Yes, It'S U

Yes, It'S U
Bab 46



Bu Sekar melambaikan tangannya melihat Dareen yang seperti biasa berada di gendongan Nalendra. "A Nalendra geuning ikut?" tanya Bu Sekar menyenggol tangan Rania dengan sikut.


"Iya, Panjang ceritanya!"


"Hey, Bro. Ko di gendong?" Zyan mendekati Dareen yang menyembunyikan wajahnya di leher Nalendra.


"Baru bangun, Om," jawab Nalendra tersenyum mengusap punggung Dareen.


"Udah kaya anak sama bapaknya ya!" Bu Sekar tersenyum melihat betapa akrab hubungan Dareen dengan Nalendra padahal tidak ada hubungan darah.


"Apaan sih mama ini!" Rania cemberut. "Nanti kedengaran bapak Ergha bisa perang dunia ketiga," ujarnya menghampiri Nalendra yang menggendong Dareen.


"Sayang, ayo sini biar Bunda yang gendong!" Rania mengulurkan tangannya tetapi Dareen tetap tidak bergeming.


"Mau sama Om aja, Dareen udah besar nanti kaki Dareen kena lutut Bunda," ujarnya tanpa melihat Rania, Zyan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dareen.


"Apa lagi ini ketawa?" Rania benar-benar cemberut.


"Ayo, masuk A. berdiri terus nanti pegal, Dareen pasti berat!" Bu Sekar segera mempersilahkan Nalendra masuk.


Di dalam rumah telah ada orangtua Ergha yang sedang duduk bersama Pak Idris. Nalendra kemudian duduk di dekat Pak Idris, rasanya canggung sekali duduk bersama dengan orangtua Ergha.


Rania sendiri sibuk bersama dengan Zyan memetakan penempatan barang-barang yang diangkat oleh orang dari jasa pindahan.


"Udah taro sini dulu aja semuanya. Kalau mau di bawa ke rumah mama mah tinggal di angkut, nanti pinjem mobil pickup punya Pak haji!"


"Baiklah," jawab Rania.


Satu jam lebih mereka mengangkat dan menggeser-geser lemari, bupet ke tempat yang sesuai.


"Ayo, pak. makan dulu!" kata Bu Sekar pada tukang angkut dari jasa pindahan.


Para tukang tersebut merasa sangat senang, karena Rania dan keluarganya menjamu mereka. Rasanya seperti pekerjaanmu sangat dihargai.


Bu Sekar menggelar tikar di teras rumah dan menyimpan hidangan makanan di atasnya. Para tukang itu dengan lahap menyantap hidangan yang telah Bu sekar siapkan.


Rania yang baru selesai membantu mamanya, menyiapkan hidangan untuk para tukang makan di teras rumah. "Lelah sekali," gumam Rania duduk menyender di kursi makan di dapur. Kurang tidur semalam membuatnya cepat lelah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nalendra yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ya, aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan," jawabnya sambil menguap.


"Apa semalam kamu tidak tidur?"


"Aku tidur, hanya banyak terbangun."


"Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi kurang tidur," ujar Nalendra merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, hanya belum terbiasa saja!"


"Rania, bolehkah nanti aku bawa Dareen main ke rumah orangtuaku. Setidaknya mungkin mereka akan sibuk mengajak Dareen bermain dan tidak selalu mengomeliku karena belum menikah," ujar Nalendra bercanda. Dia pun duduk di sebelah Rania yang sedang menelungkup tidur dengan berbantalkan tangannya di meja makan.


"Nanti kalau orangtuamu marah, bagaimana?"


"Percaya padaku. Mereka ga akan marah, justru mereka akan senang dan mengajak main Dareen." Nalendra mencoba meyakinkan Rania.


"Nalendra, kenapa kamu tidak berpacaran saja dan menikah. Bukankah mereka akan lebih senang jika mereka bermain dengan cucu sendiri." ucap Rania tidak dengan maksud apapun.


"Aku ingin menikah dengan wanita yang kucintai. Doakan saja semoga wanita itu mau denganku," ucap Nalendra.


Rania tertegun mendengar perkataan Nalendra, Hatinya sedikit teriris sakit. "Ndra, kalau memang kamu sedang menyukai seorang perempuan, kenapa kamu malah sering bermain dengan Dareen?"


"Rania, jika nanti Allah menghendaki untuk kamu menikah lagi. Laki-laki seperti apa yang kamu inginkan untuk menjadi suami dan ayah bagi Dareen?" tanya Nalendra. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Rania sebelumnya. Dia masih belum mau memberitahu Rania.


"Aku tidak berani membayangkannya," jawab Rania pelan.


"Ndra, jika suatu hari nanti kamu sudah mempunyai calon yang pasti dan tidak bisa lagi bermain dengan Dareen. Aku mohon, berilah penjelasan yang bisa Dareen terima. Aku tidak mau dia bersedih karena kehilangan lagi. Aku tidak ingin dia mengigaukan dan menjerit dalam tidur." Rania menunduk, tidak berani melihat, mengangkat kepalanya.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Jika Allah mengizinkan, aku akan selalu ada untuk Dareen." Nalendra melirik Rania yang masih tertunduk. "Boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Tanya apa?" Rania mengulang kembali pertanyaannya.


"Saat kita SMA, aku pernah dengar jika Daesy pernah marah padamu gara-gara aku?" tanya Nalendra.


Rania mengerutkan kening, berusaha mengingat kejadian yang Nalendra maksud. "Daesy?" Rania mengetikan jari ke meja. "Daesy ya ..., ehmm ... Oh iya, aku ingat. Kalau tidak salah, dulu dia pernah salah paham denganku. Tapi aku ga yakin alasannya apa!"


"Bukankah karena aku mirip dengan pacarmu waktu itu, yang kata Liana dan habib kalian LDR itu lho. Masa ga ingat!" Nalendra sedikit menghentakkan kaki di bawah meja.


Seperti anak kecil! batin Rania.


"Iya, kali ya." Rania kembali berpikir mengingat kejadian dulu. "Ya, kalau tidak salah karena aku pernah melirikmu di hadapannya dan karena dia mengira jika foto di binderku adalah kamu." Rania terkekeh mengingat semua kenangan itu.


"Jadi benar kalau aku mirip dengan pacarmu ...."


"Mantan Ndra ... Mantan!"


Nalendra tertawa kecil. "Iya, iya ... Mantan!" Nalendra menekankan kata mantan. "Jadi benar?"


"Kalau dari kejauhan kayanya iya mirip, tapi kalau dekat enggak terlalu. Dia lebih mirip salah satu penyanyi di tv." Rania tersenyum mengingatnya.


"Terus?"


"Terus apa?" tanya Rania bingung.


"Iya terusin ceritanya, tentang si cowo yang mirip aku itu!"


"Itu udah lalu, 'Ndra!"


"Ayolah, aku ingin mendengarnya. Dari dulu aku ingin bertanya soal itu, tapi ga berani!" ungkapnya.


"Dulu aku 'kan ga tau ya ada murid baru, kamu maksudnya. Tempat dudukku 'kan Deket jendela, tiba-tiba kamu jalan depan kelas bareng yang lain. Aku kaget waktu itu, aku kira Nata pindah sekolah ke sekolahku," ujar Rania sambil tertawa. Nalendra tersenyum dan menjadi pendengar yang baik.


"Karena penasaran, sejak itu aku jadi lebih sering merhatiin kelasmu, berharap bertemu lagi untuk memastikan itu Nata atau bukan. Karena penasaran ya, bukan karena yang lain!"


"Terus kenapa Daesy bisa salah paham?"


"Ehm, dulu ketika shalat Dzuhur aku ngobrol dengan Daesy dekat tempat wudhu di mesjid, saat itu kamu lewat dan wudhu. Mungkin karena dia mergoki aku sering melirikmu, kata dia begitu. Makanya dia pikir aku suka sama kamu. Dia juga pernah liat foto Nata di binderku, jadi tambah salah paham."


"Baikannya gimana?"


"Ya aku ceritain aja semuanya."


"Dan dia langsung percaya?"


"Sebenarnya, waktu itu aku ga begitu peduli karena aku udah cerita semua jadi dia mau percaya atau enggak ya terserah dia," terang Rania. "Aku juga ga terlalu dekat dengannya, jadi aku ga tau dia masih salah paham atau enggak padaku. Yang aku tau dia suka sama kamu."


"Rania, kalau aku mirip mantanmu dulu berarti aku termasuk tipemu juga ya?" selidik Nalendra.


"Nata berkulit putih, dia anak bungsu dari empat bersaudara dan lumayan keras kepala, dia seorang yang cerdas. Jadi, bisa dipastikan dia tidak mirip denganmu," tutur Rania tersenyum malu.


"Aku cerdas juga kali. Buktinya aku bisa jadi pemimpin muda di perusahaan cabang!" Nalendra menegakan posisi duduknya.


"Iyalah, aku percaya!" jawab Rania tertawa kecil.


"Senangnya punya mantan!" seru Nalendra. "Aku belum pernah pacaran sekalipun. Aku menyukai seseorang untuk waktu lama," ujar Nalendra lalu terdiam.


"Bilanglah sama dia, nanti keburu diambil orang lho!" Rania terkekeh.


"Aku ingin, tapi belum berani. Aku takut ...."


"Takut ditolak?" Rania memotong pembicaraan Nalendra. "Ndra, ditolak ataupun tidak ya itu takdir. bilang aja dulu."


"Iya, aku merasa belum terlalu dekat dengannya." Nalendra memandang Rania.


"Dekatilah, perempuan itu gampang didekati asal kamu tau apa yang diinginkan dia. istilahnya pepet aja terus!" Rania tertawa dengan candaannya.


"Rania ...."


"Teh!" Bu Darmawan berdiri tak jauh dari mereka duduk menatap Rania dengan raut wajah yang sulit diartikan.