Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 44



Dareen menggulir layar ponsel dengan lincah. "Dareen suka mainin ponsel ga di rumah?" tanya Nalendra melihat Dareen yang begitu lancar mengirim foto pada Rania tanpa bertanya.


"No, Kata bunda Dareen ga boleh mainin ponsel atau nonton di ponsel. Kata bunda nanti mataku bisa sakit kalau main ponsel kelamaan. Om ga akan bilang bunda kan kalau Dareen main ponsel Om?"


"Tentu, jagoan. Dareen kan hanya mengirim foto, bukan nonton di ponsel, iya 'kan?"


Dareen ternyata lebih cerdas dari yang terlihat. Dia bisa menjawab balik pertanyaan yang diajukan untuknya. Nalendra semakin bangga pada Rania.


Hari itu, Nalendra belajar tentang bagaimana mengurus anak sendirian, dari mulai makan, mandi, mengajak bermain, membacakan buku cerita sebelum tidur.


Dareen yang sudah terbiasa bangun sebelum subuh mengajak Nalendra untuk ke mesjid menunaikan shalat subuh. Namun, Nalendra mengajak Dareen untuk shalat di rumah saja.


Nalendra mengajak Dareen untuk berolahraga, berlari pagi di taman. Dareen sangat senang ketika tahu ada taman bermain mini di lingkungan apartemen. Mereka juga sarapan di tempat makan ayam kripsi yang Dareen sukai, tempat itu buka 24 jam.


Berbeda dengan Sang anak yang sedang merasa bahagia, Rania justru merasa cemas memikirkan Dareen. Dia takut Dareen tidak bisa tidur di tempat Nalendra dan mengajak pulang di tengah malam. Rania sampai beberapa kali terbangun dan menghubungi Nalendra untuk bertanya tentang Dareen.


Sudah pagi, terlihat kantong mata di bawah mata Rania. Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak, mungkin karena malam tadi pertama kalinya Dareen menginap di rumah orang lain yang bukan saudara.


"Teh, tukang pindahan udah dateng!" ujar pak Idris setengah berteriak dari luar.


"Bukan tukang pindahan kali Pak, tapi jasa pindahan," terang Rania keluar dari rumah untuk menyapa mereka.


"Pagi, Pak," sapa Rania pada mereka.


"Dengan Ibu Rania 'kan ya?" tanya orang perwakilan jasa pindahan tersebut.


"Benar, saya Rania. Mari pak," kata Rania mempersilahkan mereka untuk masuk dan melihat barang yang akan diangkut.


"Kami mulai angkat barangnya ya, Bu," ucapnya.


"Baik, silahkan." Rania memperhatikan sebentar, lalu ke dapur mengambil beberapa botol air mineral, kopi dalam kemasan botol dan beberapa toples biskuit.


"Teh, sudah telepon Nalendra?" tanya pak Idris yang mencemaskan cucu kesayangan.


"Lagi di jalan," jawab Rania sambil mengangkat barang-barang kecil dari kamar agar terlihat oleh para tukang angkat.


Tiga puluh menit telah berlalu, mereka belum selesai mengangkut barang-barang ke truk. Mereka menggunakan truk model CDD-long dengan kapasitas 5000kg.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Bapak, Ibu. Mari masuk," Rania menyambut mertuanya yang baru datang.


"Udah mulai angkat-angkat," ujar Pak Darmawan.


"Iya, Pak. Alhamdulillah gesit," jawab Rania tersenyum.


"Apa kabar, Pak. Sehat?" Pak Darmawan menyapa Pak Idris yang sedang mengangkat keranjang berisi perabot kecil.


"Alhamdulillah, sawalerna?"


"Alhamdulillah, baik juga. Dareen mana ya?" Pak Darmawan celingak-celinguk mencari Sang cucu.


Rania menatap pak Idris, dia lupa kalau mertuanya akan datang untuk mengantar pindahan.


"Dareen bentar lagi juga datang," jawab pak Idris.


Rania segera masuk ke dalam kamar untuk menghubungi Nalendra. Dia pikir harus memberitahu Nalendra soal ini dan meminta dia agar merahasiakan kalau Dareen menginap.


Baru saja Rania mengirim pesan, terdengar suara klakson mobil masuk ke halaman rumah. "Dia sudah datang, bagaimana jika Dareen memberitahu mereka kalau dia menginap di tempat Nalendra?" gumam Rania panik.


"Dareen, cucu kakek. Dari mana, kakek dari tadi nunggu?" tanya Pak Darmawan merentangkan tangan berharap Dareen datang mendekapnya, tetapi Dareen malah dengan santai melewati dia.


Pak Darmawan heran melihat Dareen datang dengan Nalendra, yang dia tahu Nalendra hanyalah teman kuliah Ergha.


"Oma!" seru Dareen mendekati Bu Darmawan.


"Dari mana ganteng?" tanya Bu Darmawan memeluk cucu satu-satunya. Dia memeluk erat Dareen, bukan hanya karena rindu cucu, tetapi karena Dareen begitu mirip dengan Ergha.


"Oma ...." Dareen berbalik karena Rania memanggil hingga tidak menyelesaikan perkataan yang akan dia utarakan.


"Dareen, mau ikut lagi beli kue ga?"


Rania segera menghampiri Dareen dan Bu Darmawan yang sedang mengobrol. Dia harus berbicara dulu dengan Dareen untuk tidak menceritakan kalau dia menginap di apartemen Nalendra.


"Beli kue ke mana, Teh?" tanya Bu Darmawan.


"Ke warung depan, Bu. Buat bekel di jalan yang bantu pindahan," jawab Rania tersenyum menutupi perasaan panik.


"Ibu beliin air yang seger-seger ya, buat di jalan juga," pinta Bu Darmawan.


"Baik, Bu. Ayo, Dareen!"


Mereka meninggalkan Bu Darmawan yang sedang duduk di kursi pelataran. Dia memandang Rania yang menuntun Dareen menjauh darinya. Terbersit rasa sedih di hati dan pikiran, membayangkan jika cucu kesayangan pun akan tinggal jauh tak lagi dekat dengan dia. Namun, itulah kehidupan yang harus dia jalani. Akan ada waktu orang datang dan pergi.


Pandangan Bu Darmawan beralih ke Sang suami yang seperti sedang mengintrogasi Nalendra.


"Mungkin Bapak cemburu melihat kedekatan Dareen dan Nalendra, padahal mereka hanya beberapa kali berjumpa," pikir Bu Darmawan.


"Saya kira tadi adiknya Rania, Zyan," ujar pak Darmawan ketika melihat Nalendra.


"Assalamu'alaikum, Pak. Gimana kabarnya?" tanya Nalendra memberi salam dan mencium tangan Pak Darmawan.


"Alhamdulillah, baik. Ko bisa ada di sini?"


"Iya nih, kebetulan lagi ngambil cuti. Kangen Dareen juga, udah lama ga ketemu," jawab Nalendra berusaha terlihat natural, walaupun jantungnya berdegup kencang karena takut salah paham.


"Kebetulan sekali, Rania yang memberitahumu kalau mau pindahan?" selidik Pak Darmawan.


"Bukan, saya tahu dari grup. Liana yang memberitahu, apa bapak kenal dengan Liana?" tanya nalendra. "Rumah orangtua mereka berdekatan, dia teman masa kecil Riana," terang Nalendra.


"Oh, saya kurang tahu teman-teman Riana." jawab Pak Darmawan Yang masih tidak percaya dengan perkataan Nalendra.


"Pak, sini biar saya bantu angkat," Nalendra melihat Pak Idris sedang menarik dua koper besar yang akan dia masukan ke bagasi mobil. Nalendra segera menghampiri Pak Idris dan membantunya mengangkat koper tersebut. "Masih adakah?"


"Masih, beberapa di dalam. Ternyata baju mereka banyak, baju Dareen aja nyampe satu koper besar dan satu koper kecil juga travelbag lumayan besar padahal baju Dareen kecil-kecil," ujarnya tertawa. "Teteh tuh seneng beli-beli baju anak, katanya lucu tapi cuma dipake sebentar terus di kasihkan aja sama orang lain," ungkap Pak Idris.


"Katanya seorang ibu memang begitu, Pak." Nalendra ikut terkekeh, dia ingat ketika mengantar Rania belanja bulanan. Niatnya cuma mau belanja kebutuhan rumah saja, tetapi saat lewat toko baju anak-anak langsung masuk dan membeli beberapa pasang baju Dareen juga baju bayi, katanya untuk dijadikan hadiah kalau ada teman atau saudara yang lahiran.


"Benar, mama Rania pun sama. Kalau udah liat baju langsung milih-milih buat semua orang di rumah. Nyampe numpuk!" Pak Idris merapikan koper yang baru saja Nalendra ambil dari rumah. "Apa kita tumpuk aja gitu ya?"


"Kalau ga cukup, masuk ke mobil saya saja, Pak." Nalendra memberi saran pada Pak Idris.


Pak Idris mengangguk setuju, dia tidak ingin koper-koper yang berisi pakaian masuk ke truk bersama barang-barang yang lain.


"Jangan, Pak. Ke mobil saya saja!"