat itu!"


"Ya, aku tau. Tapi aku tetap merasa kamu terkadang memperhatikanku."


"Ya, aku memperhatikan teman yang selalu baca komik di saat jam pelajaran berlangsung!" ucap Rania terkekeh.


Nalendra masih memperhatikan wajah Rania lekat. Dahulu, saat Rania pernah ikut berkumpul di rumah Nalendra saat masih berpacaran dengan Ergha. Mereka berkumpul di sana karena akan menghadiri pernikahan Ilham. Saat itu, Nalendra merasa Rania juga memperhatikannya dibalik gelas ketika dia sedang minum.


"Apaan sih, ngeliatin mulu!" ketus Rania dengan wajah merona. "Malu tau!"


"Kenapa harus malu? aku bahkan sudah melihat setiap jengkal tubuhmu!"


"Dasar mesum!"


"Ayolah, aku ingin tau." Nalendra memegang tangan Rania, suaranya seperti rengekan anak kecil meminta jajan.


"Aku ga tau, aku benar-benar ga tau. Yang aku tau saat SMA, aku senang kita satu kelompok dalam beberapa mata pelajaran. Aku senang berada di sebelah kamu ketika tes olahraga. Aku senang ketika tau ternyata kamu memerhatikan aku saat berdoa, walaupun kata-katamu pedas sekali," ungkap Rania.


"Kalau tahu begitu, aku terus terang aja sama kamu kalau aku suka. Mungkin kita akan pacaran dan tak perlu nunggu belasan tahun!"


"Kalau kamu nyatain cinta saat itu, tentu akan aku tolak!" Sergah Rania.


"Kenapa, bukannya barusan kamu bilang kalau suka deket sama aku?"


"Dulu kan aku punya pacar!"


"Oh, iya aku lupa." Nalendra menepuk jidatnya sendiri membuat Rania tertawa.


"Kalau saja waktu itu aku berani menghubungimu. Menyatakan cintaku padamu saat Liana menghubungiku lewat ponselmu. Mungkin hubungan kalian masih baik-baik saja!"


"Aku bersyukur, kamu memberikan nomorku pada Ergha." Rania memandang Nalendra, membelai pipinya.


"Terkadang aku malah menyesal sudah memberikan nomormu padanya!"


"Bersyukur aja, Kalau aku tidak bersama Ergha, tidak akan ada Dareen!" Rania mencubit pipi Nalendra gemas.


"Iya juga, aku harus berterima kasih. Karenanya aku punya Dareen," ujar Nalendra menunduk.


"Soal Liana, kemaren gimana? kamu ga cerita apapun padaku!"


"Ya, ga gimana-gimana! kita ngobrol dengan ibunya dan yah ... selesai." Nalendra berusaha tenang.


"Cuma gitu? ayolah ceritakan, ga mungkin ngobrol langsung selesai gitu aja!" Rania tahu bagaimana sifat Liana.


"Lalu dia bilang apa?"


"Dia ingin menjadi istri keduaku." Nalendra terkekeh.


"Kamu setuju?"


"Ya enggaklah!" sergah Nalendra dengan cepat. "Kamu istriku satu-satunya sampai kapanpun, sehidup sesurga, Aamiin."


Rania tersenyum malu, Sungguh dia bahagia mendengar perkataan Nalendra.


"Jadi gimana keluarganya?"


"Mereka mengerti. Pokonya semuanya sudah selesai, ga usah dipikirkan lagi. Karena dari awal juga aku tidak punya perasaan ke dia," jawab Nalendra, ingin menyudahi obrolan tentang Liana. Dia takut jika dirinya tidak sengaja memberitahu Rania tentang Liana yang hendak bunuh diri. Rania pasti akan tambah merasa bersalah pada temannya itu.


**


Di hari Senin, Bu Sekar menemani Bu Ratna datang ke psikiater di salah satu rumah sakit besar di kota Bandung. Mereka ingin berkonsultasi tentang Liana.


"Selamat siang dokter," ucap Bu Sekar. "Ini ibu yang saya ceritakan semalam lewat pesan."


"Oh, iya. Jadi bagaimana keadaannya sekarang?"


Bu Ratna menceritakan bagaimana keadaan Liana. Dia juga bercerita jika anak perempuannya itu terlihat normal seperti hari-hari biasa, bekerja, berkomunikasi dengan teman-temannya. Dia sendiri tidak menyangka jika Liana akan berani melukai dirinya sendiri.


"Apa sekarang dia berangkat bekerja?"


"Iya, dokter. Tadi pagi dia berangkat bekerja seperti biasanya. Dia terlihat sehat, seperti kejadian itu tidak pernah terjadi," ungkap Bu Ratna.


"Sebenarnya untuk mengetahui keadaannya, saya harus bertemu langsung dan berbincang dengan dia. Saya pun harus melakukan observasi terlebih dahulu. Namun, mendengar cerita dari ibu, sepertinya itu mengarah ke obsesif berlebih." kata dokter Hazel.


"Memang hingga ini belum ada klasifikasi medis atau psikologis terpisah untuk gangguan cinta obsesif. Ada istilah Obsessive love disorder (OLD) adalah suatu kondisi di mana seseorang menjadi terobsesi terhadap orang yang sangat dicintainya. Hal ini bisa terjadi pada orang yang sudah menjalin hubungan pernikahan maupun pacaran. OLD juga bisa dialami oleh orang yang tidak memiliki hubungan dengan orang yang dicintainya, tapi merasa orang yang dicintainya tersebut juga mencintai dirinya," lanjut dokter Hazel.


"Jadi bagaimana anak saya dokter?" Suara Bu Ratna terdengar sangat khawatir.


"Mungkin saya bisa bermain ke rumah ibu dan mengobrol dengannya. Saya sangat paham kenapa anak ibu tidak mau ikut ke sini."


Mereka cukup lama berbincang mengenai Liana. Bu Ratna masih tidak percaya dan kalau bisa tidak mau mempercayai jika anaknya mempunyai obsesi seperti yang dokter utarakan.


"Hatur nuhun, sudah menemani saya." ucap Bu Ratna. "Tolong rahasiakan dari semuanya."


"Tentu, akan saja jaga rahasia ini." Bu Sekar menjabat tangan Bu Ratna memberinya kekuatan.


Hari ini Bu Sekar memang meminta izin tidak masuk ke sekolah tempatnya mengajar. Dia ingin persoalan yang secara tidak langsung melibatkan anaknya ini cepat terselesaikan.